Sabtu, 10 Januari 2015

Benda Bernilai Historis

BENDA KENANGAN

Sebagian orang tetap akan mempertahankan benda-benda yang dianggap bersejarah dalam hidupnya. Tak peduli betapa usang dan tak berharga di mata orang lain. Si empunya akan tetap setia berdampingan dengannya. Tak ada rasa malu dan risih. Enjoy dan nyaman. Mungkin itulah mengapa orang akan merasa kehilangan sesuatu yang teramat berharga, bila tiba-tiba benda itu raib. Bukan nilai jualnya tapi nilai historisnya.

Ada yang bersikeras untuk mempertahankan kendaraannya yang sudah tidak “layak” pakai. Alasannya karena usianya sudah tua, usang, nilai historisnya tinggi. Tak bisa diganti dengan benda apapun yang nilainya/harganya cukup mahal.


Dulu jaman susah kendaraan itu dipakai. Kendaraan yang sudah puluhan tahun telah berjasa. Kini setelah jaman berubah, terlalu sayang untuk disingkirkan. Walaupun sekarang kondisinya teramat jauh dari dua puluh tahun yang lalu. Kini suara knalpotnya memekakkan telinga. Namun itu justeru menjadi ciri khas.

Sepeda onthel yang biasa untuk pergi kuliah, dan memiliki nilai sejarah yang tinggi, tidak mungkin direlakan untuk berpindah tangan. Jangan pernah mengabaikan benda bersejarah milik orang lain. 

Barangkali kita malu melihat benda-benda itu. Tapi, apa urusan kita bila si empunya nyaman sekali memakai benda kenangan itu?

Meskipun untuk membeli yang lebih baik dari benda yang bersejarah itu bisa, orang tidak lantas mengabaikan benda penuh kenangan itu.

Banyak orang yang mengolok-olok, mencibir dan meremehkan. Dengan nyaman si empunya tetap percaya diri saja. Ketika ada orang yang bilang dia kurang syukur, dia akan menjawab bahwa cara seseorang mengungkap syukur itu berbeda alias tidak sama.

Memiliki harta benda, rezeki yang melimpah bukan untuk dihambur-hamburkan. Manusia harus mempertanggungjawabkan materi yang dimilikinya.
ZUHUD, itulah yang cocok untuk siapa saja. Terutama bagi orang yang mampu dan memiliki harta yang berlimpah.   Akan tetapi dia mampu menahan diri untuk tidak berlebihan.


Kalau kita menjadi OKB (orang kaya baru), jangan sok menjadi orang yang hebat. Lantas mencibir orang. Belum tentu kita lebih baik dari orang yang kita olok/kita cibir. Hargailah pendapat orang lain. Jangan sekali-kali kita mengatakan sesuatu bila kita tak tahu yang sebenarnya. 

Karanganyar, 10 Januari 2015