Kamis, 12 Maret 2015

Niat Saja Tak Cukup, Luruskan Niat Berhaji Anda!

Gambar 1. Yuk, Belajar dari Buku Dahsyatnya Ibadah Haji

RESENSI

Judul Buku                   : Dahsyatnya Ibadah Haji
Penerbit                        : PT. Elex Media Komputindo
Cetakan                        : 2014
Tebal                             : ix + 233 hal
ISBN                            : 978-602-02-4810-3

Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima, hukumnya wajib bagi yang mampu melaksanakannya. Mampu secara materi, ilmu, fisik dan kesehatan. Sebagian besar umat Islam berkeinginan untuk ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Kalaupun hingga saat ini belum memiliki kesempatan untuk melaksanakan rukun Islam kelima itu, paling tidak sudah memiliki niat.

Akan tetapi niat saja belum cukup. Niat tersebut harus dikuatkan dengan usaha untuk mewujudkannya. Salah satu caranya adalah menyediakan biaya ONH. Banyak jalan yang bisa ditempuh, salah satunya adalah dengan menabung. Setelah dana cukup, bukan berarti kita dengan mudah melaksanakan/merealisasikan ibadah haji. Hanya orang-orang yang sudah dipanggil Allah, yang bisa menjadi tamu Allah di tanah suci (hal 1)

Buku Dahsyatnya Ibadah Haji karya Abdul Cholik ini berisi catatan perjalanan haji penulis. Buku ini dikemas dengan bahasa tutur, santai, tidak kaku, tidak bermaksud menggurui dan diselingi humor (tidak berlebihan). Sebagai seorang penulis, tentu saja setiap tahapan/peristiwa ditulis dengan runtut dan sistematis. Beberapa dokumentasi berupa foto juga diselipkan. Mulai dari persiapan, pelaksanaan ibadah haji dan kegiatan lainnya, baik ketika di Mekah maupun di Madinah, hingga kembali ke tanah air dan berkumpul dengan keluarga.

 Gambar 2. Akhirnya dapat Di Gramedia Solo
Tips-tips ringan disampaikan karena hal semacam itu sering diremehkan oleh calon jamaah haji. Karena penulis memiliki latar belekang militer maka tips-tips yang disampaikan juga tentang keseharian, disiplin seperti yang dilakukan di “dunia kemiliterannya”. Yang paling utama adalah memberi dan mengingatkan suatu tanda untuk benda atau lokasi/tempat.

Penulis mengajak pembaca terutama calon jamaah haji untuk meluruskan niat beribadah haji karena mencari ridha Allah semata (hal 7). Selama dalam perjalanan dan waktu luang digunakan untuk berdoa, berdzikir, bersedekah dan amalan lainnya (hal 171). Berdoa bisa  dilakukan di mana saja terutama di tempat dan waktu yang mustajab.

Selama kegiatan berlangsung penulis melaksanakan semua dengan santai, tidak tergesa-gesa dan sabar. Penulis juga sabar dalam menghadapi tiap peristiwa atau situasi yang di luar dugaan. Untuk menjaga tubuh tetap prima penulis berpesan untuk beristirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan secukupnya. Kegiatan di luar ibadah sama seperti ketika berada di tanah air. Untuk mendalami sejarah Islam, penulis dan rombongan juga melakukan wisata religi yaitu ziarah dan rekreasi (hal 174-193).

Romantisme kebersamaan penulis dengan sang isteri juga penulis catatkan. Mulai dari tanah air, berangkat ke tanah suci, melaksanakan thawaf, sa’i dan tahalul. Lebih-lebih ketika berada di Arofah, Mina dan Muzdalifah. Ziarah dan rekreasi juga merupakan peristiwa dengan sejuta romantisme buat penulis dan sang isteri. Puncaknya ketika berada di Arofah. Betapa penulis mampu mengungkapkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah terlintas dalam pikirannya. Yaitu mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sang isteri. 

Demikian juga sebaliknya, sang isteri juga melakukan hal yang sama. Egoisme selama ini telah melebur dan yang ada hanyalah kebersamaan dan saling melengkapi (hal 122).
Ada salah satu pelajaran bagi penulis dan bisa diambil hikmahnya yaitu saat penulis diingatkan Allah dengan teguran. Penulis dan sang isteri tersesat ketika pulang menuju maktab. Dengan menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan beristighfar, penulis dan sang isteri akhirnya bertemu rombongan.
Sudah tersesat, masih bohong lagi. Penulis mengatakan hal yang tak sebenarnya,”Biasa, santai dan cari buah.” Padahal penulis bukan santai dan cari buah, melainkan tersesat (hal 148).


Saya merekomendasikan buku ini bagi pembaca untuk memilikinya. Dari buku ini akan banyak diambil pelajaran. Meskipun buku Dahsyatnya Ibadah Haji bukan buku panduan menunaikan ibadah haji, tapi tidak ada salahnya belajar dari buku karya Abdul Cholik ini.
Karanganyar, 11 Maret 2015