Jumat, 01 Mei 2015

Lilin Kristal dan Cerita Mistis


Gambar 1. Lilin Kristal
Setiap orang dewasa pasti memiliki pengalaman memakai/menggunakan lilin. Entah itu digunakan untuk penerangan, membuat mainan atau untuk menutup plastik. Ada bermacam-macam lilin berdasarkan kegunaannya. Ada lilin untuk ulang tahun, lilin untuk penerangan dan lilin yang digunakan pada tempat-tempat ibadah. Ukuran lilin juga bervariasi dari yang kecil, sedang, sampai ukuran besar atau jumbo. Bahkan ada yang tingginya melebihi tinggi manusia dengan diameter lebih besar.
Saya memiliki pengalaman menggunakan lilin untuk penerangan. Akhir-akhir ini curah hujan masih tinggi. Hujan yang sering disertai guntur. Biasanya bila hujan disertai guntur, kilat/petir, aliran listrik akan dimatikan oleh PLN. Bagaimanapun juga ini untuk keamanan pengguna/pemakai.
Bila pemadaman di siang hari rasanya tidak masalah. Tapi bila pemadaman dilakukan pada malam hari maka kita membutuhkan penerangan dengan menggunakan energi yang lain. Dahulu orang menggunakan lilin, lampu teplok, petromaks, lampu dengan energi menggunakan aki. Sekarang sudah lazim orang menggunakan lampu emergency, genset dan diesel.
Beberapa hari yang lalu listrik mati dalam waktu cukup lama. Saya perkirakan sekitar 4,5 jam. Itu terjadi pada malam hari. Dengan demikian saya membutuhkan penerangan. Ada lampu senter dengan energi listrik yang bisa disimpan. Tapi sayang, hanya hitungan menit saja nyalanya sudah redup. Lalu saya menggunakan lilin sebagai penerangan.
Dua kamar saya beri penerangan lilin, lilin kristal. Tiga jam kemudian lilin tinggal 2 cm, lalu lilin saya matikan dan saya ganti yang baru. Entah berapa jam kemudian listrik hidup kembali. Lampu yang ada di dalam rumah menyala semua saat tengah malam. Waktu itu kantuk saya sudah tak bisa saya tahan. Saya membangunkan suami untuk mematikan lilin.
Pagi harinya saya mendapatkan sisa lilin yang saya matikan tadi malam. Di mana lilin yang satunya. Saya ke kamar anak saya. Lilin yang kedua masih separoh. Setelah suami bangun, saya bertanya di mana lilin yang satunya? Dia tidak tahu, karena waktu saya bangunkan dia tidak bangun. Anak saya yang berada di kamar yang satu juga tidak tahu. Ketika lampu menyala, dia hanya mematikan lilin yang ada di kamarnya.
Aneh, kalau lilinnya terbakar semua, mestinya ada lelehannya. Di mana lelehannya, kok tidak ada? Saya jadi ingat “teman yang menggoda” saya waktu malam hari. Kadang ada bayangan, kadang seperti ada orang lewat. Wah, ini berulah lagi. Pasti “dia” mengambil lilin saya, kata saya pada suami.
Saya juga bercerita di kantor tentang lilin tadi. Teman saya menanggapi,”Awas, bahaya lo. Kalau nanti “dia” menyerupai suamimu gimana?”
“Saya sudah hapal bagaimana suami saya,”jawab saya.
Berhari-hari saya masih mengingat-ingat tentang lilin itu. Kalau lihat lilin-lilin yang ada di atas mesin jahit, saya tersenyum. Ah, lilin itu lagi.
Tadi malam listrik mati-hidup-mati-hidup sampai berulang-ulang. Awalnya saya menghidupkan lilin yang utuh untuk kamar anak saya. Kamar saya sendiri saya nyalakan sisa lilin milik anak saya. Iseng-iseng saya amati lilin tersebut ketika tersisa sekitar 1 cm. Tak ada lelehan sedikitpun! Sampailah pada titik penghabisan. Lilin terbakar semua tanpa lelehan dan meninggalkan sedikit abu dari sumbunya.
Saya baru tahu, ternyata memang tak ada sisa lelehan. Lilin kristal ini sangat berbeda dengan lilin yang sebelumnya saya kenal dan sering saya dapatkan. Kalau dulu saya selalu mendapatkan lelehan lilin cukup banyak, ketika lilin telah dingin, sekarang tidak. Itu artinya dugaan saya beberapa hari yang lalu keliru. Ternyata saya tidak digoda oleh “dia”.
Wah, ya maaf-maaf saja kalau saya sudah berburuk sangka. Padahal teman saya sudah ada yang berkomentar, “dia” juga butuh lilin untuk penerangan agar tak salah jalan. Ya semoga saja ilmu kita bertambah dari benda yang sederhana, sesederhana lilin kristal.
Karanganyar, 1 Mei 2015