Sabtu, 25 Juli 2015

Kartu ATM BNI Menyelamatkanku Saat Mudik

Kartu ATM  BNI Menyelamatkanku Saat Mudik
Tahun 2010 saya mulai berkenalan dengan BNI. Saya seorang guru yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik. Dengan demikian saya berhak mendapatkan tunjangan profesi dari pemerintah. Kebetulan pada tahun itu, 2010, kami diwajibkan membuka tabungan BNI Taplus. Pencairan tunjangan profesi lewat rekening pada bank yang telah ditunjuk.
Untuk membuka tabungan, setoran awal cukup ringan. Saya juga wajib memiliki kartu ATM. Sebenarnya saya kurang suka memiliki dan menggunakan kartu ATM tersebut. Bagi saya kartu ATM akan menggoda saya untuk melakukan bermacam-macam dengan isi tabungan selama saldonya masih aman.
Tahun 2011, pertama kali saya mendapatkan tunjangan profesi dalam jumlah besar karena uang tunjangan yang kami terima 12 bulan sekaligus. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur akhirnya tunjangan profesi saya keluar dan dapat saya gunakan untuk hal yang bermanfaat yaitu untuk uang muka pendaftaran ibadah haji.
Saya mengambil uang tersebut tidak melalui mesin ATM, akan tetapi langsung ke teller. Waktu itu pengambilan dari teller kurang dari 5 juta rupiah akan dikenai biaya administrasi. Oleh karena uang saya dalam tabungan lebih dari 5 juta rupiah, maka saya mengambil tabungan melalui teller. Akan tetapi saya tetap menggunakan kartu ATM dengan menggesek kartu di depan petugas. Prosesnya cepat tapi antrinya lama.
Saya mulai berpikir, daripada mengantri lama di bank lebih baik mengambil uang lewat mesin ATM. Selanjutnya saya menikmati kemudahan menggunakan kartu ATM untuk setiap penarikan uang.
Pernah suatu saat teman-teman saya sudah mendapatkan tunjangan profesi selama 3 bulan, akan tetapi saya belum mendapatkannya. Setiap saat saya disuruh mengecek rekening lewat mesin ATM. Sampai saya merasa bosan. Saya berpikir, kalau memang rezeki saya, pasti akan cair juga. Apalagi tunjangan profesi ini ibaratnya rezeki nomplok. Tidak bisa kita harapkan setiap saat. Yang bisa saya harapkan adalah honor dari sekolah setiap bulan, yang besarnya tidak seberapa (saya guru swasta, sekolah saya juga merupakan sekolah kecil).
Ketika itu menjelang lebaran, teman-teman saya sudah mendapatkan tunjangan profesi untuk 6 bulan. Saya belum mendapatkan juga. Untuk persiapan lebaran, saya menggunakan dana dari suami. Selama mudik di rumah orang tua saya, saya harus berhemat. Akan tetapi tetap saja pengeluaran selama mudik banyak.
Sebelum pulang kembali ke rumah, saya mau mengambil uang untuk jaga-jaga selama diperjalanan. Alangkah terkejutnya saya ketika mengambil uang dari mesin ATM. Tiba-tiba saldonya menggelembung. Alhamdulillah, tunjangan profesi saya sudah cair, 6 bulan sekaligus..
00000
Waktu terus berlalu. Awalnya saya paling malas menggunakan kartu ATM. Akan tetapi setelah tahu manfaatnya, saya cenderung memilih menggunakan kartu sakti tersebut. Saya tidak perlu membawa uang kontan ke mana-mana.
Pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan yaitu ketika saya tinggal membawa uang 50 ribu rupiah dan sedikit pecahan-pecahan kecil. Sama halnya dengan saya, suami juga tinggal membawa uang 50 ribu rupiah.  Sebenarnya saya merasa aman-aman saja dengan uang sebesar itu pada malam itu. Cerita menjadi lain karena suami kedatangan murid-muridnya. Murid-murid suami esok harinya akan mengikuti pertandingan futsal. Suami memberikan uang satu-satunya yang dia punya untuk murid-muridnya, sekedar untuk membeli minuman. Sedangkan anak saya minta uang untuk mengisi modem sebesar 25 ribu rupiah. Malam ini kami membawa uang tak lebih dari 50 ribu. Padahal kami harus mengisi bensin untuk 2 sepeda motor, membeli lauk untuk sarapan dan memberi uang saku untuk anak saya esok hari.
Saya memutuskan mengambil uang, menarik lewat mesin ATM malam itu. Paling tidak tanggal tua itu harus membawa uang masing-masing 100 ribu rupiah. Saya dan suami terkejut, saling berpandangan. Seharusnya saldo tabungan saya 700 ribu rupiah, tapi di situ terdapat hampir 14 juta rupiah. Malam itu kami cukup mengambil 200 ribu rupiah.
Ketika saya tanyakan pada teman-teman saya, ternyata kami mendapatkan tambahan tunjangan profesi setelah pangkat dan golongan kami disesuaikan/inpassing. Saya sangat bersyukur. Dari kartu sakti ini saya bisa tahu saldo rekening kami tiap saat.
Tiba saatnya saya mudik ke Yogyakarta, di rumah orang tua, saya merasa aman. Saya tidak was-was lagi kehabisan uang karena saya bisa menarik uang di mana dan kapan saja.
Pengalaman yang saya tulis ini murni pengalaman saya pribadi. Awalnya saya menjauhi kartu ATM, tapi setelah tahu banyak manfaatnya saya merasa nyaman menggunakannya. Agar saya tidak tergiur untuk mengambil/menarik uang lewat mesin ATM, maka kartu tersebut saya titipkan suami. Kalau suami teramat tertib, dia tidak akan menarik uang biarpun dompetnya kosong. Dia merasa kartu ATM saya adalah hak saya, dia tidak berhak menarik uang tanpa sepengetahuan saya.
Semoga tulisan saya ini bermanfaat.
Karanganyar, 25 Juli 2015