Rabu, 22 Juli 2015

Reuni SMA-ku Bukan Ajang Pamer Kesuksesan


Gambar 1. Abu-abu Putih alias jadul
(Sumber : dokumen Edi Yulianto)

Alhamdulillah, lebaran tahun ini saya bisa mudik ke kampung halaman. Tepatnya di Kecamatan Mantrijeron, Kodya Yogyakarta. Bersilaturahmi, berkumpul bersama orang tua dan saudara merupakan anugerah yang luar biasa. Saya wajib bersyukur, umur saya bisa bermanfaat dan waktu luang bisa saya gunakan untuk hal-hal yang positif.
Kesempatan yang baik ini saya gunakan untuk memenuhi undangan Reuni Angkatan ’90 kelas 3A1 SMA N Tirtonirmolo, Yogyakarta. Reuni ini diadakan di rumah mbak Warti, teman saya yang jenius. Dari kelas 1 sampai kelas 3 dia selalu yang terdepan. Mbak Warti mengikuti suami yang tinggal di Palpabang, Kabupaten Bantul, DIY.
Hampir 25 tahun setelah lulus SMA saya tidak bertemu sahabat-sahabat saya. Terakhir saya bertemu mereka ketika reuni di rumah mas Hari Sakti Pancasunu di Suryowijayan. Setelah itu bila ada reuni saya termasuk ketinggalan berita. Konon kabarnya tahun 2009 juga ada reuni untuk kelas kami, tapi waktu itu saya tidak mudik karena mertua sakit dan masih dalam suasana lebaran mertua saya meninggal.
Tahun 2010, seingat saya di SMA juga ada reuni lintas angkatan. Saya juga tidak bisa mudik karena saya memiliki baby yang berusia 3 bulan. Jadilah reuni tahun 2015 ini teramat berharga buat saya. Meskipun yang datang hanya sebagian kecil saja, alhamdulillah yang berhalangan hadir dalam keadaan sehat wal afiat.
Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Akan tetapi setelah berkumpul kembali, kami merasa suasananya masih seperti di ruangan kelas antara tahun 1989-1990. Masya Allah, saya tak mengenal sahabat-sahabat saya menjadi orang yang sekarang. Saya mengenal mereka seperti berseragam abu-abu putih berusia 17 tahun (merasa masih imut).

Gambar 2. Penampakan 25 tahun dari abu-abu putih
(Sumber : dokumen Adi Cahyadi)

Yang membuat saya terharu, sahabat-sahabat saya berkumpul bukan untuk pamer kesuksesan, bukan untuk pamer pangkat dan jabatan, bukan untuk pamer kekayaan. Kami mengenang cerita masa SMA. Dan kami dengan suka cita bertukar cerita dengan keluarga besar. Anak-anak dan pasangan ikut serta berbaur. Benar-benar seperti keluarga.

Gambar 3. Ima Libil, sahabat-sahabat dan  keluarga
(Sumber : Dokumen Adi Cahyadi)

Suasana reuni penuh keakraban. Berkumpul di rumah teman berbeda sekali dengan berkumpul di rumah makan atau gedung pertemuan. Apalagi rumah mbak Warti dekat dengan tanah pertanian. Banyak pohon tahunan yang tumbuh di sekitar rumah. Udara benar-benar sejuk.
Ada lagi yang membuat saya kerasan dan betah di rumah ini, yaitu di rumah mbak Warti serasa di rumah saya sendiri. Rumah saya juga dikelilingi sawah dan kaya pohon tahunan. Pohon-pohon besar tersebut menyumbang oksigen. Alhamdulillah, sehatku dengan oksigen gratis!
Sahabat-sahabat yang hadir di rumah mbak Warti yaitu:
Mas Harjono Padmono Putro, pak ketua kelas. Mas Harjono ini orangnya super kocak (memang teman sekelasku kocak kabeh), pemain basket handal, pandai memimpin, arif dan bijaksana. Sekarang menjadi dosen dan ternyata punya yayasan yang mengelola SMK jurusan IT. Saya doakan sukses. Mas Harjono ini seorang mualaf.
Mas Edi Yulianto, si jago MIPA. Mas Edi memiliki keahlian di bidang perkayuan (mebel ya). Selain ini memiliki kos-kosan dan dapurnya terus mengepul berkat usahanya di bidang laundry. Sukses ya Mas Edi! Beberapa tahun yang lalu tiba-tiba Mas Edi dan Ahmad Darojat pada hari yang sama tapi waktunya berbeda datang ke rumah saya di Karanganyar. Saya sangat terharu waktu itu, kedatangan tamu istimewa.
Mas Adi Cahyadi, pemain basket dan pembalap (wuih hobinya hebat). Setelah lulus SMA Mas Adi bekerja di kantor pos. Sekarang jabatannya juga sudah berada di atas. Mas Adi juga jago melacak rumah yang sulit dijangkau karena terbiasa mengantar surat (haduh, ini bercanda). Mas Adi termasuk menikah di usia masih muda, tahun 1993 sudah memiliki anak. Sttt isterinya bernama mbak Penta, adik kelas kami dan pemain basket juga. Hehe seiya sekata ya. Selamat dan sukses ya Mas Adi.
Mas Barudi Hidayat, sahabat saya yang pendiam. Dia mengaku orangnya biasa-biasa saja, tidak menonjol dan tidak punya prestasi yang dibanggakan waktu di SMA. Sepertinya Mas Barudi ini tidak mau menyombongkan diri. Katanya, dia tidak bekerja. Tapi kami tidak percaya begitu saja. Dia memang tidak bekerja tapi di galerinya terdapat karyawan yang mendapatkan gaji darinya. Cekcekcek, bersama isterinya menjadi team solid yang kompak!
Mas Agus Nurjanto, sahabat saya paling akrab dari kelas 2. Mas Agus pindah ke SMA Tirtonirmolo dari Kalimantan. Dahulu saya suka mencatatkan pelajaran apa saja di bukunya. Mas Agus dan saya suka bercerita tentang keluarga. Pada suatu hari Mas Agus datang ke rumah saya. Kebetulan bapak saya sedang membuat perabotan dari kayu. Mas Agus tak percaya kalau seorang tukang kayu yang membuat perabotan itu adalah bapak saya. Saya sih pede saja. Tak minder sama sekali!
Mas Kukuh Heru Kuncoro, si hitam manis pede habis! Mas Kukuh ini orangnya supel. Kalau laki-laki yang satu ini memang terkenal di sekolah. Bapaknya Mas Kukuh namanya juga Pak Kukuh, dulu menjabat sebagai kepala sekolah. Mas Kukuh aktif dalam kegiatan OSIS. Seingat saya Mas Kukuh ini kerap mewakili sekolah untuk kegiatan di luar. Mas Kukuh sekarang sukses. Kesuksesan ini menjadikan dia jarang di rumah. Meskipun saya tidak tahu yang sebenarnya (karena tidak ngobrol) tapi saya mengikuti kabarnya lewat facebook. Statusnya yang sering ditulis antara lain perjalanan terbangnya, menginap di hotel, reparasi body alias pijat. Yang tak kalah penting statusnya adalah cek kesehatan. Hehe, jaga pola makan dan istirahat yang cukup ya Mas Kukuh!
Mas Bambang Prasetyo, pak dokter. Mas Bambang ini pindahan dari SMA N 5 Yogyakarta. Saya tak begitu dekat dengan Mas Bambang. Tapi saya tahu dia suka pelajaran MIPA. Dahulu Mas Bambang dekat dengan Lia (maksudnya akrab ya, tak ada unsur lain menurut saya). Sejak dulu Mas Bambang ini memakai kacamata tebal. Dia terlalu serius untuk pelajaran. Waktu ketemu saya tidak pangling, malah saya juga cepat mengenal anaknya yang juga memakai kacamata tebal.
Mas Budi Santoso, Pak dokter yang menikah dengan teman sekelas kami Mbak Rosa Listyandari. Mas Budi ini satu kampung dengan saya. Dulu saya menjadi teman dekat Mas Budi (hanya teman biasa, bukan teman tapi mesra loh). Mas Budi ini senang berkelahi. Tapi dia orangnya konsekuen. Menang atau kalah habis berantem tetap menjunjung tinggi sportifitas. Dengan lawannya dia akan merangkul dan dari berkelahi pulangnya jalan bareng. Aneh, ini orang! Ada peristiwa yang tak bakal saya lupakan tentang kebandelan dan usilnya Mas Budi. Setelah pulang sekolah (pelajaran terakhir praktek kimia), kami melewati jembatan Julantoro. Dari atas jembatan, Mas Budi lempar benda ke air dan menimbulkan ledakan. Ternyata Mas Budi mengambil logam Natrium. Tahu tidak kalau logam Natrium bila bereaksi dengan air akan menimbulkan gas hidrogen disertai ledakan? Jangan ditiru ya perbuatannya.
Mbak Rosa Listyandari, panggilan akrabnya Lilis. Mas Budi dan mbak Lilis ini dekat sejak SMA. Tentu saja dekat dalam artian ada pletik-pletik. Kebetulan satu kelas, hanya ada 9 anak perempuan.dari kesembilan anak ini satu sama lain menjadi teman dekat. Mbak Lilis juga jago MIPA. Ah, ternyata anak-anak kelas 3A1 memang jago MIPA. Saya bertemu Mbak Lilis hanya lewat fb. Dari fb ini barulah saya tahu dia menikah dengan Mas Budi. Mbak Lilis juga penulis buku. Dulu mengakunya hanya membantu meracik obat. Oalah ternyata memiliki usaha di bidang per-obatan. Ya sudah, sukses buat kalian berdua mbak Lilis dan Mas Budi. (Pasangan ini pemecah rekor, reuni terus).
Mbak Warti, si jenius dan selalu nomor satu. Mbak Warti namanya cukup singkat dengan 5 huruf saja. Tiga tahun menjadi teman saya. Mbak Warti menguasai pelajaran apa saja. Dia adalah murid kesayangannya Pak Ramelan, guru Fisika dan Pak Mardi, guru Matematika. Ada pengalaman yang tidak akan saya lupakan bersama mbak Warti dan mbak Siti. Kami bertiga mengikuti Lomba Kimia yang diadakan di Universitas Gadjah Mada. Tanpa persiapan yang berarti. Mewakili sekolah tapi berangkat sendiri. Meskipun bertarung hanya sampai tahap 2, tapi saya bersyukur. Terlalu pede mengikuti lomba yang diikuti dari berbagai daerah (kalau tidak salah DIY-Jateng atau Jawa-Bali). Sekarang mbak Warti menekuni usaha di rumah. Dia lulus dari UGM dengan gelar sarjana (Jurusan Kimia Ilmu Murni).
Yang terakhir adalah saya, Noer Ima Kaltsum dengan panggilan Ima Libil. Libil orangnya sederhana, tidak berprestasi, tidak suka neko-neko dan simpel. Mudah bergaul dengan siapa saja. Dari suka pelajaran MIPA akhirnya jatuh cinta pada Kimia. Pengalaman bersama teman-teman kelas 3A1 yang membuat heboh adalah menyembunyikan buah nangka yang sudah diincar karyawan sekolah yang merawat pohonnya. Meskipun tak memiliki prestasi, Libil tetap percaya diri. Ekstrakurikuler yang diikuti KIR memudahkan dia menulis. Sekarang Libil mengajar Kimia dan menjadi petani sayuran.
Itulah hasil pertemuan, temu kangen, bincang-bincang ringan dan mengenang masa lalu. Kalaupun bercerita dentang pekerjaan itu tidak bermaksud pamer kesuksesan. Terima kasih sahabat. Berjumpa lagi di tahun mendatang di rumahnya Mas Edi Yulianto, Insya Allah.
Karanganyar, 22 Juli 2015
By Ima Libil