Minggu, 09 Agustus 2015

Perlunya Menejemen Waktu Untuk Anak Sekolah


Gambar : Refreshing setelah Sekolah
Berdiri : Adhi, Devon, Anjas, Nunggal, Gilang, Nandy, Mr X, Budi Agung, Ardi
Jongkok : Refo, Kriswanto, ilham, Purnomo
(Sumber : dok. Muhammad Anjas)
  
Jangan bertanya siapa saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan orang penting. Saya sadar diri, tidak menjadi orang yang sok penting. Saya hanya orang biasa, sederhana, simple dan apa adanya. Kalau bertanya pada saya tentang hal-hal rumit, akan saya sederhanakan dulu dan tentu jawaban saya tak akan bertele-tele, berbelit-belit. Langsung pada sasaran, dorrr. Moga tidak salah sasaran.
Ketika seorang siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang beraneka macam, pasti akan saya jebak dengan pengakuan saya bertemu dia di suatu tempat. Jelas dia akan mengelak dan ujung-ujungnya mengaku. Simple bukan?
“Kemarin tidak masuk sekolah, ke mana Mas?”Tanya saya
“Di rumah?”jawab siswa saya
“Memang Bapak/Ibu tidak ngopyak-opyak ke sekolah?”
“Bapak dan Ibu merantau.”
“Di rumah sama siapa?”
“Sama kakek dan nenek. Itu saja mereka sudah tua.”
“Tak ada saudara lain, misalnya Bulik, Paklik atau sepupu?”
“Ada, mereka repot sendiri.”
“Kemarin saya lihat kamu sama cewek berboncengan, ke mana?”kata saya sekenanya
“Nggak mungkin Bu.”
“Ngaku wae. Tinimbang urusannya panjang, walimu saya suruh ke sekolah lo.”gaya saya kalau memaksa anak mengaku.
“Ke Tawangmangu (ada yang bilang di kebun the Kemuning, Sarangan, Candi Cetho, Candi Sukuh. Sondokoro), Bu. Tapi tidak sendiri, sama teman-teman.”
Akhirnya dengan suka rela dia akan cerita ke mana bolosnya, sama siapa dia bolosnya. Memang serba salah sebagai wali kelas. Kalau anak dimarahi nanti dianggap pelanggaran HAM. Kalau tidak dikerasi anak tidak tertib, tidak disiplin. Anak tidak menghargai sekolah sebagai tempat membentuk karakter. Ujung-ujungnya pihak sekolah disalahkan tidak bisa mendidik siswanya. Harusnya ada kerja sama antara sekolah dengan orang tua.
Kalau di sekolah anak tanggung jawab Bapak dan Ibu Guru. Kalau di rumah, tentu saja tanggung jawab orang tua/walinya.
Berbeda dengan anak-anak yang rajin. Anak-anak bisa membagi waktu dan mengatur waktu. Seolah mereka memiliki menejemen waktu. Kapan mereka sekolah, kapan mereka bermain dan kapan belajar di rumah. Kalau ada anak yang tiap hari harus membantu orang tua, maka tiap menit bagi mereka waktunya sangat berharga.
Saya memang orang yang simple. Saya harus memberikan contoh mengatur waktu ala saya. Saya tidak pernah lupa  menyisipkan pesan untuk menuliskan sesuatu. Baik di fb maupun blog, bagi mereka yang memiliki. Bagi yang tidak memiliki akun, cukup menulis di buku dahulu.  Simple bukan? Karena saya memberikan contoh dengan karya-karya saya. Bahkan kalau di sekolah biasanya teman-teman bilang,”ini dia penulis.”
Meskipun nama saya belum besar, saya belum tenar, setidaknya tulisan saya bermanfaat bagi orang lain. Saya tidak malu disebut penulis. Saya teramat bangga. Tidak setiap orang bisa disebut penulis meski dia sering menulis. Kadang saya merasa berbunga-bunga. Selain menjadi guru, saya juga penulis (penulis fb dan blog).
Sebagai guru saya ingin bersikap tegas dan keras pada anak didik agar tidak diremehkan. Nada bicara, volume yang keluar bila terlalu lembut,  di depan anak-anak seperti lemah. Saya tidak mau seperti itu. Saya seperti apa adanya, simple, keras dan menyayangi siswa. Kalau terlalu lemah lembat malah tidak sayang siswa.
Pesan untuk orang tua: jangan terlalu percaya pada anak. Sekali tempo cek anak di sekolah. orang tua bekerja sama dengan pihak sekolah. segera mencari solusi bila ada tanda-tanda anak mulai tidak beres.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Karanganyar, 8 Agustus 2015 
Tulisan ini juga tayang di : http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/perlunya-menejemen-waktu-untuk-anak-sekolah_55c60f8003b0bded155633bf