Senin, 21 September 2015

Berani Jujur? Beritahu akun, email, dan password pada pasangan

Saya memiliki beberapa email, akun facebook, twitter, dan blog. Tidak ada yang saya rahasiakan. Pada suami dan anak saya, saya katakan email dan akun-akun saya beserta password-nya. Tapi rupanya suami dan anak saya tidak ambil pusing dan tidak tertarik. Sebab mereka tak membuka akun-akun saya. Mereka sangat percaya pada saya.
Dua hape saya juga tidak saya rahasiakan. Bahkan hp yang satu malah dibawa anak saya karena hp anak saya sedang sakit. Anak saya yang kelas 1 SMA juga tidak usil membuka-buka akun-akun saya. Hp yang lainnya kalau saya sudah pulang dari mengajar hanya saya taruh di rak.
Suami dan anak saya juga membuka-buka hp saya. Kalau suami biasanya menghidupkan TV dari hp saya. Maklum kami di rumah tak mempunyai TV. Sedangkan Faiq, anak saya, biasanya membuka-buka pesan yang masuk untuk mengecek pulsa (deposit) saya cukup untuk dikirim ke pelanggan atau tidak.
Mengapa saya begitu saja membiarkan hp dan akun-akun saya boleh dibuka suami dan anak saya? Tentu saja saya mempunyai niat baik. Selain itu agar keluarga kecil saya tahu aktifitas saya. Dengan siapa saya sering berkomunikasi. Isi beritanya apa?
Bila suatu saat terjadi apa-apa dengan saya, keluarga bisa mengecek lewat hp dan akun-akun saya. Apa yang terjadi sebelumnya? Pengalaman saya yang tidak mengenakkan antara lain :
1.      Suatu hari, ada pesan masuk dari seorang teman, tapi isinya tidak sama dengan kejadian pada hari itu. Teman saya mengucapkan terima kasih karena saya sudah mau mentraktir makan siang. Padahal saya sama sekali tidak pergi ke mana-mana sepulang mengajar. Saya ceritakan kejadian ini pada suami, dan suami percaya terhadap saya.
2.      Beberapa hari yang lalu ada sms mesra yang masuk di hp saya. Sms itu dari teman sekantor. Awalnya teman saya bilang pada saya kalau dia salah mengirim sms. Seharusnya bukan untuk saya. Bisa dibayangkan, sms teman saya memang belum masuk. Sampai di rumah sms itu masuk. Karena suami biasa membuka hp saya, apa yang terjadi bisa ditebak. Saya jelaskan pada suami bla-blabla. Karena suami saya tahu si pengirim itu memang “gatelan”, maka suami percaya kalau sms itu sebenarnya bukan untuk saya atau isterinya melainkan untuk wanita lain. Dengan selalu jujur, suami tidak pernah curiga sama sekali.
Demikian juga dengan suami saya. Hape dibiarkan begitu saja. Bahkan bila ada pesan masuk, pertama yang membuka hp-nya adalah saya. Biasanya tentang kegiatan olah raga, tentang musyawarah guru, dari murid-muridnya yang sedang mengikuti atau bertanya tentang kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kadang dari wali murid. Suami sering tidak membawa hp bila di luar jam kantor. Saya sering harus menjawab telepon atau sms yang masuk.
Kami jujur dan tak ada yang kami sembunyikan. Sudahkah Anda terbuka soal akun-akun dan passwordnya pada pasangan Anda? Insya Allah Anda terbuka dan jujur terhadap pasangan Anda. Kalau Anda tidak terbuka dan ada yang ditutupi terhadap pasangan Anda, tentu punya alasan. Apalagi kalau pasangan Anda tidak boleh menyentuh hp Anda dan membukanya. Bila ketahuan salah satu membuka hp pasangan lalu marahnya dengan sangat, berarti ada yang dirahasiakan? Itu yang tahu hanya Anda dan Yang Maha Mengawasi. Jujur, mulailah dari kita terbuka tentang email dan akun-akun kita. Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 21 September 2015

Sumber: