Rabu, 23 September 2015

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Karena Mitos Ge-ing

Masa remaja penuh dengan bunga-bunga cinta, itu tidak berlaku padaku. Bapak memang berlaku sangat keras dan tegas terhadap anak-anaknya. Semua itu dapat dipetik hikmahnya. Aku sangat bersyukur karena Bapak sejak awal melarang aku berpacaran. Bagi Bapak berteman atau bersahabat boleh-boleh saja. Akan tetapi bila seorang teman laki-laki sudah sering datang ke rumah, Bapak akan menaruh curiga yang sangat besar. Bisa jadi Bapak mengusir temanku . Beruntung, Bapak belum pernah melakukan itu sebab aku sendiri tidak mau teramat dekat dengan lawan jenis.
Bapak inginnya aku focus sekolah dan menjadi muslimah manis dengan mengikuti kegiatan masjid terdekat. Bapak lebih suka bila aku banyak mengikuti kegiatan di masjid. Misalnya kegiatan Ramadhan, Hari Besar Agama Islam, Pengajian Rutin Jumat Malam untuk orang tua (padahal aku masih gadis, bukan ibu-ibu loh. Ada-ada saja Bapakku ini), dan Pengajian anak-anak/TPA.
Ternyata ketika aku remaja memang asyik juga. Karena aku sering terlibat pada kegiatan masjid, aku lebih dikenal daripada saudara-saudaraku yang lain. Tapi konsekuensinya aku tidak bisa sembarangan bergaul dengan lawan jenis. Soal pacaran, Bapak melarang keras.
Namanya juga aktif di setiap kegiatan kampung/masjid, lama-lama kok ya ada tetangga naksir aku. Padahal aku merasa wajahku biasa-biasa saja. Batinku, halah laki-laki ganteng, mbok kamunya pilih yang lain saja. Bukan apa-apa, Bapakku galak banget. Kamu menyesal dekat denganku. Aku pakai kerudung loh! (Memang sejak tahun 1991 resmi aku pakai kerudung ke mana saja aku pergi. Sebelumnya, ketika SMA memakai kerudung hanya pas mengaji atau bepergian jauh saja). Dan aku tidak mau pacaran. Kamu nanti menyesal, lalu bercerita di luar kalau aku orang yang sok (memberikan penilaian negative hanya karena cintamu tak kutanggapi).
Alhamdulillah, ada jalan untuk menolak laki-laki ganteng itu. Tapi ini sebenarnya ceritanya tragis dan sempat melelehkan air mataku. Ceritanya tahun 1989 (lebih dari 25 tahun yang lalu ya mak!), sepulang sekolah aku dimarahi Bapak habis-habisan. Kebetulan Bapak membuat barang dari kayu seperti almari dan kursi di rumah. Padahal sungguh aku tak tahu penyebabnya. Sampai sekarang aku ingat betul kata-kata Bapak.
“Tidak usah sekolah saja. Memalukan orang tua!”
Kata-kata Bapak selebihnya amarah. Tapi sungguh aku tak tahu penyebabnya. Aku menangis karena tak tahu harus berbuat apa. Perih banget, Bapak yang keras dan tegas tidak mau mengatakan alasannya.   
Setelah shalat, aku tidur. Sore harinya, kakakku yang bekerja di lab biologi mengajakku mencari tanaman untuk praktek mahasiswa. Di sepanjang perjalanan kakakku bercerita tentang peristiwa siang itu dan mengapa Bapak menjadi marah.
Siang itu Bapak kedatangan tamu tak diundang. Beliau seorang perempuan yang sudah setengah baya memakai kain kebaya dan jarik. Perempuan setengah baya tadi bilang pada Bapak agar aku tidak mendekati anak laki-lakinya dengan alasan bla-bla. Wusss, Bapak yang mudah emosi mengiyakan kata-kata perempuan tadi dan bersiap-siap memarahiku. Bapak tidak bertanya baik-baik alias kroscek ke aku dulu. Bapak memang begitu, kalau sudah bilang pokoknya maka tak ada yang berani membantah.
“Oalah, jadi itu to yang membuat Bapak marah.”
Perempuan itu adalah penjual jamu keliling di kampung. Beliau adalah ibu dari laki-laki ganteng yang naksir aku. Untung aku memiliki kesabaran yang tinggi. Kuambil nafas dalam-dalam. Aku beristighfar, astaghfirulloh.
Benar, hari berikutnya laki-laki itu menemuiku ketika aku pulang sekolah.
“Mulai sekarang jauhi aku. Sudah sejak awal aku bilang jangan dekati aku!”
Aku tak perlu menjelaskan panjang lebar. Cukup sampai di sini saja! Aku lebih memilih keluargaku daripada berteman dengan orang membuat hidupku penuh dengan penderitaan. Huhhh.
00000
Tak lama kemudian tetangga satu gang ada yang naksir aku. Wuih, benci banget aku. Kok aku harus mengalami ini lagi. Sebut saja Boy. Boy orangnya tidak terlalu tinggi, bicaranya gagap, kaki dan tangan sebelah tidak normal. Aku menghargai Boy, karena dia tetangga dekat. Setiap kegiatan selalu bersama-sama. Tentu saja dia salah alamat banget kalau suka padaku.
Oit, jangan punya prasangka buruk dulu padaku. Boy ini masih percaya klenik. Keluarganya juga kental banget dengan klenik. Suatu hari dia mengatakan suka denganku. Saat itu aku tak menjawab. Aku harus menyusun kata-kata agar tidak menyinggung dirinya. Bagaimana caranya agar penolakanku tak membuat hatinya perih dan terluka. Aku terus berpikir keras, memutar otak.
Keluargaku juga tahu kalau Boy suka padaku. Keluargaku juga bingung mau memberi solusi. Takut menyinggung Boy dan keluarganya. Kalau langsung menolak, nanti dikira tidak mau menerima Boy karena keadaan fisiknya. Ya Allah, berilah makhluk cantik ini (namaku  Kaltsum memiliki arti cantik) jalan keluar.
Aku belum juga diberi jalan keluar. Bapak hanya mengingatkanku untuk tidur di lantai hanya beralaskan tikar. Kenapa begitu? Agar aku aman dari bentuk santet dan kiriman mara bahaya. (Konon katanya santet mudah dikirim dan mengenai sasaran yang berada pada tempat yang panas/hangat. Logikanya : syetan > jin > api > panas). Masuk akal juga. Ya udah demi kebaikan, moga-moga saran Bapakku yang sholeh ini manjur.
Suatu hari orang tua Boy mengirimi oleh-oleh pada keluargaku. Keluargaku tidak hepi dan bahagia. Bapak dan ibu serta bulik tahu isyarat oleh-oleh itu. Ada lemper, beras ketan putih, wajik. Pokoknya makanan yang berbahan dasar ketan. Ketan itu lengket. Artinya biar aku lengket atau kelet atau terkanthil-kanthil. Ya Allah, beri aku jalan keluar!
Aku sudah menyiapkan jawaban. Dan aku sudah siap dengan pernyataanku. Semoga Allah memudahkan urusanku. Bismillah. Aku diminta datang oleh keluarga Boy. Setelah ngobrol dengan keluarganya cukup, mereka meninggalkan aku dan Boy.
“Boy, apa hari pasaranmu?”tanyaku.
“Wage.”jawabnya.
Yes! Itu yang aku nanti-nanti wage atau pahing. Kalau dia bilang wage, maka aku akan berbohong kalau aku pahing. Sebaliknya kalau dia pahing, aku akan bilang wage. Menurut kepercayaan orang Jawa dan yang masih percaya klenik, tidak boleh ada pernikahan kalau pasangan itu hari lahirnya berpasaran wage dan pahing yang biasa disebut Ge-ing. Karena pasangan Ge-ing rumah tangganya tidak akan bahagia.
“Aku pahing.”
“Pahing?”
00000
Boy bilang tidak akan melanjutkan hubungan denganku (padahal aku tak merasa punya hubungan special secuil pun). Sebab orang tua dan keluarganya tidak mau nekat dengan melawan mitos Ge-ing.
Yes, Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah. Aku telah berbohong demi kebaikan. Semoga Allah mengampuniku. Beberapa bulan kemudian Boy menikah dengan tetanggaku juga. Dan isteri Boy adalah perempuan yang rumahnya di depan rumah Bapakku. Blaik!
Sampai sekarang aku geli sendiri dengan mitos Ge-ing tadi. Sebab aku lahir bukan di pasaran pahing, melainkan Pon.
Karanganyar, 23 September 2015
Cerita ini diikutsertakan pada GA yang diselenggarakan oleh www.listeninda.com