Rabu, 30 September 2015

Dalam Bahagia Ada Cinta

Orang yang merasa bahagia pasti kebutuhan hidupnya terpenuhi. Terpenuhinya sandang, pangan dan papan. Tidak hanya itu sekarang alat komunikasi, wisata, dan hiburan tak lagi dianggap sebagai kebutuhan sekunder. Yang disebut sebelumnya itu adalah kebutuhan primer. Akan tetapi standar terpenuhi kebutuhan hidup antara satu dengan yang lain tentulah berbeda.
Seseorang mungkin cukup dengan makan nasi dan lauknya 3 kali sehari dan air the. Akan tetapi bagi orang lain mungkin nasi bisa diganti dengan roti, umbi-umbian atau sayuran.
Sesederhana apapun seandainya rumah milik sendiri, orang akan merasa nyaman dan bahagia bila menempatinya. Tapi jangan mencibir terhadap orang yang selalu merasa nyaman dengan rumah mewah dengan segala isinya meskipun tinggal di rumah kontrakan. Mungkin ada yang merasa nyaman tinggal di rumah kontrakan yang mewah daripada gubuk reyot milik sendiri.
Tentu saja masing-masing orang memiliki alasan sendiri, memiliki standar hidup bahagia sendiri. Maka hargailah setiap pendapat orang lain. Jangan memaksakan ukuran/standar suatu kebahagiaan kita kepada orang lain.
Ada orang yang sudah merasa bahagia dan nyaman dengan naik sepeda. Akan tetapi ada orang yang hanya merasa nyaman bila dia naik mobil. Ya, suka-suka mereka saja. Hidup-hidup juga miliknya. Mengapa kita harus usil dengan bahagianya orang lain?
Sebagai orang yang sudah punya nama dan dikenal masyarakat luas, tentu saja ingin berpenampilan semenarik mungkin. Jangan salahkan orang lain kalau mereka ingin tampil nomor satu.
Yang menempel di badannya adalah baju-baju dia, mau yang bermerek atau bukan, yang murah atau yang mahal itu bukan urusan kita. Turunkan ego kita, hargai pendapat orang lain. Kalau kita sudah cukup nyaman dengan baju ringgo (garing dinggo atau kering dipakai), biarkan orang lain gonta-ganti pakaian. Kita tak usah sakit hati kalau orang lain mengenakan pakaian yang selalu modelnya terbaru.
00000
Bahagia itu kalau kantong atau dompetnya terisi. Entah itu uang pribadi atau utangan, yang penting uang ada di dompet. Bahkan sekarang banyak yang merasa nyaman, bahagia dan sejahtera kalau ATM yang dibawa saldonya cukup. Cukup untuk jajan, cukup untuk membeli bensin, busi, mengganti ban, menambal ban bocor. Jadi cukup di sini amatlah relative. Standarnya orang naik sepeda dengan naik mobil, nilai minimal uang yang harus dibawa tidaklah sama.
Akan tetapi bahagia itu sebenarnya bila ada cinta. Orang yang bahagia pasti punya cinta (cinta sembarang cinta), tapi orang yang punya cinta belum tentu bahagia. Contoh nih contoh (walaupun tidak mutlak alias relative loh): orang yang bahagia di rumahnya pasti di rumahnya ada cinta. Tapi ada cinta tidak selalu bahagia. Orang yang tidak bahagia di rumahnya, tidak menemukan cinta,  sebagian besar mencari kebahagiaan di mana ada cinta di dalamnya yaitu di luar rumah.
Jangan meremehkan orang yang mengatakan bahagia itu kalau ada uang. Dengan adanya uang bisa memenuhi kebutuhan primer dan sekunder. Jangan bilang yang penting ada cinta, sebab cinta saja tidak cukup. Apakah kita hanya mau makan cinta? Oh, tentu saja tidak. Uang memang bukan segala-galanya. Uang tidak bisa untuk membeli kebahagiaan. Tapi uang bisa membuat kita bahagia.
Menurut saya bahagia itu ada cinta dan kasih sayang (sok romantis), ada uang, ada pasangan dan anak-anak yang sholeh dan sholehah, terpenuhinya kebutuhan yang ada dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Orang yang tidak bahagia, hidupnya tak ada cinta, tak ada semangat untuk mewujudkan cinta, tak ada materi yang memenuhi kebutuhannya.
Satu lagi, bahagianya seorang penulis adalah kalau tulisannya bisa bermanfaat untuk orang lain, artikelnya dimuat di media cetak/media massa, bukunya diterbitkan dan royaltinya datang bertubi-tubi. Kalau sudah seperti itu semangat menulis pun membuatnya bahagia.
Karanganyar, 29 September 2015
Sumber :
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/dalam-bahagia-ada-cinta_560aab48317a61030a165029