Jumat, 25 September 2015

Laki-laki Yang Diam

Enam bulan yang lalu kehadiranku di rumah saudara ini mungkin  menimbulkan banyak tanya para tetangga. Akan tetapi saudaraku, Mas Budi dan isterinya, secepatnya melapor pada pengurus RT. Kata Mas Budi waktu itu, aku adalah saudaranya yang akan menetap di rumahnya.
Rumah Mas Budi tadinya sepi, setiap pagi sampai sore tak berpenghuni. Setelah aku hadir di tengah keluarga Mas Budi rumah menjadi kelihatan lebih hidup. Rumah dengan halaman luas aku sulap menjadi hutan. Semua itu atas ijin Mas Budi. Sedikit demi sedikit aku isi halaman rumah dengan tanaman sayutan dalam pot. Ada juga tanaman dalam polibag.
Mas Budi mengatakan pada tetangga kalau aku pendiam. Tidak banyak bicara. Bukan berarti aku sombong. Sebenarnya aku ramah. Lama kelamaan aku hafal dengan tetangga. Bertegur sapa tidak harus dengan ngobrol. Aku cukup tersenyum bila sekali tempo bertemu langsung dengan tetangga.
Aku memang pelit untuk bicara. Dengan Mas Budi, isteri dan anak-anaknya aku juga jarang bicara. Aku batasi bicaraku, aku harus menutup diri. Aku takut kalau banyak bicara aku akan mengobral cerita. Ceritaku tersebar ke mana-mana. Cukup keluargaku saja yang tahu tentang aku.
 OOOOO
Seperti pagi sebelumnya aku mulai untuk bekerja di halaman rumah yang semakin asri. Beberapa sayuran sudah siap panen. Aku sudah bilang pada isteri Mas Budi untuk mengundang tetangga. Aku ingin melihat orang lain senang memanen sayuran sendiri di kebun.
Karena belum ada tetangga yang datang ke rumah ini, aku memanen sendiri hasil kebun. Hasil panen aku kumpulkan dalam tas. Aku berharap isteri Mas Budi mau membagi-bagikan hasil panen pada tetangga.
Di bawah pohon mangga aku beristirahat sambil membersihkan rumput. Tiba-tiba mataku tertuju pada becak yang melintas di jalan depan rumah. Iseng-iseng pandanganku mengikuti jalannya becak.  Becak itu berhenti di depan rumah tingkat bercat hijau. Dua orang penumpang turun dari becak.
Aku melanjutkan pekerjaanku. Setelah semuanya selesai perasaanku lega. Satu pekerjaan berhasil kuselesaikan dengan sukses. Aku mengerjakan pekerjaan yang lain. Sebagai penulis lepas, aku bebas kapan memulai dan mengakhiri pekerjaanku.
Untuk menulis artikel, aku tidak mematok target. Prinsipku aku harus konsisten menulis setiap hari. Waktunya tidak mengikat, kapan pun aku lakukan. Aku memang orang merdeka.
Sejak aku melihat becak menurunkan penumpang beberapa hari yang lalu, aku jadi mempunyai bahan untuk tulisanku. Setiap pagi aku melihat seorang laki-laki bersama tetangga berjalan di depan rumah Mas Budi.
Walaupun pagi hari, tapi lelaki itu selalu memakai topi. Sepertinya, dia tidak mau diketahui oleh orang lain. Kalau aku tak banyak bicara dan menjadi pendiam untuk menutup diri. Akan tetapi laki-laki itu diam, entah karena apa?
Suatu hari Mas Budi bercerita tentang lelaki yang diam bertopi saudara tetangga. Laki-laki yang diam karena mengalami depresi. Laki-laki yang diam itu bukan caleg yang gagal. Laki-laki yang diam itu bukan caleg yang telah menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta. Tapi laki-laki itu masih erat dengan pileg tahun ini.
Laki-laki itu adalah tim sukses dari seorang caleg. Kebetulan caleg yang dipromosikan tersebut juga berhasil meraih suara. Artinya sang caleg kemungkinan besar bisa masuk gedung DPRD.
Mendengar kata-kata tim sukses aku jadi ingat laki-laki yang kutinggalkan beberapa bulan yang lalu. Aku meninggalkan kampung halaman, meninggalkan semuanya. Aku meninggalkan orang yang aku sayangi.
Aku tidak suka politik. Sebelumnya aku tidak tahu kalau calon suami suka di dunia politik. Tidak dengan cekcok yang hebat. Cukup aku dan calon suami yang tahu. Kuselesaikan masalahku dengan cara cerdas dan dewasa.
Waktu itu aku hanya bilang,”Ternyata kita beda. Dunia kita beda. Aku tidak suka dunia politik. Aku tidak mau membangun keluarga di atas prinsip yang berbeda. Aku tidak buta politik. Tapi aku tak mau berspekulasi masuk di dalamnya.”
Calon suami bukan caleg yang maju di pileg. Calon suami hanya tim sukses. Bagiku sama saja. Aku tidak mau berlarut-larut. Mumpung belum terlanjur. Walaupun hubungan sudah terjalin serius, tapi aku harus mengambil sikap. Perpisahan ini jalan terbaik.
Untuk melupakan semuanya, aku harus meninggalkan kampung halaman. Akhirnya kuputuskan untuk tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Di sebuah desa yang terletak di sebelah timur kota Solo.
Aku lebih senang lagi karena keluarga Mas Budi memiliki rumah yang lain. Terletak di bawah lereng Gunung Lawu. Desa Kemuning, tempat yang sejuk. Sejauh mata memandang yang kulihat adalah hijau, sawah, kebun teh, dan kebun sayuran.
Sekali tempo aku diajak ke desa Kemuning. Benar-benar suasana yang dapat menyegarkan pikiran. Di sinilah kemampuanku menulis diuji. Dengan bekal kamera manual dan digital yang kumiliki aku bisa mencari kemudian menuliskan berita.
OOOOO
Hari Minggu pagi ini aku lihat keluarga Mas Budi berada di depan rumah. Mereka melakukan kegiatan dengan rasa suka cita. Tiba-tiba laki-laki yang diam bersama tetangga memasuki halaman rumah. Mereka berbincang-bincang akrab. Laki-laki yang diam itu bahkan melihat-lihat sayuran dalam pot dan polibag. Sesekali laki-laki yang diam itu memegang sayuran.
Dari balik kaca jendela aku perhatikan laki-laki yang diam itu. Laki-laki yang diam itu membuka topinya. Aku membalikkan badan meninggalkan jendela.
Aku menyiapkan sarapan dan teh panas buat keluarga ini. Semua sudah siap. Menunggu keluarga ini masuk rumah, aku membuka catatan kecilku. Aku goreskan pena lagi membentuk beberapa kalimat untuk melengkapi tulisanku.
“Masakan Tante Ima enak.” Andri, anak kelas 2 SD itu memuji.
“Iya. “ sahut Rafi, kakaknya.
Aku menghentikan pekerjaan lalu bergabung dengan mereka. Pagi ini suasana akrab di ruang makan. Kata isteri Mas Budi hari ini akan ke Kemuning lagi. Tapi bersama tetangga dan laki-laki yang diam itu. Oh. Berarti aku tidak usah ikut.
Rafi dan Andri selesai makan langsung melihat TV. Mereka memilih acara yang menarik, film kartun.
“Kasihan laki-laki itu.” Mas Budi membuka pembicaraan.
“Memang ada apa?” tanyaku.
“Dia, Mas Hanung namanya, korban caleg. Sebagai tim sukses yang berhasil memengaruhi orang-orang untuk memilih caleg. Begitu caleg berhasil mengumpulkan suara banyak, caleg ingkar janji. Caleg berjanji bila berhasil lolos dalam pileg, akan membagi-bagi uang. Tetapi nyatanya tidak. Mas Hanung setiap hari ditagih sama orang-orang. Sementara sang caleg hanya melambaikan tangan alias bye-bye. Mas Hanung akhirnya depresi. Sempat masuk rumah sakit. Tapi minta pulang. Dia ingin menenangkan diri di Tawangmangu. Padahal beberapa bulan sebelumnya dia telah mengorbankan banyak hal. Di antaranya adalah perempuan yang sebentar lagi mau dinikahinya.”
“O, begitu.”kataku
“Aku menawarkan untuk tinggal di rumah Kemuning sementara waktu.”
Aku diam. Begitu baiknya keluarga Mas Budi. Sampai-sampai menawarkan rumah asrinya untuk pengobatan orang sakit.
OOOOO
Siang ini keluarga Mas Budi mengantarkan Mas Hanung, laki-laki yang diam ke rumah di Kemuning. Mengantarkan laki-laki yang diam yang telah memilih melepaskan aku demi caleg yang dipromosikannya. Laki-laki yang diam justeru menjadi korban caleg berhasil yang ingkar janji. Beruntung dulu aku tidak mau terlibat sedikitpun.
Biarlah Mas Hanung tak lagi berhasil mengenalku selama beberapa hari ini. Biarlah semua aku simpan sendiri. Keluarga Mas Budi tidak tahu lebih jauh tentang aku dan laki-laki yang diam. (SELESAI) 
Karanganyar, 28 April 2014