Sabtu, 26 September 2015

Mulut Bisu

Hari ini aku mendapatkan pesan singkat mengejutkan dari adikku. Tentang tanah warisan dari orang tua. Sebelumnya tak ada yang mengutak-atik tentang peninggalan almarhum dan almarhumah, Bapak dan Ibu. Tiba-tiba aku ingin tahu, ada apa dengan pesan singkat itu.
“Hanafi, Mas. Dia menanyakan tanah warisan bagian dia yang mana?”kata Drajat.
“Drajat, memang Bapak dan Ibu meninggalkan banyak warisan tanah. Tapi selama ini kita belum pernah membicarakan tentang pembagian untuk kita berempat. Kok Hanafi tiba-tiba minta bagian. Memang ada apa dengan Hanafi?”tanyaku pada Drajat.
“Entahlah, sekarang Hanafi suka sms ke aku tentang tanah dan sertifikat. Mungkin dia lagi butuh uang atau kena masalah.”jawab adikku nomer dua.
“Ya sudah nanti kucoba menghubungi dia.”
00000
Komunikasi antara aku dan Hanafi hanya melalui pesan singkat. Hanafi tidak bicara langsung padaku. Aku sendiri juga tidak mempunyai keinginan untuk bicara langsung. Tapi sepertinya memang Hanafi lagi butuh uang. Hanya saja pertanyaanku buat apa?
Bukankah dia dan isterinya sudah mapan dan penghasilannya besar. Anaknya juga masih satu, masih kecil. Kurasa kebutuhannya belum banyak. Pasti ada yang tidak beres dengan adikku ini.
Hari ini Hanafi mengirim pesan singkat lagi. Intinya, dia kena tipu temannya. Dia dan temannya bekerja sama, berbisnis benda-benda pusaka yang konon keuntungannya menggiurkan. Dan bisa ditebak akhirnya! Teman bisnisnya pergi setelah membawa lari uangnya. Padahal uang itu juga hanya pinjaman dari teman sekantornya.
Teman sekantornya menagih uang yang dijanjikan Hanafi. Seandainya Hanafi menunda-nunda dan ingkar janji, maka Hanafi akan dilaporkan kepada atasannya. Besar kemungkinan Hanafi dipecat dari pekerjaannya. (Semudah itu?)
Ketika kusampaikan hal ini pada isteriku, isteriku setengah tidak percaya.
“Alah, itu mungkin cerita rekayasa. Aku tidak keberatan untuk membantu adikmu. Tapi jumlahnya berapa? Kapan dia akan mengembalikan? Yang penting, adikmu datang ke sini. Kalau perlu dengan isterinya.”
Hanafi mau meminjam uang sejumlah lima juta rupiah. Dia akan datang sendiri sore ini. Aku dan isteriku menunggu, sambil menyiapkan materi wejangan yang akan kusampaikan pada Hanafi.
Ketika datang, Hanafi kelihatan sekali salah tingkah. Sebenarnya hidupku sederhana dan biasa-biasa saja. Isteriku selama ini membantu mencari nafkah dengan mengajar. Tabungan kami juga tidak banyak. Tapi aku dan isteriku sepakat akan membantu kesulitan Hanafi. Semoga masalah Hanafi ada jalan keluarnya.
“Ada masalah apa to, Om. Kok sampai hutangnya menumpuk?”
“Kena tipu, mbak. Bisnis benda pusaka, kerja sama dengan teman. Tapi temanku terus pergi entah ke mana setelah menerima uang dariku.”
“Memang benda pusakanya belinya berapa, kalau dijual keuntungannya berapa?”
Hanafi tidak terus menjawab. Kelihatannya Hanafi tiak siap dengan pertanyaan isteriku.
“Om, aku dan kakakmu hidup ya begini-begini saja. Sebelas tahun menempati rumah, sejak dulu rumah tidak ada peningkatan yang berarti. Tidak ngoyo dan selalu bersyukur. Sebenarnya menjadi kaya sih kepingin juga. Cuma ya harus bekerja keras. Tidak mungkin bisa kaya tanpa kerja keras.”
“Terus terang, Mas. Aku pingin bisa kaya seperti orang-orang. Hidupnya serba enak, tidak susah.’
“Tapi kaya jangan dengan cara instan. Yang realistis saja. Coba, kamu kena tipu, kena masalah, dan datang ke sini, isterimu tahu tidak?”
“Tidak, Mas. Dan kumohon jangan ceritakan pada isteriku!”
Walah, tenan. Isterinya tidak tahu. Ada yang tidak beres dengan adikku. Aku tidak panjang lebar. Dan uang lima juta diserahkan kepada Hanafi oleh isteriku.
00000
Kali ini Hanafi meminta bantuan lagi. Mau meneruskan pendidikan, dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Aku diminta untuk menyiapkan sejumlah uang. Uang tersebut digunakan untuk biaya hidup selama pendidikan.
Isteriku benar! Dulu dia bilang, sekali diberi kemudahan, nanti akan pinjam lagi. Ternyata kekhawatiran isteriku tidak salah.
“Jangan dikirimkan sejumlah yang dia sebutkan. Kirimkan saja satu juta. Bilang pada adikmu, ini tanggal tua. Untuk biaya hidup kami juga kurang. Uang yang dikirim untuk dia juga hasil ngutang teman.”
Beberapa hari kemudian Hanafi mengirim sms. Intinya minta dikirimi uang lagi. Untuk biaya hidup selama pendidikan, masih kurang.
“Bilang sama Hanafi. Berembuk dulu sama isterinya. Gantian isterinya disuruh mencarikan uang. Atau suruh isterinya telpon panjenengan, Yah. Kalau benar isterinya telpon, berarti isterinya tahu kalau dia mau pinjam uang kakaknya. Kalau isterinya tidak telpon, tidak usah digubris lagi sms-nya!” kelihatan isteriku emosi.
“Aku tidak tega sama adikku, Ma.”
“Panjenengan tidak tega sama kesulitan adik, tapi tega melihat isteri dan anaknya sendiri mau makan saja ikutan ngutang.”
Omongan isteriku pedas, tapi ada benarnya.
“Aku tidak mengijinkan panjenengan meminjami uang lagi. Coba renungkan beberapa hari lagi. Kebenaran ucapanku akan terbukti.”
00000
Setiap Hanafi mengirim pesan singkat, aku tak membalasnya. Tapi aku menyimpan semua pesan itu. Katanya, dia minta dicarikan pinjaman untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah pendidikan selesai dan hutang-hutangnya lunas, maka dia akan segera pindah tugas. Setelah itu dia mau mencairkan pinjaman ke bank, untuk melunasi hutang-hutangnya pada saudara-saudara.
“Bilang sama dia, isterinya disuruh telpon panjenengan. Aku pingin tahu saja! Kalau dia tidak membual, seharusnya sejak dahulu isterinya menelpon panjenengan untuk meminjam uang. Berarti benar, dia tidak cerita ke isterinya!”
“Kalau mau pinjam bank, yang mau tanggung jawab dan membayar angsurannya siapa? Enak saja bilang tolong carikan pinjaman bank.”
Andai saja dulu aku mendengarkan dan melaksanakan pendapat isteriku, mungkin aku tak serepot ini. Kata isteriku, tidak perlu menunggu 1000 hari meninggalnya ibu, semua warisan dibagi. Tiap anak memegang sertifikatnya sendiri-sendiri. Setelah itu terserah, mau dijual tanahnya, atau digadaikan sertifikatnya, atau untuk investasi.
 Aku dan Drajat sepakat, tidak akan menggubris pesan dari Hanafi. Kami punya keluarga dan tanggungan anak isteri sendiri. Drajat sendiri, dia justeru hidupnya lebih susah. Drajat dan isterinya tidak memiliki penghasilan tetap. Toko kelontongnya hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
00000
Hampir satu bulan, Hanafi tidak mengirim pesan singkat. Tidak ngrepoti pinjam uang lagi. Aku dan Drajat bisa bernafas lega.
Tiba-tiba aku diberi tahu Drajat bahwa Hanafi bersama anak isteri datang ke rumahnya. Pagi itu aku mendatangi rumah yang ditempati Drajat. Tidak lain rumah Bapak dan Ibu.
Di rumah Bapak dan Ibu aku bertemu isterinya Hanafi dan anaknya. Di ruang tamu ada anak dan isterinya Drajat. Drajat sendiri tidak ada. Sedangkan Hanafi entah di mana.
“Liburan ya nduk?” aku menyapa keponakanku, anaknya Hanafi.
“Iya, Pakde. Libur panjang.” Jawab isteri Hanafi.
Dua anakku dan sepupu-sepupu bermain dengan asyiknya. Isteri Drajat dan isteri Hanafi ngobrol.
“Om Drajat, di mana Bulik?”tanyaku.
“Di dalam kamar, Pakde.”
“Kalau Om Hanafi, kok tidak kelihatan?”
“Di kamar belakang, Pakde. Dari datang tadi, terus masuk kamar. Sampai sekarang tidak keluar.”
Aku ingin ngobrol dengan adik-adikku. Mumpung bertiga kami bertemu. Paling tidak membicarakan masalah Hanafi, apakah sudah selesai atau belum. Juga mumpung ada isterinya Hanafi. Biar dia tahu juga.
Aku mengetuk pintu kamar belakang. Pintu terbuka. Alangkah terkejutnya aku. Hanafi mengunci mulutnya dengan cara mengelem bibirnya. Hingga mulutnya tertutup rapat. Bagaimana mau diajak bicara, kalau begini? Atau ini memang modus, cara Hanafi agar isterinya tidak tahu tentangnya. Tentang masalahnya?
Aku kembali ke ruang tamu. Kuberitahukan keadaan Hanafi pada isterinya. Anehnya, isterinya tidak kaget!
“Itu biasa, Pakde. Di rumah juga sering begitu. Tiba-tiba mulutnya tertutup rapat. Dia tidak ngomong dengan saya. Kalau mengatakan sesuatu hanya lewat sms.”
“Lalu, cara membuka mulutnya bagaimana?”
“Nanti kalau mau pulang, juga terbuka sendiri. Caranya, Mas Hanafi nanti membelah pakai pisau. Setelah itu akik yang dikenakan digosok-gosokkan pada bibirnya yang berdarah. Nanti darah langsung kering dan bibirnya kembali seperti semula.”
Sontoloyo, jadi Hanafi sengaja mengelem bibirnya. Agar dia tidak diajak bicara tentang pinjaman uang. Tentang bisnis pusaka yang kena tipu. Tentang pembagian warisan. Pantas saja dia enteng kalau nulis pesan singkat. Mungkin waktu menulis dengan cekikikan. Dengan makan-makan bersama teman-temannya yang tidak waras. 
Kalau disuruh nelpon tidak mau. Atau pas ketemu di rumah waktu mau pinjam uang, ditanya-tanya jawabannya muter-muter. Kata isteriku, mimiknya itu lo yang tidak bisa menipu.
Tiba saatnya pulang, Hanafi gagal membuka mulutnya. Biarpun pisau telah disayatkan ke kedua bibirnya yang tertutup lem. Bibirnya sudah berdarah-darah, tapi mulutnya tidak juga terbuka. (SELESAI)
Karanganyar, 23 Juli 2014 
Sumber:
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/mulut-bisu_5606ac5f0023bd1715904233