Senin, 07 September 2015

Tips Agar Anak-anak Lebih Dekat Dengan Orang Tua

Ketika Faiq Menjalani Operasi Tumor Bibir
Gambar 1. Dhenok Faiq
(Sumber: dok.pri)
Menunggu Faiq di rumah sakit, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu saat adiknya (Faiz) sering sakit. Adiknya keluar masuk rumah sakit sampai 4 kali. Dahulu saat sakit keadaan Faiz mengkhawatirkan. Faiz mengalami kejang demam biasa. Bila mulai batuk dan pilek selalu disertai panas yang tinggi. Rupanya Faiz tidak tahan. Alhamdulillah Faiz sekarang sehat wal afiat.
Kali ini Faiq akan menjalani operasi ringan, mengambil benjolan yang ada di mulut. Benjolan di mulut tersebut bahasa kedokterannya adalah tumor bibir. Kebanyakan orang mengatakan mata ikan atau bahasa kerennya kutil. Sebenarnya Faiq tidak merasa sakit dengan keberadaan benjolan itu. Hanya saja Faiq risih sehingga giginya usil menggingit-gigit benjolan tersebut hingga keluar darah.
Setelah saya pastikan mentalnya sudah siap untuk menjalani operasi, maka Ayahnya segera mengantarnya ke rumah sakit PKU Muhammadiyah, Karanganyar. Faiq menjalani pemeriksaan mulai pengambilan sampel darah, rongent, dan lain-lain. Ketika saya tiba di rumah sakit, Faiq masih berada di UGD karena kamar penuh. Beberapa saat kemudian Faiq dipindah ke bangsal. Saya pulang bersama si kecil. Tidak mungkin saya dan Faiz tidur di RS.
00000
Gambar 2. Dhenok Faiq dan Thole Faiz
(Sumber : dok.pri)
Saya sudah pasrah segalanya ke suami dan percaya kalau suami menunggu Faiq sampai siang. Saya salah sangka karena jam delapan pagi harinya Faiq menelepon saya. Dia bilang jam sembilam mulai puasa, padahal setelah sarapan di kamar tidak ada makanan sama sekali. Ayahnya juga tidak membelikan makanan kecil sama sekali. Ternyata Faiq hanya sendirian, Ayahnya tetap mengajar.
Saya minta izin pada Bapak Kepala Sekolah untuk menunggu Faiq sebentar. Sampai di rumah sakit saya serahkan susu dan roti. Waktu untuk makan tinggal 20 menit. Setelah jam Sembilan tepat saya meminta Faiq untuk mulai berpuasa. Saya berpesan pada Faiq agar benar-benar tidak makan. Kalau berbohong, resiko ditanggung sendiri. Lalu saya kembali ke sekolah dan mengajar.
Sore hari, Faiq belum juga dipanggil untuk operasi. Jadwalnya mundur karena pasien yang akan menjalani operasi banyak, antriannya panjang. Di kamar, Faiq mulai merasakan perut nyeri, melilit atau lapar. Saya bilang bertahan, agar puasanya tidak diulang dari awal. Sampai maghrib, Faiq belum juga menjalani operasi. Saya terpaksa meninggalkan Faiq dan Ayah. Saya dan Faiz harus pulang dan tidur di rumah. Kalau tidak dalam keadaan darurat, sebisa mungkin si kecil tidur di rumah sendiri. Sebenarnya saya tahu lingkungan rumah sakit tidak ramah buat anak seusia Faiz (5 tahun). Apa boleh buat, karena kami tak memiliki asisten rumah tangga, maka Faiz harus saya ajak ngalor-ngidul.
Kesabaran saya harus diuji. Sampai di rumah Faiz menangis. Si kecil memang lebih dekat dengan Ayahnya daripada dengan saya. Faiz ingin saya menghubungi Ayah lalu Ayah disuruh pulang. Hati saya semakin perih taktaka Faiz saya tinggal berwudhu. Ketika saya ke kamar sebelum sholat, saya mendapatkan Faiz tidur tengkurap sambil menangis ditahan seraya menyebut Ayah. Saya dekati dia, saya peluk. Dan saya pastikan dia nyaman berada di sisi saya. Sebentar kemudian dia terlelap. Alhamdulillah, rewelnya Faiz hanya karena dia mengantuk saja.
Setelah sholat Isya, saya tiduran. Akhirnya tidur juga. Pukul Sembilan malam saya mendengar nada sms masuk. Saya membuka hp, ayah mengirimkan kabar bahwa Faiq masuk ruang operasi. Saya terus berdoa semoga semuanya lancar. Sebentar kemudian saya terlelap. Saya sendiri beberapa hari kurang tidur hingga begitu ada serangan kantuk, mata ini terus terpejam tak mau diajak kompromi.
Pukul sebelas malam kembali hp saya berdering. Suami mengabarkan bahwa operasi berjalan dengan lancar dan Faiq dalam keadaan sehat. Malah Faiq juga sudah ikut bicara. Alhamdulillah, saya lebih nyaman tidur lagi.
00000
Hari Sabtu, saya mengajar jam ke-1 dan ke-2. Selesai mengajar saya menuju rumah sakit. Di kamar ternyata ada adik ipar saya yang menunggu Faiq. Ayah mengajar, pagi tadi pulang jam setengah delapan. Alhamdulillah, Faiq tidak menolak makanan dan minuman yang saya bawa. Karena adik ipar juga punya urusan sendiri, saya meminta pada dia untuk pulang.
Ketika dokter spesialis melakukan visit, dia mengatakan kondisi Faiq baik dan sore ini boleh pulang.  Selama saya di rumah sakit, saya melayani ini itu untuk anak saya. Setelah selesai mengurus administrasi, suami istirahat sebentar. Beberapa saat kemudian beberapa tamu berdatangan menjenguk Faiq dari siang hingga sore sebelum pulang meninggalkan rumah sakit.
Jam setengah enam sore kami meninggalkan rumah sakit. Di rumah Faiq kembali bercerita, setelah sadar yang dia cari adalah saya, ibunya. Bukan Ayahnya yang berada di sampingnya. Saya masih ingat, 13 tahun yang lalu Faiq (2 tahun) pernah masuk rumah sakit karena sakit muntaber. Saya tidak meninggalkan Faiq barang sebentar. Saya berada di dekatnya. Setelah sembuh, Faiq lebih dekat dengan saya daripada dengan Ayah. Tapi kalau Ayah akan bepergian, Faiq kepinginnya ikut Ayah.
Faiq dan Faiz, dua anak saya, dhenok dan thole. Sampai sekarang kalau Ayah mau pergi atau sedang keluar kota selalu saja menanyakan keberadaan Ayah. Saya heran, padahal Faiq dan Faiz beberapa jam setelah lahir di dunia, keduanya ditinggal Ayah badminton. Ayah yang sering menjadi panitia kejuaraan/even tertentu sering meninggalkan anak-anak meskipun anak-anak baru lahir.
Meskipun sering ditinggal keluar kota, Faiq dan Faiz tetap dekat dengan Ayah. Biasanya begitu di rumah, saya selalu mengusahakan untuk mendekati anak-anak. Misalnya diajak makan di luar atau berada di garasi melakukan aktifitas bersama.
Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 7 September 2015