Rabu, 09 September 2015

Tips Mengurangi Pengeluaran Harian

Gambar : Buku Kas Sederhana
(Sumber : dok.pri)
Ingin rasanya semua kebutuhan dan keinginan kita terpenuhi tapi pengeluaran ditekan semaksimal mungkin. Bisakah? Ya, yang masuk akal saja. Bila kita menginginkan pengeluaran kita berkurang alias dompet tetap tebal, tentu saja kita harus mampu memilih dengan cermat apa saja yang harus dipangkas. Memang kebutuhan kita banyak. Kita bisa memenuhi kebutuhan sesuai skala prioritas.
Bila sudah sesuai skala prioritas kita terapkan, tapi tetap saja pengeluaran kita banyak maka kita harus melakukan sesuatu. Kita melakukan langkah sederhana yaitu dengan menuliskan pemasukan dan pengeluaran uang kita dalam buku kas. Buku kas yang kita buat sederhana saja. Yang penting semua sumber pemasukan kita tulis dan pengeluaran meski sedikit tidak lupa kita tulis.
Bila semua pengeluaran kita tulis maka kita akan tahu pos mana yang membengkakkan anggaran. Mengapa pengeluaran kecil kita tulis? Sebab yang kecil atau sedikit ini kalau kita kumpulkan ternyata jumlahnya jadi banyak.
Dari menuliskan semua pengeluaran kemudian kita evaluasi pengeluaran-pengeluaran kita. Kita akan mudah mengurangi pengeluaran yang tidak penting di masa yang akan datang. Kita tidak perlu mengencangkan ikat pinggang. Yang penting apa yang kita keluarkan sudah sesuai dengan kebutuhan kita. Kita akan terbelalak dengan cara menulis pengeluaran ini, sebab setelah kita evaluasi sebenarnya banyak uang yang kita keluarkan untuk hal remeh.
Kebiasaan baru untuk memenuhi kebutuhan bukan karena sekedar keinginan akan membuat kita takjub. Luar biasa, keuangan kita tak lagi morat-marit bahkan bisa menabung, bisa merinfak sedekah dengan uang-uang receh, tidak boros tapi tidak pelit. Kita tetap bisa memanjakan keluarga dengan cara menurunkan standar.
Contoh  di Karanganyar : bila setiap makan di luar dengan menu istimewa setiap orang satu porsi, kita ubah tetap membeli makanan di luar. Sekarang satu porsi tidak untuk satu orang, misalnya dua porsi untuk tiga orang. Makanan kita bawa pulang, disantap di rumah dengan suasana kekeluargaan dan minumannya tidak beli tapi membuat sendiri di rumah. Berapa rupiahkah yang kita pangkas untuk setiap makan?
Standar di Karanganyar satu potong tempe goreng di warung harganya lima ratus rupiah. Bila dalam satu keluarga terdapat 4 orang, tiap orang makan 2 potong maka uang yang dikeluarkan sudah empat ribu rupiah. Seandainya membeli tempe satu papan seharga dua ribu rupiah, bila dipotong bisa menjadi 10 dan digoreng. Dari sini pengeluaran bisa ditekan. Tapi bila tak mau repot memang harus “boros” mengeluarkan uang.
Semua tergantung individunya. Saya memang sering menuliskan pengeluaran meski tidak detail (karena saya tidak pernah bertanya pada suami, hari ini beli apa saja dan berapa rupiah. Nanti saya malah dibilang pelit amat). Saya jadi tahu apa saja yang harus saya keluarkan dan apa saja yang bisa ditahan. Hidup ini tidak sekedar memuaskan keinginan. Pilihan hidup tergantung pada Anda sendiri. Jika saya masih boleh memilih maka saya akan memilih hidup pas-pasan saja.
Pas lapar, makan. Pas haus, minum. Pas sakit, berobat. Pas butuh sepeda motor, beli. Pas rumah mulai bocor sana-sini, perbaiki. Pas akhir puasa, keluarkan zakat fitrah. Pas ada panggilan haji, penuhi. Pas banyak uang, sedekah banyak. Pas tak banyak uang, sedekah sedikit. Pas tak ada uang, sedekah tenaga dan senyum.
Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 9 September 2015
Tulisan ini juga tayang di :