Rabu, 11 November 2015

Dunia Anak adalah Dunia Bermain

Gambar 1. Senyum Ceria
Sumber: dok. Faiqah Nur Fajri
Sudah beberapa hari ini Thole dijemput siang. Tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, pulang sekolah Thole berada di Taman Penitipan Anak dan dijemput untuk pulang ke rumah pada sore hari. Saya sering merasa kasihan kalau Thole dijemput sore, waktu berada di rumah jadi sedikit. Pertemuan dengan Thole begitu singkat karena setelah Maghrib keburu tidur. Akan tetapi bila Thole pulang/berada di rumah siang hari, maunya naik sepeda ngeluyur terus. Tambah tidak tega karena jalan depan rumah dan perumahan ramai.
Bila sudah di rumah, saya berusaha untuk mengajarkan huruf dan angka, atau sekedar bertanya tentang huruf dan angka. Ternyata Thole belum begitu paham dengan huruf dan angka, baru beberapa saja yang dia tahu. Dibandingkan dengan Dhenok, rasanya jauh. Dulu ketika Dhenok seusia Thole, dia sudah memiliki kesadaran untuk belajar. Mudah bagi saya untuk mengajarkan membaca dan menulis.
Saya memang harus mau menerima kelebihan dan kekurangan kedua anak saya, si Thole dan Dhenok. Saya kadang membatin, di tempat les membaca si Thole itu perkembangannya bagaimana ya? Saya lalu memupus harapan dengan menerima keadaan si Thole. Mungkin saatnya saya harus mengajarkan huruf dan angka sendiri sambil bermain. Atau mungkin saya mengajar Thole setelah bangun tidur pagi, sebelum Thole mengayuh sepeda di pagi hari untuk olahraga.
Semoga si Thole segera berkeinginan bisa membaca tanpa dipaksa. Dunia dia adalah dunia bermain dan sesuatu yang menyenangkan. Bagi anak-anak dunia ini menyenangkan kalau banyak bermain. Ketika ada paksaan untuk melakukan sesuatu, itu pelanggaran hak. Dan sesuatu yang tak menyenangkan tersebut ditunjukkan dengan sakit panas sebagai bentuk protesnya.

Karanganyar, 11 Nopember 2015