Selasa, 01 Desember 2015

Rezeki Yang Ngatur Allah, Bukan Manusia

Gambar 1. Silaturahmi meluaskan rezeki
Sumber : dok.alumni tirto'90
Saya percaya lahir, rezeki, jodoh dan maut sudah ditentukan oleh Allah. Manusia tinggal menjalaninya saja. Saya selalu berbaik sangka pada Allah. Allah memberikan tepatnya menitipkan sesuatu kepada saya dan keluarga itulah yang terbaik, yang saya butuhkan bukan yang saya inginkan.
Saya mengajar di SMK Tunas Muda Karanganyar sejak tahun 1999. Sampai sekarang sudah 15 tahun saya mengabdikan diri di sekolah yang mayoritas siswanya adalah laki-laki. Alhamdulillah selama ini saya tidak mengalami kendala yang cukup berarti. Bagi saya mengajar dan mendidik adalah bagian hidup saya.
Saya mendisiplinkan diri saya sendiri. Saya bekerja sesuai dengan bidang saya. Saya loyal pada sekolah yang telah banyak memberikan pelajaran hidup. Sahabat-sahabat saya sangat dekat hubungan persaudaraannya. Saya merasa meskipun saudara kandung saya jauh tapi saya memiliki saudara di lingkungan kerja saya.
Rezeki, itu sudah ada yang mengatur. Saya percaya Allah telah menitipkan rezeki kepada keluarga dalam jumlah cukup. Cukup untuk makan, minum, bayar listrik, bayar air PAM, beli pulsa, memperpanjang hidup kuota internet, beli susu anak-anak, beli bensin, menabung, membayar SPP si kecil, membayar biaya penitipan anak, dan lain-lain. Kalaupun akhirnya Allah mengurangi jatah saya menerima rezeki, saya tetap bersyukur.
Ceritanya di sekolah saya ada guru baru. Guru baru tersebut diberi jam sesuai dengan maple yang diampu (matematika). Guru lama yang mengampu matematika sebenarnya lulusan jurusan Kimia. Kemudian guru matematika yang jam pelajarannya berkurang diberi jam pelajaran IPA (yang mengajar IPA adalah saya). Dengan demikian penambahan guru baru ini mengurangi jumlah jam mengajar saya. Kecewakah saya? Oh tidak! Saya percaya rezeki yang membagi itu Allah bukan manusia.
Memang secara matematis, jumlah jam mengajar saya berkurang maka honor mengajar saya juga berkurang. Tapi matematikanya kehidupan tidak begitu. Honor boleh berkurang tapi keberkahannya jangan sampai berkurang. Waktu Bapak KS bilang,”Bu Ima, maaf jam panjenengan berkurang. Maka bulanan yang diterima juga berkurang.”
“Bagi saya honor sedikit tidak masalah. Insya Allah yang sedikit itulah lebih barokah.”
Saya tahu Bapak KS kaget. Pasti beliau tidak menyangka kalau saya akan mengatakan seperti itu. Jangan kaget Pak. Biasa saja, wong saya itu menerima uang banyak tidak heboh dan menerima uang sedikit juga tidak merasa menjadi orang termiskin sedunia.   
Bulan ini penerimaan honor saya terjun bebas. Alhamdulillah, masih cukup untuk membeli bensin, membeli nasi tumpang, membeli tempe goreng, membeli thengleng dan gule buat anak-anak. Honor saya juga masih cukup untuk membeli susu,  gas, dan pakan ayam. Bersyukur saja, jangan merasa sakit hati. Saya yakin Allah akan menunjukkan jalan untuk membuka pintu rezeki yang lain. Tetap semangat Ima…..
Karanganyar, 1 Desember 2015