Selasa, 12 April 2016

Tahu Kupat, Alternatif Makan Siang


Saya hampir tak bisa membagi waktu di sekolah. sejak pimpinan sekolah yang baru ini memimpin, banyak sekali aturan sekolah yang berubah. Nyaris semua berubah total.
Misalnya, minuman yang dulu disiapkan di meja guru sejak pagi, sekarang minuman tersedia setelah pukul 07.15. Konon katanya kalau minuman sejak pagi sudah terhidang, maka guru-guru yang mengajar jam pertama tidak segera mengajar malah menikmati teh hangat. Aturan yang kedua, selama jam kerja, guru dan karyawan tidak boleh izin makan keluar dari sekolah. Izin keperluan lain (meskipun tidak mengajar) harus langsung ke Bapak Kepala Sekolah. Misalnya, beli alat tulis, fotokopi di toko sebelah juga harus izin Bapak Kepala Sekolah. Repot banget!  
Hari ini saya minta izin keluar pada Bu Guru yang sedang piket. Saya izin mau membeli pulsa di toko sebelah. Saya hanya mengajar jam 1-2 saja (setelah itu sampai jam ke-10 saya tidak mengajar). Karena saya lapar (sarapannya baru dua sendok makan saja), sekalian izin makan.
Petugas piket dengan nada bercanda meminta pada saya untuk minta izin langsung kepada Bapak Kepala Sekolah. Bagi saya ribet dan repot.
Akhirnya saya bisa ke toko sebelah, di dekatnya ada warung tahu kupat. Semoga makan saya hari ini membawa keberkahan. Saya tak perlu berlama-lama menyantap tahu kupat. Bahkan saya tak menikmati sama sekali. Tapi tak apa-apa, semoga tetap jadi daging, tidak hanya “makani” cacing yang ada di perut.
Sampai di sekolah saya ditertawakan Bu Guru piket. Kata saya,”Maaf mbak Rosita, saya kok malah lupa beli pulsa.” (padahal niat awalnya memang makan, bukan beli pulsa).
Mohon maaf, saya terpaksa berbohong demi kebaikan. Bagi saya, teh panas sebelum mengajar sangat penting. Dan menikmati makanan sangat perlu, karena nikmat makanan bukan terletak pada enak/tidaknya lauk melainkan nyaman ketika menyantap. Selamat siang selamat menikmati makan siang.

Karanganyar, 12 April 2016