Kamis, 23 Juni 2016

BPJS Kesehatan Sangat Membantu


Kali ini saya tidak menceritakan pengalaman saya mengikuti BPJS Kesehatan. Saya akan membagikan pengalaman dua teman saya yang kebetulan ditawari ikut BPJS Kesehatan.
Teman A
Tahun 2014, suami teman A divonis tumor otak dan harus menjalani operasi. Untuk periksa dan operasi, jelas akan memerlukan biaya yang besar. Teman A disarankan iparnya untuk mengikuti BPJS Kesehatan. Awalnya teman A menolak, alasannya dia berharap suaminya bisa sembuh setelah menjalani operasi, pengobatan dan terapi. Setelah dipaksa-paksa saudaranya, akhirnya teman A mau mengikuti BPJS Kesehatan. Dia mengambil kelas 3, sehingga iuran yang harus dibayarkan setiap bulan tidak terlalu banyak.

Setelah menjalani operasi, suami teman A tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Mata tidak dapat untuk melihat, memorinya sudah tidak baik lagi. Mengingat nama isteri dan dua anaknya saja lupa. Tidak mengenal suara isteri dan anaknya yang cenderung orang dekatnya selama ini.

Setelah menjalani operasi, suami teman A sempat mengalami kritis dan masuk RS di Surakarta. Keluarga teman A minta agar suami teman A bisa dirawat di kelas yang lebih tinggi (utama) bukan di kelas 3. Setelah berangsur membaik, suami teman A dibawa pulang dan biaya yang harus ditanggung teman A mendapatkan klaim yang cukup besar dari biaya yang seharusnya dibayarkan. Sehingga teman A hanya membayar sebagian saja.

Oleh karena penyakitnya semakin parah maka suami teman A jiwanya tak tertolong lagi (Oktober 2015). Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Sekitar bulan Pebruari-Maret 2016, anak sulung teman A memeriksakan giginya yang sedikit bermasalah. Ternyata pemeriksaan dan perawatannya tidak hanya sekali datang ke rumah sakit. Dilakukan berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang optimal. Maklum, anak teman A ini akan masuk ke perguruan tinggi dengan syarat fisik sehat. Beruntung teman A sudah ikut BPJS Kesehatan sehingga selama periksa, dia tidak mengeluarkan biaya sama sekali.

Teman A bersyukur, ternyata BPJS Kesehatan sangat membantu. Untung dia ikut BPJS Kesehatan.

Teman B
Teman saya yang kedua, teman B satu tahun yang lalu lengan kanannya mengalami patah tulang. Ketika di rumah sakit ditanya apakah ada BPJS Kesehatannya atau tidak, dia menjawab tidak. Petugas rumah sakit menyarankan setelah menjalani operasi ini untuk segera ikut BPJS Kesehatan.

Teman B, merasa mau mendaftar BPJS Kesehatan, mengurus dan membayar iurannya terlalu repot sehingga dia tidak mengikuti saran petugas kesehatan. Saya sendiri menyarankan untuk ikut BPJS Kesehatan. Kalau iurannya dirasa terlalu berat, saya sarankan untuk ikut yang ringan saja (kelas 3). Saya tidak bisa memaksa, saya sekadar menyarankan saja.

Teman B tidak mengikuti saran saya. Akhirnya setelah operasi, teman B menjalani kontrol 2 kali dan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bandingkan kalau dia ikut BPJS, tentu saja  biaya yang dikeluarkan jauh lebih ringan bahkan bisa saja gratis karena semua biaya sudah terkaver dari BPJS asal kelasnya sesuai.

Sudah satu tahun  tangan kanan teman B dipasang platina. Dia ingin bisa segera melepas platina. Saya tetap menyarankan untuk ikut BPJS Kesehatan sebelum deal menentukan kapan mau operasi. Melepaskan platina, biayanya tetap besar. Entahlah, sampai sekarang teman B belum juga mendaftar ke BPJS Kesehatan. Padahal kalau teman B mau, manfaatnya banyak lo.

Kita berdoa semoga dijauhkan dan penyakit dan musibah. Mungkin tulisan ini hanya sebagai bacaan ringan saja. Semoga bermanfaat.