Sabtu, 30 Juli 2016

Bercanda Tanpa Batas Akibatnya Fatal #30

Jangan Berlebihan
dok.pri
Bercanda Tanpa Batas Akibatnya Fatal #30
Ketika saya kelas 3 SMP sekitar tahun 1986/1987, seorang teman dengan niat bercanda mengambil kursi secara diam-diam. Kursi tersebut akan diduduki teman saya lainnya. Karena teman yang akan duduk tidak tahu kalau kursinya sudah diambil, maka teman saya terjatuh. Kejadian itu tepat di depan saya. Hampir semua teman yang melihat menjerit.
Mungkin teman saya yang mengambil kursi ini hanya berniat bercanda saja. Akan tetapi kalau bercanda sudah kebablasan tentu akan berakibat fatal. Dan apa yang terjadi? Kepala teman saya sedikit bocor. Dia segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diobati. Ada beberapa jahitan, lukanya tidak serius.
Tiga puluh tahun telah berlalu, tetapi saya selalu ingat peristiwa itu. Saya selalu mengingatkan murid saya untuk membatasi dalam bercanda. Dan beberapa larangan, sejak awal semester saya beritahukan. Tujuannya adalah untuk menjaga keselamatan bersama.
Beberapa waktu yang lalu, seorang teman lama memosting kejadian yang hampir serupa dengan kejadian di atas. Syukurlah, semua bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Inilah ceritanya:

Baru dua minggu masuk sekolah, si bungsu yg kelas 1 SMP bikin ulah hingga urusan dgn guru BP/ BK. Gara2nya pas ngerjakan tugas math di kelas ada temennya yg usil gangguin... sdh diperangatkan masih ngeyel kata anakku... "awas jangan lari nanti tak jegal"... eee beneran lari temennya yg tadi ganggu... ya dikejar dan di tackle kakinya.... jatuh dan retak pergelangan tangannya.... ono ono wae...

Pak A :  Wealah...calon kuwi
Noer Ima Kaltsum Mas agung, kelingan biyen pas kelas 3, seseorang mengambil kursi yang mau diduduki purwadi. Akibatnya purwadi jatuh, kepala berdarah dibawa ke PKU kalo ndak salah. Sampai sekarang ingat terus. Semoga putrane menyadari kekhilafannya dan temannya nggak dendam.
Agung  Iyo mbak.... tadi anakku tak ajak waktu ke RS nemuin anaknya supaya minta maaf dan meminta mereka berdamai.
Hermawan  Butuh penanganan yang tepat, Tak ada dendam
Tak trauma
Itu harapan nya
Sebab ketika dendam itu tersimpan
Pasti akan mencoba membalas
Entah sampai kapan
Demikian juga jika ada trauma
Merasa bersalah
Dosa dan sebagainya
Itu juga masalah yang akan menjadi potensi mengganggu di masa hadapan
Agung Iya mas bro.... tak tekankan ke anakku agar jangan cepet emosi. Setidaknya buat pembelajaran agar pakai logika sebelum berbuat.
Upik  Waduh... jd panjang urusannya ya pak....sabar ya pak..
Dewi Gpp mas Agung , yg penting bicara dgn Ortu anak tsb dg baik" biar masalah clear. Biaya pengobatannya diganti ya mas...
Kejadian spt ini jg biar menjadi pembelajaran buat putrane & temannya tadi, "bercanda itu ada batasnya", jadi mereka jg bisa lebih hati" lagi dalam bersikap, bertutur kata & semua tindakan yg mereka lakukan pasti ada konsekwensinya.
Hermawan Sepakat
Bercanda kadang berujung maut
Meski tak ada niat sama sekali
Namun kadang maut juga tak memandang niat
Dewi Ia mas Hermawan, apa lagi anak" ini kan masih masa transisi dr SD ke SMP jadi jiwa kekanakannya masih kuat, blom mikir akibatnya hehe...
Hermawan  Aku pernah liat tayangan di medsos candaan anak SMP di pinggir kolam renang itu
Menggendong dan terjatuh leher patah dan tak ketolong miris...
Anaku SMP dua kali pulang sekolah digips tangane karena retak
Azizah Kejadiaannya hampir mirip anakku. Anakku menendang, memukul. Mengerikan. Alhamdulillah si korban masih diberi keselamatan.
Langkah penyeselaianku adalah kami selesaikan secara kekeluargaan. Aku sekeluarga cepet2 datang ke rumahnya, minta maaf, segala pengobatan aku yg nanggung. Seandainya masalah ini sampai pengadilan kan bahaya. Orang nyubit saja kena pasal. Apalagi lebih dari itu. Alhamdulillah, sejak kudatangi rumahnya dan minta maaf, sampai sekarang..korban tidak lapor polisi.
Secara umum remaja itu belum bisa mengendalikan emosinya. Tidak memikirkan bahwa apa yg dilakukan itu berakibat fatal atau tidak.
Aku bilang ke anakku, "Mending kamu ngomong kata2 a b c keluar semua.. daripada fisik. Sebab omongan nggak akan kena pasal tapi fisik kalo korban nggak terima.. kamu bisa dipenjara." Anakku hanya menunduk saja.
Kita juga pernah remaja dan berpikir belum dewasa. Kini setelah menjadi orang tua, kita tak boleh lupa untuk  mengingatkan anak-anak kita. Ada batasan dalam bercanda agar tak menimbulkan bencana. Memang anak-anak perlu nasihat dari kita para orang tua. Mungkin kita perlu menekankan lagi pada anak-anak lagi : 1) jangan mudah terpancing emosi, 2) jangan mengganggu teman atau siapa saja, 3) tetap berbaik sangka pada teman, 4) memaafkan dan segera minta maaf, dan 5) berani bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.
Bagi saya cukup sekali saja, semoga tak ada kejadian yang sama menimpa anak-anak lainnya. Semoga bermanfaat.

Karanganyar, 30 Juli 2016