Senin, 04 Juli 2016

Berniat Berpuasa Berniat Makan Sahur #4

Mari Berpuasa

Berniat Berpuasa Berniat Makan Sahur #4
Sejak tahun 2004, saya selalu memiliki komitmen untuk makan sahur ketika saya sudah berniat puasa. Makan sahur tidak selalu saya lakukan pagi sebelum subuh. Kadang-kadang pukul 10.00 WIB saya makan sahur bila malam itu saya merasa sangat lelah. Tujuannya agar saya bisa kuat untuk berpuasa bila paginya saya tak sempat makan sahur.

Makan sahur memang diutamakan bila kita berniat berpuasa. Apalagi puasa wajib, sejak awal harus sudah kita niatkan untuk makan sahur. Namun, kadang-kadang kita tidak bisa bangun pagi untuk makan sahur karena bangun setelah azan subuh berkumandang. Apabila kita bisa tahan menahan haus dan lapar selama siang berpuasa, maka tak jadi soal bila tidak makan sahur. Tetapi bila kita tidak kuat, maka boleh kita meninggalkan puasa dengan catatan puasa yang kita tinggalkan harus kita ganti.

Saya selalu berusaha untuk makan sahur dengan waktu bervariasi. Memang waktu yang paling tepat adalah mengakhirkan makan sahur yakni menjelang subuh. Oleh karena saya menjalankan pekerjaan sampai lewat pukul 00.00 WIB, maka sebelum tidur saya harus makan sahur lebih dahulu.

Saya memiliki kekurangan dalam kesehatan yakni pernah mengidap sakit radang usus, maag, thypus, dan tekanan darah rendah.  Agar sewaktu berpuasa sakit saya tidak kambuh, saya harus mengubah waktu makan saya. Saya berusaha untuk tertib dan tepat waktu berbuka puasa. Berbuka puasa dengan menu makanan bergizi, membuat kondisi badan saya tetap fit sepanjang hari.

Apabila saya menunda makan berat ketika waktu berbuka puasa telah tiba, maka setelah malam nafsu makan saya hilang. Itu artinya memicu sakit maag saya kambuh atau keadaan saya drop. Oleh sebab itu, saya harus benar-benar menepati waktu makan. Selama berpuasa, jadwal makan berubah, namun porsi makanan harus tetap. Bila saya malas berbuka puasa dengan makanan berat, ujung-ujungnya makan sahur juga malas.

Saya ingin keadaan badan saya tetap fit selama bulan Ramadan. Saya harus bisa menjaga agar asupan gizi yang masuk dalam tubuh juga terjamin. Dan alhamdulillah, hingga hari ke-29 ini saya tidak mengalami kesulitan menjalani ibadah puasa. Berbuka puasa dengan menu sederhana namun gizi cukup dan tidak meninggalkan makan sahur. Makan sahur bisa saya lakukan tiap pagi, tidak pernah bangun kesiangan.

Ibadah puasa tinggal satu hari lagi, semoga Allah memberi kemudahan saya menyelesaikannya. Setelah Ramadan berlalu, selama bulan Syawal saya bisa menjalani puasa sunah dan mengganti puasa yang saya kinggalkan karena alasan syar’i.

Kondisi badan saya sehat, sakit maag dan radang usus (sejak tahun 2004) tidak datang lagi berkat niat kuat berpuasa. Lebih-lebih saat makan sahur dan berbuka puasa, saya tidak melewatkan begitu saja dalam keadaan perut tak diisi makanan.

Bagi saya dan keluarga, bila kita berniat berpuasa maka harus berniat makan sahur dan melaksanakannya, agar ibadah puasa berjalan dengan lancar. Setelah Ramadan berlalu badan kita tambah sehat. Amin.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Yogyakarta, 4 Juli 2016