Minggu, 10 Juli 2016

Bijak Mengelola Keuangan Setelah Lebaran #10

Pedagang Pasar Tradisional
dok.pri
Bijak Mengelola Keuangan Setelah Lebaran #10
Hari Senin besok, aktivitas berjalan seperti sedia kala. Bagi karyawan yang diberi cuti selama satu minggu, besok sudah mulai masuk kantor lagi. Bagi pekerja, tak ada alasan menambah cuti. Harus masuk dan bekerja.
Selama ini saya tidak libur kerja lo. Setiap hari tetap bekerja meskipun kalender tanggal merah. Setiap hari saya menulis dan setiap hari memosting tulisan. Iya, penulis itu tugasnya menulis dan tak boleh berhenti (kecuali ada halangan).
Apalagi kalau sudah memiliki komitmen menulis tiap hari dengan slogan one day one post. Mau tidak mau dalam keadaan apapun harus menulis. Justeru di sinilah enaknya, idenya segera tertuang. Bukankah saat libur kenaikan kelas dan lebaran, banyak peristiwa yang bisa dituliskan?
Tadi pagi saya berbelanja di pasar tradisional terdekat. Sebenarnya saya paling malas berbelanja kebutuhan dapur di pasar. Mengapa demikian? Karena berbelanja di pasar bagi saya membuat kantong cepat kosong. Meskipun sudah saya tulis barang-barang yang akan dibeli, tetap saja ada yang dibeli di  luar rencana.
Pedagang Pasar Tradisional
dok.pri
Saya lebih suka berbelanja sayur dan kebutuhan dapur pada mas-mas pedagang sayur keliling kampung-kampung. Hanya saja tadi saya belum menemukan mas pedagang sayur yang ganteng dan baik hati. Suami dengan senang hati mengantar saya belanja di pasar.
Tak banyak yang saya beli, hanya tempe dua papan, sop-sopan dua ribu rupiah, Lombok, kerupuk dan sate lontong buat Faiz. Ternyata harga sayuran dan kebutuhan dapur normal-normal saja, masih wajar, tidak terlalu mahal.
Kalau selama ini yang saya tahu setelah lebaran biasanya harga kebutuhan pokok masih tinggi. Kali ini tidak, harga-harga  masih normal dan pasokan cukup. Dan saya hanya membeli sesuatu yang saya butuhkan saja. Saya memakai kacamata kuda agar tak melirik sana-sini yang bisa menguras kantong.
Sampai di rumah lalu mendadak jadi koki. Sarapan di rumah adalah langkah tepat untuk menjalankan program pengiritan. Selain itu memasak bahan-bahan yang ada di dapur untuk makan siang dan sore akan menjauhkan kita dari pemborosan.
Langkah pengiritan lainnya adalah tidak bepergian ke tempat wisata. Tempat-tempat wisata di Kabupaten Karanganyar pada liburan ini sangat padat pengunjungnya. Mengunjungi Grojogan Sewu bagi penduduk asli Karanganyar pada saat ini adalah tindakan yang kurang perhitungan. Selain padat pengunjung di tempat wisata, juga tak mungkin sabar berdamai dengan macet. Bahkan kemarin diberitakan Tawangmangu-Karangpandan (Karanganyar) macet sampai 3 km. Macetnya ini memang tidak separah Tol Brebes atau Semarang.
Warung lesehan biasanya menjadi tempat favorit untuk makan malam. Kalau kita memiliki kolam ikan di rumah, lebih baik dikuras dan dimasak bareng-mareng daripada makan di warung lesehan yang harganya selangit.
Masih banyak tindakan pengiritan yang bisa dilakukan. Intinya, jangan habiskan uang untuk lebaran saja. Masih ada 21 hari berjalan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Lakukan pengiritan sana-sini, agar dompet kita tetap berisi. Kalau pertengahan bulan dompet kita kosong, kita bisa meringis. Jangan lupa, anak-anak butuh biaya besar untuk kebutuhan sekolah.

Karanganyar, 10 Juli 2016