Sabtu, 09 Juli 2016

Tak Ada Perjuangan Yang Sia-sia #9

Adu Cepat Naik Bus
dok.pri

Tak Ada Perjuangan Yang Sia-sia #9
Tidak ada yang sia-sia dengan usaha saya untuk bertemu teman-teman semasa SMA, bahasa kerennya sekarang adalah reuni. Sebenarnya bagi teman-teman yang mukim di Yogyakarta setiap saat bisa bertemu untuk sekadar ngobrol menikmati bakmi Jawa favorit mereka pada malam hari. Kebetulan saya tak bisa ikut berkumpul bila tak ada agenda khusus. Kemarin, Jumat adalah waktu yang tepat mengikuti reuni.

Kebetulan suami juga menghadiri acara reuni yang diadakan bersama teman-temannya SMA. Jadilah saya tetap tinggal di Yogyakarta, sedangkan suami dan kedua anak saya kembali ke Karanganyar. Dan tadi pagi waktunya saya balik ke Karanganyar.
Alumni 3A1 '90
dok.pri

Perjuangan saya balik ke Karanganyar tidak dipenuhi drama mengharukan sama sekali. Saya benar-benar menikmati kepulangan saya yang sendirian. Wah, saya seperti masih jomblo saja, apalagi wajah saya adalah wajah anak 17 tahunan. (Hohohoi, jangan diprotes).

Dari jalan raya menuju terminal Yogyakarta, saya harus mengeluarkan ongkos naik bus sebesar lima ribu rupiah. Dilanjutkan saya duduk manis di dalam bis Yogya-Surabaya, tarifnya hanya dua belas ribu, fasilitas full AC. Perjalanan saya benar-benar lancar, bahkan biasanya di sekitar bandara macet, pagi itu tidak macet sama sekali. Sampai di Kartosura memang harus sabar. Meskipun tidak sampai macet, jalannya bus tetap saja merayap.
 
Keluarga Budiarso
dok.Faiqah Nur Fajri 
Turun di terminal Tirtonadi, saya harus naik bus jurusan Karanganyar. Saya melihat perjuangan orang-orang berebut bus. Mungkin semua ingin segera sampai pada tempat yang dituju. Beruntung, saya tidak melakukan perjalanan pulang ini bersama anak-anak. Saya tidak tega kalau harus mengejar waktu, berebut tempat duduk untuk mendapatkan kursi buat buat anak-anak.

Kali ini dari Solo sampai Karanganyar, saya harus mengeluarkan biaya sepuluh ribu. Ini tarif lebaran. Biasanya saya hanya mengeluarkan ongkos naik bus Solo-Kra sebesar tujuh ribu saja. Namanya lebaran, ya tak apalah. Yang penting pelayanannya baik.

Turun dari bus saya dijemput suami. Alhamdulillah, selamat sampai rumah. Tidak sempat istirahat, saya dan keluarga kecil saya harus menghadiri acara halal bi halal keluarga besar/trah. Sebenarnya mata saya tak mau diajak kompromi. Demi keluarga suami yang menjadi panitia, saya harus menyukseskan acara pertemuan trah ini.
Keluarga Budiarso, Mursito, Arif Purnama
dok.Faiqah Nur Fajri

Kebetulan Faiq menjadi fotografer. Gambar-gambar yang diambil berupa foto keluarga tiap keluarga atau keluarga besarnya. Nantinya foto-foto tersebut akan didokumentasikan dalam bentuk album dan diposting dalam blog.

Di keluarga besar suami, saya dan anak saya memang dikenal. Namun, hari ini keluarga besar suami tidak mengenal anak saya yang 13 tahun yang lalu masih imut dan lucu. Ya, Faiq memang identik dengan saya. Di situ ada saya pasti ada Faiq. Kalau saya tak ada berarti Faiq juga tak ada.

Banyak yang menanyakan Faiq. Padahal mereka sudah berhadapan langsung dengan Faiq. Setiap tamu yang datang dipersilakan foto keluarga dulu. Yang mengatur posisi berfoto tersebut adalah Faiq. Saya bilang, itu yang pegang kamera dan memotret adalah Faiq. Mereka kaget, tak menyangka kalau Faiq sudah besar.

Dalam hati saya bersyukur, saya berhasil membuat Faiq bodynya tak diragukan lagi. Meski memakai jilbab, Faiq tetap tomboy. Saya memang sengaja memberikan yang terbaik buat Faiq. Saya tak pernah memaksa Faiq menjadi apa. Saya hanya mendukung bakat dan kemauannya saja. Semoga dia berhasil menjadi fotografer professional. Dan yang tak kalah penting adalah tetap menjadi sholehah.

Selama acara pertemuan keluarga trah berlangsung, Faiq mengedit gambar dan akhirnya selesai. Tugas selanjutnya diserahkan pada admin Blog. Admin inilah yang akan memosting tulisan dan foto-foto.

Akhirnya acara selesai dan kami harus pulang keluarga adik-adik suami akan datang ke rumah kami. Cukup lama kami berbincang-bincang sementara anak-anak bermain. Sebelum maghrib mereka pulang. Saya pun kembali bekerja, yaitu menulis.

Perjuangan saya tak sia-sia. Apa saja yang saya perjuangkan? Yang saya perjuangkan adalah:
1.      Silaturahmi dengan teman SMA
2.      Kepulangan menuju rumah
3.      Bertemu saudara dan kerabat
4.      Mendukung kegiatan fotografi Faiq
5.      Berbincang-bincang dengan saudara kandung suami
6.      Mengeratkan hubungan antara anak-anak dengan sepupunya

Banyak yang akan saya tulis, tetapi cukup sekian dulu. Semoga bermanfaat.