Selasa, 06 September 2016

Belilah Dagangan Simbah Tanpa Menawar

Mbah Uti, 83 tahun
dok.pri
Belilah Dagangan Simbah Tanpa Menawar
Kali ini, saya masih bercerita dan berbagi pengalaman selama perjalanan ke Gua Selarong.  Yang akan saya ceritakan adalah pengalaman berinteraksi dengan pedagang-pedagang yang berjualan di obyek wisata. Mereka tak muda lagi, usianya sudah senja. Namun semangat hidupnya masih tinggi. Rata-rata mereka, simbah-simbah (60-80 tahun) yang secara ekonomi mampu.
Simbah-simbah ini tetap berjualan, alasannya untuk hiburan di hari tua. Sebenarnya kalau untuk makan sehari-hari saja, mereka sudah dicukupi anak dan cucunya. Tapi mereka ingin berkumpul bersama komunitasnya (ceilee, gayanya). Sebut saja mbah Uti, umur 83 tahun. Beliau memiliki 5 orang anak dan 16 cucu. Sejak muda, beliau berjualan di sekitar obyek wisata Gua Selarong.
Saya sok bertanya-tanya sambil membeli kacang godog, terus memotret. (Sepertinya simbah action juga, hehe. Mau difoto. Tapi saya sudah minta izin lo)
“Bu, dibeli kacangnya, sawonya atau makanannya ini.”
“Nggih, mbah. Kacang godog enam ribu boleh mbah?”
“Boleh.”
Setelah transaksi selesai, saya pamit mau naik tangga. Saya ditawari sawo yang sudah matang. Tapi saya menunda membeli sawo. Karena saya masih naik turun tangga, jadi beli sawonya kalau sudah mau pulang saja.
Simbah menjual mbili
dok.pri
Beberapa anak tangga berhasil saya lewati. Seorang simbah putri menawarkan dagangannya. “Bu, dibeli mbilinya atau sawonya.”
“Nanti mbah. Saya mau lihat atas dulu.”
“Tenan ya Bu.”
Saya tersenyum. Wah agak memaksa nih. Tapi bismillah, semoga saya bisa mengurangi dagangannya. Saya tidak lama berada di atas. Hanya mengambil beberapa gambar dengan ASUS. Saya balik lagi, menuruni tangga. Saya berusaha mampir ke simbah yang menawarkan dagangannya. Saya menunjuk mbili (ubi).
“Bu, mamakmu apa masih?”
“Alhamdulillah, ibu dan bapak masih sehat.”
“Sampeyan kok beli mbili. Ini makanan ndeso lo.”
“Saya biasa makan seperti ini.”
“Orang kota itu kan biasa makan roti.”
Saya tersenyum. Ah simbah, saya itu apa-apa doyan, ketela pohon, ubi jalar, mbili, gadung, dan lain-lain. Lidah saya tidak menolak makanan apapun, tapi saya tetap selektif. Hanya yang halal dan tidak ekstrim saja yang mampu saya konsumsi. Akhirnya saya membeli mbili godog lima ribu rupiah. Moga-moga saja nanti di rumah ada yang nyerbu.
Berjualan untuk hiburan hari tua
dok.pri
Saya kembali ke lantai dasar tadi. Suami saya membeli sawo ke simbah yang menjual kacang godog. Rupanya pedagang dekatnya juga ingin dagangannya dibeli.
“Bu, simbah itu sudah dibeli dagangannya. Masa sawo saya tidak dibeli. “
“Nggih mbah. Jenengan pilihke. Kula manut mawon, sedasa ewu.”
Simbah itu memilihkan beberapa buah sawo. Saya tidak menawar, tidak minta tambah. Pokoknya yang diberikan ke saya, saya terima.
Saya menyodorkan uang dua puluh ribuan. Simbah ini tak punya uang kembalian. Dia mau menukarkan uang ke pedagang makanan dan minuman di dekatnya.
“Saya beri tukar, tapi daganganku dibeli ya Bu.” (modus, tak apalah. Yang penting mereka berempat sudah saya kurangi dagangannya)
“Nggih, mbah. Saya beli minuman yang ini.” Saya menunjuk isotonic.
Akhirnya saya dapat kembalian. Walaupun dagangan mereka laku tak begitu banyak, tapi mereka senang. Saya jadi ingat ketika saya SMP dulu. Saya membantu Ibu jualan di pasar. Kalau pas ramai, rasanya senang banget. Tapi kalau lagi sepi, Ibu harus sabar menunggu pembeli atau mengantarkan dagangan ke konsumen yang memesan makanan.
Bersyukur, itulah cara saya mengungkapkan betapa nikmat Allah tak boleh diremehkan. Sekecil apapun nikmat itu, syukuri. Sekarang, kalau ada pedagang makanan atau apa saja yang usianya sudah tua, saya ingin berbagi. Nglarisi, dengan cara membeli dagangannya tanpa menawar.
Sebelum ke rumah, saya mampir ke Dongkelan. Seperti biasa membeli es camcao kesukaan Ibu.  Akhirnya sampai rumah, oleh-oleh dibuka, Alhamdulillah untuk rebutan.

Karanganyar, 6 September 2016