Senin, 26 Februari 2018

DI BALIK KISAH HIDUP TENANG TANPA RIBA



noerimakaltsum.com. Sudah dua hari ini, saya mengandalkan/numpang hidup “internet” dari anak dan suami. Quota internet habis, mau beli rasanya sepeda motor kok ya tidak mau berbelok ke konter. Motornya hanya hafal rute rumah-penitipan-sekolah. Akhirnya, tanpa internet saya bisa melakukan beberapa kegiatan rumah tangga dan “me time”.

Me time saya hanya membaca buku. Kebetulan ada buku baru, judulnya “HIDUP TENANG TANPA RIBA”. Buku ini sangat cocok untuk saya yang memang ingin menjauh dari riba. Memang, saya tidak terjerumus dan terperosok dalam. Saya pernah berutang dan sudah pasti ada unsur ribanya, sebab saya berhubungan dengan bank konvensional dan koperasi. Akan tetapi saya tidak terlalu terlena.

Kalau saya berutang lalu di kemudian hari ada uang untuk melunasi, saya cenderung segera melunasi. Lebih baik saya tidak membawa uang berlimpah tapi tidak memiliki utang daripada uang saya banyak tapi utang saya juga lebih banyak.

Alhamdulillah, hidup saya tenang tanpa utang. Pagi, siang, sore dan malam tidak ada yang mengusik saya. Tidak ada tagihan dari bank, tidak ada “jago kepruk” dan debt collector yang datang ke rumah. Ayem tentrem, sanadyan ora duwe bandha sing isa dipamerke (tenang, meskipun tidak memiliki harta benda yang bisa dipamerkan.

Dari beberapa tulisan, saya baru membaca  kisah dari 3 penulis. Ketiga tulisan tersebut penulisnya adalah mbak Etyastari Soeharto, mbak Nurul Chomaria, dan mas Dwi Suwiknyo. Dari penulis buku tersebut baru mbak Nurul Chomaria yang sering saya temui. Maklum, mbak Nurul teman komunitas IIDN Solo.

Membaca kisah dari ketiga penulis tersebut, saya semakin mantap dengan sikap saya yang tidak mudah tergiur untuk berutang. Bahkan dulu ketika ditawari kartu kredit, saya menolak keras. Saya bergeming, tidak terpengaruh rayuan gombal seorang marketing bank.

Meskipun saya pernah berutang, tapi itu untuk membiayai pengobatan kurang lebih 40 juta rupiah, bukan untuk memenuhi gaya hidup. Saya dan suami memang sudah sepakat menjalani hidup sederhana. Seandainya bisa membeli barang-barang dengan kontan sekalipun bila barang tersebut tidak saya perlukan, mending uangnya saya tabung.

Kisah yang ditulis mbak Nurul sungguh membuat saya prihatin. Usaha yang dimulai dari kecil-kecilan, kemudian mengalami pasang surut dan sempat Berjaya, akhirnya terpuruk, ambruk gara-gara utang bank. Tidak pernah saya bayangkan ada debt collector yang datang ke rumah dengan tampang garang.

Mbak Etyastari, awalnya tidak tergiur tapi akhirnya luluh dengan rayuan gombalnya marketing bank. Kartu kredit, kartu sakti, yang awalnya membantu menjadi “menjerat leher”. Kebetulan, mbak Etyastari ini orangnya tidak tegaan melihat wajah memelas temannya. Pada akhirnya kartu kredit yang disangka malaikat ini, malah mengantarkannya ke jurang. Sebenarnya, bukan mbak Etyastari sendiri yang memakai, ada “penipu” dari kalangan terdekat. Ngenes, memelas, dan saya ikut tercabik-cabik.

Mungkin hampir sama dengan cerita lainnya, mas Dwi Suwiknyo perjalanannya panjang dan berliku dan semua itu karena “tergiur” untuk memenuhi (maaf, maaf sekali ya mas Dwi, saya menyebutnya demikian) gaya hidup. Padahal awalnya enjoy dengan kehidupannya.
Kebetulan, saya juga sering dikompori untuk membeli mobil. Baik saudara, teman maupun kerabat sering bilang kalau saya mampu membeli mobil dan memang perlu. Insya Allah, saya tidak tergiur untuk memiliki mobil kalau memang belum butuh.

Pada akhirnya kembali pada kita. Lebih baik menyadari setelah jatuh lalu bangkit daripada masih keras kepala untuk bertahan bersahabat dengan riba padahal sudah bangkrut!

Karanganyar, 26 Februari 2018