Kamis, 25 Oktober 2018

Pengalaman Mendampingi Anak Belajar Membaca, Menulis, dan Berhitung

Memiliki dua orang anak dengan selisih usia 10 tahun, ada keuntungannya. Anak sulung kuliah di luar kota, si kecil masih kelas 2 SD. Merawat dan mendidik si kecil, serasa baru memiliki satu anak.

Si kecil mandiri sejak dini dalam hal melakukan kebiasaan sehari-hari. Makan, minum, mandi, dan ganti pakaian sudah bisa melakukan sendiri. Akan tetapi khusus untuk kegiatan akademik, yakni sekolah, si kecil agak “rewel”. Awal masuk SD, anaknya bilang tidak mau sekolah. Seiring berjalannya waktu, si kecil sudah bisa menyesuaikan diri. Kebetulan si kecil laki-laki yang sulit untuk diatur. Sebagai orang tua harus ekstra sabar menghadapinya. Tidak boleh emosi, marah, dan mengeluarkan suara yang keras.

Si kecil mulai belajar menulis dan membaca sejak masih TK tapi belajarnya sambil lalu. Kemampuan menulis dan membaca si kecil berbeda dengan kakaknya. Pada usia yang sama, kakaknya lebih terampil. Butuh kesabaran tinggi dalam menunggu si kecil belajar. Belajar masih dengan bermain. Mungkin kalau sudah waktunya memiliki tanggung jawab, si kecil juga akan “mapan” sendiri.

Yang saya sukai dari si kecil adalah bila pulang sekolah langsung bilang ada tugas atau pekerjaan rumah meski mengerjakannya ditunda, Walaupun mengantuk berat, pasti mencicil mengerjakan tugas.

Dulu saya mengkhawatirkan si kecil karena kemampuannya di bawah rata-rata. Setelah mengikuti perkembangannya, saya tahu bahwa semakin rajin membaca, dia juga semakin cepat mencerna isi materi pelajaran.

Ketika belum bisa membaca, saya mengajarinya menggunakan buku “anak islam suka membaca”. Saya menggunakan buku ini karena belajar membaca seperti cara membaca Alquran dengan sistem Iqro’. Belajar membaca tidak dengan dieja melainkan membaca per suku kata.

Untuk belajar menulis, saya menyediakan buku bergaris biasa dan buku menulis halus. Mungkin karena anaknya laki-laki dan tidak telaten, maka tulisannya tidak begitu rapi. Saya perhatikan si kecil bisa menulis rapi, tetapi memakan waktu yang lama. Bagi saya, yang penting tulisan bisa dibaca. Sambil mempelajari yang lain, tulisannya juga saya minta untuk diperbaiki lebih rapi lagi.

Untuk pelajaran berhitung, si kecil belum bisa cepat menjumlah maupun mengalikan. Tugas saya adalah sering memberikan pertanyaan seputar penjumlahan dan perkalian dengan cara mencongak. Saya tahu dia masih memakai jari untuk berhitung. Mungkin karena di sekolah jarang diberi soal mencongak sehingga si kecil juga kurang berlatih menghafal.

Banyak kemajuan yang diraih si kecil. Sebagai orang tua yang telah memiliki pengalaman “menggembleng” si sulung, saya memperlakukan si kecil berbeda dari kakaknya. Karena kondisi awal keduanya juga tidak sama. Si sulung bisa diajak cepat menjawab pertanyaan, sedangkan si kecil memikirkan jawaban terlalu lama untuk soal yang sama.

Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Saya hanya perlu belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Saya dan suami bisa mendampingi mereka dengan baik.