Kamis, 24 Maret 2022

Cara Melembutkan Hati Anak

 


Pandemi berdampak pada fisik dan mental anak saya. Kegiatan berpikir berkurang karena pembelajaran jarak jauh cenderung membuat santai. Selain itu tugas yang banyak juga bukannya membuat anak semangat mengerjakan, melainkan membosankan dan melelahkan. Makan 3 kali sehari bukan menjadi energi untuk berpikir, malah menjadi tumpukan lemak. Berat badan naik secara signifikan.

Oleh karena selama pandemi anak saya waktunya banyak dihabiskan di rumah kerabat, saya rasakan ada banyak perubahan perilaku. Dahulu pendiam, menurut, dan mudah dinasihati. Namun, kini berubah. Mungkin karena banyak dolan, bergaul dengan banyak orang, kebanyakan nonton televisi, dan lain-lain. 

Sebelum pandemi, di rumah tidak ada televisi. Jadi F2 tidak nonton tv. Nonton tv kalau berada di rumah saudara atau tetangga. Saat pandemi, F2 berada di rumah saudara. Di rumah saudara hiburannya nonton tv selain bermain dengan anak-anak seusianya. 

Akhirnya, di rumah disediakan tv. Sebab, bermain di luar tidak memungkinkan. Bermain dengan barang yang ada di rumah juga sudah dilakukan. Biar tidak bosan, pilihannya adalah nonton tv. 

Ternyata tontonan tv sangat berpengaruh terhadap mental F2. Meskipun kontennya hanya hiburan, tapi tetap saja ada yang ditiru. Ya kekerasannya (meskipun bercanda), suka berteriak, marah-marah, bicaranya meledak-ledak, sering main fisik. Astagfirullah. Harus segera diatasi!

Sejak awal bulan Januari, masuk sekolah secara penuh. Ini sangat membantu saya mengembalikan sifat F2. Waktu semester gantil PTM terbatas, saya anggap sebagai pemanasan. 

Saya dan suami memulai lagi. Salat 5 waktu tidak pernah berhenti diingatkan. "Salat dulu. Mainnya nanti."

Ngajinya dimulai lagi. "Nggak usah malu, mulai dari nol belajarnya. Dibaca 3 kali tiap halaman. Nggak usah protes. Hatinya yang tenang."

Sebelum tidur hafalan surat pendek. "Hafalan surat pendek sedikit demi sedikit." Kadang-kadang ayat terakhir diselesaikan terus diam, nggak ada suaranya karena mata sudah terpejam.

Setiap hari belajar matematika, tematik, penjaskes, agama, bahasa Jawa. Sekarang dengan kesadaran sendiri mau mengerjakan LKS di rumah, siapa tahu besoknya diminta untuk mengerjakan lalu dikumpulkan.

Ibu harus pandai dan menguasai banyak hal. Ibu harus pandai mengajar, matematika, mengaji, menulis. Ibu harus sabar mengajar anak-anaknya. 

Setiap hari saya mendoakan anak-anak terutama F2 agar sehat, beruntung di dunia dan akhirat, cukup rezekinya, diberi perlindungan di manapun berada. Saat F2 tidur saya belai rambutnya dan wajahnya. Tangan dan kaki saya pijat. Saya cium wajahnya dan berdoa, "Ya Allah, lembutkan hati F2. Lembutkan hatinya seperti dahulu."

Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa siang malam yang saya panjatkan. 

00000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar