Rabu, 03 Desember 2014

Kurikulum 2013 Jalan Terus!


Bapak Kepala Sekolah mengajak bincang-bincang kecil dengan sebagian guru-guru dengan santai. Pertama kali yang mendapat pertanyaan adalah Painem Mursalin.

“Bu, menurut penjenengan, K13 ini tetap jalan atau bagaimana?”
“Jujur mawon Pak. Saya kembali ke KTSP. K13 itu bagus, bagus untuk siapa? Ada pendidikan karakternya masuk di dalamnya. (RPP-ne sadampyak. Gawe RPP 1 materi saja, anak dan suami sudah disuruh beli makan sendiri, cuci pakaian sendiri dan seterika sendiri. La kalau buat beberapa materi, beberapa RPP pada kukut semua nanti). 

Apa jaman dulu gak ada pendidikan karakter? Malah jaman dulu orang berbudi pekerti bagus. Sekarang ini guru dengan sekuat tenaga memberikan teladan berkarakter yang baik (we kuwi gajine sithik, la wong mulang neng swasta). Lantas kok anak menjadi tidak berkarakter? Jangan hanya menyalahkan guru dan sekolah. 

Orang tuanya sudah berkarakterkah? Lingkungannya adalah lingkungan yang baikkah? Tontonannya adalah yang sesuai dengan yang kita inginkankah?

Ini Pak, kalau baca status orang-orang, tapi ada benarnya : guru digaji sedikit untuk memperbaiki karakter anak. Artis digaji banyak untuk merusak karakter anak. (Miris banget)”

Jaman dulu, dulu sekali po yo pakai K13. Mantan presiden RI yang jenius itu dulu tidak memakai K13. Menteri yang mencanangkan K13 juga tidak pakai K13. Mereka pandai dan berkarakter. Dokter-dokter jaman dulu itu juga pandai, padahal bukunya pakai buku turun temurun.

K13 itu cocok untuk murid-murid pandai yang punya rasa ingin tahunya besar. Kalau untuk murid-murid yang sekolah saja sepertinya enggan (mau sekolah saja, guru BP harus mencari anak-anak didiknya di pasar, di terminal, di tempat hiburan, di Tawangmangu atau di kebun teh, terus piye, jal?) itu belum pas.

Kesimpulannya kalau di sekolah kita bagaimana? Seorang Bapak yang sudah senior berpendapat. Kalau K13 dipaksakan, muridnya pada stress. Gurunya tidak jadi mulang, membuat administrasi sadampyak, belum lagi penilaiannya yang rumit. (sambil menggeh-menggeh). 

Pakai KTSP tapi juga pakai 5M (mengamati, menanya, mengasosiasi, mengkonfirmasi dan mengomunikasikan).

Maaf, judulnya tidak sesuai dengan isinya.


Karanganyar, 3 Desember 2014