Sabtu, 04 April 2015

Aku Meragukan Pernikahannya

Oleh: Kahfi Noer
Dengan alasan isterinya “dingin”, Halim berniat menikah lagi. Katanya isterinya mengizinkan dan ridha kalau dia menikah lagi. Tentu saja aku meragukan pengakuan Halim. Rasanya itu hanya omong kosong Halim saja. Menurutku, isteri mana yang menerima dan ridha begitu saja suaminya menikah lagi. Oh, aku tidak boleh mengatakan itu. Mungkin saja isteri Halim benar-benar ikhlas!

Setelah beberapa bulan berlalu, saat jalan sehat pada Jumat minggu kedua Halim bercerita kalau dia tidak bisa rujuk dan menikah lagi dengan isteri pertamanya. Kalau dia mau kembali dengan isteri pertamanya, maka mantan isteri harus menikah lagi dengan orang lain. Tentu saja itu semua membuatku terperangah! Tidak percaya saja. Halim dan isterinya benar-benar tahu tentang agama. Kok talak tiga begitu cepat terjadi?

Ternyata bila Halim marah terhadap isterinya dia mengatakan cerai. Menurut pengakuan isterinya sudah 4 kali Halim mengatakan cerai tidak dalam satu waktu. Talak tiga tanpa sidang dan tanpa hakim. Keyakinan isterinya, hubungan mereka sudah tidak halal lagi.

Setelah menjatuhkan talak dan menikah lagi dengan wanita lain, Halim mengontrak rumah. Halim meninggalkan mantan isteri dan anak-anaknya di rumahnya. Rumah Halim bersebelahan dengan rumah orang tuanya. Sebenarnya Halim masih mencintai isterinya. Tapi pertengkaran kecil membuatnya emosi dan tidak bisa mengontrol diri. Tentu saja itu berkaitan dengan poligami-nya.

Merasa anaknya sudah ditalak tiga, mantan mertua Halim menyuruh anaknya meninggalkan rumah Halim dan membawa 4 anaknya. Praktis ketika mantan isteri membawa anak-anaknya pulang ke kampung halaman, Halim sama sekali tidak tahu. Orang tua Halim juga tak memberi tahu Halim. Bahkan orang tua Halim mengizinkan menantunya itu menjual sepeda motor Halim tanpa sepengetahuan Halim.

00000

Ada yang tidak beres dengan pernikahan kedua Halim ini. Menurut kabar yang beredar, isteri siri Halim masih berstatus isteri orang. Walah, berarti pernikahan Halim pernikahan macam apa ini?
Sejak awal aku sudah meragukan berita pernikahan itu. Pernikahan itu benar-benar ada atau tidak? Jangan-jangan statusnya Cuma “jalan bareng” atau “suka sama suka”.

Pengakuan Halim padaku berbeda dengan bila di hadapan temanku. Temanku yang satu ini memang berani nanya-nanya yang bersifat pribadi. Mbak Amik mengatakan bahwa Halim dan isteri sirinya tidak tinggal serumah. Mereka mengontrak rumah sendiri-sendiri. (Keluarga macam apa ini?)

Pantas saja kalau berada di kantor Halim sibuk membalas sms atau berbincang lewat telepon dengan isterinya. Kalau memang suami isteri tentu saja tidak sering menelepon atau ber-sms pada jam kantor. Pertanyaanku, apakah di rumah tidak pernah mengobrol? Atau waktunya untuk mengobrol masih kurang?

00000

Suatu hari Halim membeli kendaraan roda 4. Katanya sebagai wujud rasa syukur, Tuhan telah memberi banyak nikmat. Bagiku apalah arti sebuah mobil bila tak bisa dinikmati oleh anak-anaknya dan keluarga besarnya.

Aku ingat benar, Halim memiliki niat untuk menikah lagi setelah mendapatkan tunjangan profesi. Baginya laki-laki boleh-boleh saja berbagi kebahagiaan di kala hartanya berlebihan. Setelah isterinya ditalak 3 dan anak-anak tinggal bersama mantan isteri, Halim tidak memedulikan anak-anaknya.

Halim bukan membagi kebahagiaan, melainkan menikmati sendiri kebahagiaan dan menelantarkan anak-anak dan ibunya anak-anak. Tega benar! Halim juga egois, tidak mencatatkan perceraiannya. 
Artinya perceraiannya tidak ada hitam di atas putihnya. Kasihan status mantan isterinya.

Sampai saat ini aku masih meragukan pernikahannya yang kedua. Benarkah semua sudah terlaksana?
Pagi ini di kantor Halim tidak memakai baju batik bebas. Halim mengenakan baju teknik. Sebenarnya tiap Sabtu seragam pegawai adalah baju teknik. Tapi banyak pegawai tidak memakai baju teknik melainkan memakai baju batik bebas.

“Lo tumben Pak Halim memakai seragam teknik.Apakah Pak Halim mau menghadap Ketua Yayasan?”tanyaku.
“Enggak, Bu. Seragamnya habis.”
“Lo, kok seragamnya habis. Apakah tidak dicucikan isteriya?”

Aku tersenyum penuh heran. Apakah mungkin baju seragam sampai habis? Berarti benar tak ada penikahan kedua. Tentu saja kalau mereka benar-benar menikah, isterinya akan menyiapkan semuanya untuk suami termasuk baju!

Ternyata benar bila aku meragukan pernikahannya. Halim, Halim, kamu benar-benar tega menceraikan isteri yang sah tanpa alasan dan memilih bersenang-senang dengan perempuan lain. (SELESAI)

Karanganyar, 4 April 2015