Rabu, 08 April 2015

Mengapa AA Gym Bisa Menikah Lagi dengan Mantan Isteri?

Oleh : Kahfi Noer
Pagi ini aku diajak sarapan oleh teman-teman di warung sederhana. Beginilah sukanya menjadi teman sebagai pendengar yang baik. Ke mana saja diajak, tentu dengan harapan aku mau mendengarkan curhat siapa saja. Aku memang suka menjadi pendengar tanpa memotong cerita lebih dahulu. Karena aku membutuhkan referensi, butuh cerita orang lain sebagai bahan menulis. Bagaimanapun aku butuh bahan tulisan. Enaknya bahan tulisan itu tidak harus aku baca lebih dahulu. Cukup dengan mendengarkan.
Kali ini Halim bercerita lagi tentang anaknya yang besar kelas VIII, namanya Faiq. Anak laki-laki dengan kaca mata minus sudah tebal itu tinggal di pondok pesantren di luar kota. Hari ini Faiq dan temannya akan berkunjung ke ponpes wilayah Solo. Halim senang bukan main. Setelah bercerai dengan isterinya, talak 3 tanpa sidang tanpa hakim alias lisan saja, anak-anak dibawa isterinya semua.
“Anak saya mau datang ke sini, Bu.”
“Tinggal di sini atau hanya berkunjung?”
“Dia mau dolan ke ponpes sama temannya. Beberapa hari akan tinggal di rumah kakeknya.”
“Oh gitu ya.”
“Bu, coba saja kalau isteri saya masih bisa kembali lagi. Saya mau memperbaiki diri,”kata PakHalim.
“Nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur, Pak.”
“Bu, Aa Gym itu kok bisa menikah lagi dengan mantan isterinya. Padahal mereka bercerai resmi di Pengadilan Agama. Saya belum diproses di Pengadilan Agama kok tidak bisa kembali lagi ke isteri saya?”
“Pak, jenengan tahu kan kalau talak 3 itu beda dengan talak satu. Jenengan juga lebih tahu soal agama daripada saya. Kalau Aa Gym itu talak 1 Pak. Sedangkan jenengan talak 3. Dan isteri jenengan punya keyakinan meskipun belum sidang di Pengadilan Agama, tapi jenengan sudah mengucap talak lebih dari tiga kali dalam waktu tidak sama atau berselang. Pak, ucapan talak atau cerai itu tidak boleh main-main. Kalau jenengan punya itikad yang baik, monggo diproses secara legal. Biar mantan isteri statusnya jelas. Mungkin dia ingin menikah lagi.”
Halim tidak menanggapiku. Ya sudah berarti pembicaraan ini sudah selesai. Dan aku terus berdiskusi dengan hati nuraniku. Orang yang belajar agama, tahu tentang agama dan ilmunya banyak, memberi ceramah pengajian, memberi solusi bagi orang yang kena masalah tapi tidak bisa menerapkan ilmunya itu untuk dirinya sendiri. Untuk kehidupannya dan keluarganya, ilmu itu tinggallah tulisan yang hanya disebarluaskan. Bukan diambil hikmahnya.
Halim tahu secara teori tentang perceraian, tapi tidak bisa menerapkan ilmunya itu untuk dirinya sendiri. Mengapa dia bisa mengucap talak sampai lebih dari 3 kali tapi dia mengatakan tidak menyadari hal itu. Dan tidak tahu kalau ucapannya itu berakibat dia tidak bisa kembali pada mantan isterinya sebelum mantan isterinya menikah dengan orang lain.
Alhamdulillah, sarapan pagi ini terasa nikmat. Nasi gudang dengan tahu dan tempe bacem. Teh nasgitel tidak lupa aku cicipi meskipun akhirnya aku tuang ke dalam botol plastik yang selalu aku bawa ke mana-mana.(SELESAI)
Karanganyar, 8 April 2015