Minggu, 07 Juni 2015

Kelangan Becak

KELANGAN BECAK
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Bila ingat kejadian ini, suami saya akan tertawa terpingkal-pingkal. Ceritanya, rumah saya yang mewah alias mepet sawah (benar-benar di tengah sawah), sering dititipi parkir sepeda motor dan becak.
Pedagang ember plastik, para buruh panen padi menitipkan sepeda motornya di depan rumah saya. Pengamen memarkir motor metik/skuter di teras rumah saya, lalu pergi mengamen di perumahan dekat rumah saya. Ada tukang becak (sudah tua, biasanya mangkal di sekitar rumah sakit umum daerah) yang memarkir becaknya di bawah pohon mangga. Tukang becak tadi lantas pergi ke perumahan, pekerjaan sampingannya adalah mengemis.
Tetangga saya yang tinggal di perumahan sering bercerita. Tukang becak tersebut ajek mengemis seminggu dua kali. Becaknya di parkir di depan rumah saya. Sebenarnya anak-anak Pak Tukang Becak melarang dan malu kalau bapaknya mengemis.
Suatu hari tukang becak tadi setelah mengemis hanya berjalan kaki menuju jalan raya. Suami saya mengejar tukang becak tersebut.
“Pak, pak, kok Cuma jalan kaki. Becaknya dimana?”tanya suami.
“ Becak saya ilang. Saya kelangan becak.”jawab tukang becak tanpa ekspresi.
“Memang becaknya tadi ditaruh di mana?”
“Di bawah pohon mangga, rumah tengah sawah itu.”
“Udah dicari belum, Pak?”
“Males Mas.”
Hari menjelang maghrib, agak gelap. Suami menunjukkan becak milik Pak Tukang Becak. Ternyata becaknya tidak hilang. Sengaja sama suami saya ditaruh di samping rumah, tapi tertutup semak-semak.
“Makanya jangan menaruh becak di depan rumah itu. Kalau hilang beneran gimana?”
Pak Tukang becak menuntun becak, setelah sampai di jalan depan rumah, lalu becak dinaiki. Pak Tukang Becak tadi tidak mengucapkan terima kasih babar blas. Oalah, jadi tadi memang disembunyikan, ta?  Ternyata ide menyembunyikan becak berasal dari orang-orang perumahan. Suami saya hanya pelaksana saja.
Karanganyar, 5 September 2014