Sabtu, 27 Juni 2015

Sarjana Kedokteran, Tetap Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Sarjana Kedokteran, Tetap Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Gambar 1. Bersama Sahabat Penulis Berbagi Ilmu

Tulisan ini terangkai, terinspirasi dari cerita teman-teman, tetangga, dan sahabat-sahabat saya baik di dunia maya maupun nyata. Judul dalam tulisan ini saya ambil karena saya menilai betapa mulianya hati seorang perempuan. Dia dilahirkan, dibesarkan, diberikan pendidikan yang tinggi oleh orang tuanya. Akan tetapi setelah menempuh pendidikan tinggi, mereka tidak berkesempatan bekerja dengan menghasilkan uang. Mereka memilih membesarkan putra-putrinya di rumah dengan berbagai pertimbangan.

Saya dan Keluarga
Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan sekolah dan lulus sarjana. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua saya, kakak-kakak dan adik saya yang telah membiayai saya menempuh pendidikan. Sungguh, jasa mereka tak bisa saya balas dengan materi yang saya miliki sekarang. Semoga yang yang telah mereka usahakan untuk saya mendapatkan pahala dan merupakan amal jariyah. Amin.

Gambar 2. Bersama Saudara Kandung (Motivator)

Saya juga sangat berterima kasih kepada keluarga besar saya, orang tua dan saudara-saudara kandung saya yang terus memotivasi kepada saya untuk mengamalkan ilmu yang saya peroleh dengan jalan mengajar. Tak lupa saya sangat berterima kasih kepada suami yang saya cintai, yang telah memberikan kesempatan dan mengizinkan saya untuk mengamalkan ilmu dengan bekerja di luar rumah. Kebetulan saya dan suami berprofesi sebagai guru.

Senang rasanya menjadi perempuan yang bisa bekerja dan berpenghasilan tetapi tetap tidak mengabaikan kewajiban sebagai isteri dan ibu bagi kedua putri-putra saya. Kebetulan kami tak memiliki asisten rumah tangga, jadi semua pekerjaan praktis kami kerjakan sendiri.

Saya bangga menjadi seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang cukup. Bila anak saya memerlukan bantuan untuk mengerjakan PR atau sekedar menerangkan pelajaran matematika, fisika dan kimia, saya berusaha untuk membantunya. Tentu saja saya harus kembali membuka-buka buku. Dan mencari strategi supaya keterangan saya dengan mudah dipahami anak saya. Alhamdulillah, meski saya sarjana jurusan kimia sampai sekarang saya juga masih bisa menerangkan pelajaran matematika/fisika.

Saya teramat bangga karena kedua anak saya yang momong dan mendampingi dia bermain adalah sarjana pendidikan yaitu saya dan suami saya.

Tetangga dan Kenalan
Cerita yang kedua ini adalah tetangga saya. Beliau lulus dari Fakultas Kedokteran dan memperoleh gelar dokter waktu itu. Akan tetapi tetangga saya tidak bekerja sebagaimana mestinya sarjana kedokteran. Beliau bersyukur menjadi ibu rumah tangga. Beilau mendampingi suaminya yang berprofesi sebagai dokter umum.

Dengan menjadi ibu rumah tangga beliau tetap bisa mengamalkan ilmunya. Sebab beliau aktif pada tiap kegiatan sosial. Pasangan dokter ini memiliki seorang anak laki-laki. Seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh tangan-tangan dokter. Anak laki-laki satu-satunya ini berhasil menamatkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ya, meskipun sarjana kedokteran, tetangga saya tetap bangga menjadi ibu rumah tangga.

Cerita yang ketiga ini adalah teman saya yang aktif menulis buku. Beliau lulus dari IAIN Su-Ka Yogyakarta. Akan tetapi teman saya memilih menjadi ibu rumah tangga dengan berbagai pertimbangan. Menjadi ibu rumah tangga dan mengurus 3 putra-putrinya. Beliau tetap bisa mengamalkan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan, yaitu dengan cara menulis buku. Selain menulis buku, beliau juga menulis artikel yang ditayangkan oleh majalah online. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tetap disampaikan kepada orang lain dan tentu saja ilmu yang bermanfaat ini merupakan amal jariyah.

Cerita yang keempat adalah tetangga saya waktu saya masih tinggal dengan orang tua. Sebut saja Dikta. Mbak Dikta pernah satu kelas dengan saya. Setelah lulus SMA, mbak Dikta melanjutkan ke FK Hewan di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.

Seingat saya, terakhir saya bertemu mbak Dikta ketika dia menikah. Waktu itu saya njagong mewakili Karang Taruna. Setelah itu saya tidak bertemu lagi sampai sekarang. Akan tetapi Allah mempertemukan kami di dunia maya, facebook. Kebetulan kami seangkatan, jadi kami bertemu di Group Alumni.

Dari pertemuan di facebook ini saya jadi tahu mbak Dikta tinggal dan memiliki 3 putra-putri. Tahun lalu ketika saya mudik lebaran, saya juga berusaha menemui mbak Dikta yang mudik. Sayang saya tidak bisa bertemu dengannya karena dia sedang bepergian dengan anak-anaknya.

Ternyata mbak Dikta tidak bekerja di luar, dia menjadi ibu rumah tangga. Suatu saat dia menulis status kurang lebih maksudnya : meskipun dia sarjana kedokteran, dia menganggur, karena suami tidak mengizinkan dia bekerja. Dari status itu ada beberapa komen. Di antaranya ada yang pro dan ada yang kontra.

Kalau saya menyarankan meskipun tidak bekerja, kita juga bisa mengamalkan ilmu. Lakukan saja menulis. Menulis bisa dilakukan di rumah, tanpa meninggalkan keluarga.  Kita bisa menulis sesuatu yang kita kuasai. Saya yakin mbak Dikta bisa. Pengetahuan dan wawasannya luas, bagi mbak Dikta menulis tentang hal yang berhubungan dengan hewan juga bisa. Apalagi kalau saya sering membaca statusnya tentang ketiga anaknya, luar biasa. Ketiga anaknya memberi ide cerita yang dahsyat. Sebenarnya tulisan yang kita buat memberi manfaat untuk orang banyak. Mbak Dikta juga bisa aktif di komunitas atau perkumpulan sesuai agama yang dipeluknya.

Mungkin, suatu saat bila saya bertemu langsung dengan mbak Dikta, dia akan saya bisiki, mbak bangganya kita, anak-anak diasuh dan dirawat oleh seorang dokter. Meskipun tidak bekerja di luar rumah, kita tetap bisa memberi manfaat untuk orang lain. Kita tetap bisa bangga menjadi ibu rumah tangga. Karena menjadi ibu rumah tangga tugasnya di rumah juga tidak bisa dianggap enteng. Membesarkan dan mendidik anak-anak menjadi manusia yang berakhlak mulia dan berkarakter ini tugas yang amat berat.

Kalau dulu saya pernah membaca status mbak Dikta yang mengeluh karena tak memiliki penghasilan, tidak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin mbak Dikta mencontoh kehidupan orang-orang di sekelilingnya. Sarjana kedokteran, sarjana psikologi, sarjana agama yang tidak bekerja di luar rumah tetapi tetap berpenghasilan dengan menulis. Mereka bisa mengawasi putra-putrinya bermain. Mereka bisa mendampingi putra-putrinya belajar. Mereka dekat dan ada ketika putra-putrinya membutuhkannya.

Saya salut kepada dua orang perempuan kuat yang saya kenal di daerah saya tinggal yaitu sarjana kedokteran yang tidak bekerja, mendampingi suaminya yang dokter umum dan sarjana kedokteran gigi yang tidak bekerja mendampingi suaminya yang dokter kandungan.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Karanganyar, 27 Juni 2015


Terima kasih untuk keluarga besarku, suamiku dan kedua anakku, yang mengizinkanku tetap bekerja.