Minggu, 10 Januari 2016

Rezeki Kursi Panjang

Gambar 1. Meja dan kursi
sumber: dok.pri
Hari Kamis, 7 Januari 2016 kesabaran saya diuji. Faiz, anak saya kedua pulang dari penitipan anak ikut saya menghadiri pertemuan PKK di RT. Namanya juga ibu-ibu, wajib ikut PKK meskipun tidak wajib datang setiap pertemuan sebulan sekali.
Setelah selesai PKK, Faiz mulai rewel. Yang ditanyakan adalah ayah. Selalu saja begitu, Faiz dekat dengan ayah. Bila tak ketemu ayah terus rewel, permintaannya macam-macam. Saya tidak mungkin mengajak Faiz ke tempat ayahnya tenis, takut ada apa-apa. Maklum, tangannya belum sembuh betul. Pen yang masih tertanam di tulang, membuat saya merasa eman-eman.
Kalimat berikutnya yang selalu saya duga pasti keluar adalah,”telpon ayah. Ikut ayah.” Saya tidak menjawab. Semoga usaha saya berhasil. Dengan naik sepeda motor, saya ajak Faiz keliling kampung, lalu lewat jalan raya. Saya kenalkan nama-nama kampung/tempat yang kami lewati. Tempat-tempat tersebut biasa kami lewati. Saya mendengarkan ceritanya. Tak lupa untuk meyakinkan dia kalau saya perhatian banget dengan ceritanya, kadang saya tertawa dan menimpali ceritanya. Rupanya Faiz melupakan “telpon ayah” lagu wajibnya.
Satu kampung terakhir saya lewati, motor saya pelankan jalannya. Sampailah pada suatu jembatan. Sebelum menyeberang, saya melihat seorang penjual kursi dan meja. Penjual tersebut duduk di dekat jembatan. Saya berhenti lalu melihat-lihat barang dagangannya.
“Kursi atau meja, Mbak?”Tanya penjual meja-kursi.
“Kursinya berapa, Pak?”Tanya saya basa-basi.
“Seratus lima puluh ribu, Mbak.”
“Pitu-lima (tujuh puluh lima),”saya mulai menawar.
“Masih jauh, Mbak.”
“Sangang puluh. Nek entuk taktuku, nek ora ya rasida tuku,”
(Sembilan puluh. Kalau boleh saya ambil, kalau gak boleh ya gak jadi beli)
“Walah, Mbak. Uang seratus saja kurang sepuluh. Seratus, Mbak.”
“Saya nggak maksa kok Pak. Itu sudah pol, beberapa waktu yang lalu saya beli juga Sembilan puluh.”
“Mbak, dari tadi sudah ada 3 orang nawar 90 ribu tidak saya berikan. Ya, sudahlah sepertinya rezekiku cuma 90 ribu. Rumahnya mana, Mbak?”
“Nyeberang sini, Pak. Ada perumahan.”
Saya meninggalkan penjual meja kursi. Di belakang saya, penjual tersebut membuntuti. Akhirnya sampai di depan rumah. Penjual tersebut menurunkan dagangannya. Saya memilih. Sambil ngobrol-ngobrol.
Ternyata penjual meja-kursi tersebut orang Boyolali, sama seperti penjual kursi beberapa bulan yang lalu. Katanya, saya dibilang nawarnya bisa minim. Itu rezeki saya. Padahal 3 orang yang nawar sebelumnya tidak bisa membawa pulang kursi panjang. Dia juga cerita beberapa waktu yang lalu dagangannya diborong orang dengan harga tinggi. Tapi dia tetap bersyukur, dagangannya akhirnya ada yang membeli.
Sejak awal sudah disepakati harganya 90 ribu, saya juga tidak memberi lebih. Penjual kursi mengatakan dia akan akan menjajakan meja-kursi sampai malam, baru pulang ke Boyolali. Baginya mencari rezeki harus sabar. Saat itu menjelang maghrib. Setelah menurunkan dan menata kembali meja-kursi, penjual tadi pamit.
Semoga mendapat rezeki yang barokah, Pak. Perlu diketahui bahwasanya saya tidak membutuhkan kursi panjang. Di rumah sudah ada 2 kursi panjang untuk santai-santai. Sebenarnya tadi saya hanya iseng-iseng menawar. Kalau disepakati Alhamdulillah, kalau tidak ya tak masalah. E, ternyata boleh. Ya sudah, akhirnya saya bayar juga, murah lagi. Toh suatu saat saya juga membutuhkan.
Namanya juga barang murah, tentu kualitasnya di bawah standar. Akan tetapi saya juga memiliki kursi panjang yang sama kualitasnya, sudah 13 tahun menemani saya di rumah tengah sawah. Sampai sekarang juga masih bisa dimanfaatkan.
Karanganyar, 10 Januari 2016