Senin, 27 Juni 2016

Antara Menulis, Tenis dan Badminton

Adem, Sejuk, Ngangenin
dok.pri
Antara Menulis, Tenis dan Badminton
Kalau dulu mau menulis saja harus menunggu Ayah pergi atau tidur. Sekarang tak perlu lagi. Sepertinya dia sudah tahu ritme hidup saya. Saya tak perlu minta izin begini: mohon maaf ayahku sayang, aku mau menulis. Mohon jangan diganggu.
Ayah juga menyadari kok, dia tak pernah minta izin saya dan bilang: Mi, aku mau namplek. Tolong jangan telpon-telpon wae. Hape posisi disilent. Percuma kalau mami nelpon, nggak bakalan aku angkat.
Sepertinya kami memang sudah klop. Saya tak bisa memaksakan diri mengikuti dunia olahraganya. Dia juga tak mau mengikuti dunia menulis saya. Kami memiliki dunia yang berbeda. Tapi kita tetap sepakat untuk menghargai dunia kami masing-masing.
Kalau saya menulis, cukup membuka laptop lalu menulis begitu saja. Sambungkan internet, kirim ke media melalui email atau posting tulisan di blog. Kalau menulis di blog lalu dibagikan ke medsos. Wussss, selesai. Saya tetap di rumah, mungkin posisi duduk saya saja yang bergeser. Baju saya tetap bersih.
Berbeda dengan Ayah, pergi membawa raket (kalau siang tenis, kalau malam badminton). Pulang dari namplek membawa kaos bermandikan keringat dan kaos kaki basah dengan bau khas (sedapnya, hehe).
Bila malam hari, jam berapapun saya menulis, kalau belum posting minimal satu tulisan, saya merasa memiliki hutang. Padahal saya tak punya target (harus) menulis. Tak ada paksaan, tak ada yang memaksa. Saya tahu diri, saya harus menulis agar hidup saya bermakna dan bermanfaat.
          Karanganyar, 27 Juni 2016

Tulisan ini sebagai jembatan mau menulis rencana jalan-jalan bersama teman-teman ke Tawangmangu menikmati kuliner yang murah meriah.