Rabu, 22 Juni 2016

Ketika Menemani Si Kecil Menjalani Operasi

Setelah Jatuh
dok. Faiqah Nur Fajri
Sudah beberapa kali saya mengingatkan suami untuk momong Faiz dengan baik. Ke mana saja anaknya pergi harus selalu suami menyertai. Kata suami,”Anak laki-laki, gakpapa.” Apalagi kalau sudah naik sepeda, saya selalu minta pada suami agar berada di dekatnya.
Yang kedua adalah saya sudah minta pada suami agar depan garasi yang berbatasan dengan sawah tetangga untuk dipagar atau ditembok. Rupanya kata-kata saya tak dihiraukan.
Nasi telah menjadi bubur, semua telah terjadi dan tak bisa dikembalikan seperti sedia kala. Memang penyesalan datangnya di akhir, akan tetapi tidak perlu menyesal berkepanjangan. Harus ada langkah yang ditempuh dengan segera dan tidak bisa ditunda-tunda. Semua itu adalah musibah yang menimpa Si Kecil, Faiz (5,5 tahun waktu itu).
Mata saya berkaca-kaca, saya bergantian dengan suami memangku Faiz dan memegang tangannya. Lengan atas kiri Faiz patah, persis di atas siku.
00000
Operasi Pemasangan Platina
Setelah menjalani pemeriksaan, foto rongent, diambil sampel darah, Faiz dipindahkan ke bangsal. Faiz diminta untuk berpuasa mulai jam satu malam. Pagi harinya jam 6, Faiz berganti pakaian khusus untuk operasi. Akan tetapi Faiz harus menunggu hasil lab. Jam delapan, diberitahukan bahwa trombosit besar, angka infeksinya tinggi (saya tidak tahu bahasa kedokterannya). Operasi dibatalkan.
Faiz boleh membatalkan puasanya.Malam harinya Faiz rewel. Mungkin bagian lengannya mulai nyeri dan sakit. Suami memijit kaki dan badan Faiz agar tenang. Seorang perawat datang dan memberikan obat anti nyeri. Mulai jam satu malam Faiz berpuasa.  
Pagi harinya Faiz siap menuju ruang operasi. Faiz lebih dekat dengan Ayahnya, maka suami menemani Faiz sebelum Faiz dibius.
Alhamdulillah, saya bersyukur. Suami saya yang biasanya tidak mau tahu, kaku, keras, kali ini benar-benar bisa saya ajak kerja sama untuk menjaga Faiz dari masuk ruang operasi hingga anaknya sadar betul.
00000
Operasi Pengambilan Platina
Operasi pengambilan platina dilaksanakan hari Rabu, 9 Maret 2016 pagi hari. Mulai jam 1 dini hari, Faiz harus berpuasa. Saya mengkondisikan Faiz dalam keadaan kenyang malam itu.
Awalnya Faiz diambil sampel darah untuk kemudian diperiksa. Sementara suami berdiskusi dengan tenaga medis lainnya. Setelah masuk ruang operasi, saya bisikkan pada Faiz. Bismillahirrohmannirrohim. Mama tunggu di luar, assalamualaikum. Beberapa saat kemudian saya mendengar teriakan anak kecil (Faiz). Sebentar kemudian suami keluar dari ruangan. Berarti Faiz sudah dibius.
Sekitar jam 10 Faiz keluar dari ruang operasi dalam keadaan belum sadar. Saya dan suami beserta 2 orang petugas menuju zal. Faiz dipindahkan ke tempat tidur, seorang perawat cantik berpesan jangan lupa sebentar-sebentar dibangunkan.
Sesekali suami menepuk-nepuk pipi Faiz pelan sambil mengucap salam. Di dekat Faiz, suami juga melantunkan zikir. Alhamdulillah, matanya sudah terbuka. Kembali kami mengucap salam. Yang pertama kali disebut adalah ayah. Lalu mama, dan yang terakhir kakak. Setelah itu Faiz tidur lagi.
Faiz sehat, setelah maghrib Faiz diizinkan pulang. Sampai di rumah Faiz langsung tidur di samping Ayahnya.
[Faiz lebih dekat dengan Ayahnya, sehingga selama dia sakit, operasi, menjalani terapi selalu dengan suami. Suami orangnya kaku, tidak romantis. Pelit memuji. Semua yang saya lakukan dianggap biasa. Ternyata tindakan-tindakannya menunjukkan kalau dia menghargai usaha saya.]