Jumat, 24 Juni 2016

Kompak Tidak Selalu Seragam Atau Sama

Kompak Membawa Ndhog Abang
dok.pri
[ foto di atas diambil saat lebaran tahun 2014. Kami bertiga tidak pernah menyangka kalau ternyata lebaran tahun itu bajunya hampir sama, padahal kami tidak pernah janjian ]
Kompak Tidak Selalu Seragam Atau Sama
Ketika saya masih kecil, orang tua saya mengusahakan untuk anak-anaknya memakai baju lebaran baru. Biasanya bajunya sama, kain dan warnanya sama, dan modelnya sama. Akan tetapi ketika saya SMP, Bapak membuatkan baju untuk saya dan kakak saya dengan corak sama tetapi warnanya berbeda. Demikian juga kedua adik saya dibuatkan baju yang coraknya sama.

Orang tua menginginkan kami untuk selalu kompak, memakai baju yang mirip-mirip. Tapi orang tua tidak pernah memaksakan kepada kami untuk selalu memakai pakaian yang sama. Kompak tidak selalu sama, bukan?

Untuk kegiatan sehari-hari juga demikian, kompak tidak selalu mengerjakan tugas yang sama. Kompak adalah menyelesaikan pekerjaan rumah bersama-sama sehingga pekerjaan rumah beres.

Bila bepergian, orang tua juga tidak mewajibkan kepada kami mengikuti acara yang sama. Apalagi setalah kami remaja, mereka bisa memaklumi itu. Namanya juga remaja, kadang memisahkan diri dari acara keluarga besar. Berarti nggak kompak dong? Tergantung kepentingannya.

Saya tersenyum kalau ada yang mengatakan kompak itu sama dalam segala hal. Baju sama alias seragam itu harus. Mengikuti acara piknik, acara silaturahmi atau ke mana saja harus bareng tidak boleh ada yang tertinggal, itu wajib. Rasanya aneh bukan? 

Kalau sebuah kantor menetapkan baju seragam, itu bagus. Akan tetapi kalau acara tidak formal alias santai, biasanya mengenakan pakaian bebas rapi kok diwajibkan memakai seragam ini baru aneh.

Acara piknik itu acara santai, tidak formal dan tidak begitu penting mestinya kalau berhalangan dan tidak bisa ikut, jangan dijadikan masalah. Kadang kita tidak tahu kepentingan orang lain. mungkin orang lain tidak ikut acara piknik karena memiliki acara yang lebih penting.

Mari kita evaluasi diri, sudahkah kita kompak di masa yang lalu? Atau baru sekarang mengikuti tren?  Lantas begitu bosan, kekompakan tersebut dihilangkan?

Kalau mengikuti patokan kompak adalah baju seragam yang sama, bisa-bisa lebaran tahun ini bakalan ada baju baru satu almari. Baju A seragam untuk keluarga, baju B seragam untuk PKK, baju C seragam untuk kantor, baju D seragam reuni SD (ada seragam reuni SMP, SMA, teman kuliah). Masih ada seragam untuk arisan trah pihak Bapak, arisan trah pihak Ibu.  

Kalau bisa yang kompak itu tujuannya saja. Perkara bajunya tidak seragam, tapi kalau masih senada atau satu warna juga tak masalah. Sekarang lagi tren memakai pakaian senada (dresscode), lebih fleksibel dan irit.  Biar baju baru sekali pakai tidak memenuhi almari dan tidak terjadi pemborosan.


Jaga kekompakan tujuan hidup keluarga kita, eratkan gandeng tangan kita. Jangan biarkan kita bercerai berai, itulah kekompakan.