Jumat, 24 Juni 2016

Lebaran Tanpa Parcel

Parcel Lebaran
dok.pri
Lebaran Tanpa Parcel
Saya sudah terbiasa menjalani puasa Ramadan dengan cerita kadang tak pernah disangka-sangka. Misalnya, ketika bepergian karena suatu urusan kebetulan waktunya mendekati waktu buka puasa. Saat berbuka puasa masih di perjalanan.
Saya sering tidak sependapat dengan suami. Suami maunya berbuka puasa di warung makan yang kami lewati. Kalau saya biasanya menyediakan minuman dari rumah lalu saya masukkan dalam botol. Sewaktu-waktu azan maghrib berkumandang, kami langsung berbuka dengan minum teh panas lebih dahulu. Nah, makannya nanti setelah mendapatkan tempat yang cocok.
Suatu hari (beberapa kali malah) kami ada urusan dengan seorang kawan. Kebetulan suami tidak menghubungi terlebih dahulu. Sampai di rumah kawan, orangnya tidak ada. Menunggu cukup lama untuk bertemu kawan tadi. Setelah selesai urusan, kami pulang.
Di jalan saya sudah bilang pada suami untuk mampir ke warung makan dahulu untuk membeli minuman. Suami bilang nanti saja di tempat yang dia maksud. Azan maghrib berkumandang. Kami belum berbuka puasa. Saya bukan tak tahan haus dan lapar. Hanya saja kalau sudah waktunya berbuka kok tidak berbuka rasanya gimana gitu.
Beberapa warung yang dimaksud suami yang kami lewati tutup. Sementara si kecil ingin segera sampai rumah tidak mau mampir-mampir karena mengantuk. Akhirnya sampai rumah saya membuat minuman untuk sekadar berbuka puasa menghilangkan dahaga.
Ya Allah, mau makan saja pilih-pilih tempatnya. Yang dipilih tempatnya ternyata tutup semua karena menjelang lebaran, pedagangnya sudah mudik alias pulang kampung.  
Si kecil saya bawa masuk kamar lalu tidur. Alhamdulillah, akhirnya makan seadanya saja. Karena sejak awal rencananya mau berbuka puasa di luar rumah, saya tidak memasak sayur.
Oleh sebab itu kalau ada teman yang memosting foto makanan menu buka puasa lengkap yang mengundang selera, kadang saya membatin ingin rasanya nyuwil sedikit lalu saya cicipi biar saya tahu rasanya.
00000
Dalam minggu-minggu ini sampai menjelang lebaran, akan banyak teman-teman yang upload foto parcel lebaran di medsos. Bahkan sekarang saya juga sering melihat foto-foto tersebut.
Bagi mereka yang mendapatkan bingkisan atau parcel lebaran pasti akan bergembira. Saya sendiri, kalau mendapatkan parcel lebaran juga akan bergembira. Tapi cukup sesaat saja, tidak berlebihan, dan tidak berkelanjutan.
Lo, saya dapat bingkisan lebaran ta? Ah, itu hanya seandainya saja. Selama saya mengajar tidak ada yang namanya bingkisan lebaran atau parcel lebaran. Tapi saya bersyukur, karena di sekolah tidak ada budaya bingkisan lebaran maka kami tidak ngarep-arep alias tidak mengharapkan sekali.
Bagi saya, lebaran tanpa bingkisan atau parcel lebaran, itu hal biasa. Menjadi luar biasa kalau tiba-tiba ada bingkisan lebaran dengan wadah cantik memakai rotan. Bisa wowww, takjub.
Atau mungkin ada THR pengganti bingkisan lebaran? Ada THR, tetapi bukan Tunjangan Hari Raya sebesar satu kali gaji. THR di sini adalah Tabungan Hari Raya. Tabungan, nabung-nabung sendiri, uang-uangnya sendiri. Hehe
Saya dan teman-teman sudah bahagia kok lebaran tanpa parcel. Yang penting, kalau minggu-minggu terakhir masuk sekolah sebelum libur lebaran datang ke sekolah di kantor sudah ada tas kresek warna hitam, di dalamnya ada beberapa makanan yang bisa digunakan untuk menjamu tamu yang datang saat lebaran. Nominalnya tak seberapa tapi nilai keberkahannya besar, karena pemberinya ikhlas dan penerimanya juga ikhlas. Alhamdulillah. Jadi siap-siap dengan kejutan tas kresek warna hitam di kantor.
Yang sudah mau mudik silakan, selamat jalan. Hati-hati selama di perjalanan. Bila lelah, istirahat terlebih dahulu. Kalau mengantuk jangan memaksa mengendarai sepeda motor atau mobil. Tak usah buru-buru, yang penting selamat sampai tujuan.  
Karanganyar, 24 Juni 2016

Sumber: