Rabu, 06 Juli 2016

Lebaran Tanpa Lombok Rawit

dok.pri
Lebaran Tanpa Lombok Rawit
Apa istimewanya membicarakan lebaran hanya dengan tema sekadar Lombok rawit? Bagi orang lain mungkin hal itu biasa saja tetapi bagi saya dan keluarga menjadi luar biasa. Mengapa demikian?

Lombok rawit biasa dimakan bersama gorengan, misalnya sosis, bakwan, tahu, tempe, risoles, tahu bakso, mendoan. Orang menyebut Lombok rawit sebagai lalapan. Tentu saja Lombok rawit yang dikonsumsi adalah Lombok rawit hijau yang sudah tua.

Kalau Lombok rawit merah, biasanya digunakan untuk sambal. Kalau dibuat sambal maka menjadi bermacam-macam namanya. Malah sekarang ada rumah makan yang menyediakan aneka macam sambal dan dikenal dengan nama Rumah Makan SS (serba sambal). Umumnya sambal rawit merah ini disediakan pada pedagang mie ayam, bakso dan soto.

Pada beberapa hari terakhir Bulan Ramadan, kami mau mengadakan acara bukber. Kebetulan salah satu kudapan yang disuguhkan adalah tahu. Maka kami membutuhkan Lombok rawit hijau sebagai lalapannya (diceplus atau digigit). Dulu ketika Ibu kondisinya masih kuat selalu menyediakan sayuran, bumbu dapur dan Lombok rawit di dalam kulkas tetapi sekarang tak lagi.

Di dalam kulkas tak ada persediaan Lombok rawit. Berarti kami harus membeli Lombok rawit hijau. Sebab tanpa Lombok rawit, makan tahu menjadi aneh (bagi yang suka nyeplus Lombok). Akhirnya Ibu membeli Lombok rawit secukupnya saja. Memang ada sisa sedikit untuk dikonsumsi. Yah, habis dah lomboknya.

Sehari sebelum lebaran, biasanya Ibu memasak opor ayam dan sambal goreng krecek. Namun kali ini beda, lebaran kali ini tidak ada ketupat, tidak ada opor ayam dan sambal krecek. Ibu tidak memasak untuk lebaran. Yang memasak untuk hidangan lebaran adalah kakak saya. Kakak memasak sayur asem, dan gurame asam pedas. Sayangnya kakak juga tidak membeli Lombok rawit, baik hijau maupun merah. 

Di rumah Ibu banyak makanan berbahan baku kedele, ada tahu goreng dan tempe goreng. Makan tahu dan tempe tidak sambil nyeplus Lombok rawit kok beda banget. Mau membeli Lombok di warung tetangga ternyata warungnya tutup. Lebaran begini tidak melayani pembeli.

Lebaran tanpa Lombok rawit, memang beda banget. Saya sendiri sebagai tamu (maksudnya anak yang rumahnya jauh dari Ibu) tak tahu-menahu tentang isi kulkas. Tahu kalau tak punya Lombok rawit, pasti saya bakal membeli untuk persediaan.

Siapa yang tak suka makan gorengan sambil nyeplus Lombok? Rasanya banyak orang yang suka makan gorengan sambil nyeplus Lombok. Semoga lebaran kedua sudah ada pedagang sayuran yang mulai berjualan.


Yogyakarta, 6 Juli 2016