Kamis, 29 Desember 2016

Berbelanja di Warung Tetangga Lebih Irit

dok.pri

Membeli sesuatu di warung tetangga lebih irit. Lebih irit bukan berarti karena lebih murah lo. Lebih irit karena kita akan berbelanja seperlunya saja. Tidak mabuk ambil barang, mengapa demikian?
Sekilas cerita: saya biasa berbelanja di pasar tradisional untuk keperluan mingguan. Biasanya saya mengajak anak saya yang beranjak ABG. Dari mencari sayur, lauk, jajanan, sembako, Dhenok sangat menikmati dan tidak mengeluh. Biasanya terakhir tempat yang kami tuju adalah penjual makanan/minuman grosir. Dhenok ketika masih kelas 5-6 SD berjualan makanan kecil dan minuman ringan di kelas. Jadi baginya membeli makanan/camilan di kios grosir lebih asyik dan menguntungkan.
Nah, kalau persediaan di rumah tiba-tiba habis karena belum berbelanja lagi di pasar, saya akan berbelanja di warung tetangga. Selain itu sengaja beberapa barang saya beli di warung tetangga. Tujuan saya adalah untuk mendistribusikan uang tidak hanya pada satu titik. Selain itu untuk menjaga silaturahmi.
Oleh karena menjadi pelanggan di warung tetangga, bila saya mengalami kesulitan (bukan keuangan) tetangga juga akan ringan untuk mengulurkan tangan membantu keluarga saya. Kalau saya hitung-hitung membeli barang di warung tetangga juga irit lo.
Membeli di warung tetangga tidak perlu membawa dompet. Uang kita masukkan saku atau digenggam saja, datang ke warung, beli barang yang kita perlukan, selesai  lalu pulang. Jarang kita akan melirik sana-sini terus jadi kepingin beli barang lain yang tidak kita butuhkan saat itu. Kita akan menahan diri, karena uang yang kita bawa terbatas.
Berbeda kalau kita membeli barang di pasar tradisional/toko. Seminimal berapa pun, pasti kita membawa dompet/tas untuk mengamankan uang kita. Sering kita berburu barang yang harganya murah, ada diskon, lalu kita tumpuk-tumpuk di rumah. Lirik sana lirik sini, kepincut barang yang tak penting-penting amat tapi menarik. Kita rakus memborong barang, baik yang kita perlukan atau sekadar kita inginkan karena harganya murah. Saking banyaknya barang yang kita beli dan terlalu lama di rumah, kadang barang tersebut sudah melewati masa kadaluwarsa. Akhirnya dibuang juga.
Kalau di pasar tradisional/toko bila kita membeli dalam jumlah sedikit maka sebagian besar harganya juga harga eceran bukan harga grosir. Kadang-kadang kita hanya membutuhkan sedikit saja. Kalau kita beli banyak dengan harga murah, toh sisanya juga akan mubazir. Berbeda kalau kebutuhan kita memang banyak, maka membeli sesuatu dalam jumlah banyak akan lebih hemat/murah/irit.
Semua kembali pada kebutuhan kita masing-masing. Kalau menurut saya, kadang berbelanja di warung tetangga lebih irit, tidak boros. Pada saat uang kita pas-pasan, tentu kita akan menggunakan jurus pengiritan dan hanya beli yang kita butuhkan.
Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 29 Desember 2016