Sabtu, 26 Agustus 2017

Menjemput Bahagia dari Rumah


Kebahagiaan itu harus kita jemput saat berada di rumah. Kebahagiaan tidak serta merta datang secara tiba-tiba. Kebahagiaan tersebut dapat kita raih tanpa proses yang rumit asal kita tidak mempersulit diri.
Kalau kita sudah bahagia dari rumah, tentu kita juga akan bahagia saat berada di luar rumah. Kita tidak mudah untuk marah-marah tanpa alasan yang jelas. Kita tidak mudah menyalahkan orang lain.
Sejatinya kemarahan kita pada orang lain disebabkan karena hati kita sudah tidak nyaman dulu sejak awal. Kemarahan kita bukan disebabkan perilaku, tindakan dan masalah yang timbul dari orang lain. Kemarahan kita sudah terpendam jauh sebelum ada permasalahan ada di depan kita. Perilaku, tindakan atau masalah yang tiba-tiba datang, itu hanyalah pemicu.
Mari kita koreksi diri kita sendiri. Benarkah saat kita marah disebabkan oleh perilaku orang lain? Ataukah perilaku orang lain tersebut hanya sebagai sasaran. Kadang-kadang kita marah bukan karena perilaku orang lain yang keliru tapi lebih karena kita pingin marah-marah saja.
Hati-hati kalau kita sering marah-marah, lalu orang lain menjadi sasaran empuk. Marah-marah membutuhkan energy yang banyak. Orang yang suka marah-marah  menunjukkan kalau dia tidak bahagia berada di rumah. Orang yang suka marah-marah tanpa sebab menunjukkan jiwanya sedang sakit.
Jujur saja, kita tidak mau menjadi sasaran kemarahan orang lain. Tentu, orang lain juga tidak suka bila menjadi sasaran kemarahan kita.
Memperbanyak Istighfar adalah obat mujarab saat kita marah (akan marah-marah). Kalau kita sudah mengawali pagi dengan bersujud, berdoa, dan bahagia, Insya Allah hari-hari kita tidak ada rumus untuk marah-marah.