Rabu, 17 Januari 2018

KLARIFIKASI DULU SEBELUM BERTINDAK


Kalau tulisan kita tidak diterima, gimana dong? Ya nggak gimana-gimana. Tugas penulis kan nulis. Kalau ternyata sana-sini ada yang tidak sependapat, ngeyel, ya dibiarkan saja. Kadang-kadang, tulisan kita kan nggak sengaja menyinggung orang lain padahal sumpah nggak ada maksud di hati menyinggung orang lain. Ya, cuekkin ajah. Sebenarnya sebuah tulisan, terwujud berdasarkan banyak pertimbangan, banyak masukan, dan ternyata kebetulan ada yang mengalami.

Nah, gimana kalau tulisan itu sudah dibuat 2-3 tahun yang silam (waktu itu tidak ada kejadian apa-apa) lantas  baru-baru ini ada kejadian (sesuai realita) sama persis dengan tulisan seseorang tersebut. Salahkah penulis tersebut? Ya, hembuh. Tulisan dibuat jauh sebelum suatu peristiwa terjadi.

Lantas penulisnya dicaci maki, pokoke disalahkan. Dengan hati yang lapang, sang penulis berdoa semoga orang yang mencacimakinya mendapatkan hidayah, mendapatkan pencerahan, agar tidak berburuk sangka. Lebih baik klarifikasi dahulu sebelum mencaci maki.

Ketika ada penulis menayangkan sebuah artikel, kemudian ada pembaca yang tidak dikenalnya sama sekali bilang kalau tulisan itu sama seperti yang dialaminya, penulis manalah tahu. Kenal saja tidak, apalagi kok tahu latar belakangnya. Berarti tulisan tersebut dan pengalaman seseorang tersebut kebetulan sama.

Tanggal 13 Januari seorang penulis menulis artikel lalu diposting. Tanggal 15 Januari (2 hari setelahnya) ada peristiwa terjadi hampir sama dengan artikel tersebut. Apakah sang penulis bermaksud tidak baik terhadap orang yang mengalami peristiwa yang sama dengan apa yang ditulis? Tentu saja tidak. Tulisannya kan tayang duluan daripada suatu kejadian.

#Kroscek

Karanganyar, 17 Januari 2018

Senin, 15 Januari 2018

[Ah Tenane] Teh Rasa Solar

noerimakaltsum.com
Tulisan ini dimuat di Solopos hari Senin, 15 Januari 2018. Inilah naskah aslinya. Naskah versi redaksi bisa dibaca di koran hari ini.

AH TENANE
TEH RASA SOLAR
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Musim panen padi telah tiba. Mbah Tom Gembus mengawasi orang-orang yang ngerek alias panen sekaligus merontokkan gabahnya. Untuk mengisi waktu, mbah Gembus memindahkan damen atau batang padi ke tempat yang aman untuk pakan sapi.
Sebelumnya, Lady Cempluk anak mbah Gembus sudah menyiapkan minuman teh panas camilan untuk Bapaknya.  Udara sangat panas. Mbah Gembus yang sudah sepuh, lebih dari 75 tahun ini beberapa kali istirahat dan minum untuk memulihkan stamina.
“Wow, la wedangku wis entek ta. Jam segini, Cempluk belum juga pulang.”sambat mbah Gembus.
Mbah Gembus masih wira-wiri untuk mengambil damen. Sejenak beliau beristirahat. Tidak mau menunggu Cempluk pulang, mbah Gembus minta air teh pada salah satu tenaga tleser.
“Mas Koplo, mbok aku dikasih wedange. Tehku sudah habis je.”
“Sumangga, mbah. Sampeyan ambil sendiri saja, jerigennya di sawah. Kami baru repot,”jawab Jon Koplo.
Para tenaga tleser hanya memperhatikan mbah Gembus sekilas saja. Ada yang teriak,”Cah, mbah Gembus mau minta wedang.” Mereka kembali bekerja dan meninggalkan mbah Gembus untuk menganbil serumpun padi yang sudah dirit (dipotong batangnya).
Mbah Gembus mengambil gelas. Rumangsa ada 2 jerigen, dan yang satunya ada isinya, mbah Gembus membuka jerigen dan menuangkan isinya ke dalam gelas.
Setelah itu, mbah Gembus meneguk isi gelas. Baru sedikit yang diteguk langsung ditelan, tiba-tiba mbah Gembus huwek-huwek. Beberapa tenaga tleser mendekati mbah Gembus.
“Ada apa mbah? Kok, huwek-huwek. Mbah Gembus masuk angin ya.” 
“Aku, ambil teh di jerigen itu. Lalu kuminum, rasane kok ora karuan ta tehnya?”
“Pangampunten mbah. Njenengan tadi ambilnya jerigen dekat jerigen kosong, ya? Jerigen itu isinya bukan wedang mbah, melainkan solar. Tadi kan sudah dibilangi kalau wedangnya ada di sawah”
“Jadi, yang kuminum solar? Sontoloyooo.”mbah Gembus nesu-nesu tidak menyadari kepikunannya.

Orang-orang berusaha untuk mengeluarkan “wedang” yang sudah terlanjur diminum. Akhirnya mbah Gembus muntah. Tak lama kemudian Cempluk dan suaminya pulang. Cempluk merasa bersalah karena Bapaknya hampir keracunan “wedang” solar. (SELESAI)

Minggu, 14 Januari 2018

Ayo Menulis Buku Untuk Anak

Saya mulai melirik untuk menulis buku untuk anak. Semoga bisa terwujud dalam waktu dekat. Dunia anak adalah dunia yang paling dekat. Setiap waktu, setiap saat saya bersentuhan dengan anak-anak. Tentu akan lebih mudah menceritakan sesuatu yang dekat dan familiar dengan kita. Banyak hal yang bisa diceritakan tentang anak-anak. Mulai dari kebiasaan, hobi, permainan, permasalahan dan lain-lain. Bacaan untuk anak memang perlu ditambah koleksinya agar anak tertarik dan mengurangi ketergantungan menggunakan gadget.


Karanganyar, 14 Januari 2018

Sabtu, 13 Januari 2018

IBU BEKERJA HARUS PANDAI MENGATUR WAKTU

Menjadi Ibu bekerja di luar rumah, harus pandai mengatur waktu agar ada keseimbangan dan keselarasan pekerjaan di luar dan domestik. Saya sangat menikmati pekerjaan di sekolah dan di rumah. Saya bekerja dengan professional. Pembagian tugas (pekerjaan di rumah) dengan suami tetap kami laksanakan agar beban pekerjaan harian saya tidak terlalu berat.

Ada yang membuat saya santai sehari-hari meskipun saya bekerja di luar rumah. Suami saya tidak banyak menuntut agar saya menyiapkan masakan (memasak sendiri) di rumah. Bagi kami, yang penting menanak nasi dan menyediakan telur ayam, itu sudah cukup. Sayur matang bisa kami beli di warung makan tetangga atau kantin sekolah. Kami memilih yang praktis-praktis saja. Kalau ada yang tidak sependapat dengan saya, silakan saja.

Mungkin ada yang bilang kalau masak sayur sendiri lebih sehat, lebih bersih, dan lain-lain. Ya, silakan saja dengan pendapat itu. Saya yakin sekali, masakan di warung makan itu pengelolaannya juga tidak sembarangan dan memperhatikan kebersihan. Bukankah pemilik warung makan itu (keluarganya, pembantunya) juga makan hasil olahannya? Bukankah selama bertahun-tahun atau mungkin puluhan tahun, masakan yang mereka jual tidak bermasalah?

Saya salut terhadap Ibu-ibu yang bisa menyediakan masakan untuk keluarganya sehari-hari. Saya acungi jempol buat mereka. Mereka rela berlama-lama di dapur, menyiapkan semuanya dan membersihkan peralatan masak setelah selesai eksekusi. Luar biasa!

Saya salut terhadap Ibu-ibu yang menyiapkan bekal makanan untuk putra-putri mereka yang akan dibawa ke sekolah. Bekal makanan tersebut biasanya menunya bervariasi. Agar si anak mau makan dan menghabiskannya, Ibu-ibu rela menghias makanan/bekal yang dibawa putra-putri mereka (bekal makanan berkarakter). Saya sangat salut pada mereka (terus saya mikir, kapan ya aku pernah melakukan itu? Sepertinya belum pernah deh).

Ternyata, saya kekurangan waktu kalau untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Pulang mengajar jam setengah empat sore baru sampai rumah, bersih-bersih rumah, nyuci, setrika, mendampingi anak belajar, nulis, tau-tau sudah larut. Setiap hari seperti itu ritmenya.

Sekolah tempat saya mengajar, menerapkan 5 hari sekolah. Hari Sabtu dan Ahad, saya baru bisa memainkan panci, suthil, wajan, dan alat dapur lainnya. Saya tidak mau membuat sayur yang ribet cara masaknya. Yang sederhana saja, yang plung-plung-plung, matang lalu santap.

Selain memasak, saya juga bisa memasang kancing baju yang lepas, menjahit dengan tangan alias “ndondomi” pakaian yang sedikit robek. Saya bisa membaca Koran dengan leluasa bahkan iklan-iklan yang gak penting juga dibaca. Saya bisa merawat ayam-ayam kampung yang merupakan tabungan si kecil.

Kalau ada waktu luang, barulah saya minta kepada suami untuk sekadar jalan-jalan yang tidak perlu jauh dari rumah. Syukur Alhamdulillah kalau saya diizinkan mudik ke Yogya.

Ibu bekerja, harus pandai mengatur waktu sebab setiap detik waktu nilainya sangat berharga. Ibu bekerja, baik di rumah maupun di luar rumah sangat menghargai waktu. Kebanyakan dipilihlah yang simple-simpel dan praktis-praktis saja sesuatu yang tidak terlalu penting.

Semoga bermanfaat.

Karanganyar, 13 Januari 2018

Jumat, 12 Januari 2018

SANKSI BIKIN GALAU BAGI SISWA TERLAMBAT KE SEKOLAH

noerimakaltsum.comSiswa terlambat masuk sekolah, sepertinya bukan karena alasan yang masuk akal. Mereka memang sengaja terlambat masuk sekolah. Dalam hati mereka membatin, paling-paling hukumannya ringan.

Paling-paling kalau terlambat masuk hanya disuruh push up, lari mengitari lapangan basket, menyapu, menyiram tanaman dan pekerjaan ringan lainnya. Tapi jangan merasa sudah aman dan bebas kalau sudah diberi sanksi saat masuk gerbang. Kalau masuk kelas, biasanya guru yang mengajar pada jam pertama juga akan memberi sanksi.

Saya paling suka memberi sanksi siswa terlambat dengan menyuruhnya menyanyikan lagu Indonesia Raya atau menghafalkan sila-sila Pancasila. Mereka yang diberi sanksi akan protes dan menggerutu. Yang protes-protes gitu, biasanya tidak hafal teks Pancasila dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Bagi yang tidak hafal Lagu Indonesia Raya atau Pancasila pasti akan merasa galau. Saya tidak menyerah begitu saja, siswa saya paksa harus mau. mosok Indonesia Raya saja tidak hafal? Mulane ojo nelat-nelat bro. Isih mending mung maca Pancasila, kalau saya suruh melakukan SKJ tahun 1988, apakah kamu tidak tambah galau.

Agar tidak dihukum, ya datangnya lebih baik ya Bro. Tenan looooo!

Karanganyar, 12 Januari 2018

Kamis, 11 Januari 2018

KANTIN SEKOLAH

Tahun ajaran baru, kantin lama dengan pengelola baru. Menu baru, masakan serba enak, murah meriah terjangkau kantong siswa. Yang paling penting, pelayanan baik dan pengelolanya ramah.

Beberapa bulan setelah kantin dikelola oleh orang luar, saya semakin merasa tidak akan kelaparan meskipun dari rumah belum sarapan. Saya tergantung pada kantin, untuk sekadar makan nasi bandeng (dua ribu rupiah) dan gorengan.

Masakan/sayurnya juga gonta-ganti tidak monoton hanya soto saja. Apalagi kalau ada yang bilang sebelumnya, besok menunya apa gitu, saya tinggal mengikuti. Kantin sekolah juga menerima pesanan makanan dari bapak/ibu guru.

Saya suka pelayanan di kantin sekolah. Kadang-kadang, karena saya sering membeli dalam jumlah besar, saya diberi potongan. Saya paling suka dengan gorengan yang masih hangat dan karak lempeng gendar.

Anak-anak juga betah kalau berada di kantin. Sebagai guru yang bertanggung jawab tapi tetap tidak menyinggung pengelola kantin, tiap jam-jam pelajaran, saya selalu tegas. Anak-anak saya minta untuk segera meninggalkan kantin setelah membayar. Biasanya anak-anak tidak protes, pengelola kantin pun maklum.

Karanganyar, 11 Januari 2018

Rabu, 10 Januari 2018

MOTOR MATIC

Siang ini Reema dipanggil ke ruang ketua guru. di dalam ruangan ada Vijay sebagai ketua guru.

"Ibu Reema tahu kenapa saya panggil?"
"Tidak, Pak Vijay. Memangnya ada apa, ya?"
"Ibu Reema sudah tahu, kalau mau keluar sekolah harus izin terlebih dahulu."
"Maaf, Pak Vijay, itu kapan ya?"
"Tadi sebelum shalat zuhur."
"Saya tidak keluar dari sekolah, Pak."
"Yang keluar Bu Maharani. Panjenengan tidak membela Ibu Maharani. Tadi saya tahu kalau Ibu Maharani keluar mengendarai motor matic putih,"kata Vijay rumangsa menang.
"Wah, jelas itu bukan Bu Maharani banget. Bu Maharani tidak bisa mengendarai motor matic. Sumpah Pak, demi Allah."

Mendadak suasana hening.

SALAH ALAMAT

Hari ini Maharani diberitahu oleh Govinda kalau dia bakalan dipanggil Vijay. 
"Tentang apa?"tanya Maharani singkat
"Buku paket."
"Memang buku paketnya kenapa?"
"Dikira Hari Sabtu yang lalu, kamu bawa buku paketnya. Tenang wae!"

Beberapa saat kemudian, Vijay datang mendekati Maharani.
"Ibu Maharani, buku paket saya mana?"
"Kapan ya Bapak memberikan pada saya?"
"Hari Sabtu ketika saya izin ada keperluan."
"Maaf, hari Sabtu saya libur. Jadi saya tidak masuk."

Vijay agak malu-malu gimana, gitu lantas pergi meninggalkan Maharani. Kwakwakkkk.

SEDIA PARASETAMOL SEBELUM BACA STATUS

Kali ini, Maharani menulis yang ringan-ringan saja daripada tidak nulis. Beberapa hari mendapat tekanan dari Vijay, Maharani ingin mengendorkan otot. Dua hari kepala terasa berat akibat tekanan yang benar-benar membuat down. Tenang, bukan Maharani kalau tidak bisa bangkit!

Untuk menghilangkan tekanan, Maharani mulai mengurai ketegangan dengan membuat status ringan. Ternyata oh ternyata, ada yang pingin tahu lo. Sayangnya, yang pingin tahu itu nggak bisa membaca statusnya Maharani. Usahanya, dia mengintip status Maharani dari hape orang lain. Waduh waduh, saking ngebetnya sampai begitu usahanya. Wkwkwk

Maharani sih cuek saja. Biarlah Vijay pingin tahu sedemikian, biarlah Vijay semakin penasaran! Nah, pada puncaknya, Vijay emosi wkwkwk. Salah sendiri, kalau nggak kuat baca status orang lain, ya nggak usah baca (jalan keluarnya). Oleh sebab itu, kalau mau baca statusnya Maharani sebaiknya sedia parasetamol sehingga ketika membaca status Maharani hati menjadi panas, tinggal minum aja parasetamolnya. Parasetamol kan bisa menurunkan panas. Hehehe

Mending gak usah penasaran dengan status Maharani, baik status facebook maupun WA. Gak ada gunanya, gak ada manfaatnya, buang-buang waktu saja.

Sebenarnya, status Maharani itu gak ada yang istimewa, memua biasa saja. Menjadi istimewa karena isi curhatnya yang gak penting tapi bisa membuat hati plong.

Beberapa waktu yang lalu ada pesan salah kirim masuk. Ya udah, dibuat status saja. Seharusnya Vijay nggak bisa baca status itu, tapi kok bilang kalau Maharani meneror. Halah, Maharani kan tau siapa yang melaporkan statusnya. Nggak usyah banyak cingcong, delete kontak-kontak yang tidak penting.

Siapapun panjenengan, yang ingin membaca status Maharani baik di FB maupun WA sebaiknya sedia parasetamol. Maharani membuat status ala-ala dia itu kan karena ada aksi. Menurut Hukum III Newton, kalau ada aksi maka akan timbul reaksi. Reaksi kimia kimia juga demikian, kalau reaksi berjalan lambat maka harus ada katalisator untuk mempercepat terjadinya reaksi. Kalau tak ingin ada reaksi, silakan Vijay, jangan melakukan aksi!


Kalau berani melakukan aksi tapi takut kepanasan, silakan sedia parasetamol sebelum baca status. Gitu ajah kok repot! 

Selasa, 09 Januari 2018

NAPAK TILAS KE PURWODADI

Akhir tahun 1998, saya mulai mengajar di SMA N I Blora. Kebetulan saya diajak bergabung di SMA N I Blora oleh kakak saya. Waktu itu saya sudah mengajar di MA Ali Maksum, Yogyakarta. Saya pamit pada Bapak Kepala Sekolah madrasah dan diizinkan. Akhirnya, saya mengajar di luar kota.

Awalnya, saya berangkat ke Blora bersama kakak saya. Setelah beberapa minggu di Blora, saya memberanikan diri untuk putar-putar di Blora dengan mengayuh sepeda. Ke sekolah, saya juga naik sepeda onthel. Jarak antara rumah dan sekolah tidak terlalu jauh.

Kalau waktunya harus pulang ke Yogyakarta, saya akan membereskan pekerjaan saya terlebih dahulu. Dari Blora ke Yogyakarta saya harus ganti bus 3 kali. Beberapa kali mudik, membuat saya hafal rute Blora-Yogyakarta.

Setelah menikah, rute yang saya tempuh berubah menjadi Blora – Karanganyar. Suami saya asli Karanganyar dan mengajar di Karanganyar berstatus PNS. Saya bertahan di Blora menghabiskan tahun ajaran. Setelah penerimaan rapor kenaikan kelas, saya pindah dan ikut suami di Karanganyar.

Delapan belas tahun di Karanganyar, baru sekali ke Blora naik bus. Waktu itu anak saya yang besar baru sekitar 2 tahun. Naik bus adalah momok bagi ibu yang memiliki anak kecil. Anak saya rewel di bus. Sebagai ibu, saya harus sabar.

Ketika menggunakan jasa angkutan bus, ada hal yang bisa menjadi kenangan, yaitu jalan Solo-Purwodadi yang sering rusak karena tanahnya labil. Armada yang kurang memenuhi standar sehingga mogok di hutan.

Saya, suami dan dhenok pernah ke Blora naik sepeda motor lewat Sragen-Bleduk Kuwu (Purwodadi) dan hutan di Blora. Alhamdulillah, perjalanan kami lancar dan tidak ada kendala sama sekali.

Kali ini, saya ke Purwodadi tepatnya di RS Umum bersama teman-teman menjenguk Ibu dari teman saya. Dari Karanganyar kami bertujuh. Kami naik kendaraan pribadi. Perjalanan dimulai, dari Karanganyar jam setengah 8 pagi sampai di Purwodadi jam setengah sebelas. Perjalanan kami lancar, jalan yang kami lewati mulus semua. Kami tidak mengalami kesulitan. Saya masih ingat, dari simpang 5 Purwodadi ke arah rumah sakit. Akhirnya kami bertemu teman saya dan keluarganya.

Setelah cukup silaturahmi kami, kami pulang. Perjalanan yang menyenangkan. Bagi saya bepergian dengan teman-teman akrab, membuat saya nyaman dan senang. Kami mampir ke warung makan. Warung makan yang cukup ramai. Menu yang disajikan bermacam-macam. Yang saya suka adalah sayur asem-asem khas Blora yaitu asem-asem daging sapi. Mantap sekali.

Warung Makan Mbak Yuli, terletak di jalan raya Solo-Purwodadi. Tempatnya bersih, luas, masakannya enak, harganya tidak menguras kantong dan pelayanannya prima. Setelah makan siang, kami shalat berjamaah. Selesai shalat, perjalanan pulang kami lanjutkan. Sampai Sumber Lawang hujan turun.

Sepanjang perjalanan sampai kota Karanganyar, kami ditemani hujan. Ada kesan mendalam dalam perjalanan ini. Pertama, jalanan yang tidak rusak memperlancar perjalanan. Kedua, kami tidak mengalami kesulitan menemukan RS yang kami tuju, ada google map yang membantu. Ketiga, makan siang yang tidak mengecewakan.

Suatu saat saya ingin ke Blora bersama keluarga. Semoga cita-cita saya kesampaian, amin.


Karanganyar, 9 Januari 2018  

Senin, 08 Januari 2018

STOP KETERGANTUNGAN PADA SUAMI

Hari Ahad, saya dan teman-teman pergi bersilaturahmi. Saya menuju rumah teman (pemilik mobil). Sampai di rumah teman, saya lihat ban depan sepeda motor kempes. Oleh karena perkiraan saya nanti pulangnya awal, saya tidak begitu mencemaskannya.

Dugaan saya keliru. Ternyata siang sampai sore, selama perjalanan pulang, turun hujan deras. Saya tidak mengambil sepeda dan   menambalkan ban. Saya diantar pulang ke rumah oleh pemilik mobil. Sepeda motor saya titipkan di rumah teman saya.

Hari Senin keesokan harinya, saya ke kantor diantar suami. Dengan demikian, pulangnya dijemput suami. Sebenarnya, pagi-pagi saya sudah berpesan pada suami untuk memompakan sepeda onthel atau kereta angin. Bagi saya, daripada tergantung suami (diantar dan dijemput) lebih baik gowes saja. Suami memaksa agar saya mau diantar.

Pulang sekolah saya dijemput suami dan diantar mengambil motor. Ban roda depan kempes. Ban yang kempes dipompa. Suami pergi untuk menambalkan ban. Sebentar kemudian sudah kembali ke rumah teman saya. Ternyata bannya hanya kurang angin, bukan bocor.  .

Sehari ini diantar jemput oleh suami, rasanya seperti lima belas tahun yang lalu. Dulu saya diantar jemput suami karena tidak punya kendaraan yang lain. Lalu saya memutuskan untuk naik sepeda onthel atau gowes sampai sekolah.

Kini setelah ada sepeda motor yang lain, saya bisa mandiri, tidak tergantung suami. Saya bebas datang dan pulang (sekolah). Saya bisa menjemput anak saya dan bisa bepergian sendiri (asal tidak jauh).


Terima kasih motor lawasku. Semoga aku bisa lebih mandiri lagi dengan sepeda motor lawas, amin.

Minggu, 07 Januari 2018

Resolusi Keuangan Tahun 2018

Berikut ini resolusi keuangan yang bisa jadi bahan pertimbangan:

1. Buat Pembukuan
Buatlah pembukuan sederhana yang memuat pemasukan dan pengeluaran serta saldo dalam setiap bulan. Tujuannya untuk mengetahui derajat kesehatan keuangan kita.

2. Mulai Menabung
Bagi yang belum memiliki tabungan, mulailah menabung sekarang juga. Menabung, bisa kita lakukan dengan menyimpan uang receh atau menyimpan sejumlah tertentu uang secara konsisten dan kontinyu

3. Tuntaskan Utang
Berutang, membuat kita tidak nyaman. Apapun alasannya, utang itu manis di depan tapi bikin nangis di belakang. Bagi yang terlanjur berutang, mari segera tuntaskan utang kita. Jangan merasa sayang untuk menjual barang-barang lalu digunakan untuk melunasi utang. Menuntaskan utang berarti membebaskan diri dari sesuatu yang melilit leher.

4. Jangan Ragu Investasi.
Bila kita memiliki dana yang cukup besar, maka akan lebih aman bila kita berinvestasi. Ada banyak cara agar kita dapat berinvestasi. Pelajari dulu bermacam-macam investasi. Pilih investasi yang sesuai dengan dana dan karakter kita. Investasi bisa beupa emas dan tanah.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 06 Januari 2018

Bobo Teman Bermain Dan Belajar

dok.pri

noerimakaltsum.com Saya mengenal majalah BOBO sejak SD. Kebetulan tetangga saya (namanya Pramini) berlangganan. Saat bermain di rumah Pramini, dia akan mengeluarkan majalah-majalah yang dimilikinya. Kami diizinkan membaca sepuasnya.

Ketika Faiq masih kecil, beberapa kali  saya membelikan majalah. Faiq tidak suka membaca, jadi saya membeli majalah hanya kadang kala saja. Saya sering mengirim cerpen ke majalah BOBO tapi baru satu cerpen yang dimuat. Pantang menyerah, meskipun tidak dimuat, saya terus mengirim.

Nah, ketika saya membayar Koran di sebuah agen, saya tertarik membeli majalah BOBO lagi.  Kalau sudah membuka-buka majalah BOBO, saya jadi lupa waktu, lupa pekerjaan Ibu Rumah Tangga. Ya, mungkin akhir pekan ini saya memerlukan waktu untuk menyenangkan diri sendiri dengan membaca majalah BOBO.


Si kecil kebetulan juga tertarik pada ilustrasi dan tulisan-tulisan besar. Moga-moga si kecil mau membaca majalah BOBO. BOBO memang majalah yang pas banget buat anak seusia si kecil. BOBO memang Teman Bermain Dan Belajar.

Bagi yang belum pernah membaca majalah BOBO, yuk mencoba untuk membuka-buka dulu isi majalah BOBO. Kalau sudah, langsung saja beli dan bacalah sampai selesai. Membaca majalah BOBO bikin ketagihan. Isinya sangat bermanfaat.


Karanganyar,  6 Januari 2018

Jangan Suka Menghakimi Seseorang

noerimakaltsum.com. Jangan suka menghakimi seseorang hanya karena seseorang tidak sepaham dan sehaluan dengan kita. Mungkin pendapat orang lain dengan kita berbeda. Kita tidak bisa memaksakan pendapat kita kepada orang lain. Demikian pula, kita juga tidak akan mau mengikuti pendapat orang lain kalau itu tidak sesuai dengan kata hati nurani kita.

Belum tentu pendapat kita paling benar dan orang lain salah atau sebaliknya. Maka hargailah orang lain. Jika kita sudah menghargai orang lain maka orang lain juga akan menghargai kita.

Kalau kita tidak sepakat pada suatu hal, jangan mencela hal lain yang tidak ada kaitannya dengan masalah yang sedang dibicarakan. Jangan membicarakan hal yang sensitif.

Sebagai contoh:
1. Menutup aurat itu kewajiban muslim. Maka jangan mengatakan kepada orang yang jelas-jelas berjilbab dengan kata-kata seperti ini,"Ibu/mbak/saudara muslim, tapi perilakunya kok seperti itu." Kalimat seperti itu tidak perlu diucapkan. Jangan menghubung-hubungkan antara kewajiban berkerudung dengan perilaku seseorang.

2. Menyebut orang tua. Kalau kita tidak suka dengan seseorang, jangan sebut-sebut atau jangan bawa-bawa nama orang tua. Urusan kita sebatas antara Anda dengan X. Apalagi sampai mengatakan oh, itu hasil didikan orang tua Anda? Sungguh, itu tidak pada tempatnya.

3. Menyebut pasangan. Sama dengan jangan membawa nama orang tua, maka jangan membawa-bawa nama pasangan. Kita belum tentu benar, kita belum tentu lebih baik. Ingat, apabila ternyata kita lebih buruk dari orang lain, sungguh betapa malunya.

Kalau kita tidak bisa bicara dengan baik maka diamlah. Semakin kita mengatakan sesuatu tanpa dasar, semakin hina diri kita. Maka jangan suka menghakimi seseorang kalau kita tidak tahu yang sebenarnya.

Karanganyar, 6 Januari 2018

Kamis, 04 Januari 2018

Cara Mengelola Stres

Dua hari ini kepala saya terasa berat. Hal semacam ini sering terjadi pada saya. Penyebabnya adalah tekanan batin, tekanan mental dan stres.

Sebelumnya, saya mohon maaf, saya bukan bermaksud untuk curhat. Bukan, bukan itu maksud saya. Kalau ada yang bilang kalau ada masalah, serahkan dan curhat pada Allah, jangan di medsos. Saya acungi jempol kalau ada orang dan banyak orang bisa melakukan seperti. Mungkin saya termasuk orang yang tidak bisa memendam masalah, tidak bisa mengurai tekanan mental, tekanan batin dan stres. 

Diintimidasi, difitnah di dalam ruangan dan disaksikan beberapa orang yang seharusnya tidak boleh mengetahui urusan saya membuat saya tidak nyaman. Kuping saya terasa panas, kepala saya menjadi berat, tangan saya mengepal, saya harus marah tapi saya diam. Saya tidak diberi kesempatan untuk meluruskan berita yang tidak benar. Saya tidak diberi kesempatan untuk mengatakan: maaf itu fitnah.

Rasanya kemarahan saya berada di ubun-ubun dan tinggal mengeluarkan. Kalau sampai di rumah, masih patut dan tidak dicurigai, mungkin saya akan berteriak kerasssss di belakang rumah di sawah disaksikan burung yang terbang. Tapi bisa jadi orang-orang yang sedang di sawah menyebut saya lagi kurang satu ons. 

Saya akan mengambil air wudhu, shalat, curhat pada Allah sambil mengeluarkan air mata, menangis sepuasnya. Kedua, saya akan bercerita pada suami atas apa yang terjadi pada saya dan sejak awal saya bilang pada suami,"Ayah cukup mendengarkan. Tidak perlu berkomentar. Berilah penilaian kalau aku sudah selesai bicara. Sing waras sapa, sing edan sapa?" Mungkin itu saya lakukan agar suami juga tahu keadaan saya di sekolah dan di rumah tetap akan baik-baik saja meskipun mendapat tekanan yang hebat, dan diintimidasi.

Beratkah masalah yang saya hadapi? Mungkin orang lain akan mengatakan tidak. Hanya selama 2,5 tahun diintimidasi dan difitnah tapi tidak boleh membela diri. Kok masih bertahan? Saya punya Allah. Saya kuat karena ada Allah, ada suami dan anak-anak, ada teman-teman yang mau mendengarkan dan memberi solusi. Itu saja. 

Begitulah saya mengelola stres. Saya ceritakan semua pada Allah, pada suami, pada orang-orang yang percaya pada saya. Sebagai manusia tentunya sangat manusiawi kalau bercerita pada orang lain. Alhamdulillah apa yang saya ceritakan jujur apa adanya.Saya tidak mau berbohong.

Teman-teman saya bilang,"panjenengan kudu kuat!" Padahal badan saya tidak terlalu besar.

Karanganyar, 4 Januari 2018
Alhamdulillah sudah nyaman dan bisa konsentrasi


Rabu, 03 Januari 2018

Kuhadiri Reuni Bukan Karena Aku Kaya

noerimakaltsum.com . 30 tahun yang lalu, aku lulus SMP. Kini, teman-teman SMP-ku menghubungi aku dan mengajakku untuk berkumpul mengadakan reuni. Bagiku reuni bukanlah sebagai momok. Meskupun aku bukan orang kaya raya, aku tetap menghadiri reuni SMP.

Sebelumnya, aku minta izin terlebih dahulu kepada istri. Bagaimanapun juga, istriku harus tahu ke mana aku pergi dan dalam acara apa? Istriku mengizinkan tanpa memberi syarat thethek bengek. Dia hanya berpesan agar bersikap wajar saja bila bertemu dengan teman-teman. Tidak perlu merasa minder dan merasa paling miskin sedunia. Syukuri saja apa yang diberikan Allah pada kami.

Kaos seragam reuni sudah aku terima dan aku sudah membayarnya. Hari yang aku nantikan tiba. Reuni SMP ini diselenggarakan di sekolah saja. Temanya sederhana dan acaranya juga hanya ramah tamah.

Setelah 30 tahun tidak bertemu dengan teman-teman satu angkatan, aku tidak mengenali mereka satu per satu. Hanya beberapa orang yang aku kenal karena memang sering bertemu. Ada beberapa teman yang sukses menjadi pengusaha dan mampu mengajak teman-teman untuk bergabung bekerja padanya.

Aku hanya orang biasa, tidak kaya raya, hidup sederhana dan tidak berlebihan.  Tiba-tiba ada seorang teman yang menghampiriku.

"Kamu Raja, ya?"
"Betul. Maaf, aku tidak ingat."
"Aku Gatot, yang dulu pernah menginap di rumahmu."

Aku benar-benar bisa mengingatnya. Aku dan Gatot akhirnya ngobrol.
"Raja, kamu masih ingat dengan Jaka?" Jaka kembarannya Gayatri."
"O, iya. Bagaimana kabar mereka?"
"Jaka sekarang mengalami stroke dan Gayatri tinggal dan mengelola  Ponpes."
"Syukur, alhamdulillah kalau Gayatri tinggal di ponpes. Gatot, bisakah kamu menemaniku ke rumah Jaka?"
"Dengan senang hati."

Aku izin ke kamar belakang dulu. Aku mengambil dompet lalu aku buka dompetku. Ada sejumlah uang yang akan aku gunakan untuk kulakan dagangan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku menelepon istriku. Setelah aku menyampaikan maksudku, istriku mengizinkan.

Akhirnya, setelah reuni selesai, aku dan Gatot menuju rumah Jaka. Dari jauh, aku lihat rumah Jaka ramai. Setelah Gatot bertanya pada seseorang, aku mendapatkan informasi kalau Jaka akan dibawa ke rumah sakit.

Aku turun dari sepeda motor. Aku dan Gatot mendekati rumah Jaka. Seorang perempuan keluar dari rumah Jaka. Arini? Arini adalah teman SMA-ku, anak orang kaya.

"Arini?"
"Istrinya Jaka,"bisik Gatot.
"Suamiku sesak nafas."

Semua terjadi begitu cepat. Hanya hitungan jam Jaka berada di rumah sakit dan akhirnya meninggal.Aku ucapkan bela sungkawa dan memberikan amplop ala kadarnya. Bebarapa saat kemudian, aku harus pulang.

Aku dan Gatot mampir di warung bakso. Menyantap bakso kuah di saat perut kosong, sangat nikmat.Selesai makan, aku mendekati Gatot.

"Gatot, terima kasih. Kamu sudah mempertemukan aku dan Jaka dalam keadaan bagaimanapun. Semoga Jaka tenang di sana. Aku pulang dulu, kapan-kapan kita bertemu lagi."

Aku menyalami Gatot sambil kutinggalkan beberapa lembar uangku buat jajan anak-anaknya di tangannya. Aku tidak kaya, tapi aku berangkat reuni. Di dalam reuni terdapat silaturahmi. Dan inilah reuni yang sangat berkesan, bertemu Gatot teman SMP yang pernah menginap di rumahku. Dan, pada hari kedua Gatot menginap, oleh Ibunya disusul dan Gatot diminta pulang untuk membantu Bapaknya mengambil sampah-sampah dengan gerobak. (Selesai)





BERHENTI AROGAN KALAU SUDAH MUJUR NGALOR


Beberapa hari ini, saya mendapatkan banyak pesan di WA dari beberapa teman tentang orang yang sombong. Hidup dalam kesombongan, congkak atau arogan.

Menurut KBBI, arogan memiliki arti 1) sombong, congkak, angkuh, 2) Psi mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah. Contoh: di dunia yang penuh manusia arogan dan kepalsuanini, kemampuan melihat dan merasakan kekuasaan dan kebesaran Allah akan menyebabkan seseorang memiliki jiwa besar.

Arogansi, kesombongan, keangkuhan, contoh: kalau tidak meminta maaf, berarti menunjukkan arogansi kekuasaannya.

Orang yang arogan, sombong dan bangga dengan “kesembongannya”, biasanya akan dijauhi, dikucilkan dan jadi bahan pembicaraan orang. Akan tetapi orang tersebut akan semakin bangga bila semakin banyak orang yang membicarakannya.

Kadang-kadang orang yang arogan, perbuatannya kelewat batas. Dengan demikian, banyak orang yang merasa keberadaannya mengganggu orang lain. Orang yang arogan, tidak peduli dia kaya atau miskin, pintar atau bodoh, di manapun dia berada tidak akan mau merendah. Bahkan bila kondisinya sudah memprihatinkan saja, masih bisa untuk sombong.

Bagi orang yang melihat perilaku orang yang arogan, akan mengatakan,”yen durung mujur ngalor” wong kuwi tetep sombong. Maksudnya mujur ngalor adalah meninggal dunia. Jelas, kalau orang sudah meninggal dunia alias mujur ngalor, sudah tidak bisa arogan lagi.

Mengapa harus arogan? Apa yang bisa kita sombongkan setelah kita mati? Tidak ada! Oleh sebab itu, jauhkan dari sikap arogan. Usia kita terbatas, waktunya untuk memperbaiki diri, introspeksi. Siapkan diri kita mengadapi kematian.


Karanganyar, 3 Januari 2018

Selasa, 02 Januari 2018

STOP MERUNDUNG DAN MELAKUKAN KEKERASAN


Merundung berasal dari kata rundung. Menurut KBBI, merundung artinya 1) mengganggu, mengusik terus menerus, menyusahkan, contoh: anak itu merundung ayahnya, meminta dibelikan sepeda baru, 2) menimpa (tentang kecelakaan, bencana, kesusahan), contoh: ia tabah atas  kemalangan yang merundungnya.

Merundung dengan kata lain membully, harus dihentikan. Hal ini tidak baik bagi kejiwaan korban perundungan. Selain ajakan berhenti merundung, juga berhenti melakukan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun verbal.

Bagi seorang muslim, ada adab bergaul dengan sesama yang harus diperhatikan. Bergaullah dengan sesama dengan lemah lembut. Ucapkan kalimat yang baik-baik saja. Jangan mengucapkan sesuatu yang bisa menyakitkan hati lawan bicara. Demikian juga, hindari melakukan kekerasan fisik. Kalau ada masalah bisa diselesaikan dengan baik, mengapa harus dengan kekerasan?

Jangan bangga kalau sudah berhasil dan merasa sukses merundung. Jangan bangga kalau sudah berhasil melakukan kekerasan baik fisik maupun verbal. Ingatlah, apa yang kita perbuat, suatu saat kita akan menuai dari hasil perbuatan kita.

Jadi, stop merundung, stop melakukan kekerasan.


Karanganyar, 2 Januari 2017  

Senin, 01 Januari 2018

Kerugian Menunda Pekerjaan


Siapa yang masih sering menunda pekerjaan? Ayo, silakan ngacung! Mari kita tinggalkan kebiasaan pada tahun 2017 yang merugikan ini. Tahun baru 2018 ini, tentu saja kita harus lebih baik dari tahun kemarin.

Siapapun kamu yang suka menunda pekerjaan, mari kita benahi dan lakukan yang terbaik. Sebenarnya, menunda pekerjaan itu yang akan mengalami kerugian kita sendiri. Contoh: kita menunda mencuci pakaian dan lebih mementingkan membuka-buka gadget padahal tak ada sesuatu yang penting. Setelah selesai membuka gadget, kita baru sadar kalau pakaian kotor yang menumpuk belum kita cuci.

Tiba-tiba listrik mati dan air PAM keluar dengan debit kecil alias ithir-ithir. Padahal kita biasa mengandalkan mesin cuci dan air dalam tandon persediaannya tinggal sedikit. Nah, waktu kita jadi terbuang sia-sia.

Contoh yang kedua, menunda menulis. Bagi penulis yang sering menunda menulis, maka mulai sekarang ubahlah kebiasaan buruk ini. Kalau mau menulis, ya langsung menulis saja. Jangan menunda-nunda waktu. Kerjakan atau buatlah tulisan sampai selesai. Setelah itu endapkan barang beberapa saat.  Kalau ada waktu maka editlah tulisan yang sudah jadi tersebut. Itu akan lebih baik daripada kalimat nanti saja ah, tanggung nih.

Kalau listriknya sedang mati, tulislah kerangka pikirannya dahulu atau kata kuncinya supaya saat kita benar-benar akan memulai menulis, semua tinggal dituangkan. Kalau kebiasaan menunda menulis ini masih dipelihara, sukses tidak akan menghampiri kita.

Pekerjaan lain yang sering ditunda pengerjaannya adalah membersihkan rumah. Yuk, kerjakan mulai dari satu ruang/kamar terlebih dahulu sampai selesai. Kalau sudah selesai maka kita bisa pindah ke ruang yang lain.

Bagi yang memiliki halaman rumah luas, maka segera bersihkan rumput yang sudah mulai tinggi. Mungkin kita tidak bisa membersihkan sekaligus, perlu waktu beberapa hari. Hal semacam itu tidak ada masalah, yang penting dilakukan secara rutin. Kalau melihat rumput di halaman sudah tinggi dan subur, jangan pernah ada kata malas dan menunda membersihkan. Kadang kita melihat rumput yang sudah tinggi, lantas memastikan kalau rumput sulit untuk dibersihkan. Ah, salah kalau punya pendapat seperti itu.

Coba saja, ambil pisau yang tajam (hanya untuk berjaga-jaga saja). Mulailah untuk mencabut rumput-rumput tersebut. Sekarang musim penghujan jadi tanahnya tidak terlalu padat alias tanahnya gembur. Rumput dengan mudah dicabut. Kalau ada yang sulit dicabut maka gunakan pisau untuk mengambil akarnya dengan cara tusukkan ujung pisau ke dalam tanah. Prinsipnya cabutlah rumput sedikit demi sedikit dan jangan mudah menyerah. Lakukan sekarang dan jangan menunda-nunda.  (Nggak usah iri hati kalau lihat rumput tetangga lebih hijau, #eh salah)

Kalau kita malas membersihkan rumput, maka rumput akan semakin tinggi dan halaman rumah tidak bersih seperti tidak terawat. Kalau kita tidak segera membersihkan rumah, maka berada di rumah kita juga tidak akan merasa nyaman dan gampang marah. Kalau kita tidak segera mencuci pakaian, jelas akan membuat masalah (dengan tikus). Kalau kita tidak segera menyeterika pakaian, tentu pakaian kita tidak akan rapi.

Ayolah, tahun 2018 ini kita mulai sesuatu yang lebih baik. Jangan menunda pekerjaan, lakukan sekarang juga.

Karanganyar, 1 Januari 2018

Tetap Nulis Meskipun Lagi Mudik ke Yogyakarta


Mulanya, saya berpikiran kalau terlalu lama mudik ke rumah Ibu, saya tidak akan produktif nulis. Ternyata saya keliru. Kebetulan Nok Faiq (anak saya yang besar) membawa laptop dan mau berbagi laptop dengan maminya. Jadilah, saya tetap nulis meskipun harus bergantian dengan Nok Faiq.

Beberapa tulisan yang sempat saya buat, antara lain:
1.      Mudik Termahal
Biasanya kalau  mudik naik bus, dari Solo ke Yogyakarta saya naik bus jurusan Surabaya-Yogyakarta. Ongkosnya murah, hanya Rp. 12.000,00 saja, dengan fasilitas AC dan jalannya lancar tidak sebentar-sebentar berhenti. Bus Surabaya-Yogyakarta, setelah keluar terminal Solo, di jalan tidak menaikkan penumpang lagi.

Oleh karena liburan Natal ini antreannya panjang, bus Surabaya-Yogyakarta belum juga datang maka saya naik bus jurusan Solo-Purwokerto. Gandrik, dari Solo ke Yogyakarta, ongkosnya Rp. 20.000,00. Mihil (eh mahal) sekali! Sabar-sabar, orang sabar disayang Gusti Allah. Lagian, busnya sebentar-sebentar berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
 
2.      Jalan Kaki Menuju Pasar Condronegaran Bersama si Kecil
Hari kedua di Yogyakarta, saya mengajak si kecil Faiz untuk ke pasar Condronegaran membeli nasi gudheg. Mudik ke Yogya tidak afdol kalau belum menikmati nasi gudheg. Sebenarnya saya diprotes  oleh si kecil,”Mi, mbok naik motor saja. Mosok jalan kaki, lelah Mi.”
“Sabar, ya Le. Biar sehat.” Wkwkwk, padahal lumayan jauh.

3.      Telur Dadar Buatan Faiz
Siang harinya, Faiz ganti membuat mami ini capek. Dia punya ide membuat telur dadar. Saya mengizinkan, tapi tidak melepaskan begitu saja. Faiz mendadak jadi koki. Ya, Faiz punya pengalaman memasak, masak telur dadar. 2 butir telur setelah matang dimakan sendiri tidak pakai nasi. OMG!


4.      Mpek-mpek Palembang Cocok Dimakan Saat Udara Dingin
Adik ipar saya asli Palembang dan sudah lama bermukim di Yogyakarta. Tiap ada acara kumpul-kumpul keluarga besar, pasangan suami-istri itu selalu membawakan Pempek Palembang. Kebetulan saat itu udara dingin setelah hujan. Memang, Mpek-mpek Palembang Cocok Dimakan Saat Udara Dingin. Dan, yang menggoreng tugasnya menggoreng. Yang makan tugasnya menghabiskan. hahaha

5.      Martabak Telur Spesial Nan Mantap
Berkumpul bersama keluarga besar, tentu lebih seru kalau persediaan makanannya cukup. Nah, meskipun di rumah ada tahu dan makanan berat, tapi tetap saja pingin martabak. Akhirnya membeli martabak 2 porsi, satu porsi Rp. 25.000,00.

Adapun bahan-bahan yang digunakan antara lain:
2 butir telur bebek
irisan daun bawang alias loncang
daging ayam
bumbu
kulit martabak

Cara membuat:
1. Kocok telur, tambahkan bahan lain kecuali kulit martabak
2. Memanaskan minyak di atas wajan datar
3. Menaruh kulit martabak di atas wajan
4. Campuran telur dan bahan-bahan dituang di atas kulit martabak
5. Lipat sisi-sisi kulit untuk membungkus isi martabak
6. Goreng sampai matang dan kulit kering

Setelah masak, martabak siap diiris lalu dimasukkan ke dalam kardus. Sebagai pelengkap, ditambahkan acar dan sambal untuk cocolan.

6.      Mengunjungi Pasar Hewan PASTY di Jalan Bantul, Dongkelan, Yogyakarta
Biar si kecil tidak rewel, saya mengajaknya Mengunjungi Pasar Hewan PASTY di Jalan Bantul, Dongkelan, Yogyakarta. Kami berjalan santai melihat-lihat apa yang ada di pasar hewan (sebelah timur jalan). Faiz mulai menunjukkan jalan kepada saya dan Dhenok. Beberapa kali, Faiz diajak Ayah ke Pasty, jadi dia hafal benar ke mana harus melangkah.

Berbagai macam unggas ada di sana. Sebenarnya saya tertarik dan ingin membeli burung yang murah meriah dan perawatannya mudah. Hanya saja kalau saya membeli burung di sini, bagaimana nanti membawanya pulang? Oleh karena nanti saya kesulitan sendiri, maka saya putuskan ke Pasty khusus jalan-jalan saja.


7.      Es Serut Cokelat Tape Jadul

Saya mengenal es tape jadul sejak masih kecil dan es tape jadul ini memang populer saat itu. Sekitar tahun 70-80-an es tape sangat digemari anak-anak (duh ketahuan, berapa umur penulis hehe). Ketika saya masih kecil, jajanan (makanan dan minuman) yang dijual sangat terbatas jenisnya. Akan tetapi, makanan jajanan zaman old kondisinya sehat. Tidak pernah ditemukan kasus keracunan makanan karena jajan di sekolah.

Kembali pada Es Tape Jadul yang sedang saya tuliskan. Es Tape Jadul berbahan dasar es serut, santan kelapa, bubuk cokelat, gula pasir, tape yang sudah dihaluskan dan kelapa muda. Semua bahan dicampur lalu dimasukkan ke dalam wadah.

Satu porsi Es Tape Jadul dijual dengan harga Rp. 4.000,00. Harganya sangat murah karena  satu porsi Es Tape Jadul ini bisa kita minum berdua.

Saat ini, saya bisa mendapatkan Es Tape Jadul di dekat Jembatan Prapanca, Gedongkiwo, Yogyakarta (jalan menuju SMA N 1 Kasihan dan SMK Jurusan Seni). Alhamdulillah, zaman now saya masih bisa mengkonsumsi minuman legendaris yang terkenal sewaktu saya masih kecil.

8.      Silaturahmi Menambah Umur Panjang

Teman saya kelas 1 SMA sekaligus tetangga yang sempat saya kunjungi adalah mbak Asih. Mbak Asih dulu orangnya pintar dan rajin ke gereja. Dia kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan. Mbak Asih memiliki 3 orang anak. Anak ketiga berumur 11 tahun dan berkebutuhan khusus (autis, kata mbak Asih)

Mbak Asih pernah terserang stroke ringan. Jadilah, dia oleh suami dieman-eman. Mbak Asih tidak boleh bekerja karena si kecil juga memerlukan perhatian yang lebih.

Saya bersyukur bisa bertemu mbak Asih, meskipun bertetangga tapi cukup lama kami tidak bertemu. Rupanya, pertemuan ini juga membuat mbak Asih bahagia. Saya senang, mbak Asih memiliki semangat yang tinggi. Mbak Asih mempunyai nama lengkap Benedicta Murniningtyas Widiasih. Kuliah di UGM angkatan 1990.

Semoga pertemuan ini membawa banyak manfaat dan memanjangkan umur, amin.

Itulah beberapa tulisan yang saya tulis selama 5 hari di Yogyakarta. Sebenarnya, tiap judul artikel, tulisannya panjang, sengaja saya pangkas. Hehe