Minggu, 28 Januari 2018

MENYIAPKAN PENDIDIKAN TINGGI UNTUK ANAK

Tabungan Pendidikan
dok.pri

noerimakaltsum.com. Mungkin cita-cita kedua anak saya ketika mereka masih kecil dinilai kurang menarik dan kurang tinggi. Anak pertama saya ketika masih SD sudah mulai berjualan di sekolah (jualan makanan ringan) dan memperoleh keuntungan yang lumayan. Baik keluarga saya dan keluarga suami, sudah akrab dengan berdagang. Jadilah Faiq (anak perempuan saya) bercita-cita cukup memiliki toko dan akan berjualan.

Oleh karena cita-citanya berdagang ini sangat kuat, Faiq merasa tidak harus pintar tidak apa, yang penting bisa mencari uang. Baiklah, mungkin itu cita-cita anak yang masih kecil. Saya bilang padanya kalau Mami akan menyediakan tempat usaha beserta menyiapkan modalnya. Akan tetapi saya tetap menyiapkan dana untuk pendidikannya kelak bila jalan pikirannya berubah.

Anak saya yang kedua laki-laki kelas 1 SD, Faiz namanya. Sejak awal, dia tidak mau sekolah. (setelah saya amati dan saya perhatikan sampai sekarang, sebenarnya Faiz lebih cocok menjalani homeschooling daripada duduk di bangku sekolah umum). Akan tetapi dengan berbagai pertimbangan, Faiz tetap masuk sekolah umum.

Kalau tidak mau sekolah, lantas dia maunya apa? Belajar di rumah dan memelihara ternak, seperti ayam, kambing, dan sapi. Apakah dia main-main dengan keinginan tersebut? Tidak, saudara-saudara. Setiap hari, Faiz membicarakan tentang ternak terutama kambing. Dia berangan-angan, bila ada kambing yang banyak di belakang rumah pasti dia akan kaya raya. Alasannya bila dijual, uangnya akan bertambah banyak.

Yang namanya anak-anak, jalan pikirannya berubah-ubah. Meskipun kedua anak saya memiliki cita-cita berdagang dan beternak, saya tetap menyiapkan biaya pendidikan untuk mereka. Dana yang saya simpan tidak dalam jumlah yang besar.  Setiap bulan secara rutin saya menyiapkan tabungan untuk mereka berdua.

Dulu ketika Faiq lahir (tahun 2000), tiap bulan saya menabung sebesar Rp. 25.000,00 untuk dana pendidikan. Sayangnya, pada tahun 2006, dana pendidikan yang saya persiapkan saya pakai untuk memperbaiki rumah. Pada akhirnya, saya harus mengganti tabungan tersebut dalam bentuk tabungan emas dan sekarang tetap berjalan. Alasan saya menabung emas untuk menyiapkan dana pendidikan karena nilai emas tidak mungkin merosot dalam jangka waktu lama. Selain tabungan emas, saya juga menyiapkan tabungan uang untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi tahun ini.

Loh, katanya Faiq tidak mau sekolah tinggi. Katanya hanya ingin berjualan dan membuka toko. Faiq sekarang memang ingin kuliah, tapi beberapa bulan terakhir ini dia sudah menjalani jual beli secara online (sepengetahuan saya). Modalnya dari mana? Ya, dari Maminya dong. Dulu saya sudah berjanji akan memberikan modal bila dia memiliki usaha. Memang, jual-beli online yang dijalani belum seberapa tapi sebagai orang tua, saya mendukungnya.

Bagaimana dengan persiapan pendidikan si kecil? Meskipun si kecil bercita-cita hanya “sebatas beternak”, saya juga mempersiapkan dana pendidikan tingginya mulai sekarang. Faiz tahu kalau saya menabung emas di pegadaian. Dia juga ingin memiliki tabungan emas seperti saya (entah dia paham atau sekadar ikut-ikutan alias latah).

Mumpung ada kelonggaran rezeki, saya mempersiapkan dana pendidikan buat anak-anak dalam jumlah maksimal sesuai keadaan keuangan kami. Saya dan suami berusaha untuk memberikan yang terbaik buat anak-anak. Kami menyadari sepenuhnya, dahulu orang tua kami bersusah payah menyekolahkan kami hingga tinggi.

Sejak SMA saya dibiayai kakak saya. Ketika saya kuliah, saudara-saudara saya turut memberikan uang untuk membayar ini-itu, untuk transportasi dan lain-lain. Saya merasa betapa susah payahnya keluarga saya untuk membiayai pendidikan sampai tinggi. Saya berasal dari keluarga tidak mampu. Jadi, wajar kalau dulu semua saling membantu biaya pendidikan saudara-saudaranya. Oleh karena kini saya dan suami bisa menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak, maka kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Selain materi/dana pendidikan, yang perlu kami persiapkan untuk pendidikan tinggi anak-anak adalah kesiapan akademik pada jenjang sebelumnya. Saya dan suami berusaha semaksimal mungkin agar kemampuan akademik anak-anak tidak “mengecewakan”. Dengan demikian, agar bisa menempuh pendidikan tinggi berikutnya, anak-anak tidak perlu “ngos-ngosan” usahanya.

Bila semua dipersiapkan dengan baik secara fisik, mental, kemampuan akademik dan finansial, semoga anak-anak bisa lebih nyaman berada di tempat yang baru (pendidikan tinggi).

Alhamdulillah, akhirnya bisa berbagi tulisan, bisa berbagi pengalaman dan semoga bermanfaat.

Karanganyar, 28 Januari 2018