Senin, 01 Januari 2018

Tetap Nulis Meskipun Lagi Mudik ke Yogyakarta


Mulanya, saya berpikiran kalau terlalu lama mudik ke rumah Ibu, saya tidak akan produktif nulis. Ternyata saya keliru. Kebetulan Nok Faiq (anak saya yang besar) membawa laptop dan mau berbagi laptop dengan maminya. Jadilah, saya tetap nulis meskipun harus bergantian dengan Nok Faiq.

Beberapa tulisan yang sempat saya buat, antara lain:
1.      Mudik Termahal
Biasanya kalau  mudik naik bus, dari Solo ke Yogyakarta saya naik bus jurusan Surabaya-Yogyakarta. Ongkosnya murah, hanya Rp. 12.000,00 saja, dengan fasilitas AC dan jalannya lancar tidak sebentar-sebentar berhenti. Bus Surabaya-Yogyakarta, setelah keluar terminal Solo, di jalan tidak menaikkan penumpang lagi.

Oleh karena liburan Natal ini antreannya panjang, bus Surabaya-Yogyakarta belum juga datang maka saya naik bus jurusan Solo-Purwokerto. Gandrik, dari Solo ke Yogyakarta, ongkosnya Rp. 20.000,00. Mihil (eh mahal) sekali! Sabar-sabar, orang sabar disayang Gusti Allah. Lagian, busnya sebentar-sebentar berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
 
2.      Jalan Kaki Menuju Pasar Condronegaran Bersama si Kecil
Hari kedua di Yogyakarta, saya mengajak si kecil Faiz untuk ke pasar Condronegaran membeli nasi gudheg. Mudik ke Yogya tidak afdol kalau belum menikmati nasi gudheg. Sebenarnya saya diprotes  oleh si kecil,”Mi, mbok naik motor saja. Mosok jalan kaki, lelah Mi.”
“Sabar, ya Le. Biar sehat.” Wkwkwk, padahal lumayan jauh.

3.      Telur Dadar Buatan Faiz
Siang harinya, Faiz ganti membuat mami ini capek. Dia punya ide membuat telur dadar. Saya mengizinkan, tapi tidak melepaskan begitu saja. Faiz mendadak jadi koki. Ya, Faiz punya pengalaman memasak, masak telur dadar. 2 butir telur setelah matang dimakan sendiri tidak pakai nasi. OMG!


4.      Mpek-mpek Palembang Cocok Dimakan Saat Udara Dingin
Adik ipar saya asli Palembang dan sudah lama bermukim di Yogyakarta. Tiap ada acara kumpul-kumpul keluarga besar, pasangan suami-istri itu selalu membawakan Pempek Palembang. Kebetulan saat itu udara dingin setelah hujan. Memang, Mpek-mpek Palembang Cocok Dimakan Saat Udara Dingin. Dan, yang menggoreng tugasnya menggoreng. Yang makan tugasnya menghabiskan. hahaha

5.      Martabak Telur Spesial Nan Mantap
Berkumpul bersama keluarga besar, tentu lebih seru kalau persediaan makanannya cukup. Nah, meskipun di rumah ada tahu dan makanan berat, tapi tetap saja pingin martabak. Akhirnya membeli martabak 2 porsi, satu porsi Rp. 25.000,00.

Adapun bahan-bahan yang digunakan antara lain:
2 butir telur bebek
irisan daun bawang alias loncang
daging ayam
bumbu
kulit martabak

Cara membuat:
1. Kocok telur, tambahkan bahan lain kecuali kulit martabak
2. Memanaskan minyak di atas wajan datar
3. Menaruh kulit martabak di atas wajan
4. Campuran telur dan bahan-bahan dituang di atas kulit martabak
5. Lipat sisi-sisi kulit untuk membungkus isi martabak
6. Goreng sampai matang dan kulit kering

Setelah masak, martabak siap diiris lalu dimasukkan ke dalam kardus. Sebagai pelengkap, ditambahkan acar dan sambal untuk cocolan.

6.      Mengunjungi Pasar Hewan PASTY di Jalan Bantul, Dongkelan, Yogyakarta
Biar si kecil tidak rewel, saya mengajaknya Mengunjungi Pasar Hewan PASTY di Jalan Bantul, Dongkelan, Yogyakarta. Kami berjalan santai melihat-lihat apa yang ada di pasar hewan (sebelah timur jalan). Faiz mulai menunjukkan jalan kepada saya dan Dhenok. Beberapa kali, Faiz diajak Ayah ke Pasty, jadi dia hafal benar ke mana harus melangkah.

Berbagai macam unggas ada di sana. Sebenarnya saya tertarik dan ingin membeli burung yang murah meriah dan perawatannya mudah. Hanya saja kalau saya membeli burung di sini, bagaimana nanti membawanya pulang? Oleh karena nanti saya kesulitan sendiri, maka saya putuskan ke Pasty khusus jalan-jalan saja.


7.      Es Serut Cokelat Tape Jadul

Saya mengenal es tape jadul sejak masih kecil dan es tape jadul ini memang populer saat itu. Sekitar tahun 70-80-an es tape sangat digemari anak-anak (duh ketahuan, berapa umur penulis hehe). Ketika saya masih kecil, jajanan (makanan dan minuman) yang dijual sangat terbatas jenisnya. Akan tetapi, makanan jajanan zaman old kondisinya sehat. Tidak pernah ditemukan kasus keracunan makanan karena jajan di sekolah.

Kembali pada Es Tape Jadul yang sedang saya tuliskan. Es Tape Jadul berbahan dasar es serut, santan kelapa, bubuk cokelat, gula pasir, tape yang sudah dihaluskan dan kelapa muda. Semua bahan dicampur lalu dimasukkan ke dalam wadah.

Satu porsi Es Tape Jadul dijual dengan harga Rp. 4.000,00. Harganya sangat murah karena  satu porsi Es Tape Jadul ini bisa kita minum berdua.

Saat ini, saya bisa mendapatkan Es Tape Jadul di dekat Jembatan Prapanca, Gedongkiwo, Yogyakarta (jalan menuju SMA N 1 Kasihan dan SMK Jurusan Seni). Alhamdulillah, zaman now saya masih bisa mengkonsumsi minuman legendaris yang terkenal sewaktu saya masih kecil.

8.      Silaturahmi Menambah Umur Panjang

Teman saya kelas 1 SMA sekaligus tetangga yang sempat saya kunjungi adalah mbak Asih. Mbak Asih dulu orangnya pintar dan rajin ke gereja. Dia kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan. Mbak Asih memiliki 3 orang anak. Anak ketiga berumur 11 tahun dan berkebutuhan khusus (autis, kata mbak Asih)

Mbak Asih pernah terserang stroke ringan. Jadilah, dia oleh suami dieman-eman. Mbak Asih tidak boleh bekerja karena si kecil juga memerlukan perhatian yang lebih.

Saya bersyukur bisa bertemu mbak Asih, meskipun bertetangga tapi cukup lama kami tidak bertemu. Rupanya, pertemuan ini juga membuat mbak Asih bahagia. Saya senang, mbak Asih memiliki semangat yang tinggi. Mbak Asih mempunyai nama lengkap Benedicta Murniningtyas Widiasih. Kuliah di UGM angkatan 1990.

Semoga pertemuan ini membawa banyak manfaat dan memanjangkan umur, amin.

Itulah beberapa tulisan yang saya tulis selama 5 hari di Yogyakarta. Sebenarnya, tiap judul artikel, tulisannya panjang, sengaja saya pangkas. Hehe