Senin, 23 Juli 2018

PERLUKAH SI KECIL MENGIKUTI LES TAMBAHAN?


Perlukah si kecil mengikuti les tambahan pelajaran? Jawaban saya adalah tidak! Menurut saya si kecil belum memerlukan bimbingan belajar di luar rumah. Alasan saya cukup simpel, yakni karena saya masih sanggup mendampinginya belajar.

Waktu belajar si kecil di sekolah adalah dari pukul 07.00 sampai pukul 11.00 WIB. Pulang dari sekolah, si kecil langsung menuju taman penitipan anak seperti biasanya. Taman penitipan anak ini adalah rumah kedua bagi si kecil. Sejak berumur 1,5 bulan, si kecil sudah berada di TPA ini. TPA ini sudah seperti rumah sendiri. Pengasuh dan teman-teman yang ada di TPA sudah seperti saudara/keluarga sendiri.

Kurang lebih pukul dua siang, saya menjemput si kecil lalu saya ajak pulang. Sampai di rumah, saya mengondisikan si kecil untuk tidur siang. Tidak mudah membawa si kecil untuk tidur siang. Biasanya saya mengajak bercerita sampai si kecil tertidur. Kalau bisa tidur nyenyak, cukup lama juga tidurnya. Bagi saya, lama atau sebentar saat tidur siang, tidak menjadi masalah bagi saya.

Bangun dari tidur, si kecil akan bermain di sekitar lingkungan rumah. Entah itu di sawah maupun bersepeda bersama teman-temannya.

Malam hari, saya mendampingi si kecil untuk belajar. Bila jadwal si kecil adalah tenis atau badminton pada sore hari, saya akan mendampingi belajar sekadar membaca sebelum si kecil dan Ayahnya berangkat ke gedung olahraga.

Sebagai Ibu, saya sabar menghadapi si kecil ketika belajar. Oleh karena pelajarannya belum terlalu rumit, masih sederhana, saya menekankan untuk mengulang-ulang membaca dan mengerjakan soal berhitung. Kebetulan sekarang pelajarannya adalah tema 1 HIDUP RUKUN.

Suatu hari, pulang dari sekolah, si kecil bilang kalau dia bisa mengerjakan soal seperti yang dipelajari malam sebelumnya. Si kecil merasa bangga, bisa mengerjakan soal.

Teman-temannya sebagian besar mengikuti les tambahan pelajaran yang diadakan di luar sekolah. Les tambahan tersebut berlangsung tiga hari dalam seminggu, dari pukul dua siang sampai pukul empat sore.

Kebetulan, si kecil tidak mau mengikuti les. Seperti biasa, si kecil akan beralasan urusannya sudah banyak (seperti orang penting saja). Kalau si kecil mau mengikuti les, saya juga bingung. Saya dan suami tidak ada waktu untuk mengantar dan menjemput  di tempat les.

Belajar di rumah, bersama orang tuanya, mungkin membuat si kecil merasa lebih nyaman. Saya berusaha untuk menyesuaikan kondisi si kecil, sudah bisa konsentrasi atau belum. Karena belajar di rumah lebih fleksibel, maka saya merasa lebih tahu “kemauan” si kecil saat belajar. Rupanya si kecil juga bisa diajak serius tapi santai.

Saya bilang pada si kecil, uang yang dibayarkan untuk les (bila ikut les) bisa ditabung. Iming-iming dari saya ini menambah semangat si kecil untuk belajar.

Bila saya paksakan untuk mengikuti les tambahan pelajaran seperti teman-temannya, saya takut seandainya si kecil tidak mau dan ogah-ogahan. Sungguh sangat merugi, mengeluarkan biaya tidak sedikit tapi si kecil tetap malas mengikuti les tambahan.

Saya jadi ingat, Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan adalah tanggung jawab orang tuanya. Bila Bapak dan Ibunya bisa mengajar anaknya sendiri, alangkah baiknya urusan pendidikan diselesaikan sendiri. Beruntung, saya selalu ada waktu untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah meskipun pada pagi hari anak-anak harus berada di sekolah.

Sekali lagi, bagi saya si kecil tidak perlu mengikuti les tambahan. Bila Anda tidak sependapat dengan saya, itu boleh-boleh saja.

Karanganyar, 23 Juli 2018