Sabtu, 21 Juli 2018

SEKOLAH VS MEMELIHARA SAPI


Satu minggu telah berlalu, si kecil sudah mulai nyaman untuk ke sekolah. Saya sangat bersyukur dengan kemajuan si kecil. Mungkin bagi orang tua yang lain, anak-anak sekolah sudah tidak ada masalah. Akan tetapi bagi saya dan suami, tidak mudah untuk “memapankan” si kecil masuk sekolah kembali.

Sejak kelas I, si kecil memang tidak mau sekolah. Hingga sebelum kenaikan kelas, si kecil sudah berpesan kalau dia tidak akan sekolah lagi di kelas II. Tidak main-main, dia hanya ingin beternak kambing, sapi, ikan dan ayam. Cita-citanya adalah memiliki peternakan/pembibitan sapi.

Oleh karena si kecil tidak main-main, maka saya mengajak si kecil supaya tetap kembali ke sekolah. Caranya adalah dengan membelikan baju seragam baru, sepatu dan kaos kaki, dan lain-lain. Malamnya kami sudah mempersiapkannya.

Ternyata, pagi harinya ada insiden yang tidak kami duga sebelumnya. Si kecil benar-benar tidak mau sekolah. Saat kami suruh bangun dari tempat tidur, si kecil merasa tidak nyaman maka menangislah. Setelah mandi, mau dipakaikan baju dan celana seragamnya juga tidak mau. Saya harus sabar menghadapi semua ini pada pagi hari.

Kerja sama dengan suami membuahkan hasil. Si kecil dengan terpaksa berhasil dinaikkan sepeda motor. Saya bisa sedikit lega. Di sekolah, pikiran saya kembali pada si kecil. Saya khawatir anak tersebut ngambek di sekolah.

Siang hari, saya bermaksud untuk mengantarkan pakaian ganti di taman penitipan anak. Alangkah terkejutnya saya, melihat si kecil berada di halaman depan taman penitipan anak.

“Mama, aku ikut ke sekolah Mama.”
Saya tidak bisa menolak. Akhirnya, setelah ganti baju, si kecil saya ajak ke sekolah. Di jalan si kecil bilang kalau dia berani pulang dari sekolah menuju penitipan. Rencananya besok dia juga akan pulang bersama anak penitipan lainnya.

Saya tahu, tiap pagi pasti akan terjadi peristiwa yang menghebohkan. Walaupun si kecil sudah berjanji akan “tertib” ke sekolah, tetap saja dia ogah-ogahan kalau diminta untuk memakai baju seragam.

Kesabaran saya selama seminggu membuahkan hasil. Si kecil tidak lagi “membuat ulah” di pagi hari. Awalnya, dia tidak mau pulang ke penitipan anak. Dia ingin pulang menuju kantor Ayahnya. Oleh karena dia tidak berani berjalan sendiri ke kantor Ayahnya, maka terpaksa dia pulang ke penitipan anak. Dengan demikian, saya tak perlu emosi lagi.

Selain masalah berangkat dan pulang sekolah, kemajuan kecil yang ditunjukkan si kecil adalah dengan kesadaran sendiri, dia mau belajar membaca dan menulis. Setiap malam sebelum tidur, dia mau belajar. Bila sore hari saat jadwalnya latihan tenis/badminton, si kecil juga mau mencicil belajar dengan membaca buku.

Saya benar-benar terharu, tidak menyangka sama sekali kalau si kecil bisa mapan karena kesadarannya. Kini tak ada lagi adegan menangis di pagi hari. Pada siang hari yang ada adalah si kecil menunggu saya di penitipan anak sambil bermain bersama temannya. Ketika saya datang, dia akan bilang pada temannya bahwa dia akan pulang dan minta tolong pada temannya untuk menyampaikan pada pengasuh.  
Meskipun sudah mapan dan tertib, sesekali si kecil bilang,”besok kelas III aku nggak sekolah lagi, mau memelihara sapi.”

00000