Senin, 10 Desember 2018

Wahai Anak Kos, Konsumsilah Makanan Sehat!

Wahai Anak Kos, Konsumsilah Makanan Sehat!

Waktu masih menjalani studi, saya tidak pernah indekos. Selama itu saya tinggal bersama orang tua. Oleh karena keadaan ekonomi saat itu pas-pasan, soal makan orang tua juga tidak bisa menyiapkan makanan secara berlebihan. Alhamdulillah, meski dengan menu seadanya, tapi kami bisa makan hingga mampu menegakkan tulang kami. 

Setelah menikah, selama dua tahun saya dan suami tinggal di rumah mertua. Namun, untuk makan sehari-hari, kami tetap mengusahakan sendiri. Kami tidak berlebihan dalam makan, secukupnya saja.

Kini, setelah anak perempuan saya melanjutkan studi di luar kota dan tinggal di rumah kakak saya, dia harus bisa mandiri. Dhenok harus bisa mengatur keuangan yang dipegangnya. Dia harus bisa membagi uang saku sebulan dari kami (orang tua) untuk transport, makan, keperluan sehari-hari, dan untuk kepentingan kuliah.

Saya sering mengingatkan pada Dhenok untuk makan secara teratur. Mengapa saya harus mengingatkannya soal makan? Barangkali ada yang bilang, anak sudah besar kok diatur-atur soal makan. Saya lebih tahu keseharian Dhenok saat di rumah. Dia makan dengan cara suka-suka dia, makan tidak teratur. Tiap hari saya mengingatkan soal makan.

Dhenok tinggal di rumah kakak saya (depan rumah orang tua). Kebetulan rumah kakak dihuni oleh 3 orang mahasiswi, Dhenok dan 2 orang keponakan saya kakak beradik. Ketiganya kuliah di Universitas Gadjah Mada. Ketiganya mengusahakan makan sendiri sesuai selera. Hanya saja, tiap hari mereka menanak nasi untuk dimakan bersama.

Pesan saya pada Dhenok adalah makan secara teratur, paling tidak 2 kali sehari. Konsumsilah makanan yang bergizi, terutama mengandung sayuran. Tidak lupa rutin makan buah, misalnya pepaya. Kebetulan di dekat rumah terdapat warung. Warung tersebut menjual sayuran, lauk mentah dan matang, buah, bumbu, sembako, dan kebutuhan sehari-hari. Jadi, kalau tidak sedang sibuk, Dhenok bisa berbelanja dan masak sendiri. Lebih irit, bukan?

Bila sesekali membeli makanan yang "aneh-aneh" misalnya seblak, steak, dan lain-lain, juga tidak masalah. Yang penting, tiap hari mengonsumsi makanan yang sehat. 

Sebagai orang tua, saya wajib mengarahkan Dhenok soal makanan. Komunikasi lewat WhatsApp saya manfaatkan dengan baik. Bukan hanya banyak memberikan nasihat, tapi benar-benar berbagi seperti ketika Dhenok tinggal di rumah. 

Setiap dua minggu sekali, saya mudik sekaligus bertemu dengan Dhenok. Saat itulah  saya menunjukkan pengalaman berharga padanya. Saya tidak ingin dicap Ibu yang suka memberi ceramah tapi minim praktik/pengalaman. Setiap  bertemu Dhenok, saya memiliki kesempatan memasak sayur, lauk, dan menyiapkan makanan yang bergizi dan menyehatkan. 

Tulisan ini bukan hanya untuk Dhenok semata, melainkan untuk anak kos pada umumnya. Wahai anak kos, konsumsilah makanan sehat! Ingat, sehat itu mahal harganya! Jangan sampai jatuh sakit karena mengonsumsi makanan sembarangan yang tak memiliki nilai gizi!