Jumat, 11 Januari 2019

Ibu, Kenapa yang Enak-enak Diharamkan oleh Allah?


Ibu, Kenapa yang Enak-enak Diharamkan oleh Allah?

Ramadhan tahun ini bertepatan dengan tahun ajaran baru. Siswa kelas XII dengan tertib mengikuti pelajaran dari pagi sampai siang dengan semangat. Tidak ada yang bermalas-malasan. Wajah-wajah mereka segar bugar, tak terlihat mengantuk sedikit pun.

Setelah ditanya oleh bu Guru Kimia, ternyata yang berpuasa hanya beberapa anak saja. Alasan mereka yang tidak berpuasa macam-macam. Ada yang karena tidak sahur, ada yang bantu orang tua bekerja, ada yang gak kuat puasa. Wow, anak kelas XII SMK gak kuat puasa? Kok kalah sama anak-anak SD. Ahhhh, itu Cuma alasan mereka saja. Yang jelas karena imannya tidak kuat. TITIK. Gak pakai koma, soalnya kalau koma mesti masuk rumah sakit dahulu. Hahaha.

Hari-hari terakhir KBM saat bulan Ramadhan biasanya diisi dengan pesantren kilat. Tapi entahlah, tahun ini tidak diadakan pesantren kilat. Siswa-siswa pada protes keras, ngotot, mengutarakan kegalauan hatinya kepada guru Kimia yang memang dekat dengan murid-murid.
Ya, mau apalagi. Bu Guru Kimia yang bernama Liem Pamursa ini juga tidak bisa berbuat banyak. Akan tetapi para murid tidak mau tahu. Mereka ngambek tidak mau mengikuti pelajaran.

“Bu Liem, enakan cerita saja. Gak usah pelajaran, lagian sekolah lain ada yang sudah libur.” Protes Musjid.
“Pelajaran juga gak papa, Bu. Rugi dong kalau kita sekolah bayarnya mahal kok gak dapat ilmu sama sekali.”kata Endri yang tidak setuju dengan pendapat Musjid.
(Endri adalah siswa yang sholeh, baik hati, tidak sombong, taat pada ibu/bpk guru tapi sedikit lebay)
“Huuuuu. Endri emang lebay.” Tiba-tiba teman-teman langsung ngeroyok Endri.
“Biarin.....”kata Endri gak merasa berdosa.

Ibu Liem menenangkan siswanya, lalu beliau mengambil jalan tengah. Karena tidak ada pesantren kilat, seperti biasa Ibu Liem didaulat murid-murid untuk mengisi tausiah.
Lagi-lagi Musjid yang dulunya anak alim, kini berubah menjadi anak yang tidak manis karena dendam sama bapaknya memulai menanyakan hal yang aneh-aneh. Sebetulnya Musjid sejak kecil alim, pandai mengaji dan suaranya (membaca Quran) juga merdu. Tetapi karena frustasi (bapaknya meninggalkan dia dan ibunya sewaktu musjid masih kecil), Musjid jadi berubah total.

“Bu Liem, nanya-nanya boleh tidak?”tanya Musjid.
“Ya boleh, kalau Ibu bisa menjawab sekarang ya saya jawab, kalau gak bisa ya....”
Suara Ibu Liem dipotong secara kompak oleh murid-muridnya.
“Tanya mbah google. Haha.”
“Bu, kenapa Allah mengharamkan yang enak-enak.”
“Yang enak-enak yang diharamkan Allah contohnya apa?”Bu Liem balik bertanya.
“Alkohol, Bu.”
“Hikmah dibalik diharamkannya alkohol dan semua yang memabukkan termasuk narkoba, karena alkohol membuat hilangnya kesadaran manusia sehingga perbuatannya tidak terkontrol. Juga merusak kesehatan.”

Biasanya yang bertanya-tanya seperti ini karena para murid sering mengkonsumsi alkohol. Wah gawat.

“Tanya lagi boleh, Bu Liem?”tanya Musjid.
“Ya, boleh.”
“Kenapa zina juga diharamkan.”

Seisi kelas sontak memperhatikan pertanyaan Musjid dan mulai serius tak ada yang cengengesan. Tapi Ibu Liem menjawab dengan tenang dan mengajak para murid untuk serius dalam soal agama.  Teman-teman Musjid sepertinya ada yang pekewuh (tidak enak hati dan merasa kasihan sama Ibu Liem, merasa Ibu Liem dipojokkan).

Ibu Liem menerangkan hikmah diharamkannya zina. Mulai kehamilan yang tidak diinginkan, hilangnya nasab, penyakit kelamin, HIV/AIDS dan lain-lain. Tapi Musjid masih juga membantah (dasar anak sekarang, gak takut dosa. Mengapa mereka omongannya seperti ini? Ke manakah orang tua mereka? Apakah mereka tidak mendampingi anak-anaknya, sehingga anak-anaknya menjadi lebih bebas?

Kata Musjid, biar tidak hamil di luar nikah, ya pake alat kek. Musjid terus berargumen setiap Ibu Liem menyanggah. Akhirnya Ibu liem mengeluarkan jurus jitunya, dalam hati kecil Ibu Liem semoga Musjid segera menyadari.

“Musjid, kamu punya kakak perempuan atau adik perempuan?”
“Tidak, bu. Memang kalau punya kenapa?’
“Lupakan pertanyaan Ibu tadi. Kamu punya Ibu ya?”
Sedikit tertawa, Musjid mengiyakan.
“Musjid, seandainya... ini hanya seandainya lo. Seandainya Ibumu diperkosa oleh seorang laki-laki, bagaimana perasaan dan sikapmu.”
Seketika Musjid berapi-api (tidak menyangka kalau Ibu Liem akan berkata seperti itu),
“Aku bawakan parang dan aku habisi laki-laki yang berani menyentuh ibuku.”
“Jangan emosi, Musjid.”

Semua murid pandangannya tertuju pada Musjid lalu berpindah pada Ibu Liem. Ibu Liem tersenyum dan tak mengeluarkan kata-kata lagi.
Ada siswa yang menunduk, berbisik pada teman sebangkunya, ada yang sikapnya biasa-biasa saja. Musjid mulai serius. Tidak berkutik.

“Kalau kita mau bertindak semau kita, posisikan kita dan keluarga kita sebagai korban. Pasti kita akan berpikir seribu kali untuk melakukan sesuatu yang dilarang Allah.” Kata Ibu Liem menutup pertemuan terakhir di bulan Ramadhan karena waktunya sudah selesai. (SELESAI)

Karanganyar, 13 Agustus 2013
(Kisah dari seorang murid yang pertanyaannya macem-macem haduhhh)
Tulisan lama: sumber kompasiana.com