Kamis, 12 November 2020

BIARKAN AKU PERGI [FIKSI]

 


FIKSI

 

BIARKAN AKU PERGI

 

Warung makan lesehan bebek goreng dan rica mentok ini warung favorit Lia. Tiga bulan sebelumnya Lia sering menghabiskan waktu makan siang bersama Andi di warung ini. Sayangnya, setelah kematian Ardian, kakak Andi, hingga tiga bulan kemudian mereka tidak pernah bertemu lagi.

Andi tak lagi bisa menghubungi Lia. Semua nomor kontaknya sengaja diblokir Lia. Lia juga tidak pernah menghubungi Andi. Mungkinkah Lia berkabung dalam waktu lama?

Hari ini mereka bertemu di warung makan lesehan ini. Lia menikmati bebek gorengnya. Kedatangan Andi tentu mengejutkannya.

"Kebetulan kita bertemu di sini. Ibu berharap pada peringatan 100 hari wafatnya Mas Dian, kamu bisa datang. Dalam waktu dekat, aku mau menikah. Jadi, sekalian nanti sekadar pemberitahuan pada family tentang rencana pernikahanku."

"Selamat, ya. Akhirnya kamu menemukan pendamping."

"Kamu bisa datang, kan?"

"Nanti aku usahakan."

Seharusnya Lia pulang hari ini. Tapi entahlah. Ponselnya sengaja dimatikan. Siapa pun tak bisa menghubunginya.

"Mas, semoga Allah mengampunimu, menerima amal kebaikanmu. Allah berikan tempat terbaik untukmu."

"Aku ikut senang, Andi telah menemukan pendamping hidupnya dan sebentar lagi menikah."

Lia membuka botol berisi air yang dibawanya dari rumah. Air dalam botol diguyurkan di atas makam Ardian.

“Mas, bulan depan aku akan mengunjungimu lagi. Aku pulang dulu, ya.”

Lia berdiri lalu membalikkan badan. Dilihatnya beberapa orang melewati tanah kosong menuju makam Ardian. Ada Andi, orang tua Andi, dan beberapa orang lainnya. Mereka tersenyum saling menyapa. Lia sedikit menundukkan kepalanya tanda hormat.

"Lia, nanti mampir ke rumah Ibu, ya," kata ibu.

Lia hanya tersenyum, tak memberikan jawaban. Sampai di rumah, Lia membersihkan diri kemudian cepat-cepat pamit pada ayah dan ibu. Mereka berpelukan.

"Hati-hati di jalan, sayang. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi ayah dan ibu, ya."

"Terima kasih, ayah, ibu."

Lia melepaskan pelukannya. Matanya penuh dengan air. Akhirnya matanya basah juga. Sebentar kemudian datanglah ojek online yang akan mengantarkannya ke stasiun. Selama dalam perjalanan, ponselnya dimatikan.

 

00000

 

Lia pantas mendapatkan semua itu. Perempuan mandiri, tegas, lembut, dan baik hati. Minggu depan dia akan melepas masa lajangnya dan menikah dengan orang yang tepat. Andi tersenyum.

“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?”

“Tidak ada apa-apa. Oh, ya, kamu ingin kado apa dariku?”

“Terserah kamu saja. Nggak usah yang mahal-mahal. Yang penting kamu harus datang di acara pernikahanku.”

“Tentu saja aku datang.”

“Secepatnya kamu menyusul, ya,” Lia terkekeh.

Lia mengucapkan kalimat itu karena Andi masih sendirian. Lia berharap Andi segera  mendapatkan pasangan hidup. Andi tersenyum dan mengusap kepala Lia. Lia pamit dan meninggalkan Andi ketika waktu mendekati kereta akan tiba di stasiun ini.

“Hati-hati. Kalau ada apa-apa hubungi aku, ya.”

00000

Dua jam kemudian Andi juga harus meninggalkan kota Surabaya. Andi mendapatkan kabar duka dari keluarga besarnya. Beberapa teman Andi menemani dan mengantar Andi. Tidak mungkin Andi pulang sendirian dengan naik angkutan umum atau travel. Kepulangan Andi sangat ditunggu. Pemakaman jenazah kakaknya menunggu kedatangan Andi.

Sebelum meninggalkan kota Surabaya, Andi menyempatkan diri salat ghaib. Perjalanan dari Surabaya sampai Karanganyar cukup lama. Pukul lima sore rombongan Andi sampai di rumah duka. Keluarga menyambutnya dengan tangis. Andi buru-buru masuk dan mendoakan almarhum kakaknya.

Beberapa orang siap mengangkat keranda. Teman-teman Andi menyingkir dan memilih beristirahat di salah satu tempat yang telah disediakan keluarga. Andi mencari sosok perempuan lembut dan keibuan yang tadi pagi diantarnya ke stasiun. Tiba-tiba adik perempuannya mendekati dan berbisik, “Mas, tolong dampingi Mbak Lia ke makam. Mbak Lia ingin memberikan penghormatan terakhir pada almarhum.”

Andi mengangguk. Sebentar kemudian tangan Lia berada dalam genggamannya. “Yang sabar, ya, Lia.”

Mereka saling berpandangan. Genggaman tangan Andi lebih erat. Lia memang perempuan tegar, tabah, lagi sabar. Lia tetap kuat menghadapi kenyataan bahwa calon suaminya, yakni kakak kandung Andi pagi tadi meninggal karena kecelakaan.

Prosesi pemakaman telah selesai. Para pelayat telah meninggalkan makam. Di depan gundukan tanah, Lia dan Andi melantunkan doa. Mata Lia mulai membasah. Hari mulai gelap. Andi berdiri. Tangannya diulurkan ke arah Lia. Lia menyambutnya dan berdiri. Keduanya berjalan meninggalkan makam Ardian.

00000

Setelah cukup istirahat, malam itu juga teman-teman Andi harus kembali ke Surabaya. Lia berada di sebuah kamar. Kamar pengantin yang telah dipersiapkan oleh keluarga Ardian. Di dalamnya terdapat barang-barang seserahan. Barang-barang tersebut sebagian Lia dan almarhum beli bersama-sama. Namun, Lia tak menemukan kotak perhiasan. Mungkin Ardian telah menyimpannya dan akan dikeluarkan saat acara pernikahan itu tiba.

Lia tak menyadari sedari tadi Andi berada di depan pintu kamar. Andi mengetuk pintu sebagai tanda hormat.

“Ah, kau. Aku membutuhkan tempat untuk bersandar.”

Andi seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ada degup tak beraturan di dadanya.

Aku akan menjagamu sampai kau tak sendiri lagi. Aku tahu, ada luka dan air mata meskipun tak ada yang menyakiti. Maut telah memisahkan kalian.

Pagi itu Andi telah berada di depan makam Ardian.

“Mas, aku berjanji akan menjaga Lia sampai dia tak sendiri lagi.”

Andi mengambil ponsel dari dalam saku celananya. LIA.

“Ada apa, Lia?”

“Kamu sudah balik ke Surabaya atau masih di sini?”

“Aku berada di makam Mas Ardian.”

“Baiklah, tunggu aku di situ.”

Sebentar kemudian Lia datang. Lia memakai baju putih.

“Ndi, ayahmu meneleponku. Katanya ada yang akan beliau bicarakan. Kira-kira kamu tahu nggak yang akan disampaikan ayahmu?”

“Entahlah. Ayah dan ibu tak memberi tahu. Datanglah ke rumah agar kau tahu jawabannya.”

“Bersama kamu?”

“Kalau kamu datang sendiri, kenapa?”

“Bersama kamu biar lebih tenang dan nyaman.”

Sebelum bangkit, Andi berbisik. “Mas, aku pulang. Aku akan mengawal bidadarimu ke rumah kita, mau menghadap ayah dan ibu.”

Jarak antara makam dan rumah Andi tidak terlalu jauh. Mereka berjalan kaki.

“Apa yang kamu bisikkan tadi?”

“Nggak ada.”

“Bohong. Kudengar ada kata bidadari.”

“Lupakan. Kita sudah sampai rumah.”

“Sejak dulu kamu selalu begitu.”

Lia dan Andi menemui ayah dan ibu Andi. Andi meninggalkan mereka menuju taman belakang rumah. Andi tahu bagaimana perasaan Lia kehilangan calon suami menjelang hari pernikahannya. Berat! Tentu tidak mudah bagi Lia untuk melupakan kenangan manis bersama Ardian.

Beberapa waktu yang lalu, Ardian sempat minta pendapat Andi ketika akan memutuskan menikah dengan Lia.

“Lia orangnya baik, supel, mandiri, tanggung jawab, dan smart. Mas Dian nggak salah memilihnya sebagai calon istri.”

“Tahu Lia seperti itu, kok kamu diam saja dan dulu tak berusaha mendekatinya?”

“Aku tidak seberani dan senekat kamu, Mas. Tapi nggak apa-apa, kok. Aku akan tulus ikhlas menjaga Lia selama di perantauan.”

“Terima kasih, Ndi.”

00000

Butuh waktu yang cukup untuk mempertimbangkan hal-hal serius. Tidak mungkin mengambil keputusan dalam waktu yang singkat. Cinta kadang tidak bisa datang dengan tiba-tiba.

Setelah tiga hari berada di rumah dan berkabung, Andi harus segera kembali ke Surabaya. Untuk memastikan Lia dalam keadaan baik, Andi berkunjung ke rumah Lia sebelum berangkat.

Orang tua Lia menyambut Andi dengan ramah.

“Dari pagi Lia belum keluar kamar. Mungkin Nak Andi bisa membujuknya untuk keluar,” kata Ibu.

Ibu mengantar Andi di depan kamar Lia.

“Nak Andi, Ibu tinggal, ya.”

“Ya, Bu.”.

Andi mengetuk pintu kamar.

“Lia, aku Andi. Aku mau kembali ke Surabaya. Kau baik-baik saja, kan?”

Lia membuka pintu. “Jangan kembali ke Surabaya dulu, Ndi. Temani aku barang sehari.”

“Kamu kenapa? Kau baik-baik saja, kan?”

“Aku ingin kau menjagaku hingga maut memisahkan kita.”

“Lia, kau jangan memaksakan diri. Cinta tidak bisa dipaksakan, Lia. Kau bebas memilih, tapi bukan berarti harus memilih aku, adiknya Mas Ardian.”

“Baiklah, kembalilah kau ke Surabaya hari ini dan jangan pernah lagi menginjakkan rumah ini.”

Andi secepat kilat meraih tangan Lia sebelum Lia menutup pintu kamarnya.

“Kamu kenapa, Lia? Kamu menangis. Aku tahu, betapa besarnya cintamu pada Mas Dian. Kau pasti sangat kehilangan Mas Dian. Tenangkan pikiranmu dulu. Jangan cepat-cepat  mengambil keputusan.”

“Pergilah, Ndi. Jangan kembali!”

 Andi lelah, Lia telah memblokir semua kontaknya.

00000

Sebenarnya Andi akan memberikan kejutan pada Lia setelah 100 hari meninggalnya Ardian. Tapi sayang, Lia tak pernah tahu perasaan lelaki yang pernah mengisi ruang hatinya selama 3 tahun di SMA. Sebab Andi tak pernah mengatakan sesuatu padanya. Lia mengira Andi menikah dengan gadis lain.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar