Sabtu, 20 Juni 2015

Perjalanan Hidup Sang Difabel

MANDIRI DI TENGAH KETERBATASAN
Kontributor : Noer Ima Kaltsum
Bila Abu Warih minta ijin tidak bisa mengajar, biasanya dengan alasan karena isterinya sakit. Sakit dalam artian penyakitnya kambuh. Ummu Warih, isteri Abu Warih, sejak lama sakit. Kadang-kadang disertai gejala, akan tetapi sering tanpa gejala apapun, tahu-tahu kejang-kejang lalu pingsan. Ummu Warih sejak sebelum menikah memang sudah sakit-sakitan. Abu Warih juga sudah tahu penyakit calon isterinya.
Saat itu, Ummu Warih sering kumat-kumatan. Kadang tatapannya kosong, diam, lalu mendadak badannya kaku semua hingga kejang-kejang. Abu Warih kala itu tetap ingin menikahinya. Abu Warih berharap dengan menikah akan mengubah keadaan.
Setelah menikah dan mempunyai anak (namanya Warih), Ummu Warih masih sering kejang-kejang lalu pingsan. Akan tetapi kambuhnya tidak sesering dahulu.
Suatu hari setelah Ummu Warih mengalami kejang dan pingsan, Abu Warih membawa isterinya ke Rumah Sakit Umum Daerah. Dari hasil pemeriksaa dan CT-Scan, diketahui bahwa di otak terdapat gumpalan darah. Selain itu Ummu Warih juga mengalami gangguan syaraf.
Pengobatan rutin dilakukan. Abu Warih memang sangat sabar. Rasa sayang dan cintanya pada Ummu Warih bisa saya acungi jempol. Setahu saya Abu Warih tidak pernah mengeluh soal isterinya. Bila suatu saat berbagi cerita kepada saya dan teman-teman di kantor, itu hanya sekedar berbagi pengalaman. Siapa tahu di antara kami ada yang bisa memberi solusi atau jalan keluar.
00000
Suatu hari Abu Warih tidak masuk ke sekolah untuk mengajar. Teman-teman kantor bersilaturahmi ke rumah Abu Warih. Saya dan suami bersilaturahmi belakangan. Setelah sampai di rumah mereka, saya jadi tahu cerita yang sebenarnya.
Ummu Warih mengalami musibah. Pada saat itu dia berada di rumah sendiri. Anaknya ikut neneknya (guru TK) sekolah di TK. Kebetulan Ummu Warih akan memasak. Panci berisi air dipanaskan hingga airnya mendidih. Setelah itu Ummu Warih tidak sadarkan diri alias pingsan.
Ummu Warih sadar (tidak ada yang menolong) karena merasa kakinya kepanasan. Ternyata saat air dalam panci mendidih, Ummu Warih tiba-tiba mengalami kejang dan tak sadarkan diri. Air dalam panci yang dipegang tumpah. Tumpahannya mengenai pinggang sampai pahanya.
Setelah sampai di rumah sakit dan diberi pertolongan, Ummu Warih baru tahu kalau dari pinggang sampai paha kulitnya melepuh. Berhari-hari Ummu Warih merasakan sakit, panas, dan gatal yang luar biasa. Untuk berjalan saja Ummu Warih kesulitan.
Walaupun keadaannya sering sakit, Ummu Warih termasuk pekerja keras. Di rumah, dia tidak hanya tinggal diam. Ada yang bisa dikerjakan di rumah. Ada ternak ayam dan ikan lele yang bisa dipelihara. Agar tidak jenuh di rumah, Abu Warih membuka warung kelontong. Warung kelontongnya menyediakan sembako, rokok, bensin, solar, pulsa listrik, pulsa telepon seluler. Dengan kegiatan itu, ternyata mengurangi frekuensi kambuhnya penyakit Ummu Warih.
Selain pengobatan medis, Abu Warih juga mengusahakan kesembuhan isterinya dengan pengobatan alternatif (herbal).
Bila Abu Warih berada di rumah, lalu mendapati isterinya tiba-tiba diam, maka dengan sigap Abu Warih memberikan pertolongan pertama. Dengan penuh kasih sayang Abu Warih akan memijit dengan halus punggung dan tangan isterinya. Dengan sentuhan halus tersebut, peredaran darah menjadi lancar, otot tidak kaku dan isterinya terhindar dari kejang.
00000
Abu Warih tahu kalau saya suka menulis. Saya pernah usul pada Abu Warih, agar isterinya diminta untuk menulis buku harian. Siapa tahu menulis merupakan terapi yang bisa mengurangi, lebih-lebih dapat menyembuhkan penyakit isterinya.
“Akan saya coba, saya tawarkan pada isteri saya. Siapa tahu dengan menulis, hatinya menjadi lega dan plong. Bebannya bisa berkurang.”
Sampai di sini saya bisa menarik garis besar dari kisah Ummu Warih:
1.      Mungkin dahulu (waktu masih kecil) Ummu Warih pernah jatuh dan kena benturan benda keras, sehingga menyebabkan adanya gumpalan darah di otaknya, dan ada kelainan pada syarafnya,
2.      Kondisi Ummu Warih bila sedang drop yakni saat dan setelah menstruasi, lelah, dan banyak pikiran memicu sakitnya kambuh,
3.      Dengan adanya warung kelontong, Ummu Warih tetap bisa menjalankan aktivitas bekerja dan menghasilkan uang,
4.      Meskipun fisiknya lemah, tetapi Ummu Warih tetap berusaha bisa mandiri,
5.      (Mungkin) dengan mau beraktivitas menulis, penyakit Ummu Warih tidak akan sering kambuh.
00000
Karanganyar, 3 September 2014
BIODATA KONTRIBUTOR
Noer Ima Kaltsum, Guru Kimia di SMK Tunas Muda Karanganyar. Ibu dari dua anak yang cantik dan ganteng. Suka bercocok tanam dan menulis. Tinggal di Manggeh RT 04 RW 013 Lalung di Kabupaten Karanganyar. Pertama kali tulisan dimuat di Majalah Putera Kita (Kelas 2 SMA tahun 1988/1989), honornya bisa untuk membeli 20 mangkok mie ayam. Aktivitas menulis bisa dikunjungi di FB:  Noer Ima Kaltsum (Kahfi Noer), Blog : kahfinoer.blogspot.com  alamat surat : noerimakaltsum@gmail.com
Tulisan ini juga ditayangkan di www.kompasiana.com/noerimakaltsum 

Selasa, 16 Juni 2015

Kejutan di Malam Hari dari Suami

Beberapa waktu yang lalu, saya dibawakan oleh-oleh suami. Tidak terlalu mewah dan muluk-muluk. Maklumlah, suami tidak dari bepergian dalam acara piknik. Suami biasa latih tanding/persahabatan badminton. Kebetulan saya biasa jaga pintu alias pembuka pintu pada malam hari.
“Mi, wedang jeruk.”
“Ayah ki piye, to? Di rumah bisa buat wedang jeruk sendiri kok beli. Mbok jangan boros-boros.”
“Ditraktir kanca badminton. Ini beda lo, tidak wedang jeruk biasa. Wedang jeruk nipis-kencur.”

“Sami mawon.”

Selasa, 09 Juni 2015

Bedah Mulut Bukan Bedah Pipi

BEDAH MULUT
Baru-baru ini isteri teman  saya (Namanya mbak Endah) sering mengalami migrain, pilek, hidung mampet, dan pusing. Setelah periksa ke dokter spesialis dinyatakan bahwa penyebab sakitnya itu adalah gigi dan sinusitis. Saran dokter adalah mencabut gigi-gigi yang keropos tinggal sedikit-sedikit itu dan mengambil cairan yang ada di dalam hidung berupa nanah bercampur darah.
Begitu dokter mengatakan gigi yang akan dicabut enam, isteri teman saya ketakutan. Padahal enam gigi itu hanya tinggal sisa-sisa (puing-puing kecil serta akarnya). Teman saya menenangkan,”santai saja, Ma. Paling Cuma bedah kecil alias cabut gigi.”
Lain lagi tanggapan saudara teman saya, orang awam. Dia membayangkan yang tidak-tidak. Operasi gigi? Berarti nanti mulutnya disobek lalu dijahit lagi. Duh bagaimana nanti mukanya.
Setelah selesai operasi, dokter memberitahukan bahwa gigi yang dicabut sebenarnya sebelas. Ow, isteri teman saya lebih kaget banget.
“begini mbak, gigi geraham itu kalau keropos sampai habis, maka satu gigi jadi dua bagian. Jadi sebelas gigi yang saya maksud tadi terdiri dari enam gigi yang yang terbagi-bagi tadi.”
“oh, begitu.”
Saudara teman saya yang heboh menjenguk dan spontan berkata,”lo mukamu gakpapa. Kupikir pipimu dibuka lalu dijahit. Syukurlah kalau begitu, kamu masih tetep cantik.”
Saya dan teman-teman guru/karyawan juga menjenguk isteri teman saya. Kebetulan isteri teman saya di rumah. Salah satu teman saya yang menjenguk namanya Bu Larmi dengan tersenyum berbisik pada saya. “Kupikir yang dibedah pipinya. Soalnya gigi yang dicabut kan banyak.”
Waduh ternyata ada yang salah sangka. Saya tersenyum, teman-teman yang lain ternyata juga punya pikiran yang sama. Halah, ini bedah mulut bukan bedah pipi, bro. (SELESAI)
Karanganyar, 26 Maret 2014

Senin, 08 Juni 2015

Suami dan Sate

Suami dan Sate
Gambar : Malioboro kala senja
Aku paling benci pada orang yang munafik. Dibilang selingkuh tidak mau, tapi buktinya memang selingkuh. Meskipun tak mengakui hubungan itu, toh dunia telah tahu kalau kamu selingkuh. Mungkin benar kata orang, selingkuh itu memang enak. Bagi laki-laki seperti lagu Wedus, celemotan penyanyi yang menggoyang-goyangkan bokongnya, dengan bibir sensual dan pakaian seksi. Daripada beli wedus lebih baik beli satenya. Menusuk sekali lagu itu! Merendahkan kaum wanita. Bagi perempuan, yang penting terpenuhi materinya setelah itu kelar. Bah!
Aku cuma membatin, kok bisa-bisanya dua teman sekantor laki (Pak Jun) dan perempuan (Rin), menjalin hubungan terlarang alias berselingkuh. Menurut seorang teman yang menjadi ahli percintaan (dibilang ahli, titelnya apa?), fenomena semacam ini kerap terjadi karena ada peluang. Dua orang manusia berlainan jenis, di mana masing-masing sudah memiliki pasangan, tetapi merasa tidak bahagia, akan mencari kebahagiaan di luar.
Kalau sudah klik, maka hubungan tersebut tidak bisa disebut hanya teman biasa. Kata temanku, tak mungkin mereka yang berselingkuh menghabiskan waktu berdua hanya dengan makan siang, ngobrol atau jalan-jalan. Mereka sudah dewasa (oh, dewasa artinya 17 tahun ke atas) pasti akan melakukan hal yang lebih dari sekedar itu.
“Maksudnya?”tanyaku dengan mimik kubuat kaget. Padahal ya sudah tahu.
“Hubungan itu terjalin dan menghasilkan simbiosis mutualisme.”
“Oh,”mataku membulat.
“Halah,  pura-pura tak tahu.”
“Sumpah, aku tak tahu.”
“Yang laki butuh dikeloni, yang perempuan putuh materi. Klop kan.”
“Begitu ya. Sungguh menjijikkan. Kalau dengan pelacur, status perempuannya sama tidak?”
“Pelacur itu kata-kata tidak terhormat. Yang sedikit terhormat gitu, misalnya..... Wanita Idaman Lain.”
“Halah Pak, Gundik atau Gendakan po gak sama?”
“Ya, begitulah kira-kira.”
00000
Pada suatu hari, kami dikejutkan sebuah berita. Rin, teman perempuanku  jatuh dan kakinya patah. Kami sekantor membezuk di rumahnya. Keadaan temanku sungguh memprihatinkan. Setelah dipasang platina pada kakinya yang patah, dia tak bisa beraktifitas. Praktis dia harus libur. Berjalan saja tidak bisa!
Selang dua minggu kemudian aku mendapat pesan singkat dari Rin.
“Nyah, Pak Jun (Pria Idaman Lainnya) pa sudah mati atau masih hidup?”
Keningku berkerut. Berarti setelah menengok bersama-sama teman sekantor, Pak Jun belum menampakkan batang hidungnya lagi ke rumah Rin. Memang kenapa Rin? Bukankah kamu mengelak, dan kamu katakan bahwa kalian memang tak ada hubungan apa-apa. Lantas kalau Pak Jun tidak ke rumahmu, mestinya tidak masalah. Kamu di rumah ada suamimu. Suami yang kau anggap tak bisa memberikan kebahagiaan. Suami yang setia mendampingimu. Meskipun dia juga tahu perselingkuhan itu. Dia hanya diam tak berdaya, karena mulutmu seperti harimau.
Setelah kau tak berdaya, bisakah kamu memberikan kebahagiaan semu untuk Pak Jun? Bisakah kau dipeluk-peluk, dikeloni seperti guling? Padahal kamu berharap Pak Jun ada di dekatmu. Jangan berangan-angan kosong, Rin. Camkan itu! Kamu ibarat sate kambing yang dibeli. Dibayar, habis, ditinggalkan begitu saja.  Sakit? Tak usah sakit hati. Karena sejak awal kamu tahu. Kamu sudah membuat kesepakatan. Senang bersama-sama, susah sama pasangannya sendiri. Selesai, beres kan?
Ingat, Pak Jun bukan suamimu. Pak Jun punya isteri yang sah. Dia akan kembali pada isterinya. Atau mencari sate di warung yang lain. Sekali lagi Pak Jun tidak akan membeli wedus. Kalau membeli wedus, jelas repot mencari rumputnya. Itu kata penyanyi seberang, seberang sungai barangkali.
Rin, memang susah dan tak mungkin kamu menuntut macam-macam pada Pak Jun. Karena dia laki-laki dan punya uang. (Selesai)
Karanganyar, 7 Juni 2015
Cerita ini hanya fiktif belaka, kalau ada persamaan nama, itu hanya kebetulan saja. Cerita ini juga tayang di kompasiana.com: http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/rin-selingkuhannya-dan-suami_5575b1252f9773d754e599ee

Minggu, 07 Juni 2015

Kelangan Becak

KELANGAN BECAK
Oleh : Noer Ima Kaltsum
Bila ingat kejadian ini, suami saya akan tertawa terpingkal-pingkal. Ceritanya, rumah saya yang mewah alias mepet sawah (benar-benar di tengah sawah), sering dititipi parkir sepeda motor dan becak.
Pedagang ember plastik, para buruh panen padi menitipkan sepeda motornya di depan rumah saya. Pengamen memarkir motor metik/skuter di teras rumah saya, lalu pergi mengamen di perumahan dekat rumah saya. Ada tukang becak (sudah tua, biasanya mangkal di sekitar rumah sakit umum daerah) yang memarkir becaknya di bawah pohon mangga. Tukang becak tadi lantas pergi ke perumahan, pekerjaan sampingannya adalah mengemis.
Tetangga saya yang tinggal di perumahan sering bercerita. Tukang becak tersebut ajek mengemis seminggu dua kali. Becaknya di parkir di depan rumah saya. Sebenarnya anak-anak Pak Tukang Becak melarang dan malu kalau bapaknya mengemis.
Suatu hari tukang becak tadi setelah mengemis hanya berjalan kaki menuju jalan raya. Suami saya mengejar tukang becak tersebut.
“Pak, pak, kok Cuma jalan kaki. Becaknya dimana?”tanya suami.
“ Becak saya ilang. Saya kelangan becak.”jawab tukang becak tanpa ekspresi.
“Memang becaknya tadi ditaruh di mana?”
“Di bawah pohon mangga, rumah tengah sawah itu.”
“Udah dicari belum, Pak?”
“Males Mas.”
Hari menjelang maghrib, agak gelap. Suami menunjukkan becak milik Pak Tukang Becak. Ternyata becaknya tidak hilang. Sengaja sama suami saya ditaruh di samping rumah, tapi tertutup semak-semak.
“Makanya jangan menaruh becak di depan rumah itu. Kalau hilang beneran gimana?”
Pak Tukang becak menuntun becak, setelah sampai di jalan depan rumah, lalu becak dinaiki. Pak Tukang Becak tadi tidak mengucapkan terima kasih babar blas. Oalah, jadi tadi memang disembunyikan, ta?  Ternyata ide menyembunyikan becak berasal dari orang-orang perumahan. Suami saya hanya pelaksana saja.
Karanganyar, 5 September 2014

Kamis, 04 Juni 2015

Rumah Tanpa TV, Kok Bisa?


Gambar: Tak ada TV, Yang Ada Printer dan Seterika
Kotak Ajaib
Hampir setiap berkunjung ke rumah teman, saudara, atau tetangga, rata-rata televisi alias kotak ajaib di rumah mereka menyala. Acara atau stasiun TV yang mereka pilih sangat bervariasi. Semua tergantung pada kesukaan masing-masing. Ada beberapa rumah yang tidak menyalakan TV, alasannya adalah ada kegiatan yang tidak bisa diselingi dengan menonton TV atau karena tidur.
Kotak ajaib yang menyajikan beragam acara memang sangat memikat. Mulai dari berita, reality show, hiburan, olahraga dan lain-lain. Dari beberapa tayangan tersebut membuat para penikmat TV akan ketagihan. Apalagi acara TV dimulai pagi hari dan akan berakhir pada dini hari. Bisa dikatakan hampir 24 jam kita disuguhi acara TV bila kita mau terus mengikuti.
Suatu hari teman-teman atau tetangga membicarakan acara TV yang menarik. Mereka seolah-olah minta pendapat saya tentang acara itu. Saya akan menjawab,”Maaf, saya tidak mempunyai TV.”
Biasanya mereka tidak percaya dengan apa yang saya sampaikan.
“Kok bisa di rumah tak ada TV?”
“Ya, bisa saja. Sudah terbiasa hampir 3 tahun di rumah kami tak ada TV.”
“Rasanya gimana, di rumah tak ada TV? Apakah anak-anak tidak protes?”
“Biasa saja. Rasanya nggak gimana-mana. Dulu awalnya anak-anak protes. Sekarang tidak lagi. Mereka terbiasa tidak melihat TV. Si kecil melihat TV bila berada di tempat penitipan anak. Kalau yang besar melihat TV kalau berada di rumah teman, saudara atau kakeknya.”
Rata-rata mereka menanyakan hiburan di keluarga saya. Ada radio, ada komputer, laptop plus modem, internet, musik, buku bacaan. Ada ayam, kelinci, burung/unggas, tanaman dan lain-lain.
Saya, suami dan anak-anak merasa nyaman berada di rumah meski tanpa televisi. Memang awalnya anak saya protes, mengapa kami tak memiliki TV. Dengan penjelasan sederhana dan masuk akal, anak saya bisa menerima dan memahami.
Beberapa waktu terakhir ini, banyak ibu yang mengeluh. Tayangan televisi sekarang banyak yang tidak mendidik. Kekerasan, pergaulan bebas, gosip-gosip, lunturnya budi pekerti dan lain-lain. Akan tetapi tayangan yang positif pun sebenarnya juga banyak. Permasalahannya adalah orang tua tidak dapat mendampingi putra-putrinya  metika melihat TV.
Saya merasa aman karena tak memiliki TV. Namun demikian, saya tetap mengawasi anak-anak ketika mereka sedang membuka internet.  Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 4 Juni 2015
Mungkin saya berbeda dengan orang lain. Sungguh perbedaan ini membuat dunia lebih indah. 

Selasa, 02 Juni 2015

Tips Untuk Ibu-ibu Bekerja Yang Tidak Memiliki Asisten Rumah Tangga


Gambar : Makanan Halal dari Suami

Pagi ini saya berbelanja sayuran pada tukang sayur yang biasa membuka lapak di depan rumah tetangga. Saya bertemu dengan orang-orang hebat, ibu-ibu yang bekerja dan di rumah tidak memiliki asisten rumah tangga. Obrolan/bincang-bincang kecil dimulai.
Dari beberapa kalimat-kalimat yang keluar dari ibu-ibu, sempat saya catat dalam hati. Karena saya biasa menulis dengan hati, maka catatan dalam hati mulai saya buka. Bincang-bincang pagi ini tentang pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Kalau mau jujur dan mau mengerjakan, sebenarnya pekerjaan rumah tangga tidak ada selesainya. Sehari diberi waktu yang sama, yakni 24 jam terasa kurang.
Tinggal ibu-ibu pandai membagi waktu. Kebetulan ibu-ibu yang berbelanja adalah ibu-ibu bekerja. Dengan demikian libur nasional benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Libur nasional, hanya libur bekerja di kantor. Pekerjaan di rumah tetap menunggu untuk dikerjakan.
Agar pekerjaan rumah dapat diselesaikan dengan sukses, ada beberapa tips dari ibu-ibu kreatif yang ngobrol tadi. Beberapa tips tersebut adalah:
1.      Bekerja ikhlas tak perlu menggerutu
2.      Segera mulai bekerja tak perlu menunda
3.      Dikerjakan sekarang atau nanti, akhirnya juga dilakukan sendiri maka perlu dicicil pekerjaannya
4.      Kalau lelah luangkan waktu istirahat
5.      Mengkonsunsi minuman yang cukup untuk memulihkan tenaga
6.      Jangan ngoyo
7.      Jangan memaksakan diri
8.      Kerjakan semampunya
9.      Bila suami sering protes ini itu katakan dengan sopan jangan membentak membuka perang
10.  Kalau suami tak membantu pekerjaan rumah tangga, biarkan saja
11.  Kalau anak-anak tak membantu pekerjaan rumah tangga, tak usah pasang aksi
Semoga yang kita lakukan mendapat balasan dari Allah. Sejatinya pekerjaan rumah tangga itu kewajiban suami bukan isteri. Mengapa begitu? Karena suami memiliki kewajiban untuk memenuhi sandang, pangan, papan buat keluarganya.
Mulai dari pakaian, suami wajib menyediakan pakaian yang layak untuk keluarganya. Termasuk bila kotor mencuci lalu menyeterikakan. Untuk makanan, mestinya makanan yang siap untuk disantap. Kalau makanan itu masih mentah, berarti suami mengusahakan untuk mematangkannya/memasak. Dan yang terakhir adalah rumah, tempat untuk berlindung. Yang penting suami menyediakan tumah yang layak untuk dihuni. Entah itu rumah sendiri atau mengontrak, yang penting layak huni dan bersih.
Maka yang merasa menjadi suami sekarang introspeksi. Sudahkah memberikan sandang, pangan dan papan untuk keluarganya secara layak? Untuk itu suami yang baik jangan sok alias mentang-mentang.
Kalau ibu-ibu mau melakukan pekerjaan rumah tangga dengan ikhlas, semoga usaha ibu-ibu mendapatkan balasan dari Allah. Ibu-ibu yang baik dan kreatif, kalau sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah lalu menulislah minimal satu paragraf.

Karanganyar, 2 Juni 2015