Saya yakin semua hari itu baik. Tidak ada hari tidak baik, meskipun sekarang sering mendengar ucapan apes tidak mengenal hari dan tanggal kalender. Kalau hari ini mungkin kita kena musibah atau hal yang tak mengenakkan, itu hanyalah ujian.
Manusia diuji dengan 2 hal, yakni musibah dan kebahagiaan. Bahagia itu juga ujian. Bisakah kita tambah bersyukur dan sabar dengan perasaan bahagia sewajarnya, tidak berlebihan? Kalau ditimpa musibah biasanya orang bilang diberi ujian.
Orang bahagia disebabkan oleh bermacam-macam keadaan. Bahagia karena lulus ujian, diterima kerja, mendapat jabatan, menikah, punya anak, punya keluarga yang taat menjalankan perintah agama, dan lain-lain.
Beberapa bulan yang lalu saya dan keluarga bahagia karena anak perempuan yang sudah 26 tahun menemukan jodoh dan minta menikah secara sederhana. Bahagia karena anak perempuan saya anggap pikirannya sudah dewasa. Menikah harus diumumkan tapi tidak perlu mengundang banyak orang. Cukup keluarga inti dan orang-orang terdekat saja. Uang yang seharusnya untuk "resepsi gedhen" atau besar bisa diberikan pada anak sebagai bekal. Faiq dan suaminya berteman satu sekolah saat SMP.
Beberapa hari terakhir saya merasa heran. Faiq setelah menikah ikut suaminya merantau di Tangerang. Biasanya kalau nelpon bisa lebih dari 1 jam. Paling sebentar setengah jam, lalu dimatikan. Disambung lagi beberapa waktu kemudian. Kali ini lebih dari seminggu kalau nelpon cuma sebentar.
Suatu hari Faiq ngechat : kemarin blas nggak makan. Maag dan diare. Lemes. Iki aku minta Dra beli bubur. La kok aku diajak, disuruh ikut.
Jawab saya : sing penting klebon (makanan masuk). Kalau ada kacang hijau, rebus lalu dikasih gula jawa. Buat kekuatan.
Saya nggak tega, biasanya di rumah anak wedok kalau lagi sakit apa-apa saya. Buat minum, beli makanan, dan lain-lain. Saya nggak bisa membayangkan dia tergantung pada suaminya.
"Suami cuti. Katanya nggak tega ninggalin sendirian."
Saya lega.
"Seharusnya menstruasi, tapi belum. Sudah aku cek masih negatif."
"Istirahat yang cukup. Jangan malam-malan tidurnya. Kalau badannya nggak enak AC nggak usah dinyalakan."
"Sumuk mah."
Keesokan harinya dia perlihatkan tespek dua garis merah. Katanya jangan bilang ayah dulu. Soalnya ayah nanti sedikit "heboh". Saya manut. Padahal chat terakhir malam hari hampir jam 12. Saya malah kancilen nggak bisa tidur.
Paginya kirim hasil cek lagi. Syukur alhamdulillah. Saya tahan nggak bilang suami. Padahal saya termasuk orang yang pingin segera mengabarkan kabar bahagia. Entah kenapa saya bisa bertahan, bisa bungkam. Namun demikian, bocoran tipis-tipis saya sampaikan. Sayangnya, suami termasuk tipe orang yang maunya menerima berita utuh, bukan bocor alus. Jadi, nggak paham juga.
Malam hari, Faiq ngechat: mama yang bilang ayah. Soale mengko nek aku malah nangis. (Tentang Faiq, ayah memang gampang mrebes mili)
Ada thole dan ayah, saya sampaikan kabar gembira. "Alhamdulillah."
Suami terus telpon Faiq, "dijaga kesehatannya, makannya. Sehat selalu ya nduk."
Lelaki itu tak banyak bicara. Kebahagiaannya dia ceritakan pada Tuhannya lewat doanya yang panjang setelah shalat berjemaah di masjid.
Dulu saya menikah Minggu 21 Maret 1999 dalam keadaan datang bulan. Bulan April masih datang bulan. Mei, Juni sudah tidak datang bulan. Alhamdulillah positif hamil dan nggak doyan makan sampai berminggu-minggu. Bahagia walau ada ujian teler.
Saat ini Faiq, menikah 17 April 2026. Bulan April dan Mei masih datang bulan. Alhamdulillah, Juni terlambat dan dua garis merah adalah kabar bahagia.
Dengan kebahagiaan ini semoga menambah rasa syukur.
00000

