Rabu, 20 Juli 2016

Ada Apa Dengan Laptopku? #20

Seger
dok.pri
Ada Apa Dengan Laptopku? #20
Hari ini saya tak leluasa menulis. Tiba-tiba laptop saya rada rewel. Beruntung anak saya tidak rewel. Bayangkan, kalau anak rewel, laptop ngadat, bisa-bisa bertambah sakit kepala saya. Semoga tak ada yang serius dengan laptop saya, sehingga pekerjaan saya tetap tak terbengkalai.
Oleh karena saya tak begitu paham tentang laptop, daripada ada sesuatu yang serius lebih baik saya tak memaksakan diri untuk menulis banyak-banyak. Besok pagi mungkin memerlukan sedikit perawatan agar tak lebih parah.
Saya harus sabar menghadapi semua ini. Ternyata ujian yang harus saya hadapi beraneka macam. Semoga besok pagi saya bisa bekerja lebih baik lagi.
#JuliNgeblog hari kedua puluh

Karanganyar, 20 Juli 2016

Selasa, 19 Juli 2016

Ide Menulis Dari Pengalaman Anak #19

Tetap kuat diterjang angin
dok.pri
Ide Menulis Dari Pengalaman Anak #19
Seorang teman heran melihat saya menulis, sedangkan teman-teman yang lain mengobrol. Apakah ketika saya menulis, tidak terganggu dengan obrolan mereka? Jawaban saya tidak. Mendengarkan teman yang mengobrol saya analogkan dengan menulis sambil mendengarkan musik.
Dalam bulan Juli ini, saya ingin mewujudkan sehari satu posting tulisan di blog. Saya berusaha sedemikian rupa agar konsisten menulis meskipun badan saya lelah. Saya harus pandai-pandai menyiasati waktu luang saya yang semakin sempit.
Lantas bila memiliki mimpi sehari satu posting, dari mana ide mendapatkan tulisan? Ide bisa saya dapatkan dari mana saja. Dari Koran yang saya baca, dari lingkungan sekitar saya, dari obrolan teman-teman, dari internet dan yang paling dekat adalah dari pengalaman anak.
Dua anak saya menyumbang besar dalam tulisan saya. Dari pengalaman merekalah ide bisa saya gali. Contoh, untuk kemarin sehari mengantar Faiz di hari pertama sekolah, ternyata bisa saya buat cerita. Hari ini saya tidak mengantar Faiz masuk sekolah, tetapi ganti Ayah yang mengantar. Dari sini juga bisa saya tuliskan pengalaman Faiz masuk sekolah.
Kemarin, ketika hari pertama masuk sekolah, Faiz rewel. Hari ini Faiz diantar Ayah, meskipun rewel hanya sebentar. Sepulang sekolah saya menanyakan pada ustaz yang mengajar tentang keadaan Faiz. Jawaban beliau, Faiz baik-baik saja.
Ketika sampai di rumah, Faiz dengan ceria menceritakan pengalaman di sekolah. Saya benar-benar terharu. Bahkan dia berjanji bahwa besok dia tidak akan rewel. Katanya besok diberi tugas membawa tanaman hias bebas. Boleh membawa pucuk merah atau tanaman bunga. Baiklah, berhubung di rumah ada beberapa pot tanaman anti nyamuk, maka besok membawa tanaman tersebut.
Bahagianya, anak saya mau mengikuti pelajaran dengan suka cita. Pelajarannya tidak berat, akhlak, pendidikan karakter, pendidikan agama yang langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya paling suka kalau dia bilang,”Mama, diceritakan lagi.” Maksudnya, Faiz ingin saya banyak bercerita, tetapi tetap melibatkan dia. Namanya sering saya sebut atau saya menyebut nama kakak dan saudara-saudara sepupunya.
Hari ini saya ingin banyak menulis, tapi sayangnya malam ini kepala saya sedikit pusing. Kelelahan, kurang tidur dan kurang nafsu makan penyebabnya. Semoga besok pagi bisa fit lagi dan saya siap menuliskan pengalaman Faiq Faiz selama di sekolah atau di rumah.
Alhamdulillah, masih bisa posting satu tulisan di #JuliNgeblog hari kesembilan belas.

Karanganyar, 19 Juli 2016 

Senin, 18 Juli 2016

Bahagianya Bila Mimpi Menjadi Kenyataan #18

dok.pri
Bahagianya Bila Mimpi Menjadi Kenyataan #18
Orang harus memiliki banyak mimpi dan mimpi itu harus besar. Mimpi yang besar memerlukan energi besar untuk mewujudkannya. Akan tetapi mimpi-mimpi tersebut harus sesuai dengan kemampuan kita dan masuk akal.
Kemarin saya memiliki mimpi sederhana dan saya sangat yakin bisa mewujudkannya. Akan tetapi mimpi sederhana dengan energi besar yang saya keluarkan, ternyata tak membuahkan hasil seperti yang saya harapkan.
Apakah mimpi saya yang akan saya wujudkan hari ini? Sederhana banget, yaitu sukses mengantarkan Thole di hari pertama masuk sekolah. Ternyata saya telah keliru memprediksi. Thole tidak bisa saya tinggal. Setelah saya keluar sedikit demi sedikit dari ruang kelas, Thole dipegang 3 ustazah. Thole berontak dan menangis keras. Akhirnya sang ustazah menyerah. Saya boleh mendampingi lagi.
Saya ceritakan, tadinya Thole sudah merasa nyaman saya berada di luar kelas. Tetapi ketika pintu dan  jendela ditutup, mulailah dia teriak. Tahapan saya mau meninggalkannya gagal total. Saya diberi dispensasi pihak sekolah (ponpes) untuk bersama Thole. Waktu makan siang, mencuci piring, dan lain-lain saya arahkan Thole untuk bersama teman-teman lainnya. Begitu waktunya shalat Zuhur, anak itu ngambek tak mau wudhu.
Mungkin, ustazahnya kasihan perjuangan saya yang tak berhasil, akhirnya Thole diizinkan boleh pulang duluan. Saya menyerah, memang sejak dulu kalau saya yang mengantar Thole sekolah, selalu saja anaknya rewel. Kalau yang mengantar Ayah, dia tertib dan manis banget. Maka besok pagi tugas mengantar Thole Ayah saja. Mimpi saya tak menjadi kenyataan, saya sedih sekali.
 Sore harinya saya mendapatkan sms dari nomor asing. Saya diminta untuk mengirimkan alamat karena berhasil mendapatkan hadiah dari penyelenggara GA yang saya ikuti. Saya tak begitu  saja percaya. Saya menelusuri alamat web penyelenggara lomba. Ternyata memang benar, saya mendapatkan bingkisan dan diminta untuk mengirimkan alamat kepada pengirim sms. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Berturut-turut saya akan mendapatkan kiriman bingkisan dari penyelenggara GA yang baik hati.
Bahagia banget mimpi-mimpi saya mulai menjadi kenyataan. Kalau saya tak menjadi penulis besar, setidaknya saya menjadi orang yang bisa berbagi manfaat. Kalau naskah-naskah saya tak lolos muat media, setidaknya bisa lolos seleksi lomba menulis. Lumayan kan, nulis tidak terlalu banyak, kirim naskah/kirim link artikel tinggal klik, tahu-tahu ada kabar bahagia.
Kita memang boleh idealis, tapi kita harus realistis. Cita-cita boleh setinggi langit, mimpi memang boleh yang besar-besar, namun ukurlah kemampuan kita. Sampai sekarang mimpi sederhana saya yang belum terwujud adalah sukses mengantar Thole tanpa adegan mengharu-biru.
Ini catatan saya di hari kedelapanbelas #JuliNgeblog.
Karanganyar, 18 Juli 2016

Minggu, 17 Juli 2016

Besok Senin Hari Pertama Masuk Sekolah #17

X Imersi SMA Karangpandan
dok.Faiqah Nur Fajri
Besok Senin Hari Pertama Masuk Sekolah #17
Sepertinya libur kenaikan kelas dilanjut dengan libur akhir puasa dan Idulfitri, menjadi libur panjang. Ya, sebulan penuh anak-anak libur sekolah. Bagi anak-anak yang naik tingkat, mungkin hal ini tidak menjadi masalah. Nah, untuk yang pindah jenjang sepertinya harus melakukan penyesuaian.
Dua Faiq-Faiz, tentu saja memiliki cerita sendiri. Faiq naik kelas XI SMA. Dia sudah mempersiapkan semuanya untuk hari pertama masuk sekolah dengan matang. Baju seragam, tas dan sepatu sudah siap. Pakaian, memang ada sedikit perubahan, bedge-nya harus diganti dari tingkat X menjadi XI. Dengan senang hati kemarin saya lihat sudah memasang bedge dengan cara menjahit dengan tangan, bahasa Jawanya ndondomi. Karena sejak kelas 5 SD Faiq sudah akrab dengan dunia per-ndondoman, dia tak mengalami kesulitan. Berarti besok pagi siap berangkat.
Berbeda dengan satunya yaitu Faiz. Faiz masuk sekolah setingkat dengan SD, memang namanya SDIT. SDIT yang ini tidak sama dengan SDIT umumnya. Saya tak perlu menceritakan secara detail. Awalnya SDIT ini menyerupai pondok pesantren dengan pelajaran agama sebagai pelajaran utama (porsinya lebih besar). Akan tetapi kemudian dikembangkan menjadi sekolah dasar dan jam pelajaran umumnya lebih banyak (dari sebelumnya).
Kalau dahulu (dahulu sekali alias awal berdiri), lulusan pondok ini tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di sekolah umum karena tidak memiliki ijazah SD atau yang setara. Karena banyak santri yang ingin melanjutkan ke sekolah umum, akhirnya ponpes tadi menjadi SD.
 Saya harus bekerja lebih keras untuk menyertai penyesuaian Faiz ini. Memang enam hari terakhir saya sudah berhasil mengatur pola bermain dan belajar menyenangkan untuk Faiz. Namun sayang, hari Jumat dan Sabtu, suami mengubah pola saya ini. Akhirnya usaha keras saya kalah dengan pola yang baru diterapkan suami.
Tadi pagi bahkan sudah terjadi aksi marah karena mau bermain game. Bermain game, itu bukan yang saya ajarkan dan tak pernah saya izinkan. Ternyata kemarin waktu mengikuti halal bi halal di sekolah suami, anaknya rewel. (sebenarnya kami berempat menghadiri acara ini. Saya izin meninggalkan acara ini untuk menghadiri rapat kedinasan di sekolah saya). Kalau rewel, ada saja ulahnya yang membuat kami menahan emosi.
Nah, kakaknya punya ide. Agar tak ngamuk-ngamuk maka Faiz diberi mainan game dari hape. Kata kakaknya Faiz terus anteng. Tetapi dampaknya, sampai malam hari yang dipegang Cuma hape. Ketika saya bilang mainannya selesai ya Le, dia tetap asyik.
Untuk meredam kemarahan dan keributan Faiz, Ayah mengajak naik sepeda keliling sawah dan pasti nanti mampir sarapan “soto sawah”. Sebenarnya bersepeda adalah kebiasaan rutin yang dilakukan Ayah dan Faiz setelah bangun tidur.
Kembali pada besok Senin adalah hari pertama masuk sekolah. Zaman memang sudah berubah. Saya tidak bisa melakukan sesuatu seperti waktu Faiq masuk SD dulu. Semua serba manis-manis saja, datar, berjalan apa adanya. Kali ini saya harus lebih perhatian kepada Thole.
Besok saya harus ikut sekolah, tidak sekadar mengantar. Besok hari pertama sekolah, Faiz akan diberi jadwal pelajaran, jadwal pemakaian seragam sekolah, diberikan buku penghubung antara wali dan pihak sekolah. Saya harus berkenalan dengan sang ustad. Saya harus meyakinkan padanya bahwa semua baik-baik saja. Kemarin waktu rapat wali santri, pimpinan sekolah sudah membeberkan dengan gamblang tentang pengajaran di pondok ini. Kami sebagai wali harus ikhlaskan anak-anak belajar di sini. Semua akan baik-baik saja.
Kalau Thole masih bersifat kanak-kanak, semoga di sini bisa mandiri. Kalau Thole memiliki kekurangan di bidang akademik, semoga di bidang agama dia lebih oke. Itulah harapan saya di hari pertama masuk sekolah besok.
Karanganyar, 17 Juli 2016

Sabtu, 16 Juli 2016

Bingkisan Dari Ikut GA Sebagai Penyemangat #16

Sejuk
dok.pri
Bingkisan Dari Ikut GA Sebagai Penyemangat #16
Tugas penulis adalah menulis. Menuliskan apa saja yang dirasakan, yang dilihat dan didengar. Dengan sering menulis maka kemampuan menulis akan terasah. Kualitas tulisan kita juga akan semakin baik. Sebaiknya menulis dengan gaya tulisan sendiri. Mengapa demikian? Karena dengan menulis ala atau gaya sendiri akan jauh lebih kelihatan ciri khas keakuannya.
Setelah menulis, kita memerlukan first reader agar bisa menilai tulisan kita secara obyektif. Tentu saja kita juga dengan terbuka mau menerima masukan yang membangun yang bisa memperbaiki tulisan kita,
Sekarang, penulis dengan mudah mendapatkan pembaca, minimal membaca judulnya saja. Sosmed telah mempermudah kita mendapatkan pembaca. Kita juga boleh mencoba untuk berkompetisi dengan orang lain sebagai sarana memperbaiki tulisan. Kompetisi ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kita dalam menulis.
Dalam kompetisi tentu saja ada kriteria tertentu sebagai patokan tulisan kita lolos atau tidak. Dalam suatu kompetisi pasti ada yang lolos dan ada yang gagal. Bagi yang gagal, tidak perlu berkecil hati. Bagaimana pun, naskah yang masuk akan masuk rangking setelah dinilai. Hanya rangking berapa besar dari naskah yang ada yang berhasil memenangkan kompetisi.
Tak perlu kecewa dengan sebuah kegagalan. Ayo bangkit lagi dan terus asah menulis kita. Dari beberapa kompetisi yang diikuti, kita berharap ada yang berhasil dan menang. Bila kita tahu ada lomba menulis atau GA lebih awal, sebaiknya secepatnya kita ikut serta dengan membongkar tabungan tulisan kita (yang temanya sesuai).
Bila kita menjadi pengirim pertama naskah tulisan atau, mengirim link dari postingan tulisan kita, siapa tahu kita mendapatkan penghargaan. Mungkin kita tak memenangkan lomba sebagai pemenang 1, 2, 3, dan seterusnya. Namun kita tetap bisa menjadi pemenang dengan predikat sebagai pengirim pertama naskah. Lumayan, bukan? Ini pengalaman pribadi.
Baca juga tulisan yang diikutsertakan dalam GA:
Saya mengikuti GA tentang cerita lebaran. Saya bukan sebagai pemenang 1, 2, 3, 4 dan 5. Tetapi sebagai pemenang pengirim/memosting tulisan pertama. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Kebetulan saya memang memiliki persediaan tulisan/tabungan tulisan. Sehingga mengikuti lomba #CeritaLebaran juga tak perlu menguras pikiran. Saya tinggal merangkai beberapa tulisan dari file. Begitu tulisan selesai, bismillah, memosting tulisan begitu saja.

Tapi, ada satu tambahan pemenang lagi. Yaitu peserta yang pertama kali posting #CeritaLebaran.
Pemenang pertama kali posting atau kirim:
Nama: Noer Ima Kaltsum
Judul Postingan: 
Lebaran Dengan Baju Baru Berfoto Keluarga Bawa Endhog Abang

Bagi saya, ini patut saya banggakan. Di saat saya repot dengan pekerjaan sekolah, saya mendapatkan kabar baik yang tak pernah saya duga sebelumnya.
Siapa banyak berlatih maka akan terampil. Siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil. Sampai sekarang saya memotivasi diri saya dengan kalimat-kalimat semacam itu.
Dengan datangnya kabar ini tentu saja saya dengan segera mengirimkan alamat pengiriman bingkisan kepada penyelenggara GA. Semoga bingkisan dari penyelenggara GA ini terus memotivasi saya, sebagai penyemangat. Saya terus bersemangat dan saya bisa menunjukkan pada orang bahwa saya guru biasa yang bisa menulis. Bangganya saya menjadi guru yang menulis.
Buat teman-teman penulis, baik di dunia maya maupun dunia nyata, terima kasih atas dukungannya.
Karanganyar, 16 Juli 2016

Jumat, 15 Juli 2016

Perempuan (Remaja) Jangan Malas Turun ke Dapur #15

Telaga Mandirda, Ngargoyoso, Kab. Karanganyar, Jateng
dok.pri
Perempuan (Remaja) Jangan Malas Turun ke Dapur #15
Untuk makanan yang bisa dimasak dan diolah sendiri, saya dan Faiq suka turun ke dapur. Berdua membuat makanan, mendadak menjadi koki lalu berciat-ciat melakukan jurus wus-wus. Hasilnya pasti bisa dimakan juga. Apalagi kalau hanya membuat kudapan dan makanan kecil. Kadang merasa sayang atau eman-eman kalau semua harus membeli tinggal makan. Karena uang yang harus kami keluarkan selisihnya cukup besar.
Sebagai contoh ketika Faiq mengundang teman-temannya untuk makan siang dalam rangka syukuran. Faiq hanya ingin makan-makan di rumah, tidak di resto untuk kalangan pelajar. Faiq sudah hitung-hitungan tentang biaya yang harus kami keluarkan. Bila makan-makan dilakukan di rumah dibanding makan-makan di luar, perbedaan/selisih dananya cukup besar.
Memang saya sedikit repot, namun puas karena anak-anak lebih leluasa. Anak-anak dengan porsi makannya banyak bisa nambah dengan tidak membebani Faiq. Dengan menu sederhana, anak-anak sudah merasa cukup kenyang makan siangnya.
Suatu saat Faiq harus membuat agar-agar/jeli dalam wadah lantas pagi harinya dibawa ke sekolah untuk dimakan bareng-bareng temannya. Menggoreng macaroni diberi taburan bumbu instan dan membawa sambal sacet untuk cocolan. Pernah Faiq membuat dadar telur lalu diiris-iris, dimasukkan dalam wadah makanan untuk disantap bersama-sama temannya di sekolah.
Biasanya sebelum lebaran, saya dan Faiq membuat stik kue bawang. Saya bertugas membuat adonan, Faiq tugasnya mencetak dan kami menggoreng bersama-sama. Benar-benar irit pengeluaran dan lebih terjamin kebersihannya.
Oleh sebab itu, cobalah sekali tempo ajak anak-anak turun ke dapur. Agar anak tahu repotnya memasak. Dengan demikian anak bisa menghargai jerih payah Ibunya yang cantik. Anak akan menghabiskan makanannya.
Nah, sebagai awal perkenalannya terjun ke dapur, anak bisa dikenalkan dengan membuat agar-agar dan masak mie instan. Untuk membuat agar-agar tidak terlalu sulit. Kalau memasak mie instan bisa diajarkan dengan cara menambah sayuran sop (kobis, wortel, daun loncang dan seledri) dan telur. Dengan demikian jadilah mi instan istimewa dan bernilai jual lebih.
Selamat mencoba dan berkarya.
Karanganyar, 15 Juli 2016

Kamis, 14 Juli 2016

Setelah Ramadan, Sudahkah Kita Menjadi Lebih Baik? #14

Tak Ada Kebohongan
dok.pri
Setelah Ramadan, Sudahkah Kita Menjadi Lebih Baik? #14
Selama Ramadan, kita berusaha menjaga puasa kita, shalat kita, sedekah kita, baca quran kita dan ibadah lainnya. Setelah Ramadan berlalu, sehari kemudian dengan penuh suka cita kita sambut hari kemenangan. (Kemenangan dilihat dari sudut manakah? Kemenangan yang bagaimana?)
Kita berusaha untuk menemui orang tua, saudara, kerabat, handai taulan dan tetanggga. Baik tetangga dekat maupun yang jauh. Bahkan kita rela menemui orang yang baru kita kenal. Sungguh sangat terpuji tindakan kita. Sebenarnya semua itu tidak terlalu muluk-muluk dan berlebihan.
Pada orang yang kita temui, lantas kita bermaaf-maafan. Mengucapkan permintaan maaf yang panjang lebar, sungkem dan biar kelihatan khusyuk diiringi tangisan dan derai air mata haru. Satu sama lain akan melakukan hal yang sama. Bagus, itu bagus, tidak ada jeleknya.
Suasana haru berubah menjadi ceria. Canda dan tawa menyertai obrolan, sehingga semuanya berjalan baik dan suasana jadi hidup. Makan besar tersedia, camilan dari yang biasa hingga yang luar biasa dihidangkan dan angpao siap dibagikan. Angpao tidak sebatas buat anak-anak, melainkan orang tua juga mendapatkan dari saudaranya yang lebih mampu. (saya termasuk orang tua yang dapat angpao dari kakak, karena memang perlu angpao dilihat dari tingkat perekonomian. Haiyahh, ini modus banget!)
Kalau di instansi, suasana halal bi halal sedikit agak resmi. Acaranya juga disusun dengan rapi. Tidak semua orang boleh bicara. Yang boleh bicara hanya pembawa acara, pemberi sambutan dan pengikrar saja. Yang lain diam, duduk manis, mendengarkan sambil menikmati kudapan. Dengan teman kiri kanan boleh bicara tetapi pakai bahasa isyarat atau bisik-bisik saja.
Setelah acara selesai, dilanjutkan bersalam-salaman. Ekspresi teman-teman memang macam-macam. Tapi intinya suka cita setelah bermaaf-maafan. Harapannya mulai hari itu, meminimalkan berbuat salah pada kawan-kawan baik disengaja maupun tak disengaja. Amin, semoga bisa menjauhkan diri dari khilaf dan dosa.
Lalu, apa jadinya bila di hari pertama ngantor sudah ada teguran keras, sudah mulai ada yang main ngancam, sudah mulai perang? Lantas, Ramadan kemarin rapornya bagaimana? Apakah Ramadan berlalu, kesalahan bisa diawali? Manakah kata-kata mohon maaf lahir dan batin?
Memang mengucapkan mohon maaf lahir dan batin itu gampang. Apalagi kalau Cuma menuliskannya di FB, twitter, group WA, seolah sudah cukup. Ternyata praktek dari mohon maaf lahir dan batin dan tak mengulangi kesalahan lagi itu tidak segampang copy paste.
Sebagai manusia, kita bisa memulai dari hal-hal yang sederhana, dari hal kecil, memaafkan dan minta maaf. Menghilangkan dendam kesumat dan menjauhkan diri menonjolkan keakuan dan keangkuhan.
Manusia tempat salah dan khilaf. Bila kita berhadapan dengan anak kecil maka katakanlah anak ini kesalahannya lebih sedikit dari saya. Kalau melihat orang yang lebih tua, katakanlah orang tersebut lebih dahulu bertaubat dan lebih lama melakukan amal baik dari saya.
Ramadan adalah sarana memperbaiki diri. Maka setelah Ramadan tentu kita menjadi lebih baik.  
Karanganyar, 14 Juli 2016