Jumat, 14 April 2017

SEKOLAH NON FORMAL KEJAR PAKET JURUSAN LALU LINTAS


Maharani tersenyum membaca chat teman-teman tentang susah payahnya mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM).

@Yur
Merindukan SIM yang belum jadi. Gak lolos2 ujian praktek, lalu jatuh, ujian lagi, lalu ngidam, ujian ditinggal. Tapi kalau peserta lain yang sebulan lebih itu diajak ke belakang mobil lalu pergi (nahhh!). aku kok gak ya malah disuruh kir lagi, ujian lagi.

@Nof
Aku dulu SIM C nilai ujian tertulisnya mepet banget. Kalau ujian prakteknya pertama gak lulus gara2 nabrak pembatas kerucut itu. Sama pak polisinya aku disuruh besok ujian lagi. Tapi aku gak mau. taktunggu pak polisinya sampai semua peserta sudah pulang. Terus saya bantu pak polisi angkat-angkat peralatan tes sambil ngerayu minta dites ulang saat itu juga. Alhamdulillah, lolos.

@Neng
Ngantar anak lanang ujian praktek sampai tiga kali. Yang kedua kali aku nyoba ngajak kong kalingkong nembak saja, polisinya nggak mau. disuruh manut prosedur.

Ngantar anak wedok, sekali ujian praktek lulus, la kok aku dibisiki sama loketnya, biaya langsung ke kaur simnya. Biaya seperti aku nembak, gak sesuai tariff yang dipasang (wkwkwk)

@Rani
Beruntungnya saya. Sekitar 7 tahun yang lalu tanpa basa basi, suami bertemu seorang teman. Bisik-bisik, kir dokter juga Cuma ditanya berat badan dan tinggi badan. Besok paginya disuruh ke ruang ujian tulis. Ngisi data, dipanggil langsung foto. Kelar deh!

Tapi saya ditertawakan teman sekantor. Haha, bu Rani ki ora iso numpak pit kok duwe SIM. Jawab saya: kalau ada razia yang ditanyakan SIM-nya, bukan bisa naik motor atau tidak. Waktu itu bayar 250 ribu, untuk lima tahun. Berarti setahun 50 ribu. Jadi sebulan tidak sampai 5 ribu, murah bukan?

Waktu perpanjangan kan nggak mahal. Enaknya hidup saya, tapi gak berani jarak jauh. Maklum numpak sepeda mung nggo genep-genep biar tidak tergantung sama suami.

Bagi yang nembak membuat SIM sepertinya enggak berdosa deh. Coba dipikir, enggak ada pelajaran mengendari motor/mobil, tidak ada latihan tes tertulis, tidak tahu kisi-kisi soal, tau-tau disuruh tes. Yang namanya tes itu kalau sudah menerima materi pelajaran. Materinya adalah Lalu Lintas.

Kalau punya SIM sambil belajar naik motor atau nyopir mobil kan pas pas saja. Yang penting usianya sudah 17 tahun. Barulah kalau melakukan pelanggaran polisi bisa memberi surat tilang. #membela diri

Nyopir itu kalau sudah kulina ya bisa. Kalau nggak kulina (terbiasa) ya nggak bisa. Biar bisa ya sering nyopir, biar nggak ketilang, ya punya SIM #eh ngeyel.
00000

Usul untuk penguji praktek pembuatan SIM:
Mbok ya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas. Di situ diberi pelajaran tentang lalu lintas. Materinya dikelompokkan dalam beberapa bab. Satu bab bisa dipelajari lalu diujikan. Seperti anak sekolah formal itu lo. Ada pelajaran lantas tes. Tesnya bisa open book, hehe. Boleh njaplak atau mencontek.

Kalau seperti itu pasti meminimalkan gagal ujian tertulis. Setelah itu pelajaran mengendarai motor model sekolah akselerasi. Semakin cepat materi dikuasai maka ujian praktek bisa segera dilaksanakan. Ujian prakteknya jangan ada zig-zag atau berjalan jalur angka delapan. Kalau di jalan raya, mengendarai kendaraan dengan berjalan zig-zag itu berbahaya.

Ujian prakteknya cukup lewat jalan raya bareng-bareng. Karena kita biasa lewat jalan raya. Kalau kebetulan ada rintangan lalu kita harus jalan berkelok-kelok, ya pasti kita pelan-pelan dan berhitung secara cermat. Ujian yang ribet membuat grogi dan deg-degan.

Seandainya ada sekolah non formal kejar paket jurusan lalu lintas, pasti banyak yang ikut. Apalagi sekolahnya secara online hehe.


Karanganyar, 14 April 2017

PENULIS HARUS JELI MENANGKAP IDE

Dahulu, ketika laptop saya hilang dicuri maling, sehari kemudian saya dihubungi polisi. Tiga polisi langsung menuju sekolah tempat saya mengajar. Waktu itu, saya berada di rumah menenangkan diri untuk berdamai dengan musibah. Batin saya, kok polisi tahu kalau saya kehilangan laptop. Saya langsung mengambil kesimpulan kalau laptop sudah berada di tangan polisi kurang dari 24 jam. Padahal saya belum membuat laporan di kantor polisi.

Saat saya bertanya kok pak polisi tahu kalau saya kehilangan laptop? Salah satu di antara mereka bilang polisi itu duduk di kantor tapi telinganya ada di mana-mana.

Halah pak, pasti sampeyan sudah buka laptop saya kan? Saya kehilangan laptop di rumah. Kok sampeyan mencari saya di sekolah, padahal kita ndak saling kenal. Di laptop saya kan ada naskah-naskah dengan biodatanya dan alamat yang saya pakai/tulis adalah alamat sekolah.

Lupakan peristiwa saya kemalingan laptop. Sekarang fokus pada telinganya ada di mana-mana. Saya pernah diledek teman, katanya kalau punya cerita lucu jangan diceritakan keras-keras supaya saya tidak mendengar. Alasannya adalah karena apapun yang saya dengar dan bisa ditulis bisa mendapatkan uang. Tiga kali tulisan saya “Cerita Humor Jon Koplo” di Solopos dimuat. Ketiganya adalah hasil nguping cerita teman-teman.

Itu baru ide datang dari seputar sekolah. Belum lagi kalau saya berjalan-jalan atau makan-makan. Semua bisa saya tulis. Ide tulisan memang bertebaran di mana-mana tapi kalau kita tak jeli menangkap dan segera menuliskan, ide akan hilang begitu saja tanpa bekas.

Beberapa teman memang dengan suka rela mau menceritakan pengalamannya. Mereka sadar sepenuhnya kalau apa yang diceritakan akan saya tulis. Mereka senang-senang saja. Saya juga dengan ikhlas bagi-bagi jajanan dari honor pemuatan cerita lucu. Ada hubungan simbiosis mutualisme.

Untuk tulisan yang saya tayangkan di blog, bisa jadi tulisan tersebut hasil dari saya membaca, oleh-oleh dari jalan-jalan, peristiwa mengejutkan di kantor dan lain-lain. Oleh karena saya suka menulis tentang keseharian maka saya tidak membatasi hanya pada satu tema. Tulisan yang saya tulis temanya bermacam-macam. Semua saya tulis berdasarkan mood. Kalau sedang tidak mood, saya menulis hal yang ringan-ringan.

Saya termasuk orang yang rada heboh dan suka bercerita dengan menggebu-gebu. Tulisan saya cermin suasana hati saya. Pengalaman masa kecil, masa remaja, menjadi orang tua membuat saya mudah menyesuaikan diri. Dalam menulis, saya juga melakukan penyesuaian. Saya berusaha untuk menulis tidak monoton. Supaya tulisan saya bervariasi maka saya perlu mencari ide ke mana-mana.

Suami saya juga tahu akan kebutuhan mencari ide. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan ide cemerlang, suami rela mengantarkan saya mencari dan mengumpulkan ide. Yang penting idenya dituangkan dulu secara garis besar. Kalau perlu untuk membuat tulisan berkualitas, saya harus meluangkan waktu untuk sekadar mengembangkan ide tersebut.

Kalau kita belum ada ide, kita bisa keluar rumah, lalu naik sepeda ke jalan raya. Di luar  sana banyak yang bisa kita tulis. Kita tidak akan kehabisan ide selagi kita serius mau menulis.


Karanganyar, 14 April 2017

Rabu, 12 April 2017

Cara Mengedit Naskah oleh 3 Editor

Ketika kami berdiskusi tentang mengedit naskah atau tulisan, ada 3 narasumber yang ahli dalam bidangnya. Ketiga narasumber tersebut sudah tidak diragukan lagi kemampuannya sebab mereka bekerja sesuai bidangnya, yaitu sebagai editor.
Adapun ketiga narasumber tersebut adalah mbak Neng, mbak Misb, dan mbak Rien. Mbak Neng dan mbak Misb, spesialis mengedit naskah Lembar Kerja Siswa (LKS) dan mbak Rien spesialis mengedit naskah pada lomba dan naskah buku.
Setelah diuraikan panjang lebar, sungguh saya menjadi melongo dibuatnya. Ternyata pekerjaan editor “sangat kejam”. Akan tetapi kekejaman ini sebenarnya untuk kebaikan penulis. Mengapa demikian? Sebab tulisan yang diedit besar-besaran dengan cara yang “kejam” ini akan menghasilkan naskah akhir yang lebih baik.
Pesan ketiga editor kepada kami, sebelum mengirimkan naskah ke penerbit atau media, sebaiknya diedit terlebih dahulu. Tugas editor memang mengedit naskah tapi jangan sampai merubah total naskah. Kami, anggota IIDN yang mengikuti kopdar menjadi lebih paham. Tugas editor ternyata berat juga.
Kami siap kecewa bila naskah atau tulisan kami dibantai habis-habisan. Oleh sebab itu jangan terlalu percaya diri setelah tulisan kita selesai dibuat. Tulisan yang kita anggap baik, belum tentu layak terbit atau layak tayang/dimuat di media.
Pesan mbak Neng adalah menulislah dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditentukan. Pakailah EYD, buatlah kalimat dengan pola SPOK. Menurut saya, menulis dengan pola SPOK sepertinya tulisan menjadi kaku. Lebih enak menulis dengan bahasa tutur yang mudah dipahami. Asal menuliskan tanda baca sesuai EYD maka tulisan akan memiliki makna.
Aktifitas menulis sangat menyenangkan. Seandainya jam terbang penulis sudah tinggi, kemungkinan kecil tulisannya banyak diedit sana-sini. Tapi ada kasus bahwa seorang editot ditantang untuk membuat tulisan. Ternyata seorang editor juga memiliki kesulitan untuk menulis. Buktinya, tulisan/naskah yang dibuat mengundang reaksi editor lain untuk mengoreksi.
Akan tetapi, seorang editor yang baik selalu berpesan kepada penulis-penulis. Pesannya adalah: jangan hanya karena dikririk, karya dibantai, lalu down, trauma berkepanjangan lalu tidak mau menulis lagi. Jadi penulis itu mesti tangguh. Setuju!
Untuk penulis pemula, segera menulis. Usahakan menulis sesuai bidangnya. Menulis mengalir begitu saja tidak perlu teori yang malah membuat kepala pusing. Kalau sudah menulis lalu dibaca kembali selanjutnya diedit. Tulislah materi yang ringan-ringan saja. Sebagai penulis pemula, tidak perlu menulis hal-hal yang berat.
Kalau kita menulis sesuai kata hati nurani, tentu saja tulisannya akan mengalir begitu saja. Memang kadang mengawali suatu tulisan tidaklah mudah. Semua butuh proses dan bisa dipelajari. Harapan kita tulisan kita mendekati sempurna dan berkualitas. Amin.

Karanganyar, 12 April 2017

Selasa, 11 April 2017

Jon Koplo : Dikerjai Kartu

Ceritanya Mbak Ima dan Mbak Daruti, kelihatan ndesitnya, hahaha
VERSI SOLOPOS Senin 3 April 2017
Jon Koplo
dok.pri
AH TENANE
Kartu Ajaib
Lady Cempluk, Genduk Nicole, Jon Koplo, dan lainnya mengikuti diklat di Semarang selama 2 hari. Setelah cek in, Cempluk dan Nicole menuju kamarnya di lantai 9.
Baru pertama kali ini Cempluk harus membuka pintu dengan kartu elektrik. Dikiranya ada lubang di pintu lalu kartu dimasukkan (seperti mesin ATM). Cempluk mencari lubang, kok nggak ketemu. Keduanya sempat mau turun lagi.
Tiba-tiba muncul 2 bapak-bapak penghuni kamar sebelah. Nicole tidak malu untuk minta tolong. Gembus meminta kartu pembuka pintu.
“Saya juga coba-coba. Mari kita coba,”kata Gembus.
Kartu hanya ditempelkan pada gagang/handle pintu. Pintu terbuka. Cempluk dan Nicole menarik napas lega.
“Makasih Pak Gembus.”
“Sami-sami.”
Cempluk dan Nicole 3 kali mencoba menutup dan membuka pintu. Yes, berhasil. Keduanya masuk. Setelah tas dimasukkan kamar, Cempluk memasukkan kartu di wadah dekat saklar. Byar, Alhamdulillah lampunya hidup.
Setelah diklat selesai, waktunya pulang. Tas Cempluk dan Nicole sudah dibawa keluar. Cempluk menerima telepon dari Koplo. Selesai terima telepon, pintu ditutup. Dan, hah kartunya mana?
“Kartunya mana Nic?”
“Lo, apa belum dibawa? Tadi yang bawa kan sampeyan.”
“Waduhhh, gimana nih ketinggalan di dalam?”
Akhirnya mereka turun dan laporan ke resepsionis.
“Ndak apa-apa, Bu. Kalau Ibu mau masuk kamar lagi, bisa pinjam kartu di sini.”

“Tidak kok, Cuma mau bilang kalau kartunya ketinggalan di kamar,”kata Cempluk tersipu malu. (SELESAI)

Sumber: Solopos, Senin 3 April 2017 Hal 1,6

PENULIS BERTUGAS MENGEDIT TULISAN


Kopdar IIDN Solo  pada hari Ahad, 9 April 2017 bertempat di Rumah Joglo, Makam Haji, dihadiri oleh 27 anggota IIDN Solo Raya. Kopdar kali ini memperkenalkan beberapa anggota baru. Anggota IIDN Solo Raya yang termuda adalah Zata kelas 6 SD (jelas belum Ibu-ibu dong).

Pada kopdar kali ini materi yang dibahas adalah mengedit tulisan.

Kita sering mendengar/membaca tulisan bahwa seorang penulis juga merupakan pembaca. Orang yang suka menulis tentu suka membaca. Dengan membaca, penulis tidak akan kehilangan ide. Dengan membaca, penulis tidak akan menulis sembarang tulisan tanpa dasar. Penulis yang baik akan mempertanggungjawabkan semua yang ditulisnya. Kritik, saran dan masukan dari pembaca, sangat dibutuhkan penulis.

Sebelum menayangkan sebuah tulisan, sebaiknya tulisan yang sudah jadi, diendapkan terlebih dahulu. Setelah diendapkan barang sehari, tulisan dibaca kembali. Penulis membaca kembali tulisannya yang sudah selesai. Dalam hal ini, penulis bertindak sebagai pembaca, bukan sebagai seorang penulis. Tujuan membaca kembali tulisan yang sudah dibuat adalah untuk mengedit tulisan.

Seorang pembaca biasanya sangat kritis. Pembaca akan menemukan tulisan-tulisan yang perlu diperbaiki walaupun bukan keseluruhan tulisan. Pembaca akan menilai sebuah tulisan secara obyektif. Meskipun tulisan yang diedit adalah tulisannya sendiri, tetapi pembaca yang baik akan menilai apa adanya suatu tulisan. Baik akan dikatakan baik, kurang juga akan dikatakan kurang.

Pembaca bertugas mengedit tulisan. Oleh karena tulisan yang dibaca adalah tulisan sendiri maka sudah semestinya seorang penulis memiliki tugas mengedit tulisannya sendiri. 

Ternyata mengedit tulisan adalah pekerjaan yang menyenangkan. Kita akan lebih tahu kekurangan kita. Mungkin kita akan menemukan kesalahan pada tanda baca, kata baku, kalimat tidak efektif dan korelasi antara kalimat satu dengan kalimat yang lain. Penulis juga akan menemukan kalimat/kata yang janggal dalam suatu tulisan, konsistensi penulisan juga dapat penulis temukan (misalnya: penggunaan kata ganti aku, saya).

Sebagai seorang penulis, kita memiliki kewajiban untuk membuat tulisan yang berkualitas. Tulisan yang berkualitas akan dapat kita buat seandainya kita banyak membaca. Dengan banyak membaca tulisan, buku atau karya orang lain, kita akan menemukan gaya tulisan kita sendiri. Kalau kita membuat tulisan sendiri, tidak sekadar copy paste, maka gaya tulisan yang terbentuk adalah gaya tulisan kita sendiri.

Penulis bisa mempelajari penulisan sambil membuat tulisan. Penulis memerlukan pedoman agar dapat membuat tulisan yang baik. Minimal ada 2 buku yang wajib dimiliki seorang penulis yang berkaitan dengan tugas penulis sebagai editor. Dua buku tersebut adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan buku pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Penulis dapat mengedit tulisannya sendiri. Namun, penulis harus bisa secara obyektif menilai tulisannya sendiri. Jangan sampai merasa tulisannya sudah baik dan tidak perlu diedit. Sebaik-baik tulisan kita, tetap perlu diedit terlebih dahulu.

Sebagian dari penulis, karena dikejar deadline maka tidak memiliki waktu untuk mengedit. Penulis memang berhasil menyelesaikan tulisan, tetapi belum tentu tulisan tersebut adalah hasil karya yang terbaik. Hal ini sering terjadi ketika penulis mengikuti lomba. Karena DL mendesak, jadilah tulisan apa adanya tanpa polesan sana sini.

Oleh sebab itu, untuk mendapatkan tulisan yang baik, sebaiknya jangan tergesa-gesa untuk menyelesaikan tulisan. Nikmati proses menulis, lalu endapkan hasil tulisan selama sehari. Ketika kita mengedit tulisan rasakan sensasinya. Penulis memiliki kewajiban untuk mengedit tulisannya. Apapun tulisannya harus diedit.

Kopdar kali ini sangat seru, berbagi ilmu berbagi pengetahuan.

Karanganyar, 11 April 2017

Sumber tulisan : Tulisan Noer Ima Kaltsum dengan alamat: 

http://www.soloensis.com/11/04/2017/penulis-bertugas-mengedit-tulisan-1774.html

Sabtu, 08 April 2017

GROUP WA TEMPAT MENJALIN PERTEMANAN BUKAN TEMPAT UNTUK BERTENGKAR

Bismillah, Alhamdulillah, hari ini saya masih diberikan nikmat sehat dan umur panjang. Betapa saya sangat bersyukur karena mendapatkan oksigen secara gratis, dapat makan makanan tanpa berpantang. Syukur-syukur dapat makanan secara gratis/cuma-cuma.

Tidak lupa saya terus bersyukur diberi nikmat iman, rezeki barokah, saudara-saudara yang baik hati, keluarga yang senantiasa memberikan dukungan, dan teman-teman yang baik. Teman-teman yang saya maksud adalah teman di dunia nyata maupun teman di dunia maya.

Meskipun di dunia nyata belum pernah bertemu dengan teman di dunia maya, tapi saya berusaha untuk tetap santun dalam bergaul. Saya berusaha untuk mengikuti pertemanan dengan baik dengan teman di dunia maya.

Sudah umum, sebagian dari kita  memiliki alat komunikasi yang bisa terhubung dengan teman di dunia maya lewat WA. Mungkin dari kita masuk dalam group WA tertentu dengan berbagai kepentingan. Akan tetapi, jelas, keikutsertaan kita dalam suatu group WA memiliki niat yang baik yaitu menjalin komunikasi dengan teman secara baik.

Namun, kadang-kadang ada suatu hal yang membuat kita tidak merasa nyaman dengan pembicaraan/topik/tema/bahasan dalam obrolan. Biasa, itu wajar-wajar saja. Kalau sekiranya kita tidak sepaham dengan pendapat orang lain, maka langkah yang terbaik adalah diam. Tujuannya agar tidak terjadi gesekan antar anggota group.

Mungkin, kita merasa pendapat kita paling benar, tapi tahanlah. Apa yang kita anggap baik dan benar, belum tentu di mata orang lain kita 100% benar. Kalau kita merasa tidak cocok dengan seseorang (anggota group), bila ingin menegur atau mengingatkan, cukuplah dengan chat pribadi. Jangan sekali-kali menjatuhkan wibawa orang lain di hadapan orang banyak (dalam hal ini konteksnya di group WA, berarti tidak berhadap-hadapan).

Dalam berkomunikasi, meskipun tidak ada aturan tertulis hitam di atas putih, sebaiknya tetap menomorsatukan kebersamaan. Misalnya ada sendau gurau dan canda, jangan terlalu berlebihan. Sebab bercanda berlebihan justeru berakibat tidak baik. Jangan mudah tersinggung dan menyinggung perasaan anggota group. Sekali lagi, tahan!

Kalau semua bisa menahan diri untuk emosi, saya yakin, dalam suatu group akan memberikan manfaat dan memberikan kesan yang baik.

Ada suatu pengalaman: terpaksa saya mengundurkan diri dengan cara pamit, sebelumnya minta maaf dahulu. Penyebabnya adalah dalam group yang sering ada guyonan ini, ternyata ada yang tersinggung. Jadilah salah satu dari mereka marah-marah tak terkendali. Yang satunya lagi (merasa bersalah) minta maaf, baik di group maupun chat pribadi. Tetap saja yang satu marah-marah. Anehnya, kalimat yang dilontarkan tidak ada hubungan sama sekali dengan akar permasalahan.

Saya merasa kok tidak sehat lagi ya pembicaraannya. Saya tidak nyaman kalau seperti ini. Padahal anggoita group setiap hari bertemu di perguruan. Setelah diingatkan : jangan sampai pertengkaran di dunia maya dibawa ke dunia nyata. Yaelah, tetap saja yang terlanjur emosi menulis : jangan ikut campur urusan pribadi.

Mohon maaf, saya kok tidak nyaman ya. Bye-bye.
Ternyata, tidak gampang untuk menahan diri. Padahal, kalau setiap hari bertemu di perguruan, apakah nanti tidak merasa kikuk? Yang penting saya tetap berbuat baik pada seseorang meskipun orang tersebut pernah melukai saya.


Karanganyar, 8 April 2017

Rabu, 05 April 2017

Jangan Menghapalkan Rumus Kimia, Begini Cara Menguasai Penyelesaian Soal Kimia

Praktikum Kimia
dok.PLPG Agustus 2010

Sebagian siswa merasa malas untuk belajar kimia. Hal itu disebabkan karena rumus-rumus kimia yang banyak perlu dihapalkan dan sulit untuk dimengerti. Sebenarnya, rumus kimia tidak perlu dihapalkan dengan muka dilipat dan mulut sedikit monyong, santai saja. Semua bisa dipelajari dengan pembiasaan dan dengan hati riang.
Sebuah contoh seorang anak kecil yang sedang latihan berjalan. Meskipun  sering terjatuh ketika sedang latihan berjalan, anak tersebut tidak jera. Tetap saja anak tersebut berlatih berjalan. Dalam hitungan hari, anak sudah bisa berjalan dengan pelan-pelan tanpa jatuh lagi. Setelah itu, anak tersebut tidak mau lagi tinggal diam. Dia akan terus berjalan bahkan tanpa mengenal lelah.
Contoh yang lain adalah seorang anak yang belajar naik sepeda. Walaupun sering jatuh, kaki dan tangannya ada goresan luka, dia tetap semangat untuk berlatih. Apakah dia bosan atau takut untuk memulai naik sepeda? Pada umumnya anak yang belajar naik sepeda tidak takut memulai naik sepeda lagi. Memang, ada sebagian kecil yang mengalami trauma dan mogok, tak mau lagi berlatih naik sepeda.
Belajar kimia, kuncinya adalah berlatih dan terus berlatih. Sebelum mengerjakan latihan soal, siswa harus membaca buku terlebih dahulu. Kalau perlu, saat diterangkan oleh guru, siswa menuliskan hal-hal yang dianggap penting.
Kalau siswa memiliki kebiasaan untuk menuliskan apa yang sudah didengar atau dibaca, itu artinya lebih memudahkan untuk mempelajari pelajaran kimia lebih lanjut. Salah satu contoh kebanyakan siswa mengalami kesulitan untuk menghapalkan rumus kimia beserta nama senyawanya.
Salah satu dasar agar siswa bisa menuliskan rumus kimia dengan benar adalah siswa mengerti dan memahami anion dan kation. Untuk kation (logam), siswa harus bisa membedakan logam alkali dan alkali tanah. Mengapa demikian? Sebab bila siswa bisa mengelompokkan golongan alkali dan alkali tanah, siswa tahu jumlah muatan suatu logam dalam bentuk kation.
Seandainya materi kation dan anion sudah paham, siswa tinggal banyak latihan mengerjakan soal. Apabila belajar sendiri tanpa teman dan tidak didampingi tutor, siswa bisa membuka-buka buku sewaktu-waktu diperlukan.
Mengerjakan latihan dengan frekuensi banyak atau sering membuat siswa cenderung lebih mudah mengingat-ingat materi rumus kimia dan nama senyawa.
Untuk rumus yang berkaitan dengan hitungan kimia, awalnya harus tahu dasar penggunaan rumus. Seperti memahami satuan, memahami konversi dan tahu rumus. Banyak berlatih mengerjakan soal, selain menghapalkan rumus secara tidak langsung, juga tahu variasi soal. Semakin banyak berlatih, semakin hapal rumus yang akan digunakan sehingga mempercepat pengerjaan soal.
Saya suka mengerjakan soal yang berkaitan dengan hitungan kimia. Dari banyak berlatih ini, saya lebih cepat untuk mengerjakan soal. Kuncinya banyak berlatih.
Ketika saya mengikuti mata kuliah Kapita Selekta Kimia SMA, materi yang harus saya pelajari tidak ada (materi khusus). Hanya mengerjakan soal saja. Soal yang diberikan luar biasa banyak karena mencakup semua pokok bahasan kimia yang diajarkan di SMA. Menghapalkan materi kelas 1, 2, dan 3 SMA dalam waktu satu semester.
Biasanya soal-soal diberikan dengan bentuk dan bahasannya sama, hanya jawabannya dibolak-balik. Di sini saya harus memahami benar dasar materinya. Apakah saya bosan dengan mata kuliah yang membahas mengerjakan soal dengan cepat ini? Tidak, jawabannya. Dengan mengerjakan soal yang banyak ini, mau tidak mau saya jadi menghapal rumus.
Jadi menghapalkan rumus tidak perlu dengan mulut komat-kamit, bersemedi, tutup telinga agar tidak mendengarkan hal-hal lain.
Contoh soal matematika: tuliskan rumus luas lingkaran! Kalau sudah hapal rumus luas lingkaran, lalu terapkan dengan cara banyak berlatih mengerjakan soal tentang luas lingkaran. Mungkin yang ditanyakan jari-jari lingkaran, diameter dan luas lingkaran.
Mari, banyak berlatih mengerjakan soal kimia agar Anda bisa mengingat rumus kimia tanpa harus menghapalkannya.
Karanganyar, 5 April 2017

Sumber tulisan Noer Ima Kaltsum dalam:

http://www.soloensis.com/05/04/2017/jangan-menghapalkan-rumus-kimia-begini-cara-menguasai-penyelesaian-soal-kimia-1768.html