Sabtu, 23 Juni 2018

PANEN PADI DALAM SUASANA LEBARAN




Saat yang ditunggu-tunggu para petani dan pemilik sawah adalah panen. Hasil jerih payah selama 3 bulan akan terlihat saat panen tiba.

Ada senyum bahagia dari seorang petani bila mereka bisa memanen hasil pekerjaannya. Entah itu hasilnya baik atau kurang, mereka akan tersenyum. Asal jangan gagal panen karena tikus, diserang wereng atau puso.

Alhamdulillah, masih dalam suasana lebaran, kami bisa memanen padi dari sawah belakang rumah. Tiga bulan ke depan masih ada stok gabah di lumbung keluarga suami (suami dan adik-adiknya). Meski tidak banyak, tetap saja saya bersyukur. Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?

Kamis, 21 Juni 2018

MBAK FAIQ BUKAN MAS FAIQ


Hari ini, saya menghadiri acara HBH yang diselenggarakan oleh sekolah kami. Sebenarnya, undangan ditujukan untuk Bapak/Ibu guru/karyawan beserta keluarganya. Saya datang sendirian. Kebetulan suami ada tugas di sekolah. Si kecil ikut Ayahnya dan yang besar ada rencana bepergian ke Solo bersama teman karibnya.
Alhamdulillah, ada seorang teman yang baik hati bersedia saya barengi. Sebenarnya ada seorang teman yang menawarkan untuk bareng naik mobilnya.
Singkat cerita, acara HBH dimulai. Saya sangat bersyukur karena semua guru dan karyawan bisa hadir. Dari mereka, ada yang mengajak pasangan dan anaknya, mengajak anaknya saja, mengajak pasangannya atau sendirian seperti saya.
Ada yang berkesan dalam acara ini. Seorang teman mengajak Ibunya anak-anaknya (sebut saja Ummu Faiq). Teman saya, secara agama sudah berpisah. Akan tetapi belum dicatatkan di Pengadilan Negeri Agama.  Teman saya dan Ummu Faiq beda kota tempat tinggalnya. Namun demikian, keduanya bisa berbagi merawat anak-anaknya. Dua anak tinggal di ponpes dekat rumah teman saya, dua lainnya tinggal dekat dengan Ibunya (satu di Ponpes Purbalingga, dan  satu anak lainnya ikut Ibunya).
Sudah lama saya tidak bertemu dengan Ummu Faiq karena beliau sekarang tinggal di Banjarnegara. Ketika saya mengenal Ummu Faiq, beliau belum memakai cadar. Sekarang Ummu Faiq bercadar. Saat bersalam-salaman, saya memeluk Ummu Faiq. Saya berbisik,”masih ingat dengan saya?”
“Ibunya Faiqah ya. Masih ingat kok Bu.”
Saya bukannya sok akrab dengan teman-teman atau pasangannya. Insya Allah, saya tulus ramah dan dekat dengan orang yang menjadi teman saya
00000
Oya, nama anak sulung teman saya sama dengan nama anak sulung saya, yaitu Faiq. Kalau anak saya perempuan, sedang anak teman saya laki-laki. Saya lebih dulu mengajar di SMK daripada teman saya. Suatu saat teman saya bilang,”Bu, teman-teman sering menyebut Faiq Faiq. Kupikir menyebut nama anakku, ternyata yang dimaksud putrinya panjenengan.”
Saya tersenyum. Masih mending menyebutnya hanya Faiq. Ada lo yang menyebut Mas Faiq (karena belum pernah ketemu). Saya membetulkan,”Maaf, bukan Mas Faq tapi Mbak Faiq. Anakku cewek yo!”
Akhirnya, teman saya terkekeh sembari minta maaf.
00000 

Selasa, 19 Juni 2018

BEBERAPA USAHA UNTUK MENGURANGI POPULASI AYAM

BEBERAPA USAHA UNTUK MENGURANGI POPULASI AYAM

Saya mau bercerita tentang salah satu hewan piaraan Thole (bukan hanya satu ekor, tapi banyak ekor), yaitu ayam kampung. Kebetulan ayam kampung si Thole jumlahnya lumayan banyak.
Sebenarnya, saya menginginkan memiliki sepasang ayam kampung hanya untuk TPS (Tempat Pembuangan Sampah makanan, alias memanfaatkan sisa makanan untuk pakan ayam). Kenyataannya, ayam tersebut beranak pinak. Sayangnya, si Thole tidak bisa merawatnya.
Jadi, ketika beberapa betina bersamaan mengeram,  mereka berebut tempat. Tibalah saatnya bila menetas bersamaan, anak ayam yang jumlahnya banyak tidak bisa hidup bertahan lama. Mengapa? Karena anak-anak ayam tersebut ada yang jatuh masuk selokan, hanyut, dipatuk ayam dewasa lainnya.
Selain kewalahan merawat, saya juga kewalahan menyediakan pakan. Awalnya, memelihara ayam itu untuk TPS makanan tapi akhirnya malah saya harus membeli pakan. Ini namanya tidak efektif dan bernilai ekonomis.
Agar saya tidak terlalu banyak mengeluarkan uang untuk membeli pakan, maka populasi ayam harus dikurangi. Salah satu cara untuk mengurangi populasi ayam adalah menyembelih. Sebelum menyembelih ayam, biasanya ada adegan mengharu biru. Thole tidak rela kalau ayamnya disembelih. Tugas saya adalah membujuk.
Dulu, saya sering menyembelih ayam sendiri tapi kini tidak perlu. Saya hanya membutuhkan jasa penyembelihan ayam atau jasa pengolahan ayam hidup menjadi ingkung. Jasa penyembelihan atau pembuatan ingkung, tidak mahal. Kalau sudah matang, Thole juga mau makan.
Lebaran tahun ini, keluarga saya yang ada di Yogyakarta tidak menyediakan makanan khas lebaran, yaitu opor ayam dan sambal kerecek. Kakak saya ingin membuat masakan yang segar, yaitu asem-asem dan sop ayam. Saya membawa 2 ekor ayam, jantan dan betina yang sudah disembelih. Dua ekor ayam yang sudah disembelih, dalam keadaan mentah saya bawa ke rumah Ibu.
Lumayan, populasi ayam berkurang. Kebetulan ayam betina yang saya ambil, sedang mengeram. Saya tahu, ayam-ayam saya kalau bertelur dan mengeram selalu rebutan tempat. Biarpun sudah dibuatkan tempat satu-satu tetap saja mereka suka rebutan. Ah, andai mereka bisa membaca tulisanku pasti mereka akan menurut.
Ada sekitar 5 ekor ayam betina yang bertelur. Satu ekor yang akhirnya saya jadikan sop, 4 ekor lainnya bertelur di garasi. Telur-telur yang beberapa hari yang lalu dierami, saya ambil dan saya rebus. Alhamdulillah, masih bisa dikonsumsi. Nah, telur lainnya yang ada di garasi juga saya selamatkan. Beberapa telur saya ambil untuk dikonsumsi.
Mulai hari ini, bismillah, saya mau mengurangi populasi ayam. Sementara ini yang saya kurangi adalah ayam. Mungkin besok, saya akan mengurangi nasi yang ada di mejikom, wafer dan kue kering lebaran yang masih manis di dalam wadahnya.   

Senin, 18 Juni 2018

TIDUR BERKUALITAS

TIDUR BERKUALITAS

Saat Ramadhan kemarin, seorang kenalan kelihatan lelah dan mengantuk sambil bilang ngantuk banget. Saya bertanya padanya jam berapa mulai tidur tadi malam. Jawabnya jam sembilan. Saya hitung, jam sembilan tidur lalu bangun jam tiga pagi, berarti tidur malam selama 6 jam. Dan ternyata siang hari tidur sekitar satu jam. Total 7 jam tidurnya selama sehari.

Saya membandingkan antara tidurnya kenalan dan saya. Saya mulai tidur jam sebelas malam dan bangun sekitar jam 3 - setengah empat. Siang tidak tidur. Pulang dari sekolah beraktivitas. Rasanya tidak mengantuk.

Entah apa yang membedakan antara saya dan kenalan? Mungkin kualitas tidurnya. Saya kalau sudah tidur selalu bleksek, angler, alias nyenyak.

Kata kenalan saya, lama tidur dalam sehari minimal 8 jam. Mungkin ada benarnya. Tapi kalau terlalu lama tidur, badan saya malah loyo. Akan tetapi kalau masanya libur alias tidak mengajar, saya akan memanfaatkan siang saya dengan tidur. Kadang-kadang tidur siang selama 30 menit rasanya lama sekali.

Biasanya kalau ada target-target kecil yang harus saya selesaikan, tidur selama 4-5 jam sehari sudah cukup. Tapi kalau tidak ada beban pekerjaan yang harus segera diselesaikan, saya bisa lebih lama tidur karena mulai tidur lebih awal.

Tidur berkualitas dasarnya bukan lamanya tidur.

#kahfinoer


Waktu belum menikah, saya tidurnya bisa lama dan sangat nyenyak. Mungkin ada gempa bumi saja sampai tidak terasa.

Minggu, 17 Juni 2018

TANAMKAN PADA DIRI JIWA PERWIRA

PERWIRA

Membaca tulisan tentang masyarakat/warga yang kecewa setelah datang pada acara open house yang digelar oleh orang no xx Indonesia, rasanya kok miris.

Pasalnya mereka datang bukan hanya untuk bersilaturahmi, tapi juga mengharapkan salam tempel. Jauh-jauh mereka datang dari kampung dengan mengantre, menurut mereka "hanya mendapatkan nasi, kudapan dan air mineral". Mereka inginnya juga dapat uang minimal 20 ribu. Bahkan mereka membandingkan bila datang pada OH di rumah orang tertentu.

Wahai saudaraku.
Amatlah meruginya kamu datang jauh-jauh dengan niat mendapatkan THR berupa uang 20 ribu. Setelah ternyata tidak terpenuhi harapanmu, kamu sangat kecewa.

Kerjakan sesuatu dengan ikhlas. Dan janganlah kamu bangga dengan membawa jiwa peminta-minta. Berjiwalah perwira dan besar, serta punya rasa malu.

Orang yang memiliki jiwa perwira, selalu akan mendapatkan rezeki yang tak pernah disangka-sangka.
Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki agar kamu tidak terlalu lelah.

Wahai saudaraku, kamu datang atas kemauanmu sendiri. Tidak ada undangan khusus yang ditujukan kepadamu untuk mendatangi acara OH. Mulai sekarang perbaikilah niatmu.

Sabtu, 16 Juni 2018

MAAFKAN AKU, BAPAK

Maafkan aku, Bapak

Sebenarnya, saya ingin lebih lama tinggal di Yogyakarta. Paling tidak untuk menghabiskan waktu cuti bersama, saya bisa lebih banyak waktu untuk Ibu dan Bapak. Akan tetapi saya dan suami harus menghadiri pertemuan Trah di Karanganyar. Jadi, kami harus pulang. 

Seperti biasa, bila liburan saya terlalu lama di rumah Bapak, saya malah "diusir" disuruh pulang. Maklum, Bapak juga tahu kondisi rumah saya yang jauh dari tetangga, saya memiliki hewan piaraan yang tidak mungkin saya titipkan di rumah tetangga dalam waktu lama.

"Sudahlah, kamu segera pulang. Kapan-kapan ke sini lagi."

Saya tidak bisa menolak perintah Bapak. Akhirnya, saya pulang dan meninggalkan rumah Bapak. Maafkan aku, Bapak. Seharusnya aku bisa lebih lama dekat dengan Ibu dan Bapak. Semoga Ibu dan Bapak sehat selalu.





Rabu, 13 Juni 2018

BANJIR TAHU MENJELANG LEBARAN



Judul di atas tidaklah berlebihan dan saya tidak bohong. Hampir setiap tahun, setiap menjelang lebaran, di rumah banjir kiriman tahu dari tetangga. Apakah ini berlaku di rumah tetangga lainnya? Jawabannya adalah belum tentu.

Lebih dari sepuluh tahun terakhir, setiap menjelang lebaran, tetangga-tetangga yang memiliki usaha produksi tahu mengirim tahu putih untuk keluarga saya. itulah bentuk penghormatan mereka kepada Bapak saya (bukan ge-er atau pamer lo).

Bapak adalah orang yang sangat dihormati di sekitar rumah. Pada usia senjanya, 76 tahun, Bapak dianggap sebagai orang yang dituakan. Selain umurnya yang sudah tua, juga karena Bapak terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Bapak mengisi pengajian (atau tausyiah), mengajari membaca Alquran untuk Bapak/Ibu tetangga, menjadi Imam ketika berjemaah sholat dan kegiatan sosial lainnya.

Di sekitar rumah Bapak berdiri beberapa pabrik tahu. Dahulu waktu saya masih sekolah, kadang sangat terganggu dengan polusi udara dan suara dari pabrik tahu yang beroperasi tak mengenal waktu. Setelah anak-anak Bapak sudah tidak menempuh pendidikan lagi, polusi-polusi tersebut sudah tidak mempengaruhi kami. (Sebenarnya tetap mempengaruhi, tapi kami sudah bisa menurunkan idealisme kami untuk hidup tenang, nyaman).

Dua hari puasa terakhir atau menjelang lebaran, tetangga-tetangga yang memproduksi tahu datang memberi tahu kepada Bapak/Ibu. Oleh karena bila dikumpulkan jumlahnya banyak, kadang-kadang keluarga saya kesulitan untuk mendistribusikan. Kalau ditaruh di ember bisa mencapai 2 ember besar.

Anak-anak bertugas mendistribusikan tahu-tahu tersebut kepada kerabat-kerabat. Pokoknya harus habis. Sebab kalau tidak segera habis, kami repot untuk menghangatkan tahu agar tidak basi. Bila dimasukkan ke dalam kulkas, juga akan memenuhi kulkas lalu makanan yang lain harus dikeluarkan dari kulkas.

Alhamdulillah, bagaimanapun juga kami sangat bersyukur karena rezeki datang tanpa kita pinta. Nah, mungkin yang menjadi kendala saat-saat lebaran, tahu hanya dilihat sebelah mata. Tentu saja makanan yang lain yang lebih laris untuk diambil.

Kadang-kadang, saya mudik tidak terlalu lama. Saya ingin segera balik ke Karanganyar dengan membawa tahu. Bukan untuk saya konsumsi sendiri, tahu-tahu tersebut pada akhirnya juga akan saya bagikan ke tetangga.

Bagi orang lain mungkin hanya dibilang ah Cuma tahu. Akan tetapi bagi saya dari tahu ini filosofinya luar biasa. Tahu bisa mempererat persaudaraan. Tahu putih kalau sudah digoreng akan disantap sebagai teman ngobrol. Kalau kebetulan keluarga kecil adik saya yang “hobi banget dengan mpek-mpek Palembang” datang, tahu goreng bisa dimakan dengan cuko. Tambah nikmat dan mantap.

Meskipun banyak tetangga yang memberi tahu, tapi Bapak tidak pernah menolak dengan berkata,”maaf, saya sudah memiliki banyak tahu.” Tidak! Bapak tetap menerima pemberian tahu dari tetangga-tetangga. Rasanya, tidak berlebihan kalau saya mengatakan banjir tahu menjelang lebaran.