Senin, 24 Juli 2017

Saatnya Mempengaruhi Siswa Baru Untuk Menulis



Hari ini adalah hari pertama kali saya mengajar secara efektif. Kebetulan jam kedua sampai jam keempat saya mengajar di kelas X. kesempatan mengisi waktu secara penuh tidak saya sia-siakan.

Biasanya awal pertemuan, setelah perkenalan saya akan mengajak siswa, memprovokasi untuk menulis. Mumpung masih muda, mumpung masih bisa dipengaruhi, maka saya pengaruhi dengan hal yang positif.

Biasanya siswa memiliki akun FB. Boleh-boleh saja memiliki akun lalu menulis status di FB, tapi usahakan untuk menulis status yang bermanfaat. Untuk siswa semua jurusan, sebaiknya memiliki blog. Tujuannya adalah selain belajar ilmu pengetahuan, pelajaran sekolah, dengan menulis blog, siswa dapat menyampaikan ilmu yang sudah didapat secara luas.

Untuk jurusan TKR, bisa saja memosting tulisan atau gambar tentang dunia otomotif. Bagi yang jurusan pemesinan silakan menulis tentang las, gerinda, membubut, frais, dan lain-lain. Nah, untuk yang jurusan multimedia, bisa memosting tulisan atau gambar tentang kegiatan sehari-hari yang sudah direkam. Semua tulisan yang sudah diposting, pasti bermanfaat bagi pembacanya.

Oleh karena saya memotivasi dan mempengaruhi siswa untuk menulis, maka saya juga memberi contoh. Pengalaman menulis saya sudah saya ceritakan. Dengan demikian, saya bukan hanya menyuruh siswa untuk menulis, melainkan saya memberi contoh lebih dahulu.

Kegiatan menulis bagi siswa sangat penting. Kelak di kelas XI, setelah mengikuti atau menjalani program Pendidikan Sistem Ganda atau Praktek Kerja Lapangan, siswa dapat menyusun laporan dengan mudah.

Jadi. Menulis itu pelu untuk siswa dan guru. Setiap guru harus menulis administrasi sekolah. Administrasi ini dilengkapi dengan bahan/materi pelajaran. Kadang-kadang materi pelajaran harus kita tulis dengan cara mencari sumber selain buku pelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk meemperjelas materi yang akan disampaikan.

Dari sekian siswa, biasanya ada yang tertarik untuk menulis. Mereka tertarik untuk menuliskan pengalamannya di blog. Akan tetapi karena kurang pengetahuannya, jadi mereka ragu untuk memulai menulis.

Wahai siswa baru, menulislah mulai sekarang. Percayalah, manfaat menulis akan kamu rasakan kelak di kemudian hari. Jangan lupa tetap semangat belajar dan berkarya. Percayalah, anak SMK bisa!


Karanganyar, 24 Juli 2017

Minggu, 23 Juli 2017

Yuk Nabung, Stop Utang

Nabung dan gadai

Sejak kecil, saya suka menabung uang recehan. Saya masih ingat, ketika kelas 5 SD, saya menabung dengan cara memasukkan uang receh ke dalam tabungan yang terbuat dari tanah liat (celengan). Celengan ini ukurannya tidak terlalu besar. Pada masa itu memang sebagian anak seusia saya, kalau menabung ya uangnya dimasukkan ke dalam celengan.

Setelah serasa cukup banyak uang yang saya kumpulkan (celengan tidak pernah saya bawa, ambil, jadi celengan tetap berada di tempat), saya berniat untuk memecah celengan. Tapi apa yang terjadi sungguh mengejutkan. Celengan saya ringan bahkan tidak ada suara khas uang receh dalam tabungan. Padahal lubang untuk memasukkan uang juga tidak berubah menjadi lebih besar. Apakah thuyul telah mengambil uang saya? Olala…. Tentu saja thuyul tidak mau mengambil uang receh dengan nominal 5, 10, 25, atau 50 rupiah. Akhirnya, celengan saya balik. Bagian bawah bukan lagi tanah liat utuh, melainkan sudah ditempeli kertas tebal.

Tidak usah terlalu lama saya menemukan siapa pelaku pengambilan uang celengan tersebut. Pokoknya ada yang ngaku. Hayo, kalau ada yang berani mengaku silakan ngacung.

Waktu SMP dan SMA, saya juga sering menabung. Meskipun uang saku terbatas, saya tetap menabung. Saya suka menyimpan uang. Tujuan saya menabung adalah untuk membeli barang kesukaan saya.

Kalau sampai sekarang, di saat saya tidak imut lagi, masih suka menabung, itu karena menabung adalah gaya hidup saya. Kini saya mulai merasakan manfaat menabung. Bukan hanya uang dan emas, gabah saja juga saya tabung. Saya memang bukan tipe pemboros. Apa yang saya beli dan saya miliki, semua itu memang saya butuhkan. Saya tidak memaksakan diri membeli barang yang tidak saya butuhkan. Saya juga tidak mau membeli barang hanya untuk memenuhi gaya hidup. Kebetulan saya dan suami juga memiliki kesamaan, tidak suka belanja. Jadi kami memang sudah klop.

Saya termasuk orang yang suka membeli barang dengan bayar tunai. Kalau belum punya uang, ya tunda dulu pembeliannya. Seandainya ada kebutuhan mendesak, tapi kami belum memiliki dana yang cukup, biasanya suami meminjam uang ke koperasi (kondisi kepepet).

Tips menabung ala saya: mengumpulkan semua uang receh, menabung di awal terima gaji, menabung dalam bentuk emas (tidak mudah tergiur untuk menjual), menabung secara konsisten dan gunakan uang tabungan seperlunya.

00000

Ketika saya mau menikah, saya bertanya pada calon suami (berapa uang yang akan diberikan untuk saya dan barang-barang apa saja  yang akan dibawa saat pasok tukon) tentang sesuatu yang akan dibawa saat pasok tukon. Suami mengatakan pada saya sejumlah uang dan barang yang rencananya akan diberikan pada saya. Bukan bermaksud matre, saya bilang seandainya uangnya ditambah bisa atau tidak? Katanya, itulah uang yang dia kumpulkan selama mendapatkan gaji CPNS. Saya kompori lagi, mbok hutang koperasi gitu. Jawabannya sungguh tegas! Katanya, dia bisa hutang koperasi, tapi nanti tiap bulan sisa gaji yang diberikan pada saya setelah menikah jumlahnya lebih sedikit. Ini baru permulaan, ternyata dia tidak mau berhutang.

Yang kedua, setelah 2 tahun ikut mertua, tiba-tiba mertua menyarankan kepada suami untuk membangun rumah. Saya belum memiliki tabungan sama sekali. Tabungan saya hanya sebatas kayu, bata, dan besi. Saya usul, tidak usah membangun rumah kalau dana yang harus dipersiapkan besar. Menyewa rumah mungil perumahan tipe 21 saja. Atau membeli perumahan tipe 21 lewat KPR.

Ternyata rencana saya dan suami diketahui mertua. Bapak mertua bilang kalau kami tinggal di perumahan tipe 21, mereka tidak akan menjenguk/berkunjung ke rumah kami. Menurut saya saat itu, itu adalah suatu ancaman. Pokoknya kami harus membangun rumah sendiri.

Karena kami tidak memiliki dana sama sekali, maka kami minta bantuan Bank. Sungguh berat kehidupan kami setelah menempati rumah sendiri yang tutup jendela dan pintu belum sempurna. Ada kejadian yang sampai sekarang tidak akan saya lupakan. Suatu hari, saya benar-benar tidak memiliki uang yang cukup. Susu yang biasa diminum Faiq habis. Faiq minta dibuatkan susu. Saya menitikkan air mata sambil berkata,”Nok, hari ini minum teh dulu ya. Besok Mama belikan susunya.” Faiq mengangguk. Saya merasa sangat bersalah.

00000

Bagi saya, hutang pada bank untuk membangun rumah, adalah pengalaman yang terberat saat itu. Lambat laun, ekonomi semakin mapan. Kami bisa menutup pinjaman dari bank. Selanjutnya, saya menabung untuk menyempurnakan rumah kami. Alhamdulillah, bisa mengaci tembok, memasang keramik lantai, membuat dapur dan lain-lain.

Tahun 2008, kami harus berurusan dengan bank lagi. Kali ini benar-benar kami membutuhkan bantuan bank. Saya dan suami harus membiayai pengobatan Ibu mertua (Bapak mertua meninggal tahun 2006). Ibu divonis mengidap tumor limfa (ganas). Tentu saja biaya yang harus kami keluarkan banyak dan kami tidak memiliki sejumlah uang untuk pengobatan Ibu.

Usaha kami untuk pengobatan dan demi kesembuhan Ibu tidak kurang-kurang. Manusia berusaha, tapi Allah yang menentukan. Tahun 2009 Ibu meninggal dunia. Setelah Ibu meninggal dunia, saya dan suami ingin sesegera mungkin melunasi hutang bank. Tidak lama kemudian, setelah Allah menurunkan rezeki lewat suami, kami bisa melunasi pinjaman dari bank.

Kembali kami menabung lagi dan menabung. Suatu hari, suami mengutarakan niat untuk membeli kendaraan roda empat. Tujuannya agar kami berempat kalau mudik atau bepergian bersama tidak repot. Saya bilang tidak. “Kita belum membutuhkan kendaraan. Kalau mudik, Ayah dan kakak bisa naik sepeda motor. Mami dan thole naik bus. Kakak kan lebih suka naik motor.”

Suatu malam saya coret-coret menghitung bila hutang pada koperasi. Misalnya, kami meminjam uang 70 juta. Kami mecicil selama 5 tahun atau 60 bulan. Tiap bulan kami harus setor 2.217.000 rupiah. Jasa koperasi tiap bulan 1.050.000 rupiah.

Bagi saya mobil belum kami butuhkan dan tidak penting. Uang  1.050.000 rupiah ini, bagi saya sangat besar. Menurut saya, uang itu bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Hidup tidak terasa sempit. Kalau tidak punya hutang, mau makan rasanya enak, dan tidur juga nyenyak. Mungkin suami kecewa dengan pendapat saya dan sudah menjadi kesepakatan (terpaksa sepakat).

Beberapa bulan kemudian, suami dapat rezeki nomplok (warisan yang di luar perhitungan sama sekali), kami dapat tunjangan sertifikasi. Menabung! Itulah kesepakatan kami, dan Alhamdulillah bisa kami tabung dalam bentuk sebidang tanah. Saya sangat bersyukur, dengan tak memiliki hutang, hidup kami terasa nyaman. Kalaupun ada sedikit pinjaman koperasi, kami masih merasa ringan untuk mencicil.

Prinsip kami yaitu tiap bulan harus bisa menabung dan sebisa mungkin menghindari hutang. Saya tidak anti berhutang, saya juga tidak menghalangi bagi mereka, atau siapa saja berhutang. Toh yang akan melunasi juga yang berhutang sendiri. Hutang itu sangat memberatkan. Kata orang-orang yang tahu bidang ekonomi “berhutang itu, kita kerja, yang untung yang memberi hutang. Kita tidak menikmati jerih payah kita.” Bener juga ya.

Yang sudah telanjur berhutang, mari cepat-cepat menyelesaikan. Agar kehidupan kita tenang, nyaman, damai, tidak emosi, murah senyum, dan waktu kita tidak habis untuk membayar bunga atau jasa.

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa, kalau ada yang memiliki kejadian atau mengalami hal serupa, itu hanya kebetulan saja. Tulisan ini sarana untuk koreksi diri saya sendiri.

Karanganyar, 23 Juli 2017 

Kamis, 20 Juli 2017

Menabung Setengah Gram Emas Secara Rutin Solusi Masalah Keuangan

 
Nabung emas di pegadaian
Hari Ahad, 16 Juli 2017 IIDN Solo mengadakan Kopdar dengan agenda khusus membicarakan atau berbagi, diskusi tentang menejemen keuangan keluarga. Kopdar kali ini bertempat di rumah mbak Candra. Nah, untuk nara sumber dipilih mbak Nurul Chomaria. Kebetulan mbak Nurul pernah menerbitkan buku yang ada kaitannya dengan menejemen keuangan keluarga muslim. Jadi, pas banget rasanya.

Banyak ilmu dan pengalaman yang dibagikan dalam kopdar kali ini. Akan tetapi, saya akan mengambil salah satu di antara materi yang disampaikan, yaitu menabung. Setiap keluarga sebaiknya menyisihkan sebagian hartanya untuk ditabung. Menabung, bukan lagi karena terpaksa. Sebenarnya kita membutuhkan tabungan. Dana tabungan ini  bisa kita gunakan pada keadaan darurat.

Dari beberapa penjelasan mbak Nurul tentang menabung, saya tertarik untuk menulis menabung emas. Lebih spesifik lagi yang akan saya sampaikan adalah tabungan berupa emas dan cara menabung emas. Mengapa saya tertarik untuk menulis lagi tentang tabungan emas? Ternyata memang banyak orang yang tertarik untuk menabung emas, tetapi belum tahu apa yang harus dilakukan. Sebabnya adalah sebagian orang membayangkan menabung emas harus mengeluarkan dana yang besar. Karena ada sesi Tanya jawab dan berbagi pengalaman mentang menabung emas, maka tulisan ini merupakan rangkuman diskusi selama kopdar berlangsung.

Ada pertanyaan, bagaiamana cara menabung emas dengan dana terbatas? Ada solusi bagi mereka yang akan menabung emas tapi dananya terbatas, caranya menabunglah di pegadaian. Menabung emas di pegadaian, tidak perlu dengan dana yang banyak. Dengan minimal enam ribuan, kita sudah bisa menabung emas. Atau, dengan uang lima puluh ribu perbulan secara konsisten, kita bisa memiliki emas. Tentu saja uang lima puluh ribu per bulan tidak memberatkan kita untuk menabung. Hanya saja, kalau menabung emas di pegadaian, kita tidak serta merta langsung membawa pulang emas fisik. Seandainya kita menginginkan emas fisik, kita bisa mencetak terlebih dahulu (kita harus membayar ongkos cetak)

Kalau kita tidak mau repot menabung emas di pegadaian, tetapi dana kita terbatas, tetap saja bisa kita lakukan. Caranya kita kumpulkan sejumlah tertentu uang (menabung uang di rumah saja, soalnya kalau di bank ada biaya administrasi). Kalau uang sudah terkumpul (kita sudah tahu harga emas di pasaran), kita bisa membeli emas dengan berat seperempat gram, setengah gram, satu gram dan seterusnya. Hanya saja, kalau kita membeli emas di toko emas berupa perhiasan, akan dikenakan biaya pembuatan.

Saya sendiri memiliki tabungan emas di pegadaian (tidak secara fisik) dengan kadar 24 karat dan emas fisik (perhiasan) beberapa gram saja. Saya tertarik menabung emas karena menabung emas dalam jangka panjang justeru menguntungkan. Pengalaman orang tua yang menabung emas beberapa waktu yang lalu saya jadikan contoh.

Kembali pada pembahasan Mbak Nurul tentang menabung. Mbak Nurul memberi contoh seorang siswa yang mengumpulkan uang saku lalu dibelikan emas setengah gram. Setiap uang saku sudah terkumpul dan bisa dibelikan emas setengah gram, maka segera dibelikan emas. Dalam kurun waktu tertentu, tak terasa emas yang terkumpul jumlahnya banyak dan harganya terus meningkat. Hasilnya, tabungannya sangat berarti di saat ada kebutuhan mendesak.

Kadang-kadang kita memiliki suatu keinginan. Tapi keinginan tersebut tidak pernah terwujud karena ketidaktahuan kita atau terbatasnya pengetahuan kita. Kita memerlukan ilmu dari orang lain. Berkomunikasi dengan orang lain menambah pengetahuan dan wawasan. Dengan komunikasi, kita bisa memecahkan masalah, bisa mewujudkan mimpi, keinginan dan cita-cita kita.

Pada saat sekarang, menabung merupakan kebutuhan kita. Menabunglah mulai sekarang juga, jangan tunda-tunda lagi. Silakan pilih sendiri, mau menabung uang, barang, property, tanah,  perhiasan atau emas. Memang, sebaiknya kita memiliki tabungan emas meskipun membelinya hanya setengah gram- setengah gram.

Ternyata, topik tabungan ini sangat menarik perhatian anggota IIDN Solo. Buktinya mereka sangat antusias menyimak penjelasan Mbak Nurul dan ada Tanya jawab yang sangat seru. Bagi saya ilmu bisa dicari di mana saja dan ilmu baru menejemen keuangan keluarga ini sangat bermanfaat bagi saya. Terima kasih saya ucapkan pada mbak Nurul yang sudah meluangkan waktu mengisi acara kopdar IIDN Solo. Semoga yang panjenegan (mbak Nurul) sampaikan menjadi amal jariyah dan Insya Allah bermanfaat. 

Akhirnya, tulisan ini harus segera saya akhiri dahulu. Kalau membicarakan tabungan emas, rasanya tak ada habisnya.


Karanganyar, 20 Juli 2017

Senin, 17 Juli 2017

Nilai Mapel Pendidikan Agama Bukan Sekadar Angka-angka



Beberapa tahun yang silam, teman saya Guru Agama Islam bercerita. Selama beliau menjadi Guru dan mengajar, bila seorang siswa tidak “sangat keterlaluan” maka pantang baginya memberikan nilai enam ke bawah. Paling tidak beliau akan memberi nilai tujuh.

Teman saya percaya, seandainya siswanya tidak bisa mengerjakan soal ulangan harian, tes semester atau tes kenaikan kelas, tapi siswa tersebut bisa membaca surat Al Fatihah, surat-surat pendek, bisa shalat, dan benar bacaannya serta mengerjakan puasa. Nilai ulangan atau tes yang jeblok atau jatuh bisa ditolong dengan remidi dan amalan lainnya. Maka, tidak ada yang aneh kalau nilainya minimal tujuh.

Teman saya tidak pelit memberi nilai dalam bentuk angka. Harapannya, setiap Guru Agama Islam, juga akan melakukan hal yang sama dengan beliau. Tapi apa yang terjadi? Nilai Agama Islam pada rapor putrinya hanya enam. Teman saya tidak marah, hanya kaget saja. Mosok, Bapaknya Guru Agama Islam, anaknya rajin shalat, puasa, menangkap pelajaran juga tidak bodoh-bodoh amat, kok nilai Agama hanya enam.

Menurut saya, benar apa yang dikatakan teman saya. Mapel Agama Islam, cara menilainya bukan dari gabungan angka-angka saja. Seharusnya ada faktor X yang membuat nilai itu angkanya “enak dan manis dipandang mata”, paling tidak tujuh.

Contoh lagi, seorang anak berbudi pekerti baik, tapi karena belum fasih baca tulis, nilai akhlak di rapor hanya 55. Anak setiap zuhur dan asar di sekolah mengikuti shalat berjamaah, mengikuti doa bersama, bisa membaca dengan benar bacaan dalam shalat, bisa melakukan wudhu sebelum shalat, nilai fikihnya 50. Apakah amal dan perbuatan baik anak tadi, tidak diikutkan dalam penilaian? Apakah nilai ini hanya didapat dari ulangan harian, tes semester atau kenaikan kelas saja? Apakah tidak ada unsur lain yang bisa untuk mengangkat nilai anak tersebut menjadi lebih tinggi?

Benar juga kata kenalan Guru yang sudah senior, biji ora kulakan we kok pelit-pelit dikasih ke siswa. Bukan berarti mengabaikan proses penilaian, tapi mari kita cermati lagi. Sudah pantaskah kita memberi nilai hanya sekadar angka tanpa mempertimbangkan akhlak, amal perbuatan, kebiasaan anak-anak didik?

Saya kira memberi nilai pada rapor untuk pelajaran Agama, akan berbeda dengan memberi nilai untuk pelajaran matematika.

Pantas saja teman saya (Guru Agama Islam) kaget, mendapatkan nilai 6 pada rapor anaknya, puluhan tahun yang silam.


Karanganyar, 17 Juli 2017

Minggu, 16 Juli 2017

Ayo Menabung!

Buku Rekening

Menabung itu awalnya dipaksakan, tapi seiring berjalannya waktu tentu saja pemikiran kita akan berubah. Kini tidak lagi menabung karena terpaksa atau dipaksa, melainkan menabung adalah kebutuhan kita. Dengan menabung rutin berarti kita bisa memecahkan masalah keuangan ketika genting.

Apakah yang bisa kita tabung? Kita bisa menabung dalam bentuk uang, tanah, perhiasan atau emas.

Di manakah tempat untuk menabung (menyimpan uang dan perhiasan)? Pada umumnya, kita menabung uang di rumah atau bank. Kalau untuk menabung perhiasan, selain di rumah, tempat untuk menabung perhiasan adalah pegadaian. Ternyata, sekarang ada juga bank yang melayani untuk menabung emas.
 
Nabung uang receh


Kalau bisa, segala macam transaksi kita bebas dari riba. Oleh sebab itu, sebelum menabung di suatu tempat baik dalam rupiah (uang) maupun emas, kita harus tahu ada riba atau tidak dalam transaksi tersebut. Sebagai muslim, kita harus menjauhi riba.

Bagaimanapun, menabung memang kita perlukan dan harus kita lakukan. Kalau kita belum memiliki tabungan sama sekali, mari kita awali saat ini dengan menabung uang recehan. Insya Allah, tabungan kita bermanfaat.

Selamat menabung.

Kamis, 13 Juli 2017

Pedagang Tahu Bulat di Bus AKAP


Perjalanan pulang dari Yogyakarta sampai Solo memakan waktu lama karena macet. Sampai Solo kemalaman. Sebelum memasuki Solo, naiklah seorang laki-laki pedagang tahu bulat. Laki-laki itu menawarkan dagangannya dengan ramah. Salut aku, zaman sekarang ada anak muda menawarkan dagangan dengan ramah. "Kalau tidak dibeli, silakan dikembalikan."

Setelah membeli dua bungkus tahu bulat @2000 rp, aku minta izin memotretnya.
"Pakai kamera saya saja mbak. Punya mbak blitznya tidak hidup."
Akhirnya Faiq memotret mas pedagang tahu bulat. Melalui blutut, gambar dikirim. "Makasih ya mas. Semoga laris."

Matur nuwun. Ada senyum mengembang karena malam ini tahu bulatnya laku banyak. Ternyata rasa tahu bulatnya enak.

Karanganyar, 13 Juli 2017