Sabtu, 15 Juni 2019

Kami Datang Memenuhi Panggilan-Mu

Beberapa bulan sebelum Ramadan, saya menerima undangan sosialisasi bimbingan manasik Haji dari beberapa Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Rasanya seperti saya mau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah Haji tahun ini. Betapa waktu cepat berlalu rasanya. Penantian saya dan suami selama 8 tahun, akan segera terwujud. Semoga Allah memberikan umur panjang kepada kami, kemudahan, kelancaran, dan dapat menunaikan ibadah dengan khusuk.

Dari beberapa undangan KBIH, saya dan suami sepakat untuk menghadiri dan ikut bergabung di KBIH Zam-Zam yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Karanganyar. Saya mengikuti sosialisasi yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 15 Juni 2019, bertempat di Panti Asuhan Putri Aisyah Tegalasri Bejen, Kabupaten Karanganyar. Dalam pertemuan tersebut ada acara perpisahan/pelepasan peserta manasik 2018/2019 (berangkat ke Tanah Suci tahun 2019) dan penerimaan siswa baru manasik tahun 2019/2020.

Saya dan suami Insya Allah berangkat ke Tanah Suci tahun 2020. Hal ini saya ketahui berdasarkan pemaparan Pengurus KBIH, bahwasanya undangan sosialisasi manasik haji, diberikan kepada calon Jemaah haji tahun 2020. 

Di Panti Asuhan Putri Aisyah ini saya bertemu dengan orang-orang yang telah lama saya kenal. Mereka adalah pasangan suami-istri Bapak Slamet Kaelani dan Sri Handayani, Bapak dan Ibu Agus Sumadi, Ibu Suparti Sugiyono, dan masih banyak lagi. 

Ketika salah satu pengisi acara sambutan mengajak para peserta untuk mengucapkan kalimat Talbiyah, dada saya berdesir, kalimat itu benar-benar sampai di hati, membuat merinding badan saya. Masya Allah, begitu banyak nikmat yang telah saya dan suami terima, semoga nikmat-nikmat tersebut membuat kami lebih rendah hati.

Ya Allah, Ya Rabbi, kami datang memenuhi panggilan-Mu. Izinkan kami mulai menata hati dan selalu ikhlas menerima takdir yang telah Kau-gariskan. Kepasrahan itulah yang membuat hati ini menjadi tenang, adem, dan damai. 

Ya Allah, kami datang memenuhi panggilan-Mu, kapan saja waktunya. 

Rabu, 12 Juni 2019

MENULISLAH DENGAN NIAT BERBAGI



Sebenarnya menulis bukan hal baru bagi saya. Sejak tahun 1989 saya sudah menulis, bahkan waktu itu tulisan saya sudah berhasil tembus media. Rasanya senang bisa menulis cerita anak, tembus media, tulisan dibaca orang lain, dan saya mendapatkan honor.
Delapan tahun terakhir, saya aktif menulis. Awalnya saya menulis hanya untuk mengisi waktu luang. Lama kelamaan bukan lagi menulis untuk mengisi waktu luang, melainkan meluangkan waktu untuk menulis. Mengapa saya kembali menekuni dunia tulis-menulis? Jawabannya adalah saya ingin berbagi sesuatu melalui tulisan. Bila membagikan sesuatu yang bermanfaat melalui lisan sangat terbatas penerimanya, sedangkan menyampaikan sesuatu dengan tulisan maka penerimanya lebih luas lagi.
Mengapa harus dengan menulis padahal menulis itu sukar? Siapa bilang menulis itu sukar? Memang bagi sebagian orang, menulis membuat kening berkerut dan mendadak tangan lumpuh untuk digerakkan. Namun, bagi saya menulis itu gampang. Halah, jangan sombong begitu! Benar, lo, kalau menulis itu gampang. Menurut saya menulis itu gampang, sebab saya menulis sesuatu yang saya kuasai, dekat dengan saya dan yang ringan-ringan, seperti kejadian sehari-hari. Saya menulis sesuatu seperti menulis di buku harian. Begitu ada sesuatu yang bisa dijadikan ide tulisan, dari melihat, dari merasakan sesuatu, atau dari pengalaman orang lain, langsung dituangkan lewat tulisan. Tulisannya mengalir begitu saja, tidak takut salah.
Oleh karena saya menulis sesuatu yang saya kuasai dan dengan perasaan bahagia, maka tulisan saya jadi hidup. Gaya bahasa dalam tulisan saya mencerminkan keadaan dan karakter saya yang sesungguhnya.
Selanjutnya, tulisan lengkapnya bisa dibaca di sini: 

Jumat, 31 Mei 2019

[JON KOPLO] PUASA BEDUG



Tulisan ini dimuat di Solopos, Sabtu, 18 Mei 2019 
AH TENANE
PASA BEDUG
Oleh: Noer Ima Kaltsum
Pagi itu Lady Cempluk berangkat ke kantor dan mengantar Tom Gembus ke sekolah. Di perumahan dekat rumah ada beberapa Ibu belanja sayuran. Cempluk menyapa mereka. Genduk Nicole bertanya pada Gembus.
“Puasa nggak, Mbus?”
“Pasa Bedug, Bude Nicole,” Cempluk menjawab. Pasa bedug artinya puasa setengah hari, pada saat zuhur makan lalu puasa dilanjutkan lagi.
“Nggak papa, Gembus masih kecil, masih latihan. Kalau di rumahku semua puasa. Bahkan Jon Koplo sering tidak makan sahur juga kuat berpuasa,” kata Nicole.
“Wajar, Mas Koplo tetap kuat meskipun tidak makan sahur. Dia kan sudah besar, sudah mahasiswa.”
Siang harinya, Cempluk menjemput Gembus dari penitipan anak. Mereka tidak langsung pulang, melainkan mampir warung dulu karena azan zuhur sudah berkumandang. Sampailah di  warung, Gembus pesan makanan untuk dibawa pulang.
Cempluk dan Gembus melihat seseorang yang tak asing lagi di dalam warung tersebut dalam kondisi makan siang. Secara spontan Gembus berteriak, “Buk, Mas Koplo juga  pasa bedug seperti aku, ya. Berarti Mas Koplo tidak kuat puasa sehari penuh.”
Koplo diam, tersipu malu, mukanya merona.
“Hus, jangan keras-keras!” jawab Cempluk sambil melirik Koplo.
Setelah selesai belanja sayur dan lauk, Cempluk dan Gembus meninggalkan warung. Sebetulnya Cempluk tahu kalau Koplo tidak pernah puasa karena beberapa kali dia melihat  Koplo makan siang di warung. Ah, kasihan Nicole, dia dikibuli anaknya. (SELESAI)



Catatan: tulisan sudah disunting seperlunya

Minggu, 26 Mei 2019

NULIS BARENG IIDN x GOOD NEWS FROM INDONESIA



Pengumuman Lomba Nulis IIDN 9 tahun, Buuuuu....
Mari ramaikan!
*******************
Untuk memperingati hari ulang tahun IIDN yang ke 9, Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis bersama Good News from Indonesia menggelar Nulis Bareng.

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Bulan Mei-Juni 2019, timeline sebagai berikut:
- Pengumuman lomba : 10 Mei
- Periode Lomba : 20 Mei – 23 Juni 2019
- Pengumuman Pemenang : 1 Juli 2019

Ketentuan Kompetisi
1. Peserta adalah member Ibu-ibu Doyan Nulis (telah mengisi form keanggotaan IIDN), jika belum, silakan mengisi data anggota di sini:
https://forms.gle/nVhTzCuSrawWT2AS8
2. Peserta bergabung sebagai kawan GNFI, atau membuat akun di Good News From Indonesia, pada link berikut:
https://www.goodnewsfromindonesia.id/register
3. Peserta menulis di web Good News from Indonesia, 1 tulisan per minggu, sesuai jadwal dan tema sebagai berikut:
Minggu I, 20-26 Mei 2019, tema: Aku dan menulis
Minggu II, 27 Mei-2 Juni, tema: Perempuan penulis dan komunitas penulis
3 Juni – 9 Juni Break Lebaran
Minggu III, 10-16 Juni, tema: Perempuan penulis dan hoaks
Minggu IV, 17-23 Juni, tema:Perempuan penulis dan Indonesia
4. Penulisan dengan bahasa Indonesia yang baik, santun serta tidak mengandung unsur SARA. Dipost paling lambat pada hari minggu pukul 20.00, setiap minggunya.
5. Link postingan setiap minggunya di-share pada akun media sosial masing-masing dengan menyertakan tagar #9TahunIIDN#NulisBarengIIDNxGNFI dan di akhir periode kompetisi peserta mendaftarkan diri melalui link ini: https://forms.gle/UrHg2uMG1d2ngp88A
Hadiah
Juara I: Uang Tunai 500K + Merchandise
Juara II: Uang Tunai 300K + Merchandise
Juara III: Uang Tunai 200K + Merchandise
Keterangan:
Tulisan bebas dalam berbagai bentuk.
Tak harus non-fiksi. Bisa fiksi dan bentuk lainnya. Silakan menyesuaikan dan mengolah kreatif sesuai tema.

Sumber: IIDN Interaktif

Buku Antologi Hijrah Journey Ibu-Ibu Doyan Nulis




Tanggal 29 Juli 2018 adalah waktu yang sangat tepat. Aku dipaksa hijrah, meninggalkan semua yang indah-indah tapi semu.

"Bapak tidak kroscek terlebih dahulu. Bapak hanya langsung menerima mentah-mentah laporannya. Semua itu fitnah. Semua rekayasa yang sudah 3 tahun dipersiapkannya! Silakan Bapak kunjungan ke sekolah. Apa yang terjadi di sekolah selama kepemimpinannya?" (By Noer Ima Kaltsum)

Hijr
ah itu berat
Hijrah itu perlu pengorbanan

Segera terbit buku Antologi Hijrah Journey, kumpulan kisah nyata Ibu Ibu Doyan Nulis.

#antologihijrahiidnxnajmu

Selasa, 21 Mei 2019

7 Harapan Selama Ramadan 1440 H/2019 M



Ramadan 2019 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bila tahun sebelumnya aku disibukkan mengajar di sekolah, membimbing dua anak beribadah puasa di rumah, tapi tahun ini tidak lagi. Sudah hampir satu tahun aku tidak lagi mengajar di sekolah. Tiga bulan terakhir aku hanya beberapa hari mengajar privat di bimbingan belajar. Waktu luangku banyak. Aku bisa memperbanyak melakukan ibadah dan kegiatan positif lainnya baik di rumah maupun di luar. Kebetulan anak pertamaku kuliah di luar kota sehingga sekarang aku hanya fokus membersamai si kecil dalam beraktivitas termasuk latihan berpuasa. 
Selama bergabung mengajar di bimbingan belajar, banyak hikmah yang aku dapatkan. Di bimbingan belajar ini tiap hari Jumat sebagian tentor mengikuti kegiatan Liqo dan tahsin. Sebagian lagi mengikuti Liqo dan tahsin pada hari yang lain. Liqo merupakan kegiatan berupa tilawah quran, tausyiah, penyampaian berita terkini dan sharing ilmu agama. Kegiatan tahsin di sini merupakan kegiatan belajar membaca quran dengan metode Ummi.
Beberapa minggu sebelum Ramadan, kami para tentor selalu diingatkan oleh guru yang mengisi kegiatan Liqo untuk melunasi utang puasa di bulan Ramadan tahun lalu. Selain itu, kami juga diberi motivasi agar Ramadan tahun 2019 lebih baik dari Ramadan sebelumnya dengan cara memperbanyak sedekah, membaca quran, maupun melakukan ibadah lainnya.
Bagiku waktu luang yang lebih banyak ini bisa untuk mempertebal iman. Banyak hal yang bisa aku lakukan di rumah dan bernilai pahala saat bulan Ramadan. Selama bulan Ramadan 2019 ini, aku berharap bisa lebih baik. Ada beberapa hal yang kuharapkan Ramadan 2019 ini, di antaranya adalah:
1.      Allah memberikan kesehatan bagi keluarga
Ramadan 2019 ini pada siang hari terasa terik dan sore berpotensi hujan. Hari pertama setelah berbuka puasa, hujan cukup deras mengguyur di sekitar kampungku. Cuaca yang tak menentu ini bisa menurunkan stamina selama berpuasa, maka aku mohon pada Allah untuk memberikan kesehatan bagi keluargaku selama menjalankan ibadah puasa. Sore tadi putriku yang tinggal di luar kota mengabarkan kalau baru mengalami batuk dan pilek. Semoga tetap lancar puasanya.

2.      Allah menitipkan rezeki yang lebih berkah
Semoga Allah menitipkan rezeki yang cukup dan lebih berkah selama Ramadan 2019 ini. Rezeki yang bisa kami keluarkan kembali sesuai dengan yang kami alokasikan. Aku juga tidak akan menahan-nahan rezeki yang memang merupakan hak orang lain.

3.      Mudah melakukan ibadah puasa
Harapanku, aku sekeluarga  bisa melakukan ibadah puasa dengan baik dan tidak ada kendala yang berarti, bisa makan sahur, siang hari bisa berhasil melawan godaan, seperti mengendalikan hawa nafsu, marah, emosi dan hal tak penting lainnya. Malam hari bisa berbuka meski dengan menu ala kadarnya dan tidak berlebihan.

4.      Ringan bersedekah
Aku berharap selama Ramadan 2019 ini bisa bersedekah berupa materi dan non materi. Sekali tempo bisa memberikan takjil untuk berbuka puasa bagi anak-anak TPA di masjid terdekat, memberikan buka puasa bagi kenalan, tetangga atau siapa saja, memberikan bingkisan kepada mereka yang kurang mampu.
Pada bulan Ramadan ini, aku juga ingin tetap bisa menyampaikan ilmu pengetahuan yakni pelajaran dan sedikit ilmu agama yang telah kuperoleh. Selain itu, sebagai penulis aku juga tetap bisa menyampaikan sesuatu yang bermanfaat meski hanya sedikit dengan menulis di media sosial. Yang tidak kalah penting adalah selalu berbuat baik pada orang lain.

5.      Ringan bertilawah quran
Kini waktuku di rumah banyak. Aku bisa setiap saat membaca quran. Targetku adalah sehari satu juz dan bisa khatam quran selama sebulan. Bila tidak bisa semalam membaca satu juz, maka kuusahakan untuk membaca beberapa halaman setelah selesai salat wajib.  Selain membaca quran, semoga bisa menambah hafalan surat-surat pada juz 30.

6.      Salat tarawih dan salat malam terjaga
Salat tarawih adalah salat sunah yang dikerjakan pada malam hari saat bulan Ramadan. Seperti tahun sebelumnya, aku juga melaksanakan salat tarawih secara rutin, hanya saja harapanku kali ini adalah surat yang kubaca lebih banyak lagi karena hafalan suratku semakin banyak. Bila bangun pada malam hari, aku berharap bisa menjalankan salat tahajud.

7.      Melakukan ibadah dengan konsisten dan istikamah
Menjadi konsistensi dan tetap istikamah dalam menjalankan ibadah ternyata tidak gampang. Namun, semua itu tetap bisa dilakukan asal aku memiliki niat yang kuat. Yang penting aku melakukan semua itu tidak hanya bersemangat di depan dan bosan setelah itu. Untuk itu aku akan melakukan rutinitas itu sedikit demi sedikit dan mengerjakan dengan ringan tanpa beban agar terjaga ibadah yang telah aku lakukan.

Aku berharap bisa melakukan ibadah selama Ramadan 2019 dengan baik dengan istikamah. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kami sekeluarga.

Sumber bacaan: www.kompasiana.com/noerimakaltsum

Jumat, 17 Mei 2019

Mengapa Kelewat Sahur Terlalu Sering Bisa Berbahaya?




Pernahkah Anda terlambat bangun dan azan Subuh berkumandang? Mungkin seharian kemarin kelelahan dan semalam masih lembur jadi tidur sangat nyenyak. Bahkan mungkin suara musik khas membangunkan orang-orang untuk sahur sama sekali tidak terdengar.

Ada sebagian orang lebih rela melewatkan waktu untuk sahur demi mendapatkan waktu beristirahat karena kelelahan. Sebaiknya jangan dibiasakan untuk tidak sahur. Ada sebagian orang sebelum tidur ketika waktu telah lebih dari pukul 24.00, makan terlebih dahulu. Tujuannya agar saat terlambat bangun telah memiliki cadangan sumber energi. Yang penting ketika tiba waktunya untuk makan, Anda mengkonsumsi makanan yang bergizi cukup mengandung karbohidrat, lemak, protein, dan mineral.

Jangan lupa minumlah air secukupnya agar saat siang hari, apalagi musim panas seperti sekarang ini, Anda tidak mengalami dehidrasi, lemas dan tetap bisa beraktivitas dengan baik. Anda juga bisa berkonsentrasi dalam melakukan aktivitas meskipun sedang berpuasa. Daya tahan tubuh juga tidak terganggu bila sahur pada pagi hari.

Pada dasarnya karbohidrat, lemak, dan protein ini akan dipecah-pecah. Bila konsumsi korbohidrat dikurangi, maka lemaklah yang akan dipecah-pecah. Nah, bila tidak sahur, tidak ada makanan yang masuk, maka selain lemak, protein juga  ikut pecah.

Agar Anda tidak melewatkan sahur karena terlambat bangun, Anda harus bisa mengatur waktu untuk bekerja, beribadah, dan beristirahat. Bila seharian Anda bekerja, maka luangkan waktu untuk tidur pada siang hari, mungkin hanya sekadar memejamkan mata dalam posisi duduk. Lebih baik bila Anda bisa tidur dengan berbaring meskipun hanya 15-30 menit. Istirahat yang sebentar ini mampu mengembalikan tenaga dan Anda bisa kembali berkonsentrasi dalam melakukan pekerjaan.