Senin, 21 Agustus 2017

WAKTU YANG TEPAT MEMANEN MANGGA

Saya bersyukur tinggal di desa dengan lahan yang cukup luas. Dulu ketika masih tinggal di rumah orang tua, belum pernah memiliki pohon tahunan (sampai sekarang, karena lahannya sempit). Ada beberapa pohon dengan buah musiman. Ya, sejak tahun 2002, kami tinggal di rumah sendiri di desa. Sejak itulah kami menanam pohon tahunan, hasilnya kami nikmati beberapa tahun belakang ini.
Saat ini saya dan keluarga sangat bersyukur karena pohon mangga yang tumbuh di sekitar rumah sudah banyak yang tua. Perkiraan saya, pasti sebentar lagi buah mangganya masak/matang.
Kebetulan, pohon mangga golek di belakang rumah buahnya cukup banyak. Sore hari, saya bilang pada suami untuk memanen buah mangga yang sudah tua. Kami memilih memanen pada sore hari. Beberapa alasan yang saya anggap agak masuk akal berkaitan waktu yang tepat untuk panen adalah:
1.    Pada sore hari, kami bisa lebih santai, tidak tergesa-gesa atau buru-buru
2.    Pada sore hari, udara sejuk atau tidak panas
3.    Pada sore hari, kami sudah berada di rumah setelah seharian mengajar
4.    Pada sore hari, setelah selesai memanen mangga, kami bisa menikmati suasana desa di pekarangan belakang rumah.
5.    Hasil panenan bisa dibawa ke sekolah pada keesokan harinya

Kalau ada yang berminat buah mangga, silakan secepatnya datang ke rumah saya. Kalaupun kehabisan buah mangga karena kedahuluan orang, maka masih ada buah sukun yang siap untuk masuk ke dalam penggorengan.

Sabtu, 19 Agustus 2017

PAGAR BAMBU RUMAH KAMI

Tahun 2002 yang lalu, ketika saya dan suami menempati rumah baru kami, rumah belum sempurna selesai. Jendela masih ditutup dengan kayu bekas mengecor. Pintu ditutup papan ala kadarnya. Intinya, rumah belum rapat benar. Ruang yang diperkeras lantainya baru satu kamar, yang kami tempati untuk tidur.
Samping rumah adalah kebun tebu. Ada batas antara tanah kami dengan tanah tetangga, yaitu pagar bambu. Ya, hanya bambu yang memisahkan antara pekarangan kami dengan tanah tetangga. Meskipun hanya dengan bambu tapi jelas ada batasnya.
Rumah kami berada di tengah sawah dan kebun tebu. Kami belum memiliki tetangga seperti sekarang. Walaupun sekarang memiliki tetangga (jaraknya agak jauh), tetap saja seperti tak memiliki tetangga. Oleh sebab itu pagar mangkok belum memberikan rasa aman. Kami tetap membutuhkan pagar bambu, pagar besi atau perpaduan antara pagar tembok dan besi.
Bila ada pagar, paling tidak orang asing tidak bisa leluasa keluar masuk halaman rumah. Lebih-lebih, orang asing tidak leluasa keluar masuk teras dan garasi kami. Mengapa demikian? Kalau rumah kami berpagar, paling tidak tamu akan berusaha membuka pintu lebih dahulu. Apalagi tamu tak diundang yang suka mengintai rumah kosong, tidak mudah untuk masuk halaman.
Pagar rumah juga memberikan rasa nyaman dan aman buat kami yang memiliki anak kecil. Hanya pagar bambu yang mampu kami pasang. Kami belum mampu untuk memasang pagar besi secara permanen. Namun demikian, kami berharap rumah kami bisa lebih aman daripada bila tidak berpagar. Semoga ada rezeki berlebih bisa untuk memasang pagar permanen.
Kalau kami memiliki tetangga yang berdekatan dengan rumah kami, maka pagar mangkok lebih aman daripada pagar tembok. Saya dan suami bersyukur, meskipun jauh dari tetangga, tetapi setiap hari berusaha untuk mendekat pada tetangga. Upaya kami agar dekat dengan tetangga adalah dengan menyapa mereka dan bersikap ramah.
Pagar bambu yang kami pasang di garasi juga memiliki fungsi agar ayam tidak leluasa masuk ke dalam garasi dan buang kotoran di dalam garasi. Saya bercita-cita untuk memasang pagar permanen agar si kecil tetap aman meski berada di luar rumah (berada di halaman). (Kahfi Noer)

Karanganyar, 19 Agustus 2017

Senin, 14 Agustus 2017

BAWANG PUTIH PENURUN KOLESTEROL

Bawang putih atau Allium Sativum L merupakan tumbuhan berumbi lapis atau siung bersusun. Setiap umbinya terdiri sejumlah anak bawang, setiap siungnya terbungkus kulit tipis yang berwarna putih. Bawang putih berkembang biak pada ketinggian 200-250 meter di atas permukaan tanah.
Tanaman bawang putih tumbuh secara berumpun dan berdiri tegak sampai ketinggian 30-75 cm, berbatang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun.  Helaian daunnya mirip pita, berbentuk pipih dan memanjang. Akar bawang putih terdiri serabut kecil berjumlah banyak.
Begitu akrabnya, sehingga tiap daerah di Indonesia mempunyai sebutan sendiri-sendiri bawang putih. Misalnya, bawang (Jawa), bawang bodas (Sunda), bhabang pote (Madura), kasuna (Bali), bawang handak (Lampung), lasuna pute (Bugis), bawa bodudo (Ternate), dan kalfeo foleu (Timor).
Peneliti Kimia Farmasi dari Universitas Negeri Yogyakarta Prof Dr Nurfina Aznam SU Apt mengatakan bawang putih yang dikonsumsi secara rutin dalam jangka waktu tertentu dapat membantu menurunkan kadar kolesterol. Selain itu, dapat pula untuk membantu mengurangi hipertensi.
Kandungan kimia dari umbi bawang putih antara lain : protein, lemak, hidrat arang, vitamin B1, vitamin C, kalori, fosfor, kalsium, besi dan air. Ada pula zat aktif allicin, allin, enzim alinase, germanium, satizine, sinistrine, selenium, scirdinin, methylallyl trisulfide, antitoksin, dan allithiamine.
Beberapa khasiat dan penyakit yang dapat disembuhkan dengan bawang putih serta cara penggunaannya, antara lain :
1.      Hipertensi.
Bahan 3 siung bawang putih ditumbuk halus dan diperas dengan air secukupnya lalu disaring. Air ramuan diminum secara teratur setiap hari, pagi dan sore. Atau 2 bawang putih dipanggang dengan api, lalu dimakan setiap hari selama 7 hari.

2.      Sakit kepala.
Ambil umbi bawang putih secukupnya dan dicuci bersih. Umbi bawang putih ditumbuk sampai halus, kemudian ramuan tumbukan untuk kompres pada dahi. Lakukan rutin sampai sembuh.

3.      Luka memar karena tikaman atau pukulan.
Sediakan umbi bawang putih secukupnya dan 1 sendok madu.  Umbi bawang putih ditumbuk sampai halus, kemudian diberi 1 sendok madu dan dicamput sampai merata. Cara menggunakannya, ramuan dioleskan pada bagian yang luka.

4.      Luka terkena benda tajam berkarat.
Bahan umbi bawang putih dan minyak kelapa secukupnya. Umbi bawang putih dibakar, kemudian dicelupkan ke dalam minyak kelapa, lalu ditumbuk halus. Ramuan dioleskan pada bagian yang luka.

5.      Mempercepat matangnya bengkak.
Ambil umbi bawang putih secukupnya dan dicuci bersih. Umbi bawang putih dipanasi dengan minyak, kemudian ditumbuk sampai halus. Ramuan ditempelkan pada bagian yang bengkak.

6.      Mengeluarkan serpihan kayu, duri/tlusuben.
Ambil umbi bawang putih secukupnya dan dicuci bersih. Tumbuk sampai halus, ramuan ditempelkan pada bagian yang kemasukan serpihan kayu atau duri.

7.      Sengatan serangga.
Bahan umbi bawang putih, sendawa dan garam secukupnya. Umbi bawang putih ditumbuk sampai halus kemudian dicampur dengan bahan lainnya sampai rata. Ramuan dioleskan pada bagian yang disengat lebah.

8.      Mengusir cacing kremi dan cacing perut.
Ambil umbi bawang putih secukupnya, dikupas  dan dicuci bersih dengan air yang mengalir. Bawang putih dapat dimakan langsung, lakukan secara teratur.

9.      Sulit tidur/insomnia.
Ambil umbi bawang putih secukupnya, dikupas  dan dicuci bersih. Bawang putih dimakan langsung sebelum tidur, lakukan sampai sembuh.


(Agus Suwarto, Minggu wage 11 Maret 2012, Hal. 19. Kedaulatan rakyat)

Minggu, 13 Agustus 2017

Bawang Merah Turunkan Kolesterol

Bawang merah bernama latin Allium cepa L. Tanaman ini merupakan salah satu bumbu dapur yang banyak digunakan dalam berbagai masakan. Biasanya dimasukkan ke dalam sayur yang diolah berkuah atau tumis. Sering juga dipotong tipis-tipis, digoreng kering untuk ditaburkan pada masakan sebagai penyedap.
Peneliti Kimia Farmasi Universitas Negeri Yogyakarta Prof Dr Nurfina Aznam SU Apt mengatakan, selain sebagai bumbu, bawang merah mempunyai banyak fungsi dalam pengobatan tradisional. Contohnya bisa menurunkan panas dan mengobati masuk angin pada anak.
Penelitian menyebutkan, bawang merah atau brambang bisa mengurangi resiko kolesterol. Secara ilmiah kandungan sulfur dalam bawang merah yang dikonsumsi secara teraturdapat membantu menurunkan kolesterol. Sedangkan kandungan flavon-glikosida berfungsi sebagai antiradang dan pembunuh bakteri.
Bawang merah juga mengandung saponin yang berkhasiat mengencerkan dahak. Uji medis menemukan kandungan pelbagai vitamin, termasuk vitamin B1 (thiamine), B2 (riboflavin) dan C (ascorbic acid). Umbi lapisnya juga mengandung protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin B1 dan C.
Khasiat dan penyakit yang disa disembuhkan dengan bawang merah antara lain :
1.      Perut kembung
Ambil umbi bawang merah segar, kupas kulitnya dan dipukul sampai hancur. Serpihan umbi bawang merah dibalurkan ke perut bayi atau anak yang kembung karena mau muntah. Bisa juga ditambahkan minyak kayu putih sebagai penghangat.

2.      Muntah-muntah
Bisa diatasi seperti menghadapi perut kembung. Atau makan bawang mentah-mentah juga berkhasiat mengatasi perut mual dan muntah-muntah.

3.      Turunkan kolesterol
Ambil bawang merah yang masih segar secukupnya. Lalu dikupas kulitnya agar bersih. Iris tipis-tipis, kemudian digoreng dalam minyak sayur. Bawang goreng ini digunakan sebagai bumbu masakan. Dan bagi yang menyukai bawang mentah, cukup bagus jika dimakan untuk pelengkap saat makan sate.

4.      Masuk angin
Ambil umbi bawang merah segar secukupnya, dikupas kulitnya dan digeprek sampai hancur. Balurkan ke perut yang sakit masuk angin, kalau perlu tambahkan minyak kayu putih. Lakukan pagi dan sore.

5.      Batuk
Sediakan umbi bawang merah 4 gram, daun poko 4 gram, daun sembung 3 gram, daun pegagan 4 gram, buah adas 2 gram, air secukupnya. Bahan-bahan tadi dipipis, dibuat pil atau direbus. Diminum sehari 1 kali sehari ¼ cangkir. Dalam bentuk pil, diminum 3 kali sehari 9 pil.

6.      Meredakan demam anak
Ambil umbi bawang merah secukupnya, dan potong tipis-tipis, minyak kelapa secukupnya, minyak kayu putih secukupnya. Semua bahan diremas-remas kemudian minyak perasan dioleskan pada perut yang kembung, ke seluruh badan, kaki dan tangan anak.
(KR, Agus Suwarto, Minggu pahing, 9 Desember 2012)

Sabtu, 12 Agustus 2017

Berbisnis Itu Action Sekarang Juga

Bisnis Wader Ngrowo
Dok. Noer's Dynasty

Kalau mau menjadi penulis, langkah yang paling tepat adalah segera menulis dan tidak menunda-nunda waktu. Lakukan sekarang juga. Tulislah yang kita kuasai saja. Jangan sampai kita menulis hal-hal yang tidak kita kuasai. Atau tulis saja sesuatu yang menyenangkan. Tujuannya adalah agar kita gampang untuk menuliskannya.
Kalau kita tidak segera menulis (praktek menulis), atau kita asyik membaca teori menulis yang baik, kita malah akan bingung mau menulis apa. Kita akan meragukan tulisan kita, padahal belum juga memulai menulis. Yuk, sekarang mulai menulis!
Sama seperti halnya menulis, berbisnis itu juga mulai sekarang harus dicoba. Tidak usah banyak Tanya, bagaimana dengan ini dan itu? Kalau sudah ada gambaran akan berbisnis apa, maka segera wujudkan. Jangan menunda-nunda dan banyak alasan/pertimbangan sehingga gagal untuk memulai berbisnis. Kalau kita masih buta sama sekali tentang bisnis, maka jalan yang terbaik adalah bertanya pada ahlinya. Yang dimaksud ahli di sini adalah mereka yang sudah berpengalaman.
Yang penting kita memiliki keyakinan dan  percaya bahwa semua yang kita lakukan dengan niat baik akan berjalan dengan baik. Kalau kita sudah bertanya pada orang yang berpengalaman tetapi tetap masih ragu untuk memulai, ya kapan berhasilnya? Memulai saja belum, apalagi mau melihat hasilnya.
Kemarin sore, saya berkunjung ke rumah teman lama. Kebetulan tetangga depan rumah teman saya adalah pedagang bakso bakar. Kata teman saya, sore itu baru pertama kali buka. Dalam waktu sekejab, bakso yang sudah ditusuk tersebut ludes. Pembelinya adalah para tetangga. Belum sempat keliling menjajakan dagangannya, dagangan sudah habis.
Memang, bakso bakar tetangga teman saya rasanya belum memenuhi standar. Maksud saya tidak seperti bakso bakar pada umumnya yang pernah saya coba. Maklum saja, ini kan baru pertama kali jualan. Keberaniannya mencoba berbisnis inilah yang patut kita acungi jempol. Tidak semua orang berani mencoba berbisnis karena takut gagal.
Saya juga pernah berani mencoba membuat telur asin dan memasarkannya bersama suami. Ada respon positif dari pelanggan. Usaha tersebut saya hentikan karena saat itu saya harus fokus ke bidang pertanian. Di bidang pertanian, saya konsentrasi pada mentimun, kangkung, kacang panjang dan Lombok.
Oleh karena kesibukan mengurus 2 anak dan masih tetap mengajar, saya tidak lagi meneruskan usaha di bidang pertanian. Sebenarnya usaha pertanian ini sangat menguntungkan. Bahkan untuk lahan sempit, usaha ini bisa disiasati dengan system hidroponik dan menanam sayuran dalam pot. Saya berani mengatakan ini karena pernah mencoba menanam sayuran dalam pot. Oleh karena tanamannya baik, oleh tetangga tanaman dalam pot tersebut dibeli.
Apakah saya tidak takut gagal? Dalam berbisnis, kegagalan itu sudah satu paket dengan keberhasilan. Berani berbisnis, berani berhasil dan berani menaggung resiko kegagalan.
Cerita berbisnis bagi saya tidak afdol kalau tidak menyebut nama adik saya, Aufi. Aufi dan suaminya, sebenarnya sudah beberapa kali mencoba berbisnis dan menguntungkan. Memang dalam perjalanan usahanya ada kendala sehingga harus beralih ke usaha lain.
Aufi, salah satu adik memiliki bakat berdagang. Setahu saya, apa yang dihasilkan dari usahanya dan dijual, selalu laku. Aufi termasuk orang yang pantang menyerah. Apakah usahanya sangat menggiurkan keuntungannya? Bisa saya katakana sebagian besar menggiurkan, tapi tidak semuanya.
Contoh yang tidak menggiurkan adalah telur asin. Aufi mengambil telur asin dari temannya. Setiap butir telur hanya untung dua ratus rupiah. Akan tetapi Aufi tetap tekun. Toh, dia tidak perlu ke mana-mana. Temannya datang membawakan telur asin ke kantornya saat jam istirahat. Setelah temannya pergi, pelanggan yang nota bene temannya sendiri di kantor akan mengambil telur asin pesanannya. Lumayan, tidak usah ke mana-mana, rezeki datang dengan sendirinya.
Belum lama ini kakaknya Aufi, adik saya yang lain, namanya Lely mendapat oleh-oleh khas Semarang. Wader Ngrowo, krispi, renyah dan mecing sekali. Lagi-lagi Aufi tertarik untuk menawarkan ke teman-teman kantor. Hasilnya luar biasa. Satu bungkus Wader Ngrowo kemasan 100 gram, keuntungannya lumayan menjanjikan. Ternyata, laris manis.
Bisa saja Aufi memesan/kulakan sendiri via telepon. Akan tetapi, Aufi memilih menjualkan dagangan milik kakaknya. Lo, kok nggak cari barang sendiri. Kan tinggal pesan, barang datang, lalu dijual, untungnya kan lebih banyak. .
Bagi Aufi, rezeki sudah ada yang mengatur. Bagi-bagi rezeki dengan saudara, tidak ada salahnya. Bukan hanya Aufi, saya juga menjualkan Wader Ngrowo tersebut. Hanya saja, saya tidak menekuni usaha jualan/bisnis seperti Aufi. Tetap saja saya konsentrasi ke nulis, bukan ke jualan. Ternyata kami memang beda dan memang unik.
Yang penting berani mencoba. Kalau masih banyak pertimbangan, belum juga mencoba, kapan berhasilnya? Berbisnis itu perlu action, bukan sekadar teori seperti di buku yang dibaca/tertulis rapi. Selamat memulai berbisnis, Action Now!

Karanganyar, 12 Agustus 2017

Minggu, 06 Agustus 2017

Aku Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman


Ternyata selama ini aku keliru
Aku hanya ingin berada di zona yang nyaman agar aman
Setelah bergabung mengikuti workshop siang tadi aku jadi harus berani
Berani keluar dari zona nyaman agar karyaku berkembang
Tidak perlu ada rasa takut untuk menuliskan sesuatu
Yang dulu aku rasakan sebagai sesuatu yang “bukan aku banget”
Itulah idealismeku
Kalau aku ingin berhasil maka aku harus mau dan mampu menjadi “bukan aku”
Idealisme yang dulu aku pegang teguh
Kini harus aku sesuaikan dengan standar yang berlaku umum mengikuti pasar
Di situlah letak kemerdekaanku


Karanganyar, 6 Agustus 2017

Sabtu, 29 Juli 2017

Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak Membaca

Membaca Alam


Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak kelas I membaca dan menulis! Karena membaca dan menulis baru boleh diajarkan pada kelas I SD, bukan di TK. Bahkan di TK, anak-anak tidak boleh diajari calistung (baca, tulis, hitung). Jadi, kewajiban Bapak Ibu guru kelas I di sekolah adalah mengajar baca tulis. Itu saja yang kata, kalimat dan angka sederhana, belum yang rumit atau kompleks.

Tulisan sederhana ini sengaja saya buat, karena saya membaca banyak status teman-teman FB yang menyayangkan “tragedy anak kelas I dikeluarkan karena belum bisa membaca”. Rasa penasaran itu akhirnya terobati dengan membuka sebuah link. Akhirnya, saya jadi pingin nulis tentang tulisan ini.

Anak saya yang kedua, sekarang duduk di kelas I SD. Alhamdulillah, dia sudah bisa membaca dan menulis. Apakah ketika di TK sudah diajari membaca dan menulis? O, tidak. Semua berjalan alami, seperti air mengalir. Wah, hebat ya? Enggak juga. Lo, mengapa nggak mau dikatakan hebat? Karena ada alasan yang harus saya tuliskan.

Tahun lalu, anak saya sudah SD di sekolah swasta. Karena saya memiliki keyakinan di sekolah tersebut mengutamakan pendidikan agama, maka saya tidak khawatir. Waktu itu saya berpikir, yang penting bisa hafalan surat pendek, bisa membaca doa-doa, bisa menghafal hadits, perilakunya baik, bisa berwudhu, shalat dan lain-lain. Di rumah, saya ajari membaca dan menulis. Memang si kecil bisa membaca dengan terbata-bata, menulis juga belum begitu bisa. Jangan dibayangkan menulis satu kalimat. Menulis kata-kata saja kebalik-balik. Hasilnya, rapor nilainya sebagian besar merah.

Pada semester I karena nilai rapor yang tidak menggembirakan, saya usul pada wali kelasnya supaya anak saya diberi pelajaran tambahan (sekadar 15 menit saat akan istirahat tidur siang). Oleh karena sekolah fullday 5 hari sekolah, anak saya kalau sudah sampai rumah kelihatan capek, maka tidak mau belajar. Saya juga tidak mungkin membebani les membaca dan menulis sepulang sekolah. Sayangnya, wali kelas belum sependapat dengan saya. (Sebenarnya, ceritanya sangat panjang, tapi saya pangkas saja).

Kalau di rumah, anak saya mau membaca dan mengerjakan soal dengan bimbingan saya. Menjawab pertanyaan juga bisa, kalau saya tuntun. Anak saya memang sukar untuk focus, tapi dengan kesabaran saya ternyata dia bisa konsentrasi juga.

Hanya saja, saya heran, mengapa buku tulis anak saya tidak banyak tulisan? (saya sempat bertanya pada wali kelasnya, dan jawabannya tidak memuaskan saya). Akhirnya, sebelum penerimaan rapor, saya sudah diberi tahu terlebih dahulu dari sekolah. Sungguh, saya tidak menduga sama sekali kalau anak saya harus tinggal kelas.  Karena keadaan tidak bisa diubah (misalnya naik bersyarat), kalau sama-sama masih di kelas satu, maka pilihan saya, saya mendaftarkan anak saya kelas satu di sekolah lainnya.

Awalnya saya khawatir, anak saya tidak bisa konsentrasi. Ternyata saya salah! Setiap pulang sekolah, anak saya bilang ada PR. Saya pikir PR yang berat. Ternyata tidak. PR yang dimaksud hanya mengulang menulis. Contoh: nama lengkap : ……., nama panggilan: …… Hari berikutnya, saya lihat bukunya. Anak saya menulis tentang peralatan mandi. PR :  keramas memakai …., mandi memakai…., gosok gigi memakai …. Menulis angka dan membuat gambar benda sebanyak angka yang ditentukan. Karena merasa bisa, anak saya kelihatan menikmati proses pembelajaran. Anak saya juga bercerita kalau diajari menulis dan membaca. Dan seterusnya, materi pelajaran dan PR gampang. .

Ternyata, di sekolah sebelumnya, anak dianggap bisa membaca dan menulis. Jadi tidak ada pelajaran membaca dan menulis. Tapi setelah “hal terjadi pada anak saya”, sekolah lama sekarang ada pelajaran baca tulis.

Kembali ke tugas Bapak Ibu guru kelas I SD. Pelajaran dasar (Sepertinya) di kelas satu adalah pengenalan huruf dan angka. Pengenalan huruf dan angka yang diulang-ulang, rasanya memudahkan anak untuk menangkapnya dan menuliskannya. Bukankah zaman dulu, pelajaran Bahasa Indonesia “ini budi” yang fenomenal, kata-kata dan hurufnya hanya diulang-ulang? Dan, anak-anak yang dulu belajar “ini budi” juga pandai-pandai. Ada yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, insinyur dan lain-lain.

Setiap hari, saya menyempatkan diri/meluangkan waktu untuk mendampingi di kecil belajar menulis, membaca dan berhitung. Saya membuka-buka buku pelajarannya. Kebetulan sekarang memakai kurikulum 13. Untuk saat ini materi pelajarannya adalah Tema I. Tema I (Diriku) pada beberapa halaman depan berisi perkenalan. Tokohnya Siti, Lani, Dayu, Edo, Udin, Beni dan lain-lain. Si kecil sampai hafal tokoh-tokohnya. Menurut saya, materinya juga tidak berat. Kalimat-kalimat yang ada, beberapa kata ditulis berulang-ulang sehingga anak hafal tulisan tersebut. Lama-kelamaan anak bisa membaca kata baru dan menuliskannya. Kalau materi pelajaran itu ringan, tentu saja anak akan senang karena merasa bisa mengikuti pelajaran.

00000

Beberapa orang tua yang memiliki anak kelas I SD, memiliki pendapat simple (saya setuju banget). Anak kelas I dan II, yang tidak terlalu lancar membaca dan menulis, bukan berarti bodoh. Kemampuan anak berbeda-beda. Mungkin pada hal tertentu, si anak mempunyai kemampuan yang luar biasa. Bisa jadi, anak lemah pada pelajaran saat kelas I dan II tetapi di tingkat yang lebih tinggi ternyata si anak lebih berprestasi dibanding anak-anak yang sejak awal masuk kelas I, baca tulisnya sudah lancar.

Bapak Ibu guru di kelas I, mengajar siswa di sekolah. Selebihnya, kalau di rumah, tentu kewajiban orang tua untuk mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Kalau ini semua bisa berjalan dengan selaras, pasti semua bisa dikomunikasikan dengan baik dan hasilnya juga tidak mengecewakan.

Harapan saya, jangan sampai ada sekolah yang menolak calon siswa baru kelas I SD yang belum bisa membaca dan menulis. Karena perlu digarisbawahi “Di TK tidak boleh ada CALISTUNG”, jadi memang calistung belajarnya di SD.    

Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak kelas I membaca dan menulis!


Karanganyar yang dingin, 29 Juli 2017