Minggu, 09 Desember 2018

INGIN HUBUNGAN DENGAN ANAK TERJALIN BAIK? LAKUKAN 3 HAL INI!

Seperti biasa, saya menjemput si kecil di penitipan anak. Sampai di lokasi, saya diminta oleh pengasuh anak mengikuti diskusi Parenting. Kebetulan si kecil masih kerasan bermain, jadi saya bisa bebas mengikuti diskusi sampai selesai.

Sebenarnya diskusi ini mengundang orang tua/wali murid Taman Penitipan Anak, PAUD, KB, dan TK Nurul Iman. Namun, yang datang hanya beberapa orang saja, selebihnya adalah guru dan pengasuh penitipan anak. Dalam diskusi ini, mengundang pembicara Bapak Muhammad Nasyir atau Kak Nasyir. Kak Nasyir aktif di Istana Dongeng Nusantara.

Materi yang disampaikan kali ini adalah hubungan baik antara orang tua dengan anak. Hubungan orang tua dan anak bisa terjalin baik apabila orang tua melakukan 3 hal, sebagai berikut.

1. Orang tua selalu kelihatan bahagia di depan anak
Setiap orang tua harus kelihatan bahagia di depan anak. Bila orang tua bekerja dan memiliki waktu untuk menjemput anak, sebaiknya kondisi badan segar, bersih, dan wangi. Ketika bertemu anak, orang tua menyambut mereka dengan pelukan dan ciuman. Bila anak belum mau diajak pulang, maka kesempatan baik bagi orang tua untuk ikut bermain bersama anak.

Bila anak-anaknya sudah remaja, pelukan untuk anak juga bukan hal yang tabu. Hanya saja, mungkin tidak sama bila berhadapan dengan putra-putrinya yang masih kecil. Menunjukkan kebahagiaan di wajah, memberikan dampak positif terhadap anak. Tingggalkan duka lara, jangan menunjukkan wajah muram, mbesengut, sedih, dan lain-lain. Pokoknya orang tua harus kelihatan bahagia di depan anak.

2. Mengetahui kelebihan anak dan memberikan perhatian
Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan. Orang tua wajib fokus pada kelebihan anak. Gali kelebihan dan potensi anak. Berikan motivasi agar kelebihan anak menjadikan dia memiliki percaya diri. Lupakan kekurangan anak! Sebagai orang tua, lebih tahu kelebihan anak.

Dari kelebihan ini, orang tua dapat mengarahkan anak-anaknya. Orang tua bisa mengarahkan anak-anaknya menekuni hobi tertentu sesuai dengan kelebihan tersebut. Jangan pernah memaksa anak untuk melakukan suatu hal bila dia tak menyukainya. Apabila anak-anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya, maka hasilnya nanti akan memuaskan.

3. Memuji kelebihan dan prestasi yang dicapai anak
Sebagai orang tua yang baik, tentu tidak akan membandingkan anak-anaknya dengan anak lain. Tiap anak memiliki kelebihan, di mana antara satu dengan yang lain berbeda. Orang tua tidak perlu membandingkan anak yang satu dengan lainnya, apalagi dengan temannya. Sebab, seorang anak lemah di satu bidang, tapi unggul di bidang lainnya. Mungkin ada anak yang lemah di bidang akademik, tapi unggul di bidang keterampilan.

Daripada sibuk membanding-bandingkan, lebih baik memuji kelebihan dan prestasi yang sudah diraih anak. Selain membuat anak bangga, pujian akan memberikan motivasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Kenali kelebihan anak, dukung, dan pujilah prestasinya.



Sabtu, 08 Desember 2018

Cerpen Yang Menggigit


Nulis cerpen itu gampang, tinggal nulis. Mau nulis panjang, ya ceritanya dibuat panjang. Mau nulis sangat pendek atau berupa fiksi mini, ya ceritanya dibuat singkat. Nulis cerpen bisa fleksibel, menurut selera, apalagi bagi pemula yang baru belajar nulis seperti saya. Dalam menulis cerpen, yang sulit adalah nulis cerpen yang benar-benar menggigit. Ada gertakan, kehebohan, keharuan, dan lain-lain yang sifatnya menggigit. 

Ternyata tidak mudah "menciptakan suasana menggigit" lantaran unsur keakuan penulis masih mengikuti karakter tokoh dalam tulisan. Kadang-kadang penulis tidak tega bila menciptakan tokoh yang  melakukan kekerasan atau perilaku yang memang kurang sreg menurut penulis.

Jadi penulis itu kadang-kadang "keakuannya" masuk dalam sifat tokoh dalam cerpen. Memang kalau mau membuat cerpen menggigit, penulis harus keluar dari zona nyaman dan tinggalkan keakuan itu. Karakter tokoh jangan dipengaruhi karakter penulis. 

Nulis cerpen yang menggigit, harus berpikir lebih lama. Kalau cerpen sudah selesai, tulisan perlu dikonsultasikan ke pakarnya atau mentornya. Tujuannya adalah agar cerpen yang ditulis benar-benar berkualitas. Namun, jangan khawatir, semua bisa dipelajari dan segera nulis nulis dan nulis. Jangan menyerah dan berhenti nulis gara-gara cerpennya enggak menggigit.

Pada saat ini banyak komunitas, lembaga penulisan, atau pelatihan menulis. Kita bisa belajar menulis mulai dari nol. Asal kita menurut instruksi dari mentor dan mengerjakan tugas yang diberikan, pasti ada kemajuan yang berarti dalam belajar. Kalau mau cerpen yang ditulis menggigit, yuk banyak latihan menulis cerpen. Mulailah membaca cerpen karya orang lain. Setelah itu pelajari cerpen tersebut. Lalu, terapkan dengan baik.  

Kamis, 06 Desember 2018

Prestasi Menulis

Tahun 2018 ini, banyak impian yang belum bisa terwujud. Bagi saya tak mengapa, sebab setiap rencana manusia yang menetapkan adalah Allah. Kalau saat ini masih banyak rencana yang belum terwujud, setidaknya saya telah berusaha keras.

Namun, ada sesuatu di luar dugaan yang bisa saya raih. Allah memang Maha Adil. Saat keberhasilan tak memihak padaku, tapi keberhasilan yang tak terencana malah justru hadir.

Untuk menambah semangat, kegagalan atau belum terwujudnya suatu rencana tak perlu diratapi. Saya fokus pada keberhasilan yang tanpa terduga tersebut. Ada rasa bahagia ketika mendapatkan kejutan, prestasi tak dinyana, dan langkah-langkah kecil mulai berjalan.

Alhamdulillah, puji syukur senantiasa saya ucapkan atas keberhasilan yang saya raih. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk melangkahkan kaki ke jalan yang lurus dan benar. Semoga saya mendapatkan keberkahan dari kepingan-kepingan rezeki yang datang tanpa dinyana.

Maka nikmat manakah yang kamu dustakan, Im?
Tahun yang akan datang, rencananya akan menulis buku anak. Semoga terkabul. amin.

Rabu, 05 Desember 2018

KETEMU MANTAN DI KANTOR PENGADILAN AGAMA

Aku berusaha menguatkan temanku. Kuat, kamu harus kuat. Jangan ada air mata dalam drama ini. Kamu berani mengambil keputusan, berarti kamu sudah menyiapkan mental.

Aku duduk di ruang tunggu. Kulihat muka-muka kusut dan murung memenuhi ruang tunggu. Mungkin keberadaan mereka di sini dengan tujuan yang sama, yaitu mengurus perceraian.

Kantor Pengadilan Agama adalah tempat menakutkan bagiku. Masalah keluarga yang tak lagi bisa diselesaikan dengan kepala dingin, akan berakhir di sini. Seperti halnya Diva, teman dekatku. 

Kubuka buku yang aku bawa dari rumah. Untuk mengisi waktu luang, kusempatkan membaca beberapa lembar halaman. Paling tidak, aku tidak menganggur.

Tiba-tiba aku mendengar suara laki-laki yang tak asing di telingaku. Laki-laki yang pernah meninggalkan luka di hatiku. Ada apa dengan laki-laki itu? Mengapa dia berada di sini? Aku yakin, dia memiliki urusan sendiri. Tidak mungkin dia sedang mencariku karena suatu kepentingan.  

Laki-laki itu memandangku. "Maharani, ada apa kamu di sini?"
"Tidak apa-apa. Kamu sendiri, kenapa berada di sini?"
"Mau sidang. Hari ini adalah pembacaan keputusan."
"Oh!"

Oh, ternyata usia pernikahanmu yang baru seumur jagung, harus berakhir di Pengadilan Agama. Semoga hari ini kamu mendapatkan keputusan yang terbaik. Ternyata menikah bukan sekadar adanya ijab qobul, melainkan banyak yang harus dipertimbangkan.

Terima kasih, dulu kamu telah memberikan luka. Beruntung aku, hubungan kita berakhir di saat pendekatan. Andai telah terjadi pernikahan, pasti aku lebih terluka.

Jumat, 30 November 2018

DUA RAKAAT SALAT DUHA SETIAP PAGI

Pernahkah Anda melakukan salat Duha? Belum? Yuk, mulai sekarang mengerjakan salat Duha. Loh, salat Duha kan nggak wajib, melainkan sunat. Betul, tapi kalau yang sunat berpahala, apakah tak sayang untuk ditinggalkan? Sayang loh. Coba, berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk bekerja, mengurus rumah tangga, mengurus anak, me time, buka-buka gadget, dan lain-lain? Lama juga ya untuk melakukan aktivitas yang saya sebutkan di atas.

Bandingkan, berapa menit waktu yang kita gunakan untuk melakukan salat Duha? Mungkin tak sampai 10 menit, malah 5 menit saja. Namun, selalu ada alasan untuk meninggalkan salat Duha. Alasan klasik yang tidak bisa diganggu gugat adalah repot dan tak ada waktu. Saudara, 5 menit saja. Yuk, luangkan waktu untuk melakukan 2 rakaat salat Duha! Dua rakaat saja. Kalau sudah terbiasa, mungkin bisa ditambah menjadi 4 rakaat sampai 8 rakaat.

Sebenarnya, salat Duha ringan untuk dikerjakan. Salat Duha dikerjakan minimal 2 rakaat. Waktu untuk pelaksanaan salat Duha adalah waktu matahari naik setinggi tombak sampai tergelincir matahari. 

Dari Abu Hurairah. Ia berkata, "Kekasihku (Rasulullah s.a.w) telah berpesan kepadaku tiga macam pesan: (1) puasa 3 hari setiap bulan, (2) shalat Dhuha dua rakaat, dan (3) shalat witir sebelum tidur." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kalau sudah tahu keutamaan salat Duha, pasti tak ingin meninggalkannya tiap hari. Yuk, kerjakan salat Duha saat istirahat pagi (sekitar jam 9-10). Berhentilah beraktivitas barang 10 menit.  Setelah mengerjakan salat Duha, aktivitas bisa dilanjutkan kembali.

Kamis, 29 November 2018

SATU RAKAAT SHALAT WITIR SEBELUM TIDUR

Kita harus menjemput ilmu. Kalau mau mendapatkan ilmu harus menunggu dia datang, wah kelamaan. Mumpung sehat, mumpung kuat, mumpung ada waktu luang, datangi majelis ilmu.


Bagi Ibu rumah tangga yang memiliki banyak waktu luang, kita bisa melakukan amalan-amalan kecil di rumah. Pagi hari, luangkan waktu untuk salat Duha. Setelah itu bisa dilanjutkan membaca zikir sebanyak-banyaknya. Tentu saja zikir yang kita baca harus sesuai dengan tuntunan Nabi. Kita juga bisa membaca Alquran, menghafalkan surat-surat pendek, dan lain-lain. Apa yang kita lakukan bila diniatkan karena Allah, insya Allah mendapatkan pahala.

Setelah pekerjaan rumah selesai, kita bisa melakukan kegiatan yang dapat menambah penghasilan keluarga. Misalnya, berbisnis, baik yang dilakukan secara online maupun offline. 

Malam hari setelah menemani putra-putri belajar, kita bisa beristirahat tidur. Sebelum tidur, sebaiknya salat Isya dikerjakan terlebih dahulu. Selain salat wajib, ada salat sunah yang bisa kita kerjakan, yaitu salat witir. Salat witir bilangan rakaatnya adalah ganjil. Paling sedikit salat witir dikerjakan sebanyak 1 rakaat. Wah, ringan ya. Kelihatannya memang ringan, tapi bagi yang belum terbiasa, tetap saja berat.

Untuk itu, sekarang waktunya untuk memperbanyak amal ibadah. Meskipun ringan, jangan sampai kita menyepelekan salat witir. Bila mampu, kita bisa melakukan salat witir dengan 3, 5, atau 7 rakaat.

Rabu, 28 November 2018

Motivasi Belajar di Rumah Anak SD

Si kecil sudah 8 tahun, kelas 2 SD. Dulu saya sempat khawatir dengan akademiknya. Menurut saya dia lambat dalam mengerjakan soal. Selain lambat menjawab soal, juga sepertinya kurang suka untuk membaca soal. Tiap latihan soal hasilnya kurang optimal.

Namun, kekhawatiran tersebut sirna seketika saat si kecil mau diajak duduk bersama. Membaca buku bersama dan mengerjakan soal bersama menjadi kebiasaan kami setiap malam. Barangkali sekarang sudah waktunya si kecil untuk serius belajar. Ternyata si kecil bisa diajak berpikir dan ikhlas menghadapi saya.

Meski belum signifikan kemajuannya, tapi paling tidak sudah ada perubahan. Sambil berjalan, saya mulai mencari penyebab dia kurang suka membaca pada waktu dahulu. Ternyata ada hubungan antara lancar dan cakap dalam membaca dengan motivasi mengerjakan soal.

Kenyataannya, sekarang setelah lancar membaca, si kecil memiliki kesadaran untuk belajar. Namun, saya tetap harus sabar dan menjaga kewarasan saya. Si kecil tidak 100% konsentrasi belajar. Dia minta imbalan bila sudah mau membaca. Imbalannya berupa bermain di sela-sela belajar.

Bermain apa, sih? Bermain sesuka hatinya, tidak hanya satu macam permainan. Mungkin dengan cara ini dia mau belajar. Sebagai Ibu yang baik, saya harus tetap menjaga kewarasan saya. 

Kadang-kadang imbalannya sedikit berat bagi saya, yaitu berkunjung ke rumah saudara pada malam keesokan harinya. Saya tidak mau bila berkunjung ke rumah saudara pada malam hari, karena pulang dari bepergian, dia pasti langsung klipuk alias tidur. Kalau pas malam Minggu, saya mau-mau saja.

Rasanya sudah pada waktunya si kecil serius untuk belajar. Semoga karena tidak dipaksa ini, si kecil mau belajar dengan serius. Tetap konsisten ya, Le!