Minggu, 21 Mei 2017

Sudah Sakit Alergi Obat Pula, Capek Deh.....


Setelah melahirkan anak pertama, tiba-tiba saya menjadi alergi antibiotik Pinicilin (dan sejenisnya, seingat saya Amoxicylin dan Amphycylin). Padahal dulu-dulunya tidak. Kalau sudah minum Pinicilin, belum juga obat sampai di lambung atau masih di kerongkongan; badan mulai gatal-gatal. Parahnya daun telinga dan hidung membesar, panas dan gatal. Lebih-lebih pernafasanku terganggu. Benar-benar payah.

Sekarang saya setiap periksa ke dokter selalu bilang di depan, maaf saya alergi pinicilin. Ya, beruntung saya tidak pernah lupa dengan peringatan alergi ini. Suatu saat saya sakit lagi, kepala dan perut saya sakit. Waktu itu saya meluncur ke Puskesmas terdekat. Maklumlah terasa sakit pagi hari, kira-kira dokter yang buka praktek di rumah sudah tutup dan harus dinas di rumah sakit atau puskesmas.

Sekali lagi, saya bilang ke perawatnya kalau saya alergi pinicilin. Tidak lama kemudian saya pulang setelah mendapatkan obat. Sampai di rumah saya segera meminum obat. Tiba-tiba telinga dan hidung saya terasa gatal, panas, dan membesar. Ini adalah tanda-tanda saya alergi obat. Saya tidak berlama-lama memikirkan ada apa denganku. Langsung kembali ke Puskesmas. Lewat komputer, obat saya dicek satu persatu. Ternyata tambah lagi, astaghfirulloh, saya alergi Antalgin.

Sampai di rumah saya merenung, ya Allah... andai saya kau uji dengan sakit, tunjukkan obatnya sekalian ya Allah. Kalau semua obat tidak bisa saya konsumsi karena saya alergi obat, lantas bagaimana saya bisa sembuh?

Suatu hari saya sakit, dan periksa ke dokter. Saya hanya ingat kalau alergi Pinicilin, saya lupa mengatakan kalau juga alergi Antalgin. Bisa ditebak badan saya gatal-gatal setelah mengkonsumsi obat. Saya kembali ke dokter tadi. Benar, dalam resepnya dokter menuliskan Antalgin. Untung dokternya baik hati, beliau tidak marah hanya mengingatkan. Lain kali bilang alergi obat apa gitu ya mbak. Soalnya bisa berakibat fatal.

Benar, setelah saya membaca dari berbagai sumber-sumber bacaan, akibat alergi yang paling fatal prosesnya, pasien shock, jalan pernafasan tertutup, pingsan lalu meninggal dunia. SEREM....

Saya enggak mau sakit. Soalnya kalau sakit saja obatnya sulit banget. Saya juga tidak dapat mengkonsumsi obat yang dijual di pasaran secara bebas. Kepala pusing saja, paling-paling minum teh kenthel, panas dan manis. Kalau gak sembuh juga baru minum paracetamol.

Alhamdulillah, Allah memang tahu kesulitan hambanya. Sekarang saya diberi sehat terus dan tidak gampang sakit. Bila ada sahabat Kompasianer yang juga alergi obat, bersabar saja ya.....
Semoga bermanfaat. Amin.

Karanganyar, 14 Juli 2013
Sumber: www.kompasiana.com/noerimakaltsum 

Minggu, 14 Mei 2017

Belajar Menahan Belanja Mulai Sekarang

Sudah beberapa tahun terakhir, saya memiliki kebiasaan  menyisihkan sebagian kecil dari gaji untuk saya tabung alias menabung di depan. Setelah itu, baru saya membelanjakan uang dengan hemat. Saya berbelanja atau mengeluarkan uang sesuai dengan kebutuhan saja.
Sejak kecil saya memang gemi alias hemat. Saya tidak mengalami kesulitan untuk berhemat karena berhemat adalah kebiasaan saya waktu kecil. Kebetulan, saya juga tidak mudah terpengaruh, tidak suka membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan. Hasilnya, saya tidak banyak memiliki barang yang menganggur. Sebisa mungkin saya membeli barang yang benar-benar bisa saya manfaatkan sehari-hari.
Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Pada saat bulan Ramadhan, biasanya kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran lebih besar. Saya tetap berhemat. Kalau pengeluaran lebih besar disbanding bulan yang lain, Insya Allah karena untuk kepentingan akhirat.
Selama bulan Ramadhan, menu makan sahur dan berbuka, tidak ada yang istimewa. Saya jarang mengada-adakan makanan istimewa. Kalau berbuka puasa, saya juga tidak wajib menyiapkan kolak atau makanan pembuka yang manis-manis kecuali kurma dan kudapan seadanya.
Menjelang akhir Ramadhan, saya juga tidak sibuk berbelanja untuk keperluan lebaran. Untuk pakaian, cukup mengenakan pakaian yang sudah saya miliki. Mungkin untuk 2 anak saya memerlukan baju ganti. Saya tidak menyediakan makan kecil secara berlebihan karena saya berlebaran di rumah orang tua alias mudik.
Saya berusaha menahan diri untuk belanja sebab kebutuhan hari esok lebih banyak dan benar-benar harus kita penuhi. Hemat bukan berarti pelit, irit bukan berarti pelit, karena hemat adalah gaya hidup.

Belajarlah menahan belanja mulai sekarang. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi?

Jumat, 12 Mei 2017

Matic dan Keripik Jagung

Untuk menjamu tamu yang akan datang ke rumah, saya memerlukan pendapat dari teman. Sudah ada 2 makanan yang tidak biasa disuguhkan untuk tamu yang jumlahnya banyak. Saya memilih tahu bakso, cakwe dan bolang baling. Untuk yang renyah-renyah, ada beberapa pilihan. Pilihannya adalah kacang telur, kacang bawang, kacang kara, kacang kapri atau keripik jagung.
Seorang teman bertanya dengan kalimat bermakna konotatif.
“Yang diundang sebagian matic atau bukan?”
“Matic,”jawab saya.
“Kalau begitu pilihlah keripik jagung. Karena keripik jagung bersifat tidak keras. Matic saja kuat mengunyah.”

Apa hubungannya matic dengan keripik jagung? Matic = tanpa gigi. Selanjutnya, teruskan sendiri.

Kamis, 11 Mei 2017

(Belum) Berani Sekolah di Rumah (Homeschooling)

Sebenarnya, sejak Dhenok SD dahulu, saya menginginkan Dhenok sekolah di rumah saja. Ada beberapa pertimbangan, di antaranya waktunya fleksibel dan sesuai dengan karakternya. Namun, Dhenok tidak mau dengan alasan masak sih nggak sekolah. Yang kedua, keluarga besar saya pasti tidak setuju dengan berbagai alasan.
Waktu terus berlalu, sampai sekarang saya merasa Dhenok itu memang cocoknya sekolah di rumah. Tapi, sudahlah, semoga semua akan baik-baik saja.

Untuk si kecil, sepertinya cocok banget kalau sekolah di rumah. Sekolah di rumah membuat si kecil nyaman. Alhamdulillah, saya dan si kecil sudah melewati masa sulit. Hanya saja Ayah tidak setuju kalau si kecil sekolah di rumah.

Rabu, 03 Mei 2017

Mengikuti UN Merupakan Syarat Lulus Sekolah

Hari ini, Selasa 2 Mei 2017, bertepatan dengan memperingati Hari Pendidikan Nasional,  pengumuman kelulusan jenjang SLTA serentak dilaksanakan pada sore hari. Waktu yang dipilih untuk pengumuman adalah sore hari, dengan pertimbangan tidak ada konvoi setelah pengumuman. Namun, kenyataan berbicara lain. Pengumuman kelulusan diadakan pada sore hari pun, sebagian siswa sebagai peserta ujian tetap mengadakan konvoi naik sepeda motor dengan suara bising sebelum pengumuman.
Ada yang berbeda dari syarat lulus bagi siswa kelas XII. Kalau dahulu, UN merupakan penentu kelulusan, kemudian diubah menjadi penentu kelulusan adalah nilai rapor, US dan UN, sekarang syarat siswa lulus adalah mengikuti UN. Nilai UN bukan syarat mutlak kelulusan.
Dengan demikian, diharapkan siswa bisa lulus 100%, asal mengikuti ujian nasional (tentu saja nilai rapor terisi, dan mengikuti US/USBN). Syarat kelulusan pada tahun ini tidak membuat pendidik khawatir. Dengan demikian, mengikuti ujian dengan jujur lebih mudah terwujud. Apalagi sekarang ujiannya dengan UNBK. Tinggat kejujurannya tinggi.
Bagi saya, saya menyambut secara positif program syarat lulus adalah mengikuti UN. Sebagai guru di sekolah swasta (bukan sekolah favorit), dulu ketika nilai UN mutlak menjadi syarat kelulusan, saya sering menilai hal itu tidak adil. Maksudnya, bagi siswa yang sekolah di sekolah negeri, kemampuannya cukup, kemauan belajarnya cukup/lebih, wajar kalau kemudian lulus ujian dan lulus sekolah.
Akan tetapi, bagi siswa yang menuntut ilmu di sekolah swasta(dengan input pas-pasan), butuh perjuangan yang keras. Guru-gurunya juga ekstra keras dalam membimbing dan mengajar siswa demi memperoleh nilai UN yang tinggi. Kendala yang dialami siswa dan guru yang mengajar di sekolah swasta yaitu pertama kemampuan anak yang rata- rata di bawah, kedua motivasi belajar rendah, ketiga perhatian keluarga kurang, dan keempat pengaruh lingkungan.
Bagi siswa  kurang mampu (sekolah swasta), biasanya mereka sekolah sambil bekerja agar bisa mendapatkan uang saku dan membeli bensin. Kadang-kadang siswa lebih mengutamakan pekerjaan daripada sekolah sehingga mereka sekali dua kali membolos. Sudah menjadi rahasia umum, siswa yang bekerja ini banyak memberikan PR bagi gurunya. Guru harus mendatangi rumah siswa untuk bertemu orang tuanya.guru memberikan masukan kepada orang tuanya.
Tapi, bagaimana lagi kalau keadaan memang tidak bisa diubah? Kalau keadaan semacam ini bisa membuat siswa tetap bisa sekolah maka rasanya hal ini lebih baik. Kenyataan di lapangan, siswa tidak melanjutkan sekolah karena terkendala biaya sekolah dan uang saku harian. Bagi guru, siswa yang mengalami kesulitan ekonomi tetap diberi kesempatan untuk menyelesaikan sekolahnya sampai mengikuti ujian nasional. Dengan demikian siswa  mendapat kesempatan untuk lulus ujian dan tamat sekolah SLTA.
Faktor-faktor yang memengaruhi kelulusan siswa adalah Ujian Nasional (UNBK), siswa sudah menyelesaikan semua tahapan kegiatan belajar mengajar (dari kelas satu sampai kelas tiga), hasil ujian sekolah dan nilai perilaku siswa.
Kalau sekarang ujian nasional bukan merupakan momok bagi siswa peserta ujian, maka alasan apa lagi siswa takut mengikuti ujian nasional?

Karanganyar, 3 Mei 2017

Sabtu, 29 April 2017

Menulis Artikel Panjang Tidak Mudah, Harus Melalui Proses

Merdeka
dok.pri

Seorang teman guru pernah mengatakan bahwa beliau tidak bisa memberikan komentar dengan kalimat panjang. Beliau heran terhadap teman-teman yang bisa menulis komentar dengan kalimat-kalimat panjang. Dengan catatan komen di sini bukan sekadar copy paste. Teman saya juga heran dengan komentar saya dengan kalimat panjang dengan sedikit kesalahan.
Kalau menulis di hape, ikut mengomentari pesan WA teman, saya memang beberapa kali mengedit tulisan selayaknya membuat artikel untuk dikirimkan ke media. Akan tetapi, bila menulis status di facebook, statusnya cukup panjang, itu bukan berarti saya menuliskannya dari hape langsung. Biasanya, untuk menulis status yang panjang, terlebih dahulu saya menulis di laptop. Tulisan tersebut bukan sekali nulis terus diposting. Saya sering menyimpan tulisan tersebut barang semalam. Hari berikutnya barulah saya melakukan penyuntingan. Sebisa mungkin tidak banyak kesalahan dalam menulis.
Bisa saja saya menulis artikel sebanyak 5 halaman kuarto, kemudian saya posting di facebook. Bagi pembaca yang sealiran dengan saya (maksudnya suka membaca dan menulis), tulisan saya mungkin dianggap biasa saja dalam artian pembaca tidak merasa jenuh atau malas membaca. Akan tetapi, bagi para pembaca status fb kebanyakan, status saya dirasa terlalu panjang.
Ada seorang teman yang bilang ke saya, kalau nulis status itu mbok intinya apa gitu, jangan panjang-panjang. Saya jawab intinya: ya pokoke. Hahaha
Bagaimana kita mau menyampaikan sesuatu biar tidak ada lagi pertanyaan dari pembaca? Jawabnya adalah menulislah dengan jelas. Penjelasannya mudah dimengerti, kalau bisa ada acuan/referensi yang valid.
Kadang-kadang, pembaca menanyakan sesuatu yang sebetulnya pada tulisan itu sudah jelas ada. Oleh karena pembaca tidak membaca sampai selesai, maka mencari jurus jitu bertanya.
Alhamdulillah, kalau tulisan saya mendapatkan tanggapan dari pembaca, entah itu tanggapan positif atau kritik dan saran. Bagi saya, komentar dari pembaca adalah masukan yang sangat berarti. Saya sangat terbuka terhadap masukan untuk memperbaiki kualitas tulisan saya.
Kalau ada komentar yang cenderung negatif dan tidak layak, saya tidak akan menanggapi. Sebab, kalau komentar yang tidak layak tetap kita tanggapi, akhirnya membuka debat kusir.  
Bagi saya, menulis status fb atau artikel yang panjang adalah sarana untuk belajar menulis. Sudah lama saya ingin bisa menulis. Kalau saya tidak langsung praktek menulis, kapan lagi bisa menulis? Beruntung kegiatan menulis saya tidak mengganggu pekerjaan pokok dan pekerjaan IRT.
Ada waktu untuk menulis. Saya bisa bebas menulis kalau si kecil sudah istirahat, tidur malam. Kalau si kecil belum tidur, biasanya baru membuka laptop saja sudah diprotes,”Mami tidak boleh nulis.” Setelah itu tutup laptop, sambil memikirkan ide-ide yang bersliweran.

Karanganyar, 29 April 2017

Saltum (Salah Kostum)


Kalau Maharani atau yang lain salah kostum, pasti sudah dibunyi2in ketua guru. Pagi tadi ketua guru bertanya pada salah satu karywan "Bu, guru Sejarah India sudah diberi undangan belum ya kemarin?"
Yang ditanya menjawab sudah. Undangan jalan santai di kecamatan dengan kostum seragam olahraga.
Sampai menjelang berangkat ke lapangan, guru Sejarah India belum juga muncul. Akhirnya Maharani, guru lain dan Kwek-kwek berangkat ke lapangan.
Jalan santai selesai, perut kenyang sudah mampir nyoto, kembalilah Maharani dkk ke perguruan. Tak lama kemudian, guru Sejarah India datang dan taraaaaaa syalala seragam yang dikenakan adalah batik hitam yang biasa dipakai hari Sabtu.
La pa ya ora ngerti kalau ketua guru pakai seragam olahraga? Guru Sejarah India ini kan isterinya ketua guru. Kok ora kompak? Tralala nek Maharani saltum pasti sudah heboh. Tapi kalau guru Sejarah India yang saltum pasti ketua guru akan bilang luwes saja.
Malu aku malu #CeritaMaharani