Kamis, 19 September 2019

Daftar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia D3 1990 IKIP N Yogyakarta


Setelah sekitar 20-an tahun berpisah karena saya dan teman-teman harus kembali ke kampung halaman dan bekerja, kini saatnya ingin kembali bertemu dengan teman-teman seangkatan. Tahun 1990, saya dan teman-teman kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta Jurusan Pendidikan Kimia D3, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA).

Adapun nama-nama mahasiswa Kimia D3 adalah sebagai berikut:
1.    Sumarsono
2.    Aih Suciati
3.    Fathikah
4.    Surahmi
5.    Zanuarto Ambar Suryono
6.    Sapta Pramana
7.    Ahmad Muhari
8.    Rohmad Widianto
9.    Sunarni
10. Noer Ima Kaltsum
11. Sugiarti
12. Mardiyanti
13. Darwati Kartikasari
14. Nindarsari
15. Ali Rosyidi (Muhammad Ali)
16. Sopyantara
17. Muryani
18. Anastasia Sri Utami
19. Sri Rejeki (almh)
20. Eni Juaeni
21. Siti Yuhanah
22. Tri Haryati
23. Siti Fathonah
24. Nur Khasanah
25. Petrus Totok Irawan (mengundurkan diri)
26. Mulyaningsih

Di antara kedua puluh enam orang ini, saya dan teman-teman masih mencari keberadaan dan informasi dari:
(Muhammad) Ali
Ahmad Muhari
Darwati Kartikasari (MTs Ma'arif NU 01 Banjarnegara)
Sunarni
Muryani

Semoga dalam waktu dekat saya dan teman-teman bisa mengetahui informasi tentang teman-teman di atas.

Sebenarnya saya mau mengunggah foto bersama yang ada, tapi karena ada teman yang sekarang sudah berhijrah memakai jilbab, maka saya tidak bisa menampilkan foto bersama tersebut.


Rabu, 18 September 2019

Royalti, Buku Antologi, dan Kontributor




Ini cerita tentang aku yang penulis pemula. Aku bukan orang terkenal. Aku hanyalah orang biasa yang sedang belajar nulis. Ikut komunitas menulis diminta buat contoh tulisan, ya legawa saja ketika ternyata tulisanku balak belur dibantai oleh kurator. (Hiperbola: Ben ketok menderita banget sebagai anggota baru pada suatu komunitas ora iso nggaya blas dan ora iso kemayu. Nggak bisa pencitraan, karena memang tulisanku pancen layak dicoret sana sini).


Karya fenomenal  aku tak punya, tulisan yang mejeng di media baru satu dua, arep nggaya paling malah dibully.


Nah, kesempatan baik ditawari menjadi kontributor sebuah buku antologi. Tapi ya nggak begitu saja diterima tulisannya. Ikut seleksi. Taraaa, tulisan sa"uprit" bisa ikut mejeng dalam sebuah buku. Sujud syukur, shalatnya lebih khusuk, kembali merapal dan melangitkan doa yang lain.


Teretetetttt.
Setiap kontributor wajib promo buku, wajib beli buku meski hanya satu eksemplar, karena buku tersebut dicetak secara indie. Kamu pasti tahu, bukan? Bila buku diterbitkan secara indie berarti kelahiran buku tersebut dibiayai sendiri. Dalam hal ini mestinya para contributor mengumpulkan modal dengan cara patungan. Ternyata para penulis di sini tidak dipungut biaya karena sudah ada yang “memberi pinjaman” untuk mencetak buku antologi. Karena aku sudah ngerti pengertian dicetak penerbit mayor atau indie, ya sebagai penulis kudu semangat promosi.


Cetarrrr. Meski indie, ternyata penjualannya baik. Sebagai penulis, dapat potongan harga kalau beli bukunya. Dengan membeli beberapa buku lalu dijual kembali, penulis sudah mendapatkan untung. Atau bisa saja penulis gencar mencari pembeli dengan sistem Pre Order. Beberapa bulan kemudian ada berita, para kontributor diminta untuk mengumpulkan nomor rekening karena ada sejumlah royalti yang akan dibagikan. Aku sujud syukur lagi. Alhamdulillah, tidak sia-sia punya buku rekening. Akhirnya dapat menikmati transferan royalty. Keren, bukan? Jadi penulis itu memang yang diharapkan adalah honor, royalty, dan buku laku keras di lapangan.


Aku tidak melihat berapa jumlahnya. Pokoknya bahagia banget dapat royalti. Bayangkan saja, nulis hanya sedikit, lalu jadi buku, dapat royalti pula. Bandingkan bila nulisku banyak, ditawarkan ke penerbit mayor ternyata ditolak. Mau nerbitkan secara indie tapi nggak punya modal. Tetap saja sebagai kontributor aku bersyukur banget karena merasa sangat beruntung.


Jadi, kalau ada penulis yang ikut jadi kontributor buku, dapat royalti kok nggak bersyukur rasanya pingin nantang. La wong mungkin tulisanmu itu membuat Penanggung Jawab pusing kepala, dengan revisi lebih dari 50 persen. Lantas keuntungan hasil penjualan buku dibagi buat seluruh kontributor, kok kamu mengeluh. Bayangkan, seandainya kamu diminta untuk patungan, lalu bukunya tidak laris manis seperti kacang goreng. Jangankan untung, balik modal saja Alhamdulillah. Seandainya tidak balik modal, bisa nangis berjemaah!


Kukasih tahu ya, bersyukurlah. Rezekimu bakal lancar. Royaltimu adalah rezeki halal, jadi berkah banget hidupmu.


Kalau kamu pingin royalti gede, ya nulis buku dewe sing apik ben lolos Penerbit mayor. Tinggal ongkang-ongkang royalti lancar.


Kenapa aku selalu bersyukur dengan honor dan royalti yang kuterima? Karena itu halal, berkah dan melancarkan rezeki dari pintu-pintu yang lain.


#catatanimapenulis
#berbagiinspirasi


Buku antologi di atas dicetak secara Indie dengan penjualan yang lumayan baik. Sekarang sedang dibuka PO kedua.

Kamis, 12 September 2019

Seni Berbenah Rumah Ala Marie Kondo (Konmari Method)


7 langkah beberes rumah ala Marie Kondo atau Konmari Method
1. Satukan sesuai ukuran
2. Simpan barang berdasar barang yang paling sering dipakai
3. Semua akan terlihat sangat berantakan sebelum terlihat rapi
4. Kumpulkan semua barang yang kalian punya
5. Simpan barang dalam wadah
6. Melipat pakaian ala Marie Kondo
7. Pastikan barang yang kalian simpan benar-benar disukai dan digunakan

Prinsip utama Konmari Method
1. Kuatkan tekad untuk merapikan, jadikan kesempurnaan sebagai target
2. Luangkan waktu khusus untuk berbenah
3. Rapikan sekaligus, jangan sedikit-sedikit
4. Pilihlah berdasarkan kategori bukan lokasi
5. Rajin menyimpan benda sama dengan menimbun
6. Gunakan metode yang sama agar cocok dengan kepribadian
7. Memulai berbenah berarti membuka lembaran hidup baru

Kamis, 05 September 2019

Orang Lumpuh Tetap Dapat Melaksanakan Ibadah Haji



Judul Buku              : Orang Lumpuh Naik Haji
Penulis                      : Mulyanto Utomo
Penerbit                     : PT Smart Media Prima
Cetakan                     : 2019
Tebal                          : xix + 184
ISBN                           : 978-602-51864-2-4
Buku ini berisi kisah seorang difabel dengan keterbatasan fisiknya tetap dapat melaksanakan ibadah haji. Bila seorang difabel saja bisa melaksanakan ibadah haji, maka bagi orang yang sehat jasmani dan rohani, fisiknya masih kuat dan normal, harus optimis.

Puisi Tak Harus Puitis


Beberapa waktu yang lalu, aku mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Kamar Kata. Salah satu narasumbernya adalah mas Yuditeha. Kebetulan mas Yuditeha memberikan materi tentang tulisan non fiksi.

Nah, waktu beliau menyampaikan penulisan puisi, aku dibuat bengong. Kenapa? Apakah karena aku terpana melihat beliau? Bukan! Mas Yuditeha menyampaikan membuat puisi tidak harus menggunakan kata-kata puitis bahkan terlalu puitis. Kata-kata lempeng aja nggak apa-apa. Beliau memberikan contoh.

Kenapa tidak kudu kata-kata puitis? Karena tidak semua orang bisa menggunakan kata-kata puitis, memilih diksi, dan lain-lain. Dah tulis saja, sambil belajar.

Banyak orang yang memiliki potensi menulis cerpen dan puisi tapi tidak mau memulai karena mereka merasa tidak bisa merangkai kata-kata puitis.

Yuk, menulis puisi. Bebas saja. Nulisnya lempeng juga nggak papa. Kalau sudah selesai nulis, endapkan 1 x 24 jam. Besok dibaca lagi. Ada yang janggal nggak. Ada yang aneh nggak. Kalau ada, ya tinggal direvisi.

#berbagiinspirasi
#catatanimapenulis

Rabu, 28 Agustus 2019

Terapi Kelereng Untuk Pasien Patah Tulang Lengan Atas



Sekitar 2 bulan yang lalu, Faiz (5 tahun 6 bulan) mengalami patah tulang tangan kiri (atas siku). Faiz menjalani operasi pada pagi hari. Setelah operasi keadaan Faiz sehat. Tangan Faiz dibalut perban elastis. Sore harinya, seorang perawat (terapis) datang. Saya tidak tahu namanya, sebut saja Mas Ahmad. Mas Ahmad mulai mengajak ngobrol Faiz. Mungkin karena takut atau malu, Faiz tidak mau menurut apa yang dicontohkan Mas Ahmad.
“Dik Faiz, tangan kiri digerakkan seperti ini.” Mas Ahmad membuka tutup jari-jarinya. Faiz diminta untuk membuka menutup jari-jarinya. Faiz mau memraktekkan. Alhamdulillah
“Dik Faiz, ikuti saya ya. Pegang hidung, mulut, telinga. Kalau tidak bisa dibantu tangan kanan.”
Ya Allah, belum mencoba Faiz sudah bilang sakit.
“Sakit, sakit Mama.”
Mas Ahmad berkata,”Ibu, bapak, nanti kalau di rumah tolong dibiasakan memegang hidung, mulut dan telinga. Kalau anaknya tidak mau atau bilang sakit, jangan dimanjakan ya. Tetap harus dipaksa supaya tangannya tidak kaku. Kalau nanti gerakan-gerakan tersebut tidak dilakukan tangannya bisa ceko (thuing, mendengar kata itu langsung saya membatin ah, mosok bagus-bagus kok ceko. Ya Allah berilah kemudahan buat anakku).
Selama dua minggu nanti memang gerakan yang dilakukan adalah memegang hidung, mulut, telinga, pundak. Tangan memang ditekuk, tidak boleh diluruskan. Supaya posisi tangan ditekuk selama dua minggu, maka tangan digendong.
Sampai di rumah, ternyata Faiz dengan kesadaran sendiri mau melakukan terapi. Saya tidak memaksa, biarlah dia melakukan semampunya. Dalam waktu dua minggu Faiz sudah bisa melakukan gerakan-gerakan minimal yang harus dilakukan sesuai anjuran terapis. Saat mandi, tangan/luka tak boleh dibasahi/kena air. Jadilah Faiz hanya dilap bagian atas. Sedangkan bagian bawah tetap diguyur air.
Dua minggu setelah operasi, Faiz melakukan kontrol ke rumah sakit. Kali ini perban elastis dilepas tetapi masih memakai gendongan tangan. Terapi yang dianjurkan adalah memindahkan benda misalnya kelereng dengan tangan kiri terutama memindah ke atas. Luka/tangan boleh kena air. Melakukan gerakan tangan secara bebas.
Tidak gampang ternyata sebab jari telunjuk Faiz kalau digerakkan masih sakit. Selain telunjuk masih sakit, telapak tangannya juga dingin, pergelangan tangan masih biru. Saya memotivasi Faiz. Ada satu hal yang saya syukuri, yaitu Faiz tetap mau makan dalam jumlah banyak.
Lama-kelamaan jari telunjuk bisa digerakkan dan tidak sakit lagi. Telapak tangan tidak dingin dan warna biru pada pergelangan tangan hilang. Faiz masih memakai gendongan tangan. Ketika saya amati, bila memakai gendongan tangan, Faiz bebas menggerakkan tangan kirinya. Tangan kirinya bekerja sama dengan tangan kanan tatkala bermain. Begitu kain gendongan dilepas, Faiz malah takut menggerakkan tangannya. Tangan kirinya ditekuk takut bergerak.  Ya sudah, terserah anaknya saja. Dia bisa mengukur kemampuannya. Kalau merasa nyaman gerakan terus berlanjut. Bila sakit, dengan sendirinya berhenti bergerak.

Selama sebulan terapi memindahkan kelereng ke tempat yang tinggi atau memindah benda-benda kecil dengan cara memungut (tidak gampang lo!). Saya juga menyuruh Faiz untuk melakukan gerakan senam ringan, tujuannya ingin tahu apakah tangannya sudah bisa diluruskan. Lagi-lagi saya tidak memaksa. Rupanya dengan kemauannya sendiri, lumayan bisa diluruskan. Untuk keberhasilan-keberhasilan yang dilakukan saya selalu memberikan acungan jempol lalu memeluknya seraya mengucapkan,”Alhamdulillah.”
Sebulan terapi kelereng, lalu kontrol lagi. Alhamdulillah, perkembangannya bagus. Ketika dirontgen lagi, hasilnya bagus. Kali ini terapinya agak berat. Memindahkan bola voli dengan cara melempar. Wah, saya tidak berani mengajari yang satu ini. Kebetulan sang Ayah yang guru olahraga di rumah ada bola voli dan bola sepak. Ini jatahnya sang Ayah.
Pagi hari, Faiz sudah teriak-teriak girang main lempar bola voli bersama Ayah. Alhamdulillah, ternyata semua berjalan dengan lancar. Kini saya tak lagi mencemaskan Faiz dalam keadaan tidur. Maklum, anak kecil tidurnya tak terkendali gerakannya. Apalagi kalau tidur tak mau diselimuti. Apa yang ada di sekitarnya, tanpa disadarinya dilemparkan begitu saja. (Karanganyar, Januari 2016)
(Sebelumnya saya sampaikan terlebih dahulu, Faiz anak saya yang kedua pada minggu keempat bulan November mengalami patah tulang lengan kiri (di atas siku). Tanggal 26 November 2015 menjalani operasi pemasangan pen. Saat akan pulang, Faiz diminta banyak latihan memegang hidung, telinga kiri, kanan dan memegang mulut.
Dua minggu kemudian (8 Desember 2015), ketika kontrol, dokter menyarankan untuk memberikan latihan memindahkan kelereng ke tempat yang lebih tinggi (latihan meluruskan tangan) dan gerak bebas. Tanggal 8 Januari 2016, kontrol yang kedua disarankan oleh dokter untuk latihan melempar bola voli/bola basket. Pada saat kontrol ini Faiz juga diminta untuk foto Rontgen. Ternyata posisi pen dan tulang sudah baik. Dua bulan berikutnya, tanggal 7 Maret 2016, kontrol lagi dan dokter mengatakan pen bisa dilepas).

Selasa, 27 Agustus 2019

Tips Keuangan Yang Bisa Bikin Orang Kaya



Memiliki kebiasaan mencatat pemasukan dan pengeluaran ternyata memiliki nilai positif. Dengan pencatatan yang sederhana akan diketahui pada akhir bulan mengalami defisit atau memiliki saldo meski besarnya tidak seberapa. Agar tiap akhir bulan memiliki saldo cukup besar, masalah keuangan harus dicermati. Bila pada akhir bulan memiliki saldo cukup besar, maka uang tersebut bisa untuk ditabung sebagai tambahan.

Ada beberapa hal yang bisa bikin orang kaya, bahkan kaya raya. Contohnya, berhenti membeli kopi, jus, minuman siap saji, bikin bekal sendiri di rumah, jangan keseringan belanja online maupun di mall, supermarket, atau swalayan, dan jangan sering jajan di luar.

1.    Berhenti membeli kopi
Nongkrong menjadi gaya hidup orang zaman sekarang. Berlama-lama di kafe atau tempat ketemuan untuk sekadar ngobrol dan membeli kopi memang sangat mengasyikkan. Namun, di balik kesenangan sesaat, kantong bisa jebol, keuangan cepat menipis. Kebiasaan membeli kopi di luar bisa diganti dengan ketemuan dengan teman atau relasi di rumah saja. Di rumah tetap bisa menikmati kopi, bahkan lebih murah. Meskipun kopi yang dibuat di rumah tak senikmat bila beli di tempat nongkrong, tapi setidaknya bisa mengurangi pengeluaran.

2.    Berhenti membeli jus dan minuman siap saji
Udara panas seperti saat ini, bawaannya ingin minum sebanyak-banyak. Minum jus dan minuman siap saji memang menyegarkan. Jus dan minuman cepat saji bisa disiapkan dan dibuat sendiri di rumah. Langkah ini merupakan usaha mengurangi pengeluaran. Mengusahakan berhenti membeli jus dan minuman siap saji di luar adalah langkah yang bijak.

3.    Bawa bekal dari rumah
Makanan yang dimasak di rumah selain lebih sehat juga lebih hemat. Membawa bekal dari rumah untuk dibawa ke tempat kerja atau bepergian akan memangkas pengeluaran. Tentu saja tips irit ini bisa membuat kaya raya. Sederhana saja, karena meski kelihatan repot tapi sisi positifnya bisa menjadi pertimbangan.

4.    Jangan sering berbelanja online
Zaman sekarang adalah zaman serba praktis dan instan. Bila mau membeli barang, tidak perlu ke suatu tempat. Selain menghemat waktu, harga barang juga bisa lebih murah. Bila barang dan harga sudah cocok dengan keinginan, tinggal transfer uang, beres,
Namun, kemudahan dan sifatnya praktis ini tidak disadari bisa menguras kantong. Sebab, tidak perlu ke mana-mana, sambil melakukan aktivitas, kegiatan belanja tetap bisa jalan. Kalau tidak bijak, bisa-bisa uang habis sebelum waktunya. Sebab itulah, jangan sering berbelanja online. Jangan mudah tergiur harga diskon atau iming-iming mendapat voucer. Bila bisa menyetop berbelanja online, maka keuangan bisa aman dan bisa memperkaya diri.

5.    Kurang berbelanja di mall, supermarket atau swalayan
Sama dengan di atas, kurangi jalan-jalan ke mall, supermarket atau swalayan. Tujuannya adalah agar tidak tergoda untuk berbelanja. Jangan tergiur diskon besar-besaran. Bijaklah berbelanja. Berbelanjalah barang-barang yang memang dibutuhkan dan sudah tercatat sebelumnya. Mengurangi berbelanja, berarti mengamankan uang.

6.    Jangan sering jajan di luar
Sesekali jajan di luar tidak masalah. Namun, bila jajan sudah menjadi kewajiban maka segera insyaf. Agar tidak sering jajan di luar, maka kurang jalan-jalan atau keluar rumah bila tak ada sesuatu yang penting atau darurat. Dengan mengurangi jajan di luar maka sudah melakukan penghematan. Tahu sendiri kan sebuah slogan Hemat Pangkal Kaya.