Rabu, 20 November 2019

Diet Itu Tidak Menyiksa (Sekadar Mengurangi Makan)


Diet Itu Tidak Menyiksa (Sekadar Mengurangi Makan)

Sebagian orang gemuk merasa baik-baik saja dan santai dengan kegemukannya. Sebaliknya, mereka yang melihat orang gemuk, kadang merasa kasihan. Mungkin pertama kali yang dilihat adalah berjalannya yang kesulitan. Yang kedua adalah tarikan napasnya seperti orang kelelahan. Yang ketiga kerepotannya ketika mau duduk, beranjak dari tempat duduk, dan berdiri dalam waktu yang lama.

Sebagian orang yang tubuhnya cukup besar, awalnya merasa baik-baik saja, mulai mengeluh rasanya berat membawa tubuhnya sendiri. Lutut dan kaki mulai sakit. Tubuh terasa tidak nyaman lagi. Ini baru keluhan secara umum.

Setelah cek kesehatan dan melihat hasilnya, barulah menyadari bahwa mereka harus mulai berubah. Kalau ada yang tidak normal dari hasil cek kesehatan, mereka baru mau bergerak. Mereka mulai mengurangi makanan dan minuman tertentu. Minimal pantang mengonsumsi makanan yang bisa memperparah sakitnya.

Memang sebaiknya setelah sadar bahwa tubuhnya tidak lagi sehat, harus segera mengubah pola makan. Sebenarnya berat badan berlebihan tidak terjadi begitu saja. Tidak mungkin orang berbobot 45 kg dalam waktu sebulan berat badannya naik menjadi 70 kg. Untuk menurunkan 25 kg berat badan, tidak bisa dilakukan selama sebulan tanpa efek samping.

Sebab itulah, cara menurunkan berat badan yang baik adalah dilakukan secara bertahap. Membuat program menurunkan berat badan dan melakukannya dengan baik adalah solusinya. Pilihlah diet alami tanpa menggunakan obat-obatan penurun berat badan atau pelangsing. Misalnya mengurangi porsi makan setiap hari. Mengganti makanan yang banyak mengandung gula dengan sayur dan buah. Olahraga ringan tapi teratur akan mendukung program diet.

Mengurangi konsumsi makanan secara bertahap lebih baik daripada melakukan diet ketat tanpa melihat kondisi tubuh. Bila ada sinyal-sinyal tertentu, tubuh menjadi tidak nyaman, tidak perlu langsung minum obat. Hentikan dulu program dietnya.

Contoh diet alami adalah mengurangi porsi makan nasi dan berusaha menahan lapar. Bila makan, cukuplah untuk menggugurkan rasa lapar dengan makanan yang bergizi. Tahan hingga beberapa jam seperti latihan puasanya anak-anak. Lalu makanlah sayuran dan buah.
Sesekali makan enak tapi jangan kalap. Secukupnya saja makan berbagai macam makanan.

Ada beberapa bahan makanan yang harus dikurangi atau ditinggalkan sama sekali, yakni:
1. Nasi putih
2. Gula pasir
3. Minyak sawit
4. Gandum dan produknya
5. Susu dan olahannya

Agar program diet bisa berjalan dengan lancar dan berhasil, mintalah dukungan dari orang terdekat atau bergabung dengan orang-orang yang menjalankan diet. Dengan demikian tidak ada perasaan sendiri dalam menjalankan program diet.

Niatkan diet agar badan tetap sehat. Bila efeknya adalah badan menjadi langsing, anggap saja itu bonus.

Rabu, 13 November 2019

MENULIS RESENSI


Kegemaranku menulis diikuti dengan gemar membaca. Buku, majalah, koran, dan media sosial bisa kujadikan bahan bacaan. Namun, dari bacaan tersebut aku harus menyaring terlebih dahulu. Tidak semua bahan bacaan dan berita kuterima mentah-mentah. 

Di antara bacaan tersebut, aku memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan aktivitas membaca buku. Membaca buku bisa aku cicil. Bila bukunya menarik dan aku membutuhkannya, secepatnya kuselesaikan membaca. Bila buku yang kubaca kurang menarik, aku harus menyelesaikannya dalam jangka waktu lama.

Agar buku yang telah kubaca bisa diingat lebih lama, biasanya aku membuat ringkasannya. Saat ini aku suka membuat ringkasan buku. Isi bukunya hanya diringkas saja. Ternyata meringkas buku lalu memberikan penilaian pada buku tersebut, bisa menghasilkan uang. Ah, benarkah itu? Benar. Bagaimana cara menghasilkan uang dari membaca buku dan membuat ringkasannya?

Ada 3 macam aktivitas setelah membaca, yakni membuat ringkasan, meresensi, dan meriview buku. Aku memilih meresensi buku setelah membaca.

Beberapa kali mengirim naskah resensi buku, belum ada yang dimuat, membuatku penasaran. Seperti biasanya, aku ingin menaklukkan sesuatu yang baru bagiku. Kupelajari lagi materi tentang meresensi buku. Kubaca buku yang akan diresensi berulang-ulang, agar yang kutulis benar-benar mewakili isi buku tersebut.

Ternyata syarat dan ketentuan meresensi buku agar bisa lolos di media antara media satu yang lain berbeda. Setelah memahami syarat dan ketentuan, aku kembali mengirimkan naskah resensi.

Senang rasanya, akhirnya tulisanku dimuat di koran Solopos. Aku meresensi buku berjudul AKU DISLEKSIA yang ditulis Diba Tesi Zalziyati. Buku AKU DISLEKSIA diterbitkan oleh Penerbit ANDI, Yogyakarta.

Ada dua tulisan resensi buku yang dimuat di Solopos. Tulisan kedua adalah resensi buku antologi Ngeblog Seru Ala Ibu-ibu, diterbitkan oleh Penerbit Najmubooks. Pada akhirnya aku berpikir bahwa bila akan berhasil, aku tak boleh menyerah begitu saja saat belum berhasil.

#30hari300katanajmubooks #catatanimapenulis #berbagiinspirasi #berbagiinspirasimenulis #berbagiinspirasimotivasi

Kamis, 07 November 2019

Sensasi Menerima Honor Menulis, Hadiah Lomba, Dan Royalti



Pertama kali tulisan dimuat di majalah lokal, rasanya bahagia sekali. Apalagi tahu kalau tulisan yang dimuat diberikan imbalan berupa honor. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku gadis biasa, sederhana, tapi mudah bergaul bisa menulis cerita anak dan dimuat di majalah. Saat itu di lingkungan masjid tiba-tiba aku menjadi buah bibir teman-teman sebaya.

Dengan bersepeda aku menuju kantor redaksi, lalu menunjukkan tulisan yang dimuat di majalah. Dengan ramah, petugas memberikan sejumlah uang. Saat itu aku sangat girang mendapatkan honor pertama dari tulisan pertama.

Meskipun hanya 3 tulisan yang dimuat di media, tapi aku cukup termotivasi untuk menulis. Beberapa tahun kemudian, aku kembali merasa bahagia setiap tulisan dimuat di media dan mendapatkan honor.

Lama-kelamaan aku bukan hanya suka mengirimkan tulisan ke media saja. Aku tertarik mengikuti lomba menulis. Beberapa tulisanku lolos dalam lomba dan aku mendapatkan hadiah. Hadiah yang aku dapatkan berupa buku, barang, dan uang. Entah, sudah berapa banyak hadiah yang aku dapatkan. Setiap mendapatkan hadiah lomba ada sensasi tersendiri.

Setelah mengenal dunia penulisan lebih lama, aku bergabung di komunitas menulis. Di komunitas ilmu tentang menulisku mengalami kemajuan yang pesat. Teman-teman komunitas banyak yang memberikan motivasi, tidak hanya untuk menulis di media, tetapi juga menulis buku.

Akhirnya aku bisa menulis dan menerbitkan buku solo secara indie. Aku juga menulis bersama teman-teman dalam bentuk buku antologi. Sebagian besar buku antologi tersebut diterbitkan secara indie. Tiap kontributor harus memperjuangkan buku yang telah dibuat dengan susah payah. Pada akhirnya buku yang terjual dalam jumlah banyak, sehingga tiap kontributor mendapatkan royalti.

Buku antologi yang diterbitkan penerbit mayor, aku juga ikut menjual semampunya. Usahaku dengan cara promosi di media sosial. Kalau penjualan buku antologi yang diterbitkan penerbit mayor ramai, para kontributor juga akan mendapatkan royalti dalam jumlah banyak. Meskipun sudah sering mendapatkan royalti, tapi setiap dikabari kalau royalti akan segera cair, tetap saja ada sensasi tersendiri.

#30hari300katanajmubooks
#catatanimapenulis
#berbagiinspirasi
#berbagiinspirasimenulis
#berbagiinspirasimotivasi

Selasa, 05 November 2019

Cara Mambagi Waktu Bagi Penulis



Dulu sewaktu aku masih mengajar di SMK, kuluangkan waktu untuk menulis setelah sampai rumah. Pulang dari mengajar harus mengurus si kecil, menunggu belajar, dan melakukan pekerjaan rumah. Tidak ada waktu untuk tidur siang.

Sejak dahulu, si kecil tidak suka kalau aku dan suami pegang handphone meskipun untuk hal penting yang ada kaitannya dengan pekerjaan. Oleh sebab itu, aku harus memanfaatkan waktu dengan baik ketika si kecil sudah tidur.

Biasanya pada malam hari aku menulis lalu menayangkan tulisan di blog. Untuk status facebook, kumanfaatkan waktu luang. Menulis status, bukan sembarang tulisan sampai. Memang dulu sering menulis hal-hal yang keseharian, tapi sekarang tidak lagi.

Oleh karena telah belajar dari banyak orang dan berniat untuk berbagi manfaat, maka sekarang menulis dan berbagi tulisan yang bukan sekadar sampah. Aku merasa sayang bila waktuku terbuang dengan percuma. Menulis status lalu menyimpannya. Status yang saling berkaitan ini nantinya akan kujadikan artikel yang akan kutayangkan di facebook.

Bagiku menulis adalah hobi yang bisa menghasilkan uang, jadi harus meluangkan waktu untuk menulis. Selama ini aku bisa membagi waktu untuk bekerja, melakukan pekerjaan rumah tangga, bersama keluarga, dan menulis.

Bila ada acara pertemuan dengan teman-teman komunitas, aku juga harus meluangkan waktu. Bagiku berkomunitas itu penting dan penulis membutuhkannya.

Bila mengikuti kompetisi, waktu yang kusediakan untuk menulis lebih banyak dan aku minta izin suami terlebih dahulu. Selama ini suami memberikan izin dan kujaga amanah tersebut dengan baik.

Setelah tidak mengajar lagi di sekolah, kegiatannya memberi les privat pada sore hari. Waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, bersama keluarga, menulis, berkomunitas, dan memberi les privat berjalan lancar dan seimbang.

#30hari300katanajmubooks
#catatanimapenulis
#berbagiinspirasi
#berbagiinspirasimenulis
#berbagiinspirasimotivasi

Sabtu, 02 November 2019

Menulis Resensi



Kegemaranku menulis diikuti dengan gemar membaca. Buku, majalah, koran, dan media sosial bisa kujadikan bahan bacaan. Namun, dari bacaan tersebut aku harus menyaring terlebih dahulu. Tidak semua bahan bacaan dan berita kuterima mentah-mentah.

Di antara bacaan tersebut, aku memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikan aktivitas membaca buku. Membaca buku bisa aku cicil. Bila bukunya menarik dan aku membutuhkannya, secepatnya kuselesaikan membaca. Bila buku yang kubaca kurang menarik, aku harus menyelesaikannya dalam jangka waktu lama.

Agar buku yang telah kubaca bisa diingat lebih lama, biasanya aku membuat ringkasannya. Saat ini aku suka membuat ringkasan buku. Isi bukunya hanya diringkas saja. Ternyata meringkas buku lalu memberikan penilaian pada buku tersebut, bisa menghasilkan uang. Ah, benarkah itu? Benar. Bagaimana cara menghasilkan uang dari membaca buku dan membuat ringkasannya?

Ada 3 macam aktivitas setelah membaca, yakni membuat ringkasan, meresensi, dan meriview buku. Aku memilih meresensi bukunsetelahnmembaca.

Beberapa kali mengirim naskah resensi buku, belum ada yang dimuat, membuatku penasaran. Seperti biasanya, aku ingin menaklukkan sesuatu yang baru bagiku. Kupelajari lagi materi tentang meresensi buku. Kubaca buku yang akan diresensi berulang-ulang, agar yang kutulis benar-benar mewakili isi buku tersebut.

Ternyata syarat dan ketentuan meresensi buku agar bisa lolos di media antara media satu yang lain berbeda. Setelah memahami syarat dan ketentuan, aku kembali mengirimkan naskah resensi.

Senang rasanya, akhirnya tulisanku dimuat di koran Solopos. Aku meresensi buku berjudul AKU DISLEKSIA yang ditulis Diba Tesi Zalziyati. Buku AKU DISLEKSIA diterbitkan oleh Penerbit ANDI,  Yogyakarta.

Ada dua tulisan resensi buku yang dimuat di Solopos. Tulisan kedua adalah resensi buku antologi Ngeblog Seru Ala Ibu-ibu, diterbitkan oleh Penerbit Najmubooks. Pada akhirnya aku berpikir bahwa bila akan berhasil, aku tak boleh menyerah begitu saja saat belum berhasil.

#30hari300katanajmubooks
#catatanimapenulis
#berbagiinspirasi
#berbagiinspirasimenulis
#berbagiinspirasimotivasi

Sabtu, 19 Oktober 2019

Semua Bisa Kaya Dengan Menulis Kreatif





Menulis Itu Gampang
Menulis itu gampang dan tidak sulit. Yang membuat sulit justeru diri sendiri. Menuliskan sesuatu dengan mengalir begitu saja jauh lebih mudah. Menulis tanpa memperhatikan atau mengikuti aturan menulis yang benar jauh lebih santai dan enak. Aku tidak akan capai memikirkan benar atau tidak, baik atau buruk tulisan. Kuhilangkan kata-kata yang menghambat proses menulis, agar lebih percaya diri. Aku menulis mulai dari hal-hal yang kusukai dan kuasai. Aku tidak memaksakan diri menulis hal-hal yang sama sekali tidak aku kuasai. Aktivitas menulis bisa dilakukan oleh siapapun, tidak memandang pekerjaan, jenis kelamin, dan kelompok umur.
Ketika aku mulai menulis lagi, aku memulai kebiasaan yang sudah lama kutinggalkan yaitu menulis buku harian. Aku memaksakan diri menulis buku harian satu halaman penuh. Hal-hal yang tidak penting pun aku tulis.
Di jalan melihat truk bak sampah lewat bisa menjadi ide tulisan. Melihat anak kecil ikut ibunya mencari sampah, bisa aku tulis. Di rumah, buah mangga di pohon yang digigit langsung oleh anak-anak tetangga bisa menjadi bahan tulisan.
Dari hal-hal yang sepele ini, lama-lama aku memberanikan diri untuk megirimkan karya di media. Alhamdulillah, usahaku tidak sia-sia. Banyak tulisan yang aku kirim ke media. Di antara tulisan-tulisan yang telah kukirimkan, ada yang diterima dan dimuat di media. Namun,  yang ditolak atau tidak dimuat di media juga banyak karena mungkin tidak layak dan tidak memenuhi syarat dan ketentuan. Bila tulisanki dimuat di media cetak, Koran atau majalah, aku selalu bangga. Bangganya aku, tulisanku tembus media.
Aku jadi ketagihan menulis. Bagiku sampai sekarang, masalah honor tidak terlalu kupikirkan. Sudah bisa tampil di media cetak, rasanya sangat bahagia. Aku hanya ingin eksis saja. Karena honor yang kuterima buat makan-makan bersama teman-teman di kantor, aku malah sering tombok. Sebab itulah menulis untuk bersenang-senang saja.
Ada lagi cerita tentang menulis yang membuat aku tambah semangat. Aku menulis cerita lucu, lalu kukirim ke koran SOLOPOS. Cerita lucu ini ada pada rubrik AH TENANE, dengan  tokoh Jon Koplo, Tom Gembus, Lady Cempluk dan Genduk Nicole. Lebih dari 26 cerita lucu yang kutulis dimuat di koran SOLOPOS. Ternyata apa yang kutulis berkenan di hati redakturnya. Terima kasih ya Mas Redaktur yang telah memilih tulisanku..
Puncak kebahagiaanku adalah ketika cerpenku berjudul Rahasia Ibu dimuat di rubrik Hikayat. Sudah lama aku mengincar rubrik ini, tapi gak pernah lolos. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menaklukkan genre cerita pendek..

Rabu, 02 Oktober 2019

Keseruan Mencari Teman 26 Tahun Terpisah, Tanpa Bekal Alamat Rumah


Zaman sekarang, lazimnya orang memiliki nomor telepon yang bisa dihubungi. Bagaimana cara mencari teman yang selama 26 tahun berpisah, dengan kondisi tidak tahu alamatnya, dan tidak ada teman yang mengetahui keberadaannya? Inilah cerita seruku, mencari teman dengan bekal info yang sangat minim.

Baiklah, aku mau mencari temanku bernama Ahmad Muhari, Jurusan Pendidikan Kimia D3 angkatan 1990. Aku hanya ingat dulu bila pulang kuliah naik bus turunnya adalah perempatan Tungkak, Yogyakarta. Muhari ganti bus jurusan Imogiri, aku naik bus  jurusan Jalan Bantul. Biasanya Muhari naik bus bersama kakak tingkat bernama Puji Hantara.

Baiklah, karena teman-teman satu angkatan juga belum menemukan keberadaan Muhari, maka aku mulai beraksi. Mula-mula aku menghubungi sahabatku, Rahmi. Aku  bertanya pada Rahmi tentang Mas Puji. Ternyata Rahmi sering bertemu Mas Puji saat MGMP Kimia, di Bantul. Rahmi memberikan nomor telepon Mas Puji.

Tentu saja angin segar ini tidak boleh lewat begitu saja. Aku  menghubungi Mas Puji dan sedikit berbasa-basi. Baru setelah itu menanyakan alamat rumah Muhari.

“Kalau rumahnya, aku tidak tahu. Tapi kalau Kliwon, kamu bisa mencarinya di Pasar Manuk Pasar Bantul.”

Alhamdulillah, aku mengucapkan terima kasih. Hari Sabtu, aku dan keluarga mudik ke Yogyakarta. Suami berjanji akan mengantarkan aku ke Pasar Bantul.

Mula-mula aku bertanya pada penjual burung merpati.
“Maaf Mbak. Saya tidak kenal. Biasanya pedagang burung merpati lainnya juga tidak mengenal. Soalnya tempatnya berbeda. Di sini khusus burung merpati. Kalau burung lainnya di dalam pasar.”
“Matur nuwun, Mas.”

Beberapa pasang mata milik para lelaki melihatku. Aku cuek, seperti biasanya. Toh setelah ini juga tidak bertemu mereka lagi. Aku berpindah tempat, masuk ke dalam pasar. Kutemui seorang lelaki penjual pakan burung yang sedang menggelar dagangannya.

“Maaf, Pak, mengganggu sebentar.”

Setelah aku memperkenalkan diri, Bapak tadi langsung bercerita panjang lebar.

“Mas Muh lulusan UNY, ya?”
“Ya, Pak.”
“Mas Muh sekarang tidak jualan burung. Sekarang jualan mainan anak-anak secara keliling. Berhentinya Mas Muh jualan burung, itu atas saran dokter. Waktu itu anaknya Mas Muh masih bayi mengalami sesak napas. Setelah diperiksakan ke dokter dan ditanya riwayat kehamilan istrinya.”
                                                                                                     
Dengan info alamat rumah dari pedagang manuk yang tak kukenal, kutemukan rumahmu. Ternyata kamu sedang dodolan. Padahal kamu nggak punya hp (zaman now nggak punya hape, dengan alasan tertentu). "Bapak jualan di Bondalem."

Setelah muter-muter Bantul nganti tekan Imogiri barang, akhirnya kutemukan suatu keramaian. Kudekati pedagang mainan anak.

"Mas mas."
"Weh. Kowe karo sapa?"
"Pa kelingan aku?"
"Kamu Ima."

Semoga rezekimu lancar ya mas. Zaman saiki ora nggawa hp, dia bilang sing penting aku pamit dodolan keluargaku ngerti. Nek nggoleki aku, jadwalku dina kuwi nengendi mesti ketemu. Aku mau jane arep pindah nggon. Untung ra sida. Nuwum ya Im.

Catatan:
Ahmad Muhari teman seangkatan Kimia D3 '90 IKIP N Yogyakarta sekarang UNY. Muhari lulusnya tidak bareng aku. Sejak sekitar tahun 1993 atau 1995 sampai kemarin sudah tidak pernah bertemu lagi. Hari ini Allah memberi kesempatan padaku untuk bertemu Muhari.